
Beberapa hari kemudian...
Hari berlalu dengan cepat. Semenjak resepsi pernikahan diselenggarakan, banyak pihak yang mengucapkan selamat untuk pasangan fenomenal kita satu ini. Entah itu Kyra ataupun Eiden, mereka berdua sama-sama menerima hadiah dari klien.
Tentu saja klien mengirim dengan motif tertentu. Orang-orang itu berusaha memanfaatkan situasi supaya mereka mendapat kesan dekat dengan keluarga kecil Eiden. Keluarga Kennedy, kan, salah satu keluarga yang disegani di Indonesia selain keluarga Refalino. Bahkan, nama mereka sudah mencapai Benua Asia.
Tak jauh berbeda dengan kedua anak Kyra dan Eiden di sekolah. Darren di sekolah mendadak jadi pusat perhatian. Banyak guru yang berusaha menarik perhatian bocah itu, namun Darren yang cerdas tahu tipu muslihat para manusia penjilat itu.
Darren jelas bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang tidak. Jadi, bagi para penjilat itu, Darren tidak memedulikan mereka sama sekali. Untungnya, di sekolahnya yang baru ini, Darren punya beberapa teman—yang faktanya berumur lebih tua daripada dirinya. Salah satunya Kelvin, lalu Levi, Marvin, dan Cahaya—satu-satunya gadis kecil di perkumpulan itu dan memiliki agama yang berbeda. Yap, Cahaya beragama Islam dan memakai hijab di kepalanya.
Namun, perbedaan itu tidak membuat pertemanan mereka rapuh. Malah saling menguatkan satu sama lain.
Emily di sekolahnya pun memberanikan diri untuk bergaul sesuai saran sang mommy sejak Darren naik kelas. Walaupun awalnya malu-malu, Emily berhasil mendapatkan teman baik. Ada satu gadis kecil yang mau bermain bersamanya.
Beralih ke Kyra, Eiden, dan Ansel. Ketiganya saat ini sedang menuju suatu tempat yang tidak diketahui lokasinya, kecuali Kyra. Wanita itu yang mengajak kedua lelaki berharganya untuk pergi, namun tidak mengatakan tujuan tempatnya.
“Kita mau ke mana, sih, Dek?” Ansel penasaran. Ia sudah tidak canggung lagi bersama adik perempuannya ini, bahkan dengan adik ipar galaknya. Selama berada di keluarga Eiden, Ansel mengetahui jika keluarga itu tidak seperti dalam rumor.
Keluarga Eiden benar-benar harmonis dan hangat. Ia yang awalnya musuh saja diterima oleh mereka. Kegembiraan Ansel bertambah karena ingatannya perlahan-lahan muncul setelah beberapa kali menjalani terapi.
Kyra tersenyum misterius. “Ada, deh. Ikut aja, sih.”
Ini bukan cuma soal perjalanannya saja sebenarnya. Masalahnya, dengan seenak jidat, Eiden menyuruhnya menyetir, sedangkan Eiden dan Kyra bermesraan di jok tengah. Hei, mereka ingin pamer atau gimana, sih? Ansel masih jomblo, lho, ini.
Eiden yang semakin menyukai Kyra—atau mungkin sudah mencintai istrinya itu—kini sangat suka menempel tanpa tahu tempat. Kyra sendiri tidak masalah. Ia nyaman-nyaman saja dipeluk-peluk terus. Keduanya yang memang haus belaian jadi tidak malu-malu untuk minta dimanja.
Setelah menempuh perjalanan selama 47 menit, mobil yang dikendarai Ansel berhenti di depan sebuah bangunan. Kyra mengajak suami dan kakaknya turun.
“Rumah sakit jiwa?” gumam Eiden tak mengerti. Mengapa istrinya membawa mereka kemari? Tunggu-tunggu!
Kyra tidak bermaksud memasukkannya ke sana, kan? Wah, mendadak Eiden jadi berpikiran buruk tentang istrinya.
“Dek, kenapa Kakak diajak ke sini? Kamu nggak berniat jeblosin Kakak ke sini, kan?” Ansel menatap adiknya horor. Ada apa dengan pikiran Kyra sekarang?
Kyra memutar bola matanya malas. “Nggak, lah, Kak. Kakak, kan, waras, ngapain dimasukin ke sini? Yah, walaupun agak nyebelin, sih.” Soalnya, makin ke sini, sifat asli Kakak yang tengil muncul lagi.
“Awas, ya, Dek, kalo aneh-aneh,” peringat Ansel tak main-main.
“Iya-iya, Bawel.” Kyra meraih tangan suaminya dan tersenyum manis. “Ayo masuk, Sayang.”
Ansel berdecih. Giliran sama suaminya, langsung jadi manis gitu.
Ketika masuk, Kyra nampak menyapa seorang wanita berjas putih dengan akrab. Mereka berbasa-basi sebentar sebelum melanjutkan langkah menuju satu ruangