
Ting!
Eiden membuka ponselnya.
...__________...
...Ilona...
...online...
• Tuan, nyonya menangis
• Saya tidak tau penyebabnya
• Nyonya hanya berdiam di kamar setelah sampai di mansion Anda
...__________...
Eiden tiba-tiba bangkit dari duduknya. Mengabaikan tatapan penasaran dari ketiga sahabat, lelaki itu bergegas keluar. Ia harus pulang sekarang juga.
Sebenarnya, Kyra kenapa, ya?
...💫💫💫...
“Hiks... Daddy, mommy kenapa?” tanya Emily sedih. Gadis kecil itu meringkuk di pelukan Eiden yang baru saja datang.
“Emily sama grandma dulu, ya. Daddy mau cek mommy di atas.” Untungnya, putri kecil Eiden itu tidak membantah sedikitpun. Ia pasrah saja ketika Eiden menyerahkan dirinya pada Abigail. Sementara Eiden bergegas menaiki tangga menuju lantai dua, tepatnya kamarnya.
Di dalam, Eiden melihat Kyra duduk termenung di tepi ranjang. Matanya sembab, menunjukkan jika wanita itu sungguh menangis sebelumnya.
Walaupun tidak memiliki pengalaman di bidang menghibur wanita, Eiden tetap mendekat. Lelaki itu duduk di sebelah sang istri. “Em.. kamu kenapa?”
Astaga! Kaku sekali, sih, lelaki ini! Tapi, mau bagaimana lagi? Ini sifat asli Eiden yang sudah mendarah daging.
Kyra menoleh dengan bibir mengerucut. “Eiden, aku sedih.”
Sumpah, sih. Kenapa kalimat Kyra jadi seperti anak kecil yang sedang mangadu pada ayahnya?😭
“Kenapa?” Eiden tidak menanggapi nada bicara Kyra.
Bukannya menjawab, Kyra malah merentangkan tangan. “Mau peluk.”
Tanpa banyak bertanya, Eiden menarik Kyra ke dalam dekapan. Menyelimuti wanita yang menjabat sebagai istrinya dengan kehangatan.
“Aku punya kakak.” Kyra memilih untuk bercerita. Tidak, bukan karena ingin membongkar identitas. Kyra hanya merasa jika suaminya ini bisa sangat membantu. Pekerjaan Eiden, kan, mafia, pasti punya banyak koneksi.
“Hmm...” Eiden mendengarkan.
“Dia meninggal 7 tahun lalu karena kecelakaan. Tapi.. tapi...” Tiba-tiba Kyra merasa sesak. Ini pasti gara-gara ia menangis tadi—awalnya menangis sungguhan, tapi Kyra memanfaatkannya untuk memanggil Eiden pulang. “Tapi, aku barusan tau kalo ada orang yang mirip sama kakakku.”
Eiden mengerutkan dahi. “Dari mana kamu tau?”
“Aku juga punya anak buah dan kebanyakan dari mereka tau soal silsilah keluargaku. Salah satu dari mereka bilang kalo dia liat orang yang mirip kakakku di jalan. Aku jadi kepikiran.” Kyra mendongak dengan wajah muram. “Apa ada kemungkinan itu beneran kakakku, Eiden?”
“Aku nggak yakin.” Eiden tidak berani memberi janji lebih.
Kyra bertambah mendung. “Aku kangen kakak...” lirihnya.
Eiden sangat tidak tahu harus mengatakan apa supaya suasana hati Kyra membaik. Yang lelaki itu lakukan hanya menambah intensitas pelukan keduanya.
“Tujuh tahun lalu, kakak dinyatain meninggal waktu kecelakaan. Tapi, wajah jasadnya nggak keliatan, cuma ciri-ciri tubuhnya aja yang mirip. Mamaku nggak setuju buat otopsi waktu itu.” Kyra melanjutkan ceritanya. “Pasti ada kemungkinan, kan, kalo kakakku masih hidup.”
Jika begitu, Eiden mulai memiliki keyakinan jika kakak iparnya masih hidup. Ditambah lagi jasad kakak Kyra tidak diidentifikasi dengan jelas.
“Kamu punya fotonya?” tanya Eiden ingin membantu. Ia akan mencoba menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu mengenai kakak iparnya itu.
“Ada!” Yes! Umpan dimakan! Kyra menyambar ponsel dan mencari foto sang kakak di galeri. Ada banyak sekali potret Ansel di sana. Kyra memilih foto terbaik yang di dalamnya ada dirinya. “Ini Kak Ansel.”
Sontak Eiden mengerutkan dahi. Lelaki yang dipanggil Kyra ‘kakak’ adalah sosok yang familiar di memorinya. Eiden ingat betul lelaki itu.
Brian. Ya, itu namanya. Nama lelaki itu berada di daftar hitam miliknya, salah satu lelaki yang harus dihabisi dengan keji.
Tapi, apa ini? Ada kemungkinan kalo Brian... adalah kakak iparnya?
