
“Permisi, Nyonya, Tuan.”
Seorang pelayan menginterupsi. Kyra menghembuskan napas lega karena fokus Darren teralihkan.
“Ada dua wanita yang datang, Nyonya, Tuan. Mereka bilang mencari Tuan Eiden.”
Dua wanita? Siapa? Dan, untuk apa mencari suami Kyra?
“Suruh mereka menunggu di ruang tamu,” kata Eiden mutlak. Si pelayan mengangguk, lalu pergi dari ruang makan.
“Mommy.” Emily menarik lengan Kyra dan membuat atensi wanita itu teralihkan. “Hari ini Mommy, kan, yang antar sekolah?” tanyanya penuh harap.
Kyra tersenyum. “Of course, Sayang. Nanti Mommy yang antar.” Emily bertepuk tangan senang. Bocah itu melanjutkan makan dengan tubuh digoyang-goyangkan.
“Mommy.” Kini giliran Darren yang memanggil. “Mommy nggak lupa, kan, sama janji Mommy?”
Kyra mengerutkan dahinya. “Janji apa?”
“Darren to be king for a day?” Bibir Darren melengkung—tidak, itu bukan senyuman. Melainkan seringaian licik bocah itu.
Raut wajah Kyra berubah datar dalam sekejap. Ia benar-benar lupa dengan janji itu. Menjadikan Darren raja sehari?
Mampus sekali nasib Kyra hari ini.
...💫💫💫...
“Darren ingin apa?” tanya Kyra ketika mereka selesai sarapan.
Darren menggeleng. “Nanti aja, Mi. Darren udah nyiapin banyak permintaan buat Mommy.” Ia menyeringai. “Siap-siap, ya, Mommy-ku sayang.”
Kyra merengut. Ia benar-benar terjebak di situasi tak mengenakkan ini. Abigail terkekeh melihat raut masam menantunya. Wanita paruh baya itu jadi penasaran, memangnya seberapa parah permintaan Darren sampai Kyra tersiksa seperti ini?
“Oke, kita berangkat sekolah sekarang.” Tidak ingin mengingat lebih lanjut, Kyra menggandeng tangan Darren dan Emily. “Kami pergi dulu, ya, Ma, Pa.”
Cavan dan Abigail mengangguk. “Hati-hati di jalan, Sayang,” pesan Abigail.
Kyra hendak melangkah keluar mansion. Namun, langkah wanita itu terhenti ketika mendengar teriakan Eiden. Lelaki itu turun dari lantai dua dengan setelan jas lengkap dan raut datar. “Mereka akan ikut.”
“Mereka?” beo Kyra bingung.
Tidak berlangsung lama, kok. Rasa bingung istri Eiden itu langsung terjawab ketika tiga gadis lain datang. Pakaian yang mereka kenakan hampir serupa, celana hitam, kemeja putih, jas hitam, dan earpiece di telinga.
Hei, kenapa firasat Kyra jadi tidak enak, ya?
“Mereka akan ikut. Mereka bodyguard kalian,” kata Eiden.
Jika Emily sudah tahu karena ini bukan kali pertama ia diikuti, berbeda dengan Kyra dan Darren. Sepasang ibu dan anak itu linglung seketika, tampang mereka benar-benar bodoh. Mungkin bagi Darren diikuti bodyguard bukan masalah besar.
Tapi, beda cerita untuk Kyra. Jika ia terus dibuntuti setiap hari, bagaimana dengan pekerjaannya?! Dia ini mafia!! Dia punya urusan di markas!!
“Halo, Kak Olin,” sapa Emily pada bodyguard pribadinya. Gadis yang dipanggil Olin mengangguk dengan muka datar.
“E–Eiden, ini serius? Aku bakalan diikuti sama mereka?” Kyra tidak bisa seperti ini. Identitasnya bisa terbongkar.
Yahh.. sebenarnya tidak apa-apa, sih. Kyra memang berniat memberitahu siapa dia. Bagaimanapun keluarga Eiden berhak tahu. Hanya saja, ini sangat—ah!
“Ya. Aku nggak mau kecolongan lagi. Dia Ilona,” Eiden menunjuk gadis yang berdiri di tengah. “Bodyguard pribadimu. Lalu, Xania.” Eiden menunjuk gadis di sisi kanan Ilona. “Bodyguard Darren.”
“Wah!” Darren geleng-geleng takjub. Sungguh, ia sulit berkata-kata kalau begini. “Darren merasa jadi anak presiden yang harus dikawal ke mana-mana.”
“Demi kebaikan kamu, Darren,” sahut Abigail.
“Iya, Oma.”
“Kan, Grandma udah bilang, panggil ‘grandma’. Jangan ‘oma’.” Abigail cemberut. Darren terkekeh.
Suara Emily mengembalikan kesadaran Kyra. Wanita itu masih tidak terima memiliki bodyguard yang akan mengikutinya ke mana pun. Namun, membahas ini sekarang sepertinya bukan solusi. Alhasil, Kyra akan menerimanya. Ia akan bicara pada Eiden nanti, ketika senggang.
