Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 67 | Terima Kasih, Wildan



Bermodalkan nekad, Kyra kembali berlari menelusuri hutan. Ia harus menjauhi musuh. Sayangnya, sebanyak apa pun kakinya melangkah, Kyra tetap merasa kalau dirinya hanya berputar-putar di hutan. Di ingatannya, semua pohon yang ada sama.


Ketika ia berniat beristirahat, sebuah suara mengejutkan wanita itu.


“Ketemu kamu.”


Kyra tersentak. Ia menoleh cepat dan segera bergerak menjauhi musuh. “Iam...” desis Kyra kesal.


Pria yang dipanggil Iam itu menyeringai. “Serahkan senjata itu, Kyra. Maka aku akan biarin kamu pergi dengan mudah,” menuju ke neraka maksudnya.


Kyra berdecih. “Aku lebih baik mati bunuh diri sama senjata ini daripada kasih senjata ini ke kalian!”


Iam menggeram emosi. Ia paham betul watak wanita di hadapannya ini. Ada kemungkinan kalau Kyra sungguh-sungguh akan melakukan yang ia ucapkan apabila situasi sangat mendesaknya. Jika senjata itu digunakan, ia yakin dirinya pun tidak akan selamat. Maka dari itu, Iam harus bisa merebut tanpa memberikan Kyra kesempatan untuk melawan.


Tanpa basa-basi, kedua insan tersebut saling menyerang. Sejujurnya, fisik dan skill Kyra jauh di atas Iam. Sayangnya, stamina wanita itu tidak mendukung. Ia sudah bertarung dan berlari sejak pagi, jelas itu sangat menguras tenaga. Itulah mengapa, Kyra tumbang dengan mudah.


“Uhuukk.. uhukk..” Kyra jatuh ke tanah. Namun, sepasang tangannya tetap memeluk senjata Kyr68X erat. Apabila ia mati hari ini, maka dunia akan kacau. Senjata ini akan jatuh ke tangan orang yang salah!


Kyra berusaha bangkit. Ia berhasil duduk, namun kakinya tidak sanggup menegakkan diri. Tatapannya masih setajam elang, mengarah pada moncong pistol yang tertuju ke arah dadanya.


Iam tersenyum lebar. “Ketua mafia Black Rose mati hari ini. Ada kata-kata terakhir, Nona?”


“Cih!” Kyra memandang Iam tajam. Pria ini, ia bersumpah akan menghabisinya dengan tangannya sendiri.


“Cih, terserah. Selamat tinggal, Kyra.”


Ddoor!


“Ugghh..”


Netra hijau Kyra terbelalak. Tidak, suara ringisan tadi bukan berasal dari bibirnya. Melainkan sosok yang tiba-tiba muncul di depannya dan dengan gagah berani menghadang peluru yang ditembakkan menggunakan tubuhnya sendiri.


Sosok yang sangat familiar di mata Kyra. Bibir wanita itu mulai gemetar ketika sebuah spekulasi muncul di otaknya. “M–Mas Wi–Wildan..?” lirihnya tak percaya.


Brukk!


Sosok itu merosot ke tanah bertopang dengan lutut. Kyra langsung menahan tubuh itu ketika hendak jatuh ke tanah. Melihat senyum dan paras tampan si penyelamat, tangis Kyra pecah. “Mas... kenapa kamu ngelakuin ini? Hiks.. ka–kamu kenapa bisa, hiks.. di sini?”


“Ra..” lirih Wildan serak. Napas lelaki itu mulai terputus-putus. Tembakan tadi berhasil merasuk ke titik vitalnya. Kemungkinan ia selamat sangat kecil. “A–aku cinta.. s–sama kamu.”


“AKU TAU, MAS!” jerit Kyra frustrasi. “Kenapa kamu bisa ada di sini, hah?! Harusnya kamu di rumah! Jaga anak kita! Kenapa... kenapa kamu ada di sini?!”


Bukan jawaban yang Kyra terima. Hanya seulas senyum tipis di paras memucat Wildan. “Kyra, Istriku S–Sayang, m–maaf karena.. n–nggak nurut sa–sama kamu. Aku khawatir, a–aku takut kamu.. kenapa–napa.”


“Mas..” Kyra menempelkan keningnya di kening Wildan. “Bertahan sebentar lagi, ya.”


“Ky–Kyra, maaf... Kayak–nya, aku ng–nggak bisa t–tepati janji aku.. maaf.” Napas Wildan memberat. Darah mengalir deras dari luka tembakan di tubuhnya. Rasa sakit yang ia rasakan tidak sepadan dengan nyeri di hatinya karena melihat sang istri menangis. “Maaf.”


Kyra menggeleng dengan wajah basah. Air matanya mengalir deras.


“Jaga...” Wildan menarik napas dalam-dalam. “...Darren, ya. Bilang sama d–dia...” Sepasang mata Wildan perlahan menutup. “...Papi.. sayang Darren... banyak-banyak.”


