Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 26 | Nasihat Bocah 6 Tahun



“Darren penasaran, Om.” Darren menatap Eiden lurus. “Sebenarnya mommy kandung Emily ke mana, sih?”


Hening menerpa. Eiden membisu. Tidak jauh berbeda dengan kedua orang tuanya.


Tahu jika ia salah bicara, Darren menaruh sendok di piring. Tangannya bergerak mengusap tengkuk, ia canggung setengah mati. “Maaf, Darren salah ngomong, ya.”


Buru-buru Eiden memperbaiki ekspresi wajahnya. Lelaki itu berusaha bersikap biasa saja. “Om nggak tau ‘dia’ di mana.”


‘Dia’ yang Eiden maksud adalah mommy kandung Emily. Jelas ia berbohong. Padahal, Eiden selalu mengawasi mantan istrinya itu.


Bukan karena perhatian dan tidak ingin kejadian buruk menimpa wanita itu. Eiden hanya ingin memastikan jika mantan istrinya jauh dari Indonesia, jauh dari keluarganya.


“Om nggak berbakat jadi aktor. Keliatan banget kalo lagi bohong,” ejek Darren. Ia menyuap sesendok makanan ke dalam mulutnya dan mengunyah dengan cepat. “Om bilang nggak tau, tapi mata Om bilang kalo Om tau.”


Eiden tertegun. Ia memandang Darren dengan mata memicing. Jangan bilang bocah ini bisa—


“Iya, Darren bisa nebak pikiran Om lewat mata sama ekspresi,” kata Darren dengan raut santai. “Mami sendiri yang latih,” imbuhnya.


Sial! Eiden tidak habis pikir. Untuk apa Kyra mengajari Darren hal-hal semacam itu? Anak di depannya ini masih terlalu kecil untuk memahami urusan orang dewasa.


“Darren pernah, kok, diculik, Om,” cetus Darren membuat ketiga insan dewasa di sekitarnya terkejut. Bahkan, beberapa pelayan yang diam-diam menguping hampir memekik karena memperhatikan raut Darren yang terlampau santai. Seolah penculikan adalah hal yang biasa terjadi.


“Mami itu orang yang terkenal. Darren sering diincar karena itu.” Ia melipat tangannya. “Karena ini juga Mami belajar bertarung biar bisa lindungi Darren. Apalagi Darren, kan, nggak punya papi.”


Ah, ya. Cavan, Abigail, dan Eiden ingat jika Kyra adalah designer terkenal. Wanita itu pasti menjadi objek keirian banyak orang.


“Darren nggak mau jadi anak cengeng yang cuma bisa nangis, Om. Jadi, Darren harus kuat juga. Kalo Darren nggak bisa bantu mami lawan penjahat, seenggaknya Darren nggak akan jadi beban dengan merengek.”


Eiden terdiam. Ia tahu, Darren belum selesai bicara.


“Mami bilang, Darren harus bisa manfaatin situasi. Harus tenang dan berpikir cepat. Harus berani dan nggak boleh takut sama apa pun. Makanya, Darren santai-santai aja.” Ia meminum air putih yang tersedia. “Jadi, nggak usah heran kalo anak sekecil Darren udah bisa ngelakuin hal kayak tadi. Lagian dunia Om jauh lebih bahaya, kan?”


Eiden mendadak waspada. Apa maksud kalimat terakhir Darren? Dunianya?


“Muka Om, kok, tegang banget? Maksud Darren, kan, dunia bisnis. Kata mami, dunia bisnis banyak orang suka nipu,” jelas Darren. Eiden mengangguk sembari bernapas lega diam-diam.


“Eh, bukan itu yang mau Darren omongin tadi.” Darren menepuk kepalanya pelan. “Ini soal Emily.”


“Emily kenapa?”


“Sikapnya itu, lho. Om nggak sadar?” Darren memiringkan kepalanya.


Eiden mengangguk. “Iya, Om tau. Maaf kalo Emily ambil perhatian mamimu.”


Darren berdecak. “Bukan itu, Om, intinya. Astaga...”


Kening Eiden mengernyit. “Terus?”


“Emily itu kekurangan kasih sayang, makanya dia kayak gitu. Suka nempel sama mami yang jelas-jelas nggak punya hubungan sama dia.” Darren mengerucutkan bibirnya. “Om tau apa perbedaan Darren sama Emily?”


Yang pasti Darren laki-laki dan Emily perempuan, sih.


Itu yang dipikirkan Cavan dan Eiden. Lagian tidak salah, kan? Sedangkan Abigail tahu jika pertanyaan Darren tidak sesederhana itu.


“Darren nggak punya papi, tapi Darren nggak pernah kekurangan kasih sayang. Karena sesibuk apa pun mami, mami selalu memprioritaskan Darren apa pun yang terjadi. Tapi, kayaknya di sini Emily nggak dapet hal yang sama dari Om.”


Melihat ekspresi rumit di paras Eiden, Darren melanjutkan, “Om sama mommy kandung Emily berpisah karena keinginan sama-sama, kan?”


Eiden tersentak.


