
“Apa yang kamu lakuin dengan badan penuh darah itu, Eiden?!”
Eiden terpaku. Sekujur tubuhnya membeku di posisi. Sosok di hadapannya tengah menatap dirinya kelewat tajam, memindai dari ujung kaki hingga kepala. Hanya satu yang ditemukan, darah.
Badan Eiden benar-benar dihujani cipratan darah.
Eiden mencoba mendekat. “K–Kyra, aku—”
“Cukup!” Kyra mengangkat tangannya tangkas, kode supaya Eiden berhenti. “Bersihin badan kamu sekarang juga! Baru kita bicara!” Ia tidak mau bicara dengan manusia berlumuran darah seperti Eiden.
“K–Kyra, aku—”
“MANDI, EIDEN! BERSIHIN DARAH DI BADAN KAMU!” teriak Kyra kesal.
Eiden menatap Kyra sendu. Pikirnya, istrinya saat ini telah menyimpulkan sesuatu yang bersifat buruk mengenai kondisinya sekarang. Memang, sih, bagi siapa pun yang melihat penampilan Eiden sekarang pasti merasa ngeri. Tubuh penuh darah—dan itu darah orang lain!
“Iya, aku mandi.” Eiden memilih untuk bergegas membersihkan diri. Kyra benar, tubuhnya benar-benar dikelilingi bau amis. Pantas saja Kyra tidak mau didekati.
Sekarang benak Eiden berkecamuk ria. Ia bingung akan mengatakan apa. Yang pasti, Eiden tidak bisa lagi menyembunyikan identitasnya sebagai mafia. Alangkah lebih baik jika ia jujur sekarang daripada Kyra mengira yang tidak-tidak tentangnya.
Eiden jelas khawatir dengan reaksi Kyra nanti. Bagaimana kalau istrinya itu tidak menginginkan suami mafia sepertinya? Bagaimana kalau istrinya kecewa lalu meninggalkannya? Tidak! Eiden tidak ingin kehilangan istrinya lagi!
Cukup sekali ia kecolongan. Sekarang tidak. Sekalipun Kyra bersikukuh ingin bercerai, Eiden akan tetap mempertahankan hubungan mereka. Tidak peduli jika lelaki itu akan mendapat cap egois, Eiden tidak mau kehilangan Kyra.
Setelah memastikan tidak ada sisa darah di tubuhnya, Eiden menyudahi acara mandinya. Ia berpakaian dengan cepat supaya dapat bicara dengan Kyra.
Ketika Eiden masuk ke kamar, lelaki itu menemukan sang istri tengah berdiri di balkon, memandangi langit malam. Menyadari badan Kyra hanya dilapisi piyama, Eiden berinisiatif untuk mengambil selimut dan menyampirkannya pada bahu Kyra. “Di luar dingin, Ra. Nanti masuk angin.”
Kyra menoleh. Tatapannya begitu dalam hingga beberapa detik terlewati. “Jelasin sebelum aku nuduh yang nggak-nggak, Eiden,” katanya datar.
Glek!
Eiden menegang. Mau tidak mau, ingin tidak ingin, Eiden harus jujur malam ini juga. Raut wajahnya yang gelisah tertangkap jelas oleh sepasang mata hijau Kyra.
Demi kucing yang kepeleset abu, Kyra ingin terbahak menyaksikan respon Eiden. Lelaki itu benar-benar terlihat galau hanya untuk mengatakan yang sebenarnya. Padahal, kan, cuma tinggal jujur saja, kan?
Hei, Kyra sendiri belum jujur soal identitasnya, kan? Jangan berlagak jadi korban, deh—Ay😒
Usai membuang napas panjang, Eiden berkata, “Aku mafia, Ra.”
Hening. Eiden tidak mendengar balasan apa pun dari sang istri. Namun, ia bisa merasakan jika tubuh Kyra menegang sesaat karena lelaki itu tengah memeluk Kyra dari belakang.
“Aku ketua mafia Blood Moon, nerusin pekerjaan papa dulu. Sebelumnya, papa yang jadi ketua. Sekarang aku yang pimpin karena papa udah nggak sekuat dulu.” Eiden kembali menghela napas. “Maaf, aku nggak bermaksud nyembunyiin ini lama-lama dari kamu. Aku udah berencana buat ceritain semuanya. Tapi...”
Kyra masih diam. Ia memberi ruang bagi Eiden untuk mengeluarkan semua unek-unek di kepalanya.
“Tapi, masalah yang dateng terus-terusan ngebuat aku sibuk. Aku jadi jarang punya waktu buat kamu. Aku juga takut sama reaksi kamu. Aku nggak mau kamu pergi ninggalin aku gara-gara ini. Maaf, Kyra, aku salah. Aku bener-bener minta maaf.”
Eiden menghentikan ceritanya. Penjelasan itu sudah lebih dari cukup bagi Kyra, kan?
“Apa kamu habis bunuh orang tadi? Badan kamu... penuh darah,” tanya Kyra dengan suara lirih. Ia bahkan berakting memasang raut wajah tidak percaya—dengan hati yang terpingkal-pingkal di dalam sana.
Eiden mengangguk, tidak mengelak. “Tapi, aku cuma bunuh orang yang bersalah, Ra. Orang-orang itu salah, mereka pelaku yang neror kita, yang culik anak kita, dan yang berniat hancurin keluarga kita,” bela Eiden. Lagipula itu faktanya, kan?
Kyra tidak bereaksi dengan cepat. Wanita itu bertingkah seolah tengah berpikir keras.
Eiden mengeratkan pelukan. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kyra. “Jangan tinggalin aku, please...”
Tanpa menunggu jawaban dari sang suami, Kyra lebih dulu melangkah keluar kamar. Meninggalkan Eiden yang nampak diam di balkon kamar, tidak berniat melarang. Mungkin benar, istrinya pasti syok dan butuh waktu untuk berpikir. Makanya, Eiden akan memberi banyak ruang untuk menjernihkan pikiran dan mencerna segala penjelasannya.
Malam itu, Eiden tidur sendirian ditemani sebuah guling. Ia yang terbiasa tidur sembari memeluk Kyra terpaksa harus berganti objek pelukan.
Hah.. benda mati di pelukannya sangat tidak nyaman!
Sementara di kamar Emily, Kyra tersenyum senang karena berhasil mengerjai Eiden. Ia mengunci pintu kamar dan mendorong nakas berat untuk mengganjal pintu. Berjaga-jaga jika tiba-tiba Eiden menerobos masuk untuk membawanya ke kamar menggunakan kunci cadangan. Ia, kan, paham sekali kalau Eiden kesulitan tidur jika tidak memeluknya.
Kyra berbaring di sebelah putrinya. Sebelum terlelap, ia mencium kening Emily terlebih dahulu. “Mimpi indah, Princess Mommy.”
...💫💫💫...
Paginya...
Abigail mengerutkan dahi melihat tampang putra semata wayangnya. Eiden nampak kelelahan dengan lingkar hitam di bawah matanya. Beralih pada sang menantu, Kyra terlihat tidak mengacuhkan Eiden. Apa keduanya sedang bertengkar?
Bukan hanya Abigail yang menyadari hal tersebut. Namun, seluruh anggota keluarga, termasuk Darren yang mengernyit penasaran. Emily sendiri masih di kamar, tidak ikut bergabung sarapan. Gadis itu masih ketakutan untuk keluar dari kamar. Sedangkan Darren berusaha melupakan kejadian kemarin sesuai saran dokter dan mommy-nya dengan mengalihkan perhatian ke sesuatu yang lebih menarik.
Situasi orang tuanya misalnya, hehe.
“Mommy sama Daddy lagi berantem, ya?” celetuk Darren dengan polosnya.
Eiden bertambah murung. Darren pun menyimpulkan bahwa ada yang tidak beres di sini.
“Kenapa, sih, Mom?” tanya Darren penasaran. “Habis baku hantam, kah? Atau adu mulut? Darren kepo, nih.”
Kyra terdiam sejenak. “Daddy kamu ternyata nyembunyiin rahasia, Sayang. Mommy kesel aja.”
Abigail dan Cavan kompak menegang. Rahasia macam apa yang Kyra maksud?
Sedangkan Darren nampak mengerjapkan matanya. “Rahasia apa?”
“Daddy kamu mafia, Boy.”
Deg!
What?! Semudah itu Kyra mengatakan hal sebesar itu pada Darren?! Pada anak usia 6 tahun?!!
Bukan cuma Eiden, Abigail, dan Cavan saja yang dibuat terkesiap. Para pelayan pun menganga saking tidak menyangkanya. Untungnya, mereka semua sudah tahu mengenai identitas Eiden. Yang menjadi masalah adalah cara Kyra membocorkan perihal tersebut pada Darren.
“Oh, gitu doang.”
Dan, ya. Reaksi Darren jauh di luar ekspektasi. Mereka semakin terperangah dengan sikap Draren yang santai-santai saja.
“Kamu... kenapa?” tanya Eiden tidak mengerti. Pikirnya, Darren akan memandangnya sebagai pembunuh. Bukannya pemikiran anak-anak memang seperti itu?
“Kenapa apanya, Dad?”
“Kok kamu biasa aja, sih?” Cavan tidak sabar ingin mendengar penjelasan.
Darren mengendikkan bahu dengan tangan terlipat di depan dada. “Darren, kan, udah tau dari awal. Ngapain kaget lagi?”
“APA?!”
^^^To be continue...^^^