Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 42 | Resepsi Pernikahan



Dua minggu kemudian...


Hari di mana resepsi pernikahan Eiden dan Kyra diselenggarakan tiba. Undangan sudah disebar, yang hampir seluruhnya merupakan pengusaha besar. Lokasinya pun di hotel terbaik milik Kenneth Corp. Ballroom yang luas itu disulap menjadi sedemikian rupa.


Seluruh tamu undangan telah hadir, termasuk keluarga besar Kennedy. Walaupun beberapa dari mereka masih ada yang tidak rela Eiden menikah dengan Kyra, tapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Lagipula, ini hanya resepsi. Kedua mempelai itu sudah sah sejak sebulan yang lalu.


Acara dimulai. MC acara malam ini adalah Erry dan Michael. Kedua lelaki itu yang memaksa, bahkan tidak masalah jika tidak dibayar sekalipun.


Setelah mengucapkan beberapa kalimat pembuka, mempelai pria dipanggil. Eiden masuk didampingi Emily yang menggandeng tangannya. Seluruh tamu tahu jika Eiden sudah pernah menikah dan memiliki seorang anak. Jadi, tidak ada yang heran.


Malahan, mereka lebih penasaran dengan identitas istri Eiden. Pasalnya, sebagian besar dari tamu belum mengetahui siapa istri Eiden sekarang. Mereka saja kaget ketika menerima undangan resepsi.


Tidak menunggu lama, Michael segera memanggil mempelai wanita supaya masuk. Semua orang menoleh, menanti-nanti dengan jantung berdebar. Penasaran bukan main.


Lima menit berlalu, pasangan wanita belum menampakkan batang hidung. Eiden sedikit cemas. Dua detik kemudian, lelaki itu menghembuskan napas lega kala melihat sang istri keluar diapit oleh Darren dan Ansel.


Eiden sudah memberitahukan keluarganya mengenai siapa Brian/Ansel ini. Kendatipun Cavan dan Abigail sempat terkejut mengenai identitas Brian yang merupakan anggota mafia musuh, sepasang suami-istri itu akhirnya menerima karena menurut mereka Brian tidak sepenuhnya salah. Brian juga berjanji tidak akan berhubungan dengan The Zero lagi.


Eiden dan Erry sudah mengatur supaya keberadaan Brian dihilangkan. Brian akan hidup sebagai Ansel, nama lamanya. Untungnya, lelaki itu tidak keberatan walaupun ingatannya belum kembali. Makanya, mulai sekarang, Ay akan menyebut Brian dengan nama Ansel.


“Saya tahu ini terlambat. Tapi, tolong jaga adik saya dengan baik. Saya akan menjadi orang pertama yang menghajar wajahmu jika adik saya menangis karena kamu,” ucap Ansel serius.


Eiden mengangguk dengan senyum tipis. Ia mengulurkan tangan dan diterima oleh Kyra.


“Maaf, tadi agak telat. Sepatu heels-ku patah di tengah jalan. Jadi, tadi diambilin yang baru dulu,” bisik Kyra merasa bersalah. Eiden mengangguk paham, tidak mempermasalahkan sama sekali.


Semenjak Kyra masuk, semua orang terpesona dengan kecantikan wanita itu. Beberapa sampai tercekat napasnya. Sadar acara telah dilanjutkan, pandangan mereka jatuh pada Darren yang berdiri di sebelah Kyra. Paras bocah itu sangat mirip dengan Kyra.


Satu pertanyaan muncul di benak masing-masing. Siapa anak itu?


“Inilah pasangan kita hari ini. Acara kita lanjutkan dengan pidato singkat dari mempelai kita.” Erry menyerahkan microphone pada Eiden. “Silakan, Tuan Muda.”


Eiden yang tidak tahu dengan pidato ini bingung. Ia melirik sahabatnya sinis, mereka sengaja menjebaknya. Lihat saja muka Michael dan Erry, tampak sekali sedang menahan tawa.


Eiden berdeham sebentar. “Selamat malam semuanya. Saya Eiden Atthallah Kennedy, saya ingin memperkenalkan keluarga kecil saya yang baru.” Eiden merangkul pinggang Kyra. Wanita itu terkejut, ia menoleh dan mendapati sang suami tengah menatapnya. “Dia istri saya, Clarissa Kyra Kennedy. Dia wanita baik yang mau menerima saya dan putri saya tanpa memandang siapa saya.”


Kyra tertawa. “Emangnya kamu siapa?” tanyanya sengaja.


“Aku? CEO.”


“Merasa kaya?”


“Ya,” jawab Eiden cepat dan tanpa ragu.


“Saya juga wanita miliarder,” balas Kyra sombong yang diakhiri kekehan pasangan itu.


“Yaahh.. saya mengakuinya. Istri saya sangat kaya sebelum menikah dengan saya. Tapi, aku tetep berterima kasih sama kamu. Terima kasih sudah merawatku dengan baik, terima kasih sudah menjaga anakku dengan baik, terima kasih sudah menyayangi keluargaku dengan baik. Thank you, My Wife,” ucap Eiden tulus dengan sorot mata terarah pada Kyra.