“Kenapa, Eiden? Apa kamu kenal kakakku?” tanya Kyra antusias. Padahal, wanita itu sudah tahu jika Eiden pasti mengenali wajah kakaknya. Brian, kan, masuk ke dalam anggota yang menjadi dalang pengeboman hotel hari itu.
“Yaahh...” Kyra menunduk lesu. Bahunya yang tegak berubah lunglai. Kepala Kyra mendongak, menatap Eiden penuh harap. “Aku boleh minta tolong, Eiden?”
“Boleh,” jawab Eiden cepat.
“Tolong carikan kakakku. Nggak masalah kalo emang ternyata bukan, yang penting aku nggak penasaran lagi.”
...💫💫💫...
“Baik, Tuan. Saya akan memberitahu Anda jika data yang Anda minta sudah siap,” ucap Garry di seberang sambungan telepon.
“Ya.” Eiden pun mematikan telepon.
Sesuai perkataannya pada sang istri, Eiden akan mencari tahu mengenai lelaki bernama Ansel, kakak Kyra. Sosok yang sangat familiar karena ia sangat membencinya sebagai Brian, anggota mafia The Zero.
Tok tok tok...
“Eiden, makan malam udah siap. Ayo turun.” Itu suara Kyra.
Eiden keluar dari ruang kerjanya. Sepasang suami-istri itu menuruni tangga secara beriringan. Kyra sudah kembali normal—bahkan cenderung ceria—karena suaminya sudah berjanji akan membantu mencari Ansel.
Sejujurnya, ada niat lain di hati Kyra. Wanita itu mengetahui jika orang yang mirip kakaknya itu merupakan anggota mafia The Zero, musuh bebuyutan Blood Moon, kelompok mafia yang Eiden pimpin. Jika Kyra tidak mengungkapkan keberadaan kakaknya, bisa-bisa Eiden membunuh kakaknya di masa depan.
Walaupun belum ada titik terang, Kyra tetap merasa senang, hehe.
“Mommy, duduk sini.” Emily menepuk kursi kosong di sebelahnya. Kyra duduk di sana dengan senang hati. “Mommy udah nggak sedih lagi, kan?”
“Nggak, Sayang.”
“Bagus, deh. Emily nggak suka kalo Mommy sedih. Soalnya, Emily ikutan sedih.“
“Oww..” Kyra terharu. Kendatipun keduanya tidak terhubung melalui ikatan darah, kasih sayang Emily padanya sangat tulus. Kyra suka sekali.
“Mami emang jagonya buat Darren panik,” celetuk Darren yang duduk di sebelah Kyra juga. Kedua bocah itu selalu mengapit Kyra di meja makan.
“Kok berubah ‘mami’ lagi, sih, Kak?” omel Emily kesal.
Darren cengengesan. “Eh, iya. Lupa.”
“Udah, Sayang. Kita makan, yuk.” Titik awal pertengkaran dua saudara ini harus dihentikan. Setelah itu, keluarga kecil itu menyantap makanan dengan khidmat diselingi celotehan Emily mengenai sekolahnya—dengan catatan, gadis kecil itu harus menelan makanannya lebih dulu.
Selesai makan malam...
“Oh, ya, aku mau kasih tau.” Eiden yang diam tiba-tiba bersuara. Semua orang langsung mengalihkan perhatian pada ayah dua anak itu. “Aku mau ke luar kota besok.”
Kyra terkejut. “Kok mendadak banget, sih, Eiden?!” protes Kyra. “Besok rencananya aku mau ajak kamu ke butik buat ukur badan kamu.”
“Buat apa?”
“Kan, aku udah bilang kalo gaun sama tuxedo buat resepsi aku sendiri yang buat. Gimana, sih?” Kyra kesal. Desain gaun dan tuxedo milik keluarganya sudah siap semua, termasuk kain spesial yang telah ia beli. Bahkan, Cavan dan Abigail selesai diukur, tersisa Eiden saja.
“Tapi, kunjungan kali ini penting, Kyra.” Eiden tidak bisa memundurkan jadwal kali ini.
Kyra menghela napas panjang, berusaha sebisa mungkin untuk memaklumi suaminya yang super sibuk. Alhasil, Kyra memilih untuk mengalah. “Ya udah, habis ini aku ukur. Jangan tidur dulu.”
Eiden tersenyum kecil. “Oke.”
Cavan dan Abigail mengajak agar mereka pindah ke ruang keluarga. Beberapa menit berlalu, Darren nampak bengong. Bocah itu tengah memikirkan sesuatu yang rumit.
“Mommy, masih ada waktu, kan? Hari ini Darren masih rajanya, kan?”
Ya ampun, anak itu masih cosplay jadi raja sehari.
“Kenapa? Darren mau minta sesuatu?” tanya Kyra sabar.
Darren mengangguk. “Darren mau minta sesuatu sama Mommy dan Daddy, boleh?”
Karena ini kali pertama putra tirinya meminta, Eiden mengiyakan dengan cepat.
“Darren mau punya adik, tapi harus cowok. Bisa, kan, Mom, Dad?”
^^^To be continue...^^^