“Oke, ayo kita berangkat.” Kyra melangkah kedua anaknya sembari menggandeng tangan mereka. Ketiga gadis itu mengekor setelah membungkuk hormat pada Eiden.
Kyra hendak mengulurkan tangan guna membuka pintu mobil. Namun, didahului oleh Ilona. “Silakan masuk, Nyonya.”
Kyra tersenyum kaku. Ia memang sering dilayani. Tapi, kalau masalah sepele begini biasanya Kyra lakukan sendiri.
“Biar saya yang mengendarai mobilnya, Nyonya.” Xania mencegah Kyra yang ingin naik ke bagian pengemudi.
Sebisa mungkin Kyra menahan emosi. Bisa-bisa ketiga bodyguard di depannya akan langsung terkena semprotan pedas. Maka dari itu, Kyra tidak banyak bicara dan langsung duduk di jok tengah bersama anak-anaknya—juga Ilona. Sedangkan Xania dan Olin duduk di depan.
“Mommy mau kerja, kah?” tanya Darren sembari menatap Ilona tajam. Bocah itu sedang mengamati gadis dewasa di depannya dengan saksama. Sebenarnya ia sedikit khawatir dengan identitas mami—ah, mommy maksudnya.
Namun, semampu mungkin Darren menaruh percaya pada sang mommy. Dengan kecerdikan Kyra, wanita itu pasti bisa berkelit dengan mudah.
Memangnya dari mana lagi Darren mendapat otak selicik ini jika bukan dari Kyra? Papinya, kan, menurunkan sifat penyayang yang kuat dan kegeniusan yang haqiqi.
“No, Mommy lagi males ke butik. Biar asisten Mommy aja yang urus.” Pandangan Kyra beralih pada Emily. “Ngomong-ngomong, Emily mau gaun yang kayak gimana? Mommy akan buatkan yang paling cantik.”
Senyum Emily mengembang. “Emily mau gaun kayak princess, Mommy. Tapi, warna pink.”
Kyra manggut-manggut. “Oke, Mommy buatkan.”
“Darren nggak ditanyain?”
Kyra menatap putranya. “Pada akhirnya, kamu bakalan pake tuxedo, kan?”
Darren terdiam. Itu benar juga, sih. “Emangnya gaun buat apa?”
“Resepsi pernikahan dong,” jawab Kyra senang. Permasalahan ini sudah dibicarakan sebelumnya. Resepsi pernikahan Eiden dan Kyra akan dilaksanakan sebulan lagi—karena Eiden beralasan sangat sibuk di kantor. Kyra juga mendukung karena ia ingin mendesain gaun impiannya sendiri. Untungnya, Abigail tidak memperkarakannya. Wanita paruh baya itu senang karena Kyra juga sama antusiasnya.
Di sekolah, Kyra mengantar Emily dan Darren hingga ke depan kelas. Beberapa guru dan orang tua nampak memicing curiga. Pasalnya, yang mereka tahu Kyra merupakan ibu Darren. Lalu, kenapa sekarang Emily bersamanya?
Mereka penasaran. Tapi, tidak berani bertanya. Semua orang tahu siapa Kyra, si pemilik brand butik terkenal di dunia.
Kyra pergi dari sekolah diikuti Ilona. Xania dan Olin akan menemani Darren dan Emily di sekolah. Sedikit banyak Kyra jadi penasaran. Memangnya kedua gadis itu tidak akan bosan?
“Nyonya ingin langsung pulang?” tanya Ilona yang baru menghidupkan mesin mobil.
Kyra berpikir sejenak. “Kita ke mall dulu.”
“Baik, Nyonya.” Mobil pun melaju meninggalkan area sekolah.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, mereka tiba di mall terbesar di Jakarta. Jalanan benar-benar macet, makanya lama.
Kyra melangkah santai diikuti Ilona di belakangnya. Gadis yang menjabat sebagai bodyguard itu sedikit kesulitan menyamai langkah sang majikan. Kaki jenjang Kyra membuat wanita itu bisa meraup banyak jarak hanya dalam sekali langkah. Beda dengan kaki Ilona, pas-pasan.
Kyra berjalan menuju produk kosmetik. Stok skincare miliknya menipis di mansion. Karena Eiden sudah memberikan blackcard padanya, jadi Kyra tidak akan berpikir panjang untuk membeli produk skincare kesukaan.
Pegawai yang mengenali Kyra langsung menyambut dengan ramah. Salah satu dari mereka bergegas menghubungi manajer untuk memberitahukan perihal kedatangan Kyra.
“Selamat datang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” sambut salah pegawai dengan senyum ramah.
Kyra balas tersenyum. “Saya mencari—”
“Wah, kebetulan sekali.”
Sontak Kyra menoleh. Raut wajahnya sedikit berubah melihat sosok di depannya.
^^^To be continue...^^^