“Om, kalo ambil keputusan itu berarti Om siap nanggung risikonya juga. Karena Om milih buat berpisah, berarti Om harus siap jadi mommy sekaligus daddy buat Emily. Om paham nggak, sih, maksud Darren?” Kok bocah itu jadi kesal sendiri karena lelaki di depannya terlihat tidak mengerti.


Kali ini, Eiden semakin dibuat tersentak. Tidak menyangka Darren akan mengatakan hal seperti itu. Hal yang biasanya diucapkan oleh orang dewasa.


“Bahagianya anak itu simple, kok. Orang tuanya selalu ada dan perhatian, itu udah cukup. Kalo Om kasih Emily perhatian banyak, Emily nggak akan bersikap kayak gitu. Berusaha menarik perhatian orang asing sampe lengket banget,” tambah Darren santai tanpa tahu kalimat-kalimat itu sukses menohok Eiden.


Sangat menampar hati Eiden. Lelaki itu sadar jika selama ini putrinya bukan prioritas utama. Kadang Eiden mendahulukan pekerjaannya dibanding Emily di beberapa kesempatan. Sesuatu yang menurutnya sepele, ternyata berdampak besar bagi putrinya.


“Darren paham, kok, Om itu sibuk. Pergi ke sana, ke sini, cari uang banyak buat Emily. Tapi, buat anak kayak Emily, bukan uang yang dia mau. Tapi, daddy-nya yang duduk di samping sambil belajar bareng, main bareng, terus bercanda bareng.” Darren tersenyum menatap piring di hadapannya kosong. Perutnya kenyang sekarang.


Eh, tapi Darren nggak yakin, sih, kalo Om Eiden bisa diajak bercanda.


Darren menatap Eiden hangat dengan senyum lembut—salah satu cara terampuh sang mami ketika memberi nasihat. “Luangin beberapa menit buat main bareng nggak akan buat perusahaan Om bangkrut, kan?” tanyanya menohok.


Eiden benar-benar tidak menyangka anak berusia 6 tahun tengah menasihatinya menjadi daddy yang baik. Tapi, lelaki itu tidak akan menyangkal. Semua saran Darren benar adanya.


Eiden mengangguk pelan. “Om usahakan,” balasnya.


“Hm, hm.” Darren manggut-manggut dengan raut bangga. “Dewasa memang tidak memandang umur. Huhu.. Darren anak pintar.” Tangannya bergerak mengusap kepalanya sendiri.


Eiden sampai berdecih. Tindakan Darren sangat menjelaskan jika lelaki kecil itu tengah membanggakan diri sendiri. Tapi, emang iya, sih.


“Ya, Darren pintar sekali.” Abigail memeluk Darren gemas. Perkataan Darren sukses menggetarkan hatinya. Bahkan, ia saja yang merupakan ibu Eiden tidak pernah memberi nasihat seperti itu. Ah, betapa bangganya dia jika Darren sungguhan jadi cucunya.


“Aduh, Darren senang sekali dipeluk. Apalagi sama yang cantik-cantik.” Darren mencuri satu kecupan di pipi Abigail. Wanita paruh baya itu tertawa bersama Darren.


Cavan melirik Darren sinis. Enak aja dia cium-cium istriku!


“Permisi, Nyonya, Tuan.” Seorang pelayan datang dengan kepala menunduk. “Nona Kyra dan nona kecil sudah tidur di kamar nona kecil.”


Cavan mengangguk. Ia menyuruh pelayan itu pergi.


“Berarti Darren nginap di sini, ya?” Abigail mengiyakan dengan senang hati. “Darren capek, mau tidur, Oma.”


“Oh, cucu Oma ngantuk, ya? Oke, kita tidur, Sayang.” Abigail bersiap ingin membawa Darren ke kamar. Namun, sayang, Cavan lebih dulu menarik pinggang istrinya hingga jatuh ke dekapan.


“Aku juga ngantuk, Sayang. Ayo kita istirahat.”


Darren memutar bola matanya malas. “Kakek posesif!”


“Heh!” Cavan melotot kesal.


Darren tersenyum mengejek ketika Abigail menepuk lengan pria itu demi membelanya. Ah, sepertinya kehadiran Darren benar-benar akan mengubah suasana mansion.


“Oma istirahat aja. Bayi besar Oma butuh pelukan hangat,” ledeknya. Cavan sampai merah padam. Seandainya Darren lelaki dewasa, sudah pasti ia akan mengajaknya berduel sejak tadi.


Pada akhirnya, Abigail dibawa paksa ke kamar oleh Cavan. Pria paruh baya itu tidak rela istri kesayangannya lebih memanjakan Darren.


“Biar Om yang antar.” Eiden meraih tangan Darren, mengajaknya melangkah beriringan. Eiden bahkan memelankan laju kakinya supaya bisa menyamai ayunan kaki mungil Darren.


Tiba di sebuah kamar, Darren mengerutkan dahi. Ia menelisik seluruh ruangan yang luasnya melebihi kamar Emily. Kenapa firasat Darren jadi tidak enak, ya?


“Kamar tamu nggak bisa dipake karena belum dibersihin. Jadi, kamu tidur di sini.”


“Oke. Ngomong-ngomong kamar Om di mana?”


“Ini kamar Om.”


“Lho?” Darren mendadak blank.


“Kita tidur bareng.”


What?!


^^^To be continue...^^^