
“Enam tahun yang lalu, aku sama Clara nikah setelah 2 tahun pacaran. Waktu itu.. mama sama papa sempet nentang pernikahan kami karena sifat Clara yang jauh dari keinginan mereka. Mereka maunya menantu hebat yang bisa jaga diri. Kamu tau, kan, kalo udah berurusan sama mafia berarti kebebasan kamu terenggut?” tutur Eiden
Kyra mengangguk paham.
“Waktu itu, Clara nggak tau kalo aku ketua kelompok mafia. Yang dia tau, aku CEO perusahaan besar.”
“Satu tahun menikah, kami dapet Emily. Sayangnya, waktu Emily umur 3 bulan, Kenneth Corp dapet masalah karena ada pengkhianat. Perusahaan jadi rugi milyaran, Ra. Aku sama temenku yang lain fokus cari pengkhianat itu. Waktu itu, entah gimana caranya, berita kalo Kenneth Corp terancam bangkrut kesebar dan Clara percaya.”
Eiden menghela napas panjang. “Dan, ya, ternyata Clara selingkuh dari aku selama aku sibuk nanganin pengkhianat itu.”
...Flashback on....
“Cih, berani sekali orang ini,” gumam Eiden kesal. Ia membuang pistol di tangannya, lalu pergi membersihkan diri. Tubuhnya dipenuhi darah musuh sehingga menimbulkan bau amis yang lumayan menyengat.
“Tuan Muda.” Garry datang dengan raut wajah tak terbaca. Panik, bingung, dan emosi bercampur menjadi satu di sana. “Saya membawa kabar terbaru mengenai nyonya muda,” katanya seraya menyerahkan tablet berisikan data.
Eiden mengambilnya, lalu membaca hingga tuntas. Air muka lelaki itu berubah tegang, rahangnya mengeras dengan gigi saling menggelutuk. “AN*ING!!” serunya marah membanting tablet ke lantai.
Si pemilik tablet cuma bisa meratapi nasib benda kesayangannya. Tidak mungkin, kan, dia protes pada sang atasan?
“Di mana wanita itu sekarang?” tanya Eiden setelah terdiam beberapa saat.
“Saat ini nyonya muda sedang berada di sebuah penginapan, Tuan,” lapor Garry.
Eiden menggertakkan giginya. Ia berjalan cepat keluar markas diikuti Garry di belakangnya. Mereka pergi menuju penginapan yang dimaksud.
Tidak butuh waktu lama, keduanya tiba di sebuah penginapan kecil pinggiran kota. Harus Eiden akui jika istrinya cukup pintar dengan datang kemari, bukan hotel bintang lima. Hotel berkelas seperti itu jelas bisa ia ketahui aksesnya dengan mudah.
Setelah mendapat informasi kamar Clara—tentu setelah mengancam resepsionis yang ada—Eiden bergegas menghampiri. Ayunan langkahnya yang cepat dan lebar menunjukkan betapa tidak sabarnya lelaki itu. Garry sampai merinding merasakan aura tak mengenakkan dari sang majikan.
BRAKK!
Pintu ditendang kasar oleh Eiden. Penampakan yang ia lihat pertama adalah istrinya yang hampir telanjang tengah berpelukan dengan laki-laki yang hanya memakai celana boxer. Clara nampak terkejut perihal kedatangan suaminya, berbanding terbalik dengan si laki-laki yang menyeringai dalam diam.
“Clara...” Suara Eiden yang dingin sukses menggetarkan tubuh Clara.
Namun, karena sudah terlanjur ketahuan, Clara memilih untuk menegakkan badan. Ia mengenakan pakaiannya, lalu berdiri di hadapan Eiden berani. “Yaah.. akhirnya ketauan, deh,” ucapnya santai.
“Pengkhianat,” desis Eiden emosi. Tangannya hendak meraih pistol. Sayangnya, Eiden tidak seberani itu menembak wanita yang ia cintai. Alhasil, pistol itu tetap bersemayam dibalik jasnya.
