
Brakk!
“Daddy!” seru Emily yang barusan menerobos ruang kerja Eiden. Air mata gadis kecil itu mengalir di pipi tembamnya. Kaki mungilnya bergerak cepat menghampiri Eiden. “Daddy! Mommy udah pulang, hiks..”
Eiden berdiri seketika. “Mommy udah pulang?”
Darren yang baru memutus sambungan telepon dengan Mauren tak kalah terkejut. Secepat itu Kyra pulang? Pikirnya, mommy-nya itu akan kembali agak nantian. Firasatnya semakin yakin jika ada yang tak beres.
“I–iya. Ta–tapi, m–mommy, hiks... pukul grandpa, Daddy.”
Eiden kaget bukan main. Kyra memukul Cavan? Ada apa sebenarnya dengan istrinya itu?!
Tak ingin berasumsi yang buruk-buruk, Eiden memilih untuk mendatangi istrinya dan bertanya sendiri. Sebelumnya, ia meminta Darren membawa Emily ke kamar. Sepertinya pembicaraan kali ini akan sedikit runyam dan anak-anak seperti Emily juga Darren tidak sepatutnya mendengar.
Setelah mengantar kedua anaknya ke kamar, Eiden turun ke lantai bawah. Tubuhnya menegang kala melihat pemandangan di depan. Kyra, istrinya, wanita itu menodongkan pistol pada Cavan yang berlutut di lantai dengan wajah lebam! Pasti karena Kyra sempat memukuli Cavan tadi.
Abigail menangis tersedu-sedu di samping Cavan. Pandangan Kyra benar-benar tajam dan kosong di saat bersamaan. Genggamannya pada gagang pistol begitu erat, menunjukkan keseriusan. Tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk, buru-buru Eiden menarik Kyra dan memeluk wanita itu.
“Lepas!” bentak Kyra memberontak. “Lepas! Aku harus bunuh bajingan ini!”
Eiden jelas marah karena papanya disebut seperti itu. Namun, Kyra ini istrinya, wanita yang ia cintai. Jadi, Eiden akan menahan diri sebisa mungkin. Lalu, meminta penjelasan supaya semuanya jelas.
“Kyra, Kyra! Kamu kenapa? Kenapa kamu kayak gini?” tanya Eiden berusaha menyadarkan istrinya. Pasalnya, tingkah Kyra tidak seperti Kyra yang biasa. Pasti terjadi sesuatu.
Kyra mendorong Eiden kasar hingga pelukan keduanya terlepas. Bola mata hijau yang biasanya berpendar lembut, malu-malu, atau jail itu tidak lagi nampak. Yang tersisa hanya kebencian, kekosongan, dan kerapuhan seorang Kyra.
“Orang ini!” Kyra menunjuk Cavan. “Dia penyebab papaku meninggal, sialan!” teriaknya emosi.
Eiden membeku. Pernyataan macam apa ini? Ia menoleh ke arah Cavan, meminta penjelasan. Pria paruh baya itu tidak membantah, hanya menundukkan kepala yang segera didekap oleh Abigail. Reaksi Cavan yang seperti itu menandakan jika ia membenarkan perkataan Kyra.
Papanya adalah penyebab papa Kyra meninggal? Bagaimana bisa?
Eiden sedikit bersyukur karena Adaline sudah dibawa pulang oleh Ansel. Jadi, mertuanya itu tidak mendengar fakta barusan.
“Aku bersumpah di makam papa akan bunuh siapa pun yang jadi penyebab papa meninggal! Orang ini harus mati!” Kyra kembali menodongkan pistol. Bahkan, kali ini lebih dekat, berjarak 50 cm dari dahi Cavan.
Cavan menyorot menantunya sendu. “Bunuh Papa kalau itu buat kamu tenang, Nak. Papa ikhlas,” katanya. Ia tidak akan menolak karena perkataan Kyra memang benar. Selama ini, ia tidak tahu jika Kyra adalah putri Axelo, laki-laki yang berjasa besar di hidupnya bertahun-tahun silam.
Abigail meraung. Ia menatap penuh harap pada Kyra. “Nak, tolong jangan lakukan ini,” tuturnya sedih. Ia takut jika Kyra sungguh-sungguh meluncurkan sebuah amunisi di tubuh suaminya. Sumpah, Abigail sama sekali tidak tahu mengenai kisah ini. Cavan tidak menceritakan apa pun padanya!
