
Ting!
Fokus Eiden kembali teralihkan. Ia mengernyit melihat nomor tidak terkenal mengirim sebuah pesan padanya. Seingat Eiden, nomor pribadinya ini bersifat rahasia. Tidak ada yang memiliki kecuali pihak keluarga dan sahabatnya. Lalu, ini?
Karena penasaran, Eiden membuka isi pesan.
...__________...
...08******...
• Hai, Eiden
• Ini aku, Clara
...__________...
Deg!
Apa-apaan ini?!
Eiden berdecih. Dua pesan kembali masuk. Lewat bilah notifikasi, ia mengetahui jika si pengirim tengah menyampaikan rindu. Mood Eiden hancur seketika. Tanpa membuka sama sekali, ia menghapus pesan tersebut dan memblokir nomornya.
Setelah semua yang dia lakuin, dia masih cukup berani buat ngehubungin aku.
...💫💫💫...
Kota Milan, Italia
Seorang wanita mengukir senyum tipis di bibirnya. Ia memandang ponselnya dengan suara kekehan. “Dia memblokirku?” gumamnya.
“Yaahh...” Wanita itu berdiri dari simpuhannya. Kepalanya berputar, mengarah pada sebuah figura besar berisikan sepasang suami-istri yang tersenyum bahagia. I miss him...
“Haruskah aku kembali..?”
...💫💫💫...
Keesokan harinya...
“Mommy!” seru Emily memanggil Kyra yang baru turun dari mobil. Mengabaikan sang daddy, gadis kecil itu langsung berlari menghampiri Kyra yang sudah bersiap memberi pelukan. “Emily kangen.”
Kyra terkekeh. “Kan, kemarin ketemu.”
“Iya. Tapi, kan, Emily maunya sama Mommy teruuuussss...” Bibir Emily sampai monyong-monyong ke depan. Wanita itu tergelak karena gadis kecil di dekapannya ini begitu menggemaskan.
Darren yang duduk di bangku samping penumpang sampai berdecak. Ia memutar bola matanya malas. Ini mami lupa atau gimana, sih? Darren belum dibukain pintu mobilnya!
Paham situasi, Eiden membukakan pintu mobil untuk Darren. Bocah itu keluar dengan muka bersungut-sungut. “Anak Om bikin kesel, ah. Nempel mulu sama mami dari kemarin.”
Eiden mengusap kepala Darren pelan. “Bukan kamu aja. Om juga dicuekin.”
Yah, itu fakta yang kurang mengenakkan bagi Eiden. Biasanya, putrinya sangat lengket padanya. Sayangnya, objek manja Emily bukan Eiden lagi sekarang, melainkan Kyra, wanita yang digadang-gadang akan menjadi mommy tiri kesayangan.
Darren memasang raut iba, tangannya bergerak menepuk-nepuk lengan keras Eiden. “Yang sabar, Om. Ini cobaan buat kita. Perempuan emang makhluk paling susah dipahami sama kaum laki-laki.”
Entah ingin bereaksi seperti apa, Eiden membenarkan dalam hati pernyataan Darren. Perempuan memang sulit sekali dipahami pemikirannya. Kadang mereka bisa lembut, tapi bisa galak dalam satu detik. Moodyan.
“Udah, masuk sana. Nanti kalian terlambat masuk kelas.” Kyra menyuruh Darren dan Emily untuk bergegas memasuki pekarangan. Ia menghadiahi sebuah kecupan di puncak kepala putranya. “Hwaiting!” ucapnya memberi semangat.
“Too for you, Mi.” Darren mencium pipi Kyra sekilas. Kemudian berbalik masuk sembari melambaikan tangan.
Emily masih berdiri di samping Kyra, mengharapkan kecupan yang sama dari wanita itu. Namun, Kyra hanya tersenyum kecil sembari mengusap kepalanya. Emily nggak dicium, Mommy?
“Emily, kok, nggak masuk?” heran Kyra.
Emily kecewa. Namun, sebisa mungkin ia menutupi perasaan tersebut. Ia tidak boleh terlalu manja, nanti calon mommy-nya ini ilfeel. “Iya, Mommy. Emily masuk dulu, ya.”
“Iya, Sayang. Semangat belajarnya.”
Eiden tahu jika putrinya kecewa karena tidak mendapat ciuman dari Kyra. Namun, menyalahkan wanita beranak satu itu pun dirasa kurang pantas. Bagaimanapun juga, mereka masih belum resmi menjadi satu keluarga.
Bahkan, persetujuan Kyra dan Darren saja masih abu-abu. Belum pasti jika mereka akan menerima tawaran keluarganya.
“Kau mau pergi?” Eiden mencoba berbasa-basi ketika Kyra hendak memasuki mobil. Ia mengusap tengkuk kepalanya canggung kala Kyra menatapnya dengan alis mengerut. “Sibuk?”
“Ya, ada yang harus saya urus. Apa ada yang ingin Anda bicarakan dengan saya, Tuan?” tanya Kyra.
Eiden menggeleng. “Tidak.”
“Oke.”
...💫💫💫...
Di jam istirahat, Emily mendatangi kelas Darren untuk mengajaknya bermain bersama. Layaknya hari-hari sebelumnya, bocah itu tengah memakan bekal yang dibawa di kelas.
“Kak Darren.” Emily duduk di samping Darren. Ia mengintip isi kotak makan Darren. “Wah, ada sosis sama nugget banyak. Mommy yang buat?”
Darren mengangguk. Ia menusuk satu sosis dan menyodorkan pada Emily. “Mau?”
“Kakak nggak mau main di luar?” tanya Emily.
