
Satu minggu kemudian...
Atas instruksi dari Dokter Erica, kondisi Kyra kini telah stabil. Wanita itu sudah bisa berpikir jernih dan tidak menyerang Cavan secara membabi buta. Eiden dan Darren benar-benar memberi perhatian penuh pada Kyra. Hanya saja, Kyra menjadi lebih pendiam dari biasanya.
Eiden dan keluarga yang mengerti perasaan Kyra memilih untuk tidak berkomentar. Bagaimanapun, ibu beranak dua itu tidak bisa menampik fakta yang sukses mengejutkan dirinya. Mereka semua memperhatikan kenyamanan Kyra dengan penuh.
Cavan pun tidak memaksa untuk segera bertemu dan bicara dengan menantunya itu.
“Sayang,” panggil Eiden yang baru keluar dari ruang ganti. Lelaki itu sudah siap dengan setelan kemeja putih dan celana bahan hitam. Setelah hampir satu minggu cuti—lebih tepatnya bolos—pagi ini Eiden harus kembali ke rutinitasnya. Ia tidak bisa membiarkan pekerjaannya semakin menumpuk di meja. Jika seperti itu, bisa-bisa Eiden lembur sepanjang hari. “Tolong pakein dasiku dong.”
Tanpa banyak kata, Kyra melaksanakan permintaan sederhana itu. Jarak keduanya yang berdekatan membuat Eiden tak kuasa menahan keinginan untuk memeluk sang istri. Kyra yang sudah terbiasa tidak menolak, malah cenderung nyaman-nyaman saja.
Suaminya ini suka sekali bertindak secara tiba-tiba. Kadang dipeluk, cium, atau tingkah aneh lainnya.
Eiden menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Ia menghirup aroma tubuh Kyra dalam-dalam, menyiapkan banyak stok supaya dirinya tidak terlalu rindu di perusahaan nantinya. Sayangnya, semakin lama berada di posisi itu, Kyra sadar terjadi sesuatu pada suaminya itu. Ada benda panas yang mengganggu konsentrasi di bawah.
“Eiden!” desis Kyra kesal. Bagaimana tidak? Eiden hanya memeluknya, tapi lelaki itu terangsang. Seakan bisa melihat nasibnya sebentar lagi—yang sudah pasti akan kesulitan berjalan—Kyra berusaha melepaskan diri.
Sayangnya, Eiden tidak mau melepas pelukannya, bahkan mengeratkan hingga tubuh depan keduanya menempel sempurna. Dengan sengaja, Eiden menggesek-gesek pusat tubuhnya yang ‘terbangun’ di tempat yang pas. “Sayangg...” Suara bernada rendah itu sukses membuat sekujur tubuh Kyra merinding. “Aku ingin.”
Kyra mendengkus. “Kamu mau ke kantor! Jangan aneh-aneh!” peringatnya serius. Ia menekan dada Eiden hingga menimbulkan sedikit jarak.
Eiden tersenyum tipis. Perlahan-lahan, istrinya yang cerewet kembali, ia cukup memberi sedikit umpan saja. Tak menghiraukan peringatan Kyra, Eiden malah mengecup basah leher jenjang wanita itu. Mau tidak mau Kyra dibuat pasrah ketika lelaki itu meraup salah satu aset pentingnya menggunakan jemari tegasnya. Entah sejak kapan tangan Eiden masuk ke dalam pakaian Kyra.
Merasa cukup memberi rangsangan, Eiden mendorong tubuh Kyra ke ranjang mereka. Ia pun melepas dasi dan kemejanya, lalu melempar asal ke lantai. “Dua atau tiga ronde cukup, kok, Sayang,” katanya sembari merangkak di atas tubuh Kyra.
Kyra tidak sempat protes. Tubuhnya lebih dulu dijamah, bibirnya dibungkam seutuhnya. Tidak ada celah bagi Kyra untuk menolak.
Merasakan betapa buasnya sang suami ketika penyatuan dilakukan, Kyra paham jika hari ini dirinya tidak akan keluar kamar—lagi. Tubuhnya sudah pasti remuk redam akibat permainan panas keduanya. Kyra tidak menyalahkan Eiden sepenuhnya karena ia pun menyukai gerakan Eiden yang terkesan brutal, namun penuh kehati-hatian.
“E–Eidenhh.. pelanhh... Ah!”
Dan, di saat inilah, Kyra berharap jika Darren tidak datang mengganggu secara mendadak.