Namun, acara tangis itu tidak berlangsung lama. Kyra mendongak dengan sorot menggelap. Bola mata hijau terang miliknya berubah hijau tua. Iam—yang sedari tadi diam karena terkejut dengan kehadiran Wildan yang mendadak—langsung tersadarkan. Tatapan membunuh Kyra sukses menggetarkan tubuh. Apalagi ketika wanita itu mengangkat senjata Kyr68X tinggi-tinggi, seolah siap menyalakannya.


“Mati kau, Iam.”


Doorr!


“Akh!” jerit Iam kesakitan. Ia jatuh terduduk seraya memegangi betisnya yang tertembak dari belakang.


Ddoor! Dor!


Tembakan lain datang dan mengenai bahu juga pinggang Iam. Reven yang kondisinya hampir sama dengan Kyra tiba bersama anggota mafia lain. Mereka ingin menghampiri Kyra, namun tubuh mereka seketika membeku melihat Wildan terbaring di sisi Kyra.


Walaupun tidak mengetahui kronologi kejadian, Reven bisa menyimpulkan satu hal. Tuan muda baik dan ramah mereka telah meninggalkan dunia ini dengan damai.


...Flashback off....


Hampir 1 jam Kyra bercerita, Eiden tidak menyela sedikitpun. Kini, ia paham mengapa perasaan Kyra pada Wildan tetap ada bahkan setelah menikah dengan Eiden. Ia paham mengapa Kyra sangat terpukul dengan kepergian suami pertamanya. Eiden mengerti, posisi Wildan di hati Kyra tidak akan pernah terganti oleh siapa pun, termasuk dirinya.


Tidak akan ada yang bisa menyisihkan perasaan cinta Kyra untuk Wildan, lelaki yang sangat mencintai Kyra hingga rela memberikan hidupnya sendiri.


“Iam berhasil ditangkap waktu itu, Eiden. Tapi, entah gimana, dia berhasil kabur setelah disiksa selama 3 minggu.” Kyra menghela napas berat. “Selama itu juga, aku berusaha cari tau kenapa Mas Wildan tiba-tiba bisa ada di tengah hutan dan nyelametin aku. Ternyata...”


“Hari itu Mas Wildan tau kejahatan mamanya sendiri. Iam itu selingkuhan Nyonya Mega, mama mertuaku. Mama mertuaku itu dari awal nggak suka sama aku. Dia yang kasih tau Iam soal senjata Kyr68X.”


“Mas Wildan marah waktu tau kalo mamanya sendiri yang ngerencanain mau bunuh aku. Makanya, dia nekat nyusul aku ke hutan.” Kyra kembali merasakan jika air matanya mengalir. “Maaf, Eiden. Aku nggak bermaksud nyakitin perasaan kamu. A–aku cuma, hiks.. aku cuma—”


Eiden mendekap tubuh Kyra yang bergetar dengan erat. “Sstt.. aku ngerti. Udah jangan nangis.”


“D–dia meninggal gara-gara aku, Eiden, hiks.. aku yang salah, huaa...” Isakan Kyra bertambah keras. Wanita itu meredamnya dengan menenggelamkan paras di dada sang suami.


Eiden membiarkan Kyra menumpahkan segala macam rasa di dadanya. Yang lelaki itu lakukan hanyalah memeluk dan memberi tepukan penenang di punggung sang istri, berharap bahwa keberadaannya tersampaikan hingga ke relung hati Kyra.


Beberapa menit berlalu, tangis Kyra mereda. Digantikan dengkuran halus bercampur sisa senggukan yang terdengar. Eiden terkekeh pelan melihat wajah Kyra yang memerah, namun nampak damai dalam lelap. Seolah wanita itu berhasil melepaskan beban terberat yang ditampung di bahu kecilnya.


“Apa pun itu, entah itu suka ataupun duka, bagi semuanya sama aku, Ra. Aku selalu siap dengerin cerita kamu,” gumam Eiden di tengah gelapnya malam. Sebelum tidur, ia mematikan lampu menggunakan remote, lalu menyalakan lampu khusus tidur.


Sepasang matanya terarah ke luar jendela yang tersibak tirainya. Sebuah senyum terukir di bibir Eiden.


Wildan, aku Eiden, suami kedua Kyra. Terima kasih sudah menjaga Kyra dengan sangat baik. Izinkan aku untuk menggantikan posisimu. Aku akan menjaganya dengan baik, sebaik ketika kamu menjaganya.


Terima kasih, Wildan. Aku harap kamu tidak keberatan untuk berbagi hati.


Eiden pun memejamkan matanya, menyusul sang istri memasuki dunia mimpi.


Tanpa keduanya sadari, sosok tak kasat mata tengah memandangi mereka dari sudut ruangan. Sosok itu tengah mengulas senyum bahagia, tatapannya begitu teduh, senada dengan aura yang dipancarkan juga pakaian putih bersihnya.


Jaga istri kita... Eiden.


^^^To be continue...^^^