Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 51 | Pergi ke Markas



Malamnya...


Setelah acara menikmati matahari terbenam bersama, Kyra mengadakan menu barbeque sebagai opsi makan malam. Untungnya, Darren dan Emily mendukung dengan antusias. Alhasil, keluarga kecil itu sekarang berada di depan villa, menikmati pemandangan pantai di malam hari sembari menyantap daging panggang buatan Kyra.


“Masakan Mommy selalu enak,” puji Emily senang. Ia menyomot satu daging hangat ke dalam mulutnya.


Kyra tertawa melihat pipi putrinya yang menggembung saat mengunyah.


“Grandpa sama grandma sekarang pasti lagi mengheningkan cipta di meja makan,” celetuk Darren mengingat Cavan dan Abigail.


“Mengheningkan cipta?” beo Kyra bingung. “Kok bisa?”


“Soalnya grandpa sama grandma, kan, udah terbiasa makan masakan Mommy. Karena malam ini Mommy nggak ada di rumah, grandpa sama grandma pasti ngerasa beda.” Darren tertawa membayangkan raut wajah Cavan. Ia yakin sepenuh hati, pria paruh baya itu tengah menggerutu karena makanan buatan chef di rumah memiliki cita rasa yang berbeda.


Kyra geleng-geleng. “Mereka itu grandpa sama grandma kamu, Sayang. Jangan suka dinistain gitu, kasihan.”


“Ya, ya, ya. Darren nggak janji. Jailin grandpa itu seru, hehe.”


Eiden yang sedari awal menjadi pendengar cuma bisa mengulas senyum. Hatinya menghangat menyaksikan situasi di hadapan. Ia berharap seluruh keluarganya akan selalu bahagia.


Selamanya.


...💫💫💫...


Malam kian larut. Emily dan Darren yang lelah bermain telah tertidur di kamar masing-masing. Sedangkan Eiden dan Kyra memilih untuk menghabiskan waktu bersama terlebih dahulu. Mumpung anak-anak mereka sudah tidur.


“Kyra,” panggil Eiden di tengah keheningan.


“Hm?” Kyra malas menyahut. Wanita itu telanjur nyaman di pelukan sang suami, bersandar di dada bidang lelakinya.


“I love you,” bisik Eiden di dekat telinga Kyra.


Kyra tersenyum malu-malu. Ia mendongak, mempertemukan kedua bola mata mereka. Sorot hangat Eiden untuknya sukses membuat jantung Kyra berdebar keras. “Too,” balasnya pelan sekali.


Eiden menaikkan kedua alisnya. “Apa?” Ia yakin mendengar sesuatu tadi.


Kyra terkekeh. “Love you too.” Kali ini lebih jelas dan tanpa keraguan.


Senyum Eiden mengembang. Lelaki itu tidak menyangka jika sang istri telah membalas perasaannya. Ia pun mengeratkan pelukan dan menghujani puluhan kecupan di puncak kepala Kyra. “Aku pikir kamu belum cinta sama aku, Kyra.”


“Dengan semua perlakuan kamu, mana bisa aku tahan, Eiden. Gila kali kalo aku nolak terus.”


“Emm...” Eiden bergumam tidak jelas. Lelaki itu tengah menikmati dunianya dengan memeluk tubuh Kyra. Udara dingin di taman belakang villa tidak dihiraukan. Lagipula tubuh Kyra ini sudah lebih dari cukup untuk dijadikan penghangat.


Kyra melirik langit dengan raut tak terbaca. Mas, semoga kamu nggak marah karena aku jatuh cinta lagi.


Wanita itu memejamkan matanya, meresapi kehangatan yang menyeruak ke tubuhnya. Semoga kamu bahagia di sana, Mas. Apa pun yang terjadi, nama kamu akan selalu punya posisi tersendiri di hatiku.


...💫💫💫...


Walaupun tidak rela, Emily, Darren, Kyra, dan Eiden harus kembali ke Jakarta pagi ini. Ada banyak pekerjaan yang menanti kedua orang dewasa itu. Sedangkan Emily dan Darren akan libur sekolah khusus hari itu.


Kyra tidak setega itu sampai memaksa anaknya bersekolah, padahal sedang lelah.


Ting!


Kyra membuka ponselnya. Ada pesan dari Reven.


...__________...


...Reven...


...online...


• Nona


• Saya harap Anda bisa datang ke markas secepatnya


• Ada sesuatu yg harus saya sampaikan


^^^Saya usahakan ✓^^^


...__________...


“Halo, Kak. Gimana keadaan mama?” tanya Kyra.


“Mama lebih baik, Dek. Dia juga lebih banyak omong sekarang.”


Kyra menghembuskan napas lega. “Syukur, deh. Nanti kapan-kapan Kyra minta ijin buat ke sana, ya. Kangen mama soalnya.”


Ansel mendengkus. “Kakak nggak dikangenin, nih?”


Kyra tertawa. Eiden sampai melirik istrinya, penasaran dengan topik percakapan Kyra dengan sang kakak ipar. “Iya, iya. Kyra juga kangen sama Kakak.”