Clara tersenyum lebar, senyum yang menjijikkan bagi Eiden. “Maaf, Sayang. Aku cuma nggak mau terus miskin sama kamu.”
“Cuma karena uang, Clar?” Eiden menatap istrinya tak percaya.
Clara mengendikkan bahu. “Aku itu wanita berkelas. Mana mau hidup miskin, Eid. Perusahaan yang kamu bangga-banggain bentar lagi bangkrut. Jadi, buat apa aku pertahanin kamu?”
Eiden menyugar rambutnya ke belakang menggunakan jari. Ia tidak menyangka perangai asli istrinya akan seperti ini. “Dasar matre! Aku akan urus perceraian kita,” ucap Eiden sungguh-sungguh.
“Ya ya ya, gitu lebih baik. Jadi, mendingan kamu pergi, deh.” Clara mendorong suaminya hingga keluar pintu, lanjut menutup pintu lumayan kencang.
Di depan, Eiden mematung. Garry bisa melihat jika tuan mudanya sedang sibuk mengatur napas dengan tangan mengepal. Tuan pasti sangat marah dan kecewa—batin Garry iba.
Memangnya siapa yang tidak akan sakit hati dikhianati orang terkasih?
...Flashback off....
Kyra berdecak setelah Eiden selesai bercerita. “Kamu ngapain, sih, nikahin cewek matre kayak dia?” ketusnya.
Eiden menggeleng pasrah. “Aku mana tau kalo dia kayak gitu, Sayang. Waktu awal pacaran, dia nggak gitu.”
“Bucin, sih,” sindir Kyra.
Eiden tidak mengelak. Ia membenarkan ejekan Kyra. Dulu, ia terlalu mencintai Clara hingga peringatan orang tuanya tidak pernah diindahkan. Bagi Eiden yang dulu, Clara adalah segalanya. Maka dari itu, ia tidak pernah menyangka jika pernikahan pertamanya akan kandas dengan cara seperti itu.
Sekarang Eiden menyesal sudah sangat percaya pada Clara. Dia ini hanya manusia biasa yang juga ingin dicintai dan berhak mencintai. Pikirnya, Clara adalah orang yang tepat—dulu.
Kyra menepuk-nepuk kepala Eiden pelan. “Udah, itu cuma masa lalu. Nggak perlu dipikirin,” nasihat Kyra.
“Kamu nggak akan ninggalin aku juga, kan?” tanya Eiden sendu.
Kyra memutar bola matanya malas. “Mana ada, Eiden.”
“Kalo semisal aku bangkrut gimana?”
“Aku, kan, udah kaya. Kamu bangkrut, usahaku masih ada,“ jawab Kyra bangga.
“Kalo semisal aku KDRT sama kamu?”
“Kalo aku yang ninggalin kamu?”
Kali ini Kyra terdiam. Wanita berpikir sejenak. Mengetahui suasana hati Eiden sedang suram, ia memilih menjawab, “Aku susul kamu, terus aku borgol tangan kita. Nggak boleh ada yang misahin kita, Sayangku.”
Senyum Eiden perlahan bangkit. Lelaki itu memeluk istrinya hingga terdorong ke belakang dan jatuh telentang di ranjang. Kyra mengusap kepala suaminya yang sibuk mendusel di lehernya.
Cukup lama berada di posisi itu, Eiden tiba-tiba mengigit leher jenjang sang istri hingga suara lenguhan terdengar. Tangan Eiden menjalar ke mana-mana, masuk ke dalam pakaian Kyra yang ia singkap.
Kyra hanya bisa pasrah ketika bibirnya dicium, sementara pakaiannya dilucuti. Melawan suaminya tidak akan pernah membuahkan hasil yang berarti. Malahan Eiden akan semakin tertantang untuk mengajaknya ‘bermain’.
...💫💫💫...
Pagi ini, suasana hati Eiden baik sekali. Bagi orang yang sudah menikah, mereka jelas paham alasan muka sumringah lelaki itu. Namun, bagi para jomblo, mungkin agak sedikit bertanya-tanya. Apalagi Darren. Bocah itu mengernyit geli melihat tingkah daddy tirinya.