Darren menatap jendela kaca yang menampilkan anak-anak seusianya tengah berlarian di lapangan. Jujur saja, lelaki kecil itu ingin bergabung bersama mereka. Sayangnya, mereka selalu mengatainya hulk kecil karena bola mata hijaunya. Darren, kan, jadi kesal sendiri.
“Kamu mau main?” Darren bertanya balik.
“Iya! Kakak temani Emily, yuk. Soalnya, Emily nggak punya teman.”
Darren mengerutkan dahi. “Kok bisa?”
“Nggak tau. Setiap Emily dekati mereka, mereka langsung menjauh. Waktu Emily tanya, mereka bilang orang tua mereka larang mereka main sama Emily,” jelas Emily polos.
“Emang kenapa?”
“Mereka bilang, Emily ini anak CEO kejam, jadi nggak boleh deket-deket.” Emily menatap Darren dengan binar lugu. “CEO kejam itu apa, Kak?”
Darren terdiam, ia paham maknanya. Ia mengetahui profil daddy Emily secara lengkap. Lelaki itu merupakan pimpinan mafia—seperti maminya—sekaligus CEO yang tidak kenal belas kasih. Setiap ada pengkhianat, Eiden tidak tanggung-tanggung menghukum mereka.
Padahal, di mata Darren, pengkhianat itu memang pantas diberi hukuman. Sudah diberi kepercayaan, kok, diabaikan. Siapa, sih, yang tidak marah kalau diperlakukan seperti itu?
“Ayo main.” Daripada menjawab, lebih baik Darren menerima tawaran Emily saja. Ia menutup kotak bekalnya yang tersisa separuh dan keluar dari kelas. Emily mengekor dengan riang.
Darren membantu Emily naik ayunan. Lalu mendorongnya pelan. Gadis kecil itu tertawa senang. Ia ingin mencoba perosotan juga. Tapi, permainan itu lumayan dikerubungi anak-anak lain. Jadi, Emily memilih untuk menunggu benda miring nan licin itu sepi.
“Kak Darren mau naik ayunan juga?” tawar Emily.
“Nggak usah. Kamu aja.” Darren kembali mendorong ayunan Emily. Diam-diam bocah lelaki itu tersenyum kecil. Jadi gini rasanya punya adik perempuan...
Doorr!!
“Aaaa...”
Anak-anak lain berlarian ke sana kemari. Darren menoleh ke gerbang sekolah. Ia terkejut melihat satpam yang berjaga tergeletak di samping pos dengan kucuran darah. Ia tertembak. Buru-buru Darren membantu Emily turun supaya mereka bisa pergi ke tempat aman.
Sayangnya, itu hanya angan-angan Darren. Dua pria dengan muka sangar berdiri di hadapan mereka. Dengan sigap, Darren menarik Emily ke belakangnya. “Ada apa, Om?” tanyanya berusaha tenang.
“Kalian berdua ikut kami!” suruh pria itu galak.
Darren mengamati sekitar, para guru menatapnya dan Emily cemas dari jauh. Tubuh Emily juga bergetar hebat di belakangnya. “Kami berdua atau cuma saya?”
“Apa kau tuli, Bocah?!! Kalian berdua!!” bentak pria lain.
Darren berdecih pelan. “Oke, kami ikut. Tapi, jangan sakiti teman-teman saya sama guru-guru yang lain.”
“Kakak...” lirih Emily ketakutan.
Kedua pria itu menyeringai. Bocah lelaki di hadapan mereka cukup berani. Bahkan, Darren sangat bisa diajak bekerja sama.
“Bawa mereka,” titah salah satu pria.
“Tidak usah repot-repot, Om. Kaki saya masih berfungsi. Om cukup kawal, tidak usah yang lain.” Darren menggandeng tangan Emily erat dan berjalan di antara kedua pria tadi yang menggiring mereka memasuki mobil.
Sisanya.. Darren percaya sama mami. Mami harus selamatkan Darren dan Emily.
...💫💫💫...
Brakk!
Pintu markas ruangan pribadi Eiden dibuka secara kasar. Si pelaku, Garry dan Erry, nampak ngos-ngosan. Dilihat dari gerak-geriknya saja, Eiden tahu jika terjadi sesuatu yang tidak beres.
“Ada apa?” tanya Eiden.
“Tuan, nona kecil...” Kalimat Garry terputus karena lelaki itu masih mengatur napas.
“Emily kenapa?” Sorot mata Eiden menajam.
“Emily diculik, Eiden!” seru Erry panik. “Tapi, bukan cuma itu masalahnya.”
“Apa?”
“Teman Emily, Tuan Darren, juga diculik, Tuan.” Kali ini Garry yang menjawab. “Ada sebuah foto yang beredar mengenai kedekatan Anda dengan Tuan Darren dan Nona Kyra. Karena itu, musuh mengincar mereka.”
Kedua tangan Eiden terkepal. Ini salah satu alasan terbesar mengapa Eiden menolak menikah atau berdekatan dengan wanita mana pun. Bukannya mendapat kebahagiaan, mereka hanya akan terjerumus ke dalam bahaya besar.
“Perintahkan anak buah kita untuk mencari pelakunya,” titah Eiden.
Garry mengangguk. “Saya sudah memberi perintah, Tuan. Lalu...” Ia menjeda kalimatnya sebentar. “Haruskah kita memberitahu Nona Kyra soal ini?”
Eiden terdiam. Sebenarnya, ia bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Tetapi, menurutnya, Kyra berhak tahu karena masalah ini menyangkut putranya. Hanya saja....
“Ya, beritahu dia.”
^^^To be continue...^^^