Ansel tersenyum puas di seberang sana. “Kapan-kapan dateng. Pintu rumah Kakak selalu terbuka buat kamu.”


“Okey, Kak.” Sambungan diputus. Kyra menyimpan ponselnya ke dalam tas.


“Kamu mau ke rumah Kak Ansel?” tanya Eiden. Lelaki itu masih merasa aneh ketika menyebut Ansel sebagai ‘kakak’. Jika bukan karena Ansel dan Kyra yang memaksa, Eiden mana mau.


Dia ini ketua mafia yang ditakuti, lho. Masa disuruh-suruh begitu.


Kyra mengangguk. “Tapi, nggak sekarang. Mungkin nanti sore atau besok? Aku capek, mau tidur habis ini.”


Eiden manggut-manggut.


“Kamu nggak masalah, kan, kalo aku ke rumah kakak?” tanya Kyra meminta izin.


“Boleh.”


“Boleh nggak kalo nggak sama Ilona?”


Eiden mengernyit. “Nggak. Dia body—”


“Please, Eiden. Aku cuma ke rumah kakak. Aku nggak leluasa karena diikutin terus sama Ilona. Aku pengen bebas, sekaliiiii aja. Ya?” Kyra memasang raut paling imut yang dipunya. Matanya dikedip-kedipkan, bola mata hijaunya seakan bersinar. Puppy eyes andalan.


Eiden menghela napas pasrah. Mau tak mau, ia mengiyakan permintaan Kyra. Mana tega dirinya menolak istrinya itu. Apalagi kalau sudah pasang raut menggemaskan, Eiden tidak akan kuasa.


Di belakang, Darren dan Emily terlelap karena hari masih lumayan pagi. Jadi, keduanya tidak melihat interaksi Kyra dan Eiden. Kalau sampai Darren melihat, bocah itu pasti menertawai Kyra yang bertingkah sok imut.


Kyra menyeringai dalam hati. Aku punya kesempatan. Aku harus manfaatin baik-baik.


...💫💫💫...


Sore telah tiba. Kyra bersiap dengan dress sederhana. Rencananya, ia akan berpamitan menuju rumah sang kakak, padahal Kyra ingin pergi ke markas. Ia sudah mengatur beberapa rencana dengan Reven supaya usahanya kali ini membuahkan hasil.


Selepas berpamitan pada kedua mertua, Kyra keluar. Ilona sempat ingin mengekor, namun Kyra melarang. Beruntung Eiden mengirim pesan pada bodyguard pribadinya itu supaya mengizinkan sang istri keluar sendirian, jadi Ilona tidak memaksa lagi.


Kyra melajukan mobil menuju kediaman Ansel. Dia sengaja demi meminimalisir bahwa ada pelacak di mobil ini karena mobil yang dikendarai memang milik suaminya.


Kyra berhenti di dekat bangunan rumah sang kakak. Sebelum turun, ia melepas semua aksesoris yang pernah diberi oleh Eiden. Bahkan, ponselnya pun ditinggal di dalam mobil. Kyra yakin, urusannya tidak akan selama itu.


“Maafin aku, Sayang.” Kyra keluar, lalu masuk ke dalam mobil Reven yang terparkir tak jauh dari posisi mobilnya. Sengaja Kyra memilih lokasi itu karena tidak terjangkau CCTV. “Jalan,” titahnya.


Reven melajukan mobil dengan patuh. Sepanjang perjalanan, Kyra nampak sibuk mengamati perkembangan penjualan senjata miliknya melalui tablet. Sesuai dugaan, semuanya meningkat dan ia meraup keuntungan yang besar.


Hanya dalam 20 menitan, Kyra sampai di markas. Seluruh anggota Black Rose menunduk hormat, sama sekali tidak ada yang mencela gaya berpakaian Kyra yang girly sekali hari ini.


“Laporkan semuanya! Aku tidak punya banyak waktu,” perintah Kyra seraya duduk di kursi kebesaran. Di hadapannya, anggota inti Black Rose tengah duduk.


Reven dan Mauren saling mengode satu sama lain. Sebenarnya, informasi yang mereka bawa akan sedikit sensitif. Awalnya, mereka ragu karena si pemberitahu sama sekali tidak membongkar identitas. Namun, setelah diselidiki, ternyata mereka berhasil menguak satu fakta yang tersembunyi selama ini.


“Ada apa sebenarnya?” tanya Kyra dengan raut datar, berbeda sekali dengan Kyra ketika berada di depan keluarga.


Reven menghela napas berat. “Nona, saya menemukan sesuatu mengenai....” Reven mendadak ragu.


“Mengenai apa?! Jangan membuatku kesal, Reven!” seru Kyra emosi. Ia tidak mau membuang-buang waktu, lalu Eiden menyadari kehilangannya.


“Mengenai Tuan Cavan Kennedy, Nona,” kata Reven menyambung kalimatnya.


Kyra terdiam. Papa?


^^^To be continue...^^^