Abigail dan Cavan terharu. Sementara para wanita yang datang cuma bisa gigit jari. Mereka iri dengan posisi Kyra. Tidak rela suami impian mereka sudah dimiliki wanita yang identitasnya tidak bisa diremehkan.


“Dan, saya perkenalkan, putra saya, Darren Gerald Kennedy. Umurnya hampir 7 tahun, tapi dia sudah berhasil menjadi sosok kakak yang baik untuk adiknya, Emily Kennedy. Daddy janji, Daddy tidak akan membeda-bedakan kalian. Kamu percaya, kan?” ujar Eiden dengan sorot teduh pada Darren.


Darren terkekeh. “Emangnya sejak kapan Darren nggak percaya sama Daddy? Thank you udah terima Darren walaupun Darren cuma anak tiri.”


Saudara kandung saja kadang saling berselisih paham. Apalagi cuma saudara tiri?


“Kak Darren kakak terbaik buat Emily.” Emily beranjak memeluk Darren sayang.


Terakhir, Eiden mengucapkan terima kasih untuk tamu undangan yang berkenan hadir. Setelah itu, ia mengembalikan microphone pada sahabatnya yang meneteskan air mata. Entah ada apa dengan mereka, Eiden tidak peduli.


Para tamu undangan naik ke atas panggung satu per satu untuk mengucapkan selamat. Kado pernikahan mulai menumpuk. Tiba di satu tamu, Eiden tersenyum miring.


“Dateng, kah? Kupikir kamu nggak dateng,” ledek Eiden melirik lelaki di hadapannya.


Rayhan tertawa. “Temanku menikah, mana mungkin aku nggak dateng.” Melirik Kyra yang tersenyum. “Pilihanmu kali ini lebih baik dari yang sebelumnya.”


Eiden tersindir. Ia ingat, ketika ia menikah untuk pertama kali, Rayhan adalah satu-satunya orang yang tidak merestui. Rayhan bilang jika Clara bukan wanita baik. Namun, Eiden tidak peduli dan tetap melangsungkan pernikahan. Hasilnya, Eiden tahu betul bagaimana sakitnya.


“Sayang, enak aja aku ditinggal di bawah.”


Sosok wanita cantik dengan balutan gaun ungu menghampiri Rayhan. Bola matanya yang berwarna ungu menarik perhatian Darren, Emily, dan Eiden. Kecuali Kyra yang terkejut.


“Ah, ya, kenalin, ini istriku, Aqilla.” Rayhan merangkul istrinya yang tersenyum manis.


“Hai, Anda Tuan Eiden, ya? Rayhan sering bercerita tentang Anda,” sahut Aqilla ramah.


“Saya tidak disapa, Nyonya?” sindir Kyra sinis.


Ketika Aqilla menoleh, ia terkejut. Tatapan Kyra dan Aqilla menajam tiba-tiba. Wanita berusia 35 tahun itu bergerak maju mendekati istri Eiden.


“Senang bisa bertemu dengan Anda lagi, Nona Kyra,” ucap Aqilla datar.


Rayhan mengerutkan dahi. “Sayang, kamu kenal istri Eiden?”


“Ya, sangat kenal.” Tatapan Aqilla menghunus tajam. “Keterlaluan sekali sikap Anda, Nona. Setelah apa yang saya lakukan untuk Anda, Anda hilang begitu saja.”


Kyra melengos. “Aku nggak ilang,” ketusnya. “Terpaksa waktu itu.”


“Tirpiksi wikti iti,” cibir Aqilla.


Darren yang penasaran mulai bersuara, “Tante ini siapa, Mom? Musuh Mommy, kah?”


“Musuh?” beo Aqilla dan Kyra bersamaan. Keduanya bersitatap sebentar, lalu tergelak bersama. Tawa mereka sampai menarik perhatian beberapa tamu.


“Ini Tante Aqilla, Sayang, guru Mommy. Dia yang ajari Mommy beladiri,” jelas Kyra berubah ramah. Kedua wanita itu saling berpelukan, seolah pandangan penuh kebencian beberapa menit silam tidak pernah terjadi. “Maaf, Kak. Waktu itu situasinya mendesak banget.”


“Ya, ya, ya, aku tau maksud kamu.” Aqilla tahu identitas Kyra sebagai mafia.


Eiden dan Rayhan menghembuskan napas lega. Pikirnya, istri mereka ini punya masalah pribadi yang belum usai. Bisa repot urusannya kalau itu benar terjadi.


“Kamu harus kenalan sama anak-anak aku, mereka di bawah. Jovan sama Jovin pasti seneng,” kata Aqilla antusias. Kyra mengiyakan dengan senang. Tingkah keduanya sudah seperti teman lama yang baru berjumpa setelah sekian tahun.


“Jovan Jovin?” gumam Darren. Bukannya itu nama anak genius yang bu guru bilang dulu?


^^^To be continue...^^^