“Daddy kenapa? Kok senyum-senyum nggak jelas gitu?” tanya Darren.
Emily berkacak pinggang. “Daddy ganteng kok kalo senyum. Kakak diem aja, ya,” peringat gadis kecil itu.
Darren merotasikan bola matanya malas. Sementara pihak lain tertawa. Memang, sih, sikap Eiden pagi ini agak berbeda dari biasanya.
Tidak lama, Kyra turun dari kamar. Rambut wanita itu yang basah menambah keyakinan Abigail bahwa putranya senang karena mendapat ‘jatah malam’.
“Mommy!” Emily merentangkan tangan, kode ingin dipeluk.
Kyra mengangkat tubuh putrinya dan diajak berputar bersama. Tawa keduanya menggema di penjuru mansion, mengundang senyum insan lain yang gemas dengan interaksi ibu dan anak satu ini.
“Hari ini Mommy libur, kan?” tanya Emily antusias.
“Yah.. Mommy punya kegiatan hari ini.” Kyra memasang wajah bersalah melihat perubahan ekspresi putrinya. “Hari ini.. Mommy mau bawa Emily ke taman bermain!”
Bola mata gadis kecil itu berbinar. “Beneran, Mom?”
“Beneran dong.”
“Yeayy...” Emily bersorak bahagia, ia bertepuk tangan heboh.
“Aku?” Darren menunjuk dirinya sendiri.
“Kamu.. nggak diajak.” Kyra memasang senyum mengejek. Darren mendengkus kesal, ia melipat tangannya di depan dada.
“Darren mau ikut Daddy ke kantor?” tawar Eiden.
“Em.. boleh.” Darren mengiyakan. Toh, ia tidak ada kerjaan di mansion. Mungkin saja ada hal menarik di perusahaan daddy-nya nanti.
“Nanti Darren ganggu kamu, Sayang. Lebih baik nggak usah,” sahut Kyra usai menelan makanan di mulutnya.
Darren mendelik kesal. “Darren nggak sebocil buat ganggu Daddy, ya, Mom.”
“Dirrin nggik sibicil iti,” cibir Kyra.
“Iiihh..! Ini penistaan anak sendiri namanya!” seru Darren kehabisan kesabaran. “Lama-lama Darren bisa hipertensi kalo gini terus,” gerutunya.
Kyra tertawa puas. Wanita itu benar-benar menyebalkan di mata Darren yang tidak lain adalah putra kandung Kyra sendiri.
Setelah sarapan, Eiden benar-benar membawa Darren ke perusahaan. Selain ingin menghabiskan waktu lebih banyak, Eiden berniat mencari tahu apakah putranya itu memiliki ketertarikan terhadap bisnis. Kalau iya, Darren jelas berpotensi besar dapat memajukan perusahaan mengingat kecerdasan bocah itu.
“Selamat pagi, Tuan Muda, Tuan Kecil,” sapa Garry menyambut kedatangan kedua majikannya.
“Pagi, Uncle. Cukup Darren aja, nggak perlu embel-embel ‘tuan-tuan’ segala,” ucap Darren diiringi senyum manisnya. Berbanding terbalik dengan mimik Eiden yang berdiri di sebelah anak itu, datar sekali.
“Tapi—”
“Darren diajarin buat sopan sama yang lebih tua, Uncle. Uncle santai aja,” sela Darren tahu Garry akan membantah. Pada dasarnya, Darren memang tidak suka sebutan itu. Kesannya kayak bocil beneran.
Garry tidak menjawab, hanya mengangguk mengerti.
Ketiganya pun masuk ke bangunan tinggi di hadapan dengan langkah beriringan. Kaki kecil Darren membuat anak itu kesulitan menyamai langkah sang daddy. Beruntung kali ini Eiden cukup peka, jadi lelaki itu melambatkan ayunan kakinya sembari menggandeng tangan mungil Darren.
“Tuan, di ruang tunggu ada—”
“Yo, Eiden.”
^^^To be continue...^^^