...💫💫💫...
Sepeninggalan Eiden, Kyra duduk termenung di dekat jendela besar kamarnya. Suaminya itu berangkat ke kantor ketika jam menunjukkan pukul sebelas siang. Jelas sudah sangat terlambat. Namun, siapa yang akan menyalahkan Eiden? Dia, kan, pemimpinnya.
Pikiran Kyra sekarang jauh lebih bisa diajak bekerja sama. Ia mulai menghubungkan semua rentetan kejadian untuk mencapai sebuah kesimpulan. Sayangnya, fakta jika Cavan memiliki andil pada kematian Axelo sedikit-banyak mempengaruhi pola pikir Kyra. Mengacaukan segala kalimat yang ia tanamkan supaya tetap ber-positive thinking.
Ia tidak bisa terus begini. Kyra harus bicara dengan Cavan—hari ini juga! Kyra harus mendengar kelengkapan cerita hari itu versi Cavan. Dengan begitu, Kyra bisa membuat keputusan terbaik agar tidak ada penyesalan yang tercipta di masa depan.
Dengan air muka tanpa ekspresi, Kyra keluar kamar setelah hampir seminggu mendekam. Para pelayan yang berpapasan seketika menundukkan kepala. Aura yang terpancar dari nyonya muda mereka bukan main intimidasinya. Mereka juga merasa sedikit asing dengan sikap Kyra yang sekarang. Namun, seluruh penghuni mansion berusaha mengerti. Kyra tidak salah sama sekali, wanita itu hanya perlu waktu hingga semuanya kembali seperti semula.
“Tuan Cavan,” panggil Kyra datar pada ayah mertuanya yang tengah bersantai di taman belakang. Di sampingnya terdapat meja kecil berisikan kudapan dan teh hangat. Kyra mendekat tanpa mengubah ekspresi sedikitpun. “Ada yang ingin saya tanyakan pada Anda.”
Cavan terkejut kala melihat menantunya tiba-tiba berdiri di dekatnya. Pria paruh baya itu tahu kalau saat-saat seperti ini akan tiba. Hanya saja, Cavan tidak menduga akan secepat ini. Tetapi, di sisi lain, Cavan bisa menghembuskan napas lega karena Kyra tampak tenang, tidak emosi seperti sebelumnya.
Bayang-bayang wanita itu menodongkan pistol di dahinya masih terpatri jelas di ingatan Cavan. Walaupun begitu, setitikpun pun Cavan tidak menyalahkan Kyra. Wanita itu berhak marah.
“Duduklah, Nak,” pinta Cavan lembut, seperti biasa.
Kyra tidak membantah. Ia duduk di kursi sebelah Cavan. Keduanya terpisah oleh meja di tengah-tengah.
“Apa yang mau kamu tanyain?” tanya Cavan langsung ke inti. Berbasa-basi dengan Kyra akan sangat tidak menguntungkan mengingat kondisi Kyra saat ini. Lagipula, ia jelas dapat membedakan bahwa suasana di sekitar mereka sangat serius, tidak boleh ada candaan untuk saat ini.
“Saya ingin tahu, bagaimana pertemuan Anda dengan papa saya dan apa yang terjadi di hari kematian papa saya. Saya harap Anda berkata jujur, Tuan Cavan.”
Jujur saja, gaya bicara Kyra agak mempengaruhi Cavan. Pria itu menyadari jika menantunya tengah membangun benteng untuk menjaga batasan. Ia jelas tidak bisa membiarkan semuanya seperti ini. Hubungan harmonis keduanya harus kembali berlanjut!
Cavan menghembuskan napas berat. Senyum getir terpasang di bibirnya. “ Baiklah. Akan Papa ceritain, Nak. Dan, setelah itu, Papa harap kamu mau memaafkan Papa.”
...💫💫💫...
Sementara itu, seorang wanita nampak menarik koper bawaannya dengan gaya elegan. Padahal, posisi wanita itu berada di bandara, bukan tempat berkarpet merah yang mengharuskan mereka berjalan bak model. Hanya saja, memang tampilan wanita itu yang paling mencolok di antara lautan manusia di sana.
Wanita itu mengernyit ketika melihat sesuatu. “Jakarta udah banyak berubah ternyata,” gumamnya.
Tiba di luar bandara, ia tidak bisa menahan senyumnya yang mengembang. “Aku datang, Sayang. Mommy-mu datang..”
^^^To be continue...^^^