Eiden berusaha menenangkan Kyra. Ia memeluk istrinya dari belakang dan membisikkan beberapa kata. Walaupun Cavan mengakui kesalahan yang Kyra tuduhkan, Eiden sebagai anak tidak rela jika papanya mati tepat di hadapannya.
“Kyra, please...” mohon Eiden.
Kyra menyentak tangan Eiden dari tubuhnya. Ia maju satu langkah dan menempelkan moncong pistol di dahi Cavan. Bola mata hijau wanita itu bergetar, tangannya pun sama.
Rekaman-rekaman memori itu terus berputar. Pada akhirnya, Kyra menjatuhkan pistolnya dan terduduk lemas karena tidak kuasa menahan bobot. Tangis wanita itu pecah. Eiden yang sadar bergegas membawa istrinya ke dalam pelukan. Kakinya bergerak menendang pistol yang Kyra jatuhkan ke sembarang arah.
“Sayang...” lirih Eiden pelan.
“Aku ingin bunuh dia... aku ingin, hiks... Tapi, kenapa nggak bisa..? Aku nggak sanggup, Eiden. Dia, hiks.. jahat, tapi dia baik. A–aku harus apa...? Hiks..” Kyra membenamkan wajahnya di dada sang suami.
Eiden bisa merasakan kebimbangan wanitanya. Alasan mengapa istrinya tidak bisa menembak karena kebaikan hati Kyra. Wanita di pelukannya ini adalah tipe orang yang tidak akan melupakan jasa orang lain padanya. Sikap Cavan yang memperlakukan Kyra istimewa jelas tidak bisa dilupakan begitu saja.
“Mommy?”
Suara itu sukses membuat semua orang kecuali Kyra menegang. Ketika menoleh, mereka mendapati Darren tengah menatap Kyra dengan sorot tak terartikan.
“D–Darren..?” Abigail tidak menyangka cucu laki-lakinya ada di sini. Apa anak itu melihat dan mendengar semuanya?
Darren berjalan dengan tenang mendekati Kyra. Ia ikut membantu daddy-nya memeluk sang mommy, berusaha memberi ketenangan. “Mommy kenapa?” tanyanya berbisik.
Kyra menatap Darren dengan sorot kosong. “Dia jahat.. hiks.. dia jahat...”
“Siapa yang jahat?” tanya Darren lagi.
“Dia!” Kyra menunjuk Cavan yang hanya diam sejak tadi. “Dia yang buat papaku meninggal, hiks...”
Darren mengangguk pelan. Ia meraih jemari mommy-nya dan dicium. Hal kecil itu sontak membuat Kyra mengalihkan perhatiannya pada Darren. Saat ini, mata hatinya seolah tertutup kabut. Ia tidak bisa mengenali siapa sosok mungil di depannya. Dan, Darren yang sudah menemani perjalanan Kyra dulu jelas tahu apa yang terjadi.
“Siapa yang bilang kalau grandpa ngelakuin itu?” tanya Darren.
“Aku cari tau sendiri! Dia—”
“Mom,” sela Darren lembut. “Kenapa Mommy berubah? Bukannya Mommy sendiri yang bilang kalo keputusan baru boleh dibuat pake kepala dingin? Terus kenapa Mommy langsung mutusin grandpa salah pake kepala panas?”
Kyra terdiam. Sedikit demi sedikit, binar di mata Kyra mulai terisi. Kata-kata Darren sedikit banyak berhasil mempengaruhinya.
“Mommy jangan cuma dengerin cerita dari satu pihak. Mommy harus denger cerita dari grandpa juga. Habis itu kita putusin bareng-bareng, grandpa salah apa nggak,” tutur Darren. Untuk mengembalikan jiwa Kyra yang terpecah seperti ini, Darren tidak boleh memihak. Ia harus menjelaskan semuanya pelan-pelan.
“Darren ngerti, kok, kalo Mommy sedih. Tapi, jangan kayak gini.” Tangan mungil Darren menangkap pipi Kyra. “Ini Darren, Mom, anak Mommy.”
“Darren? Anakku?” Kyra seperti orang linglung yang baru mendapat pencerahan.
“Mommy mau dengerin Darren, kan?”
^^^To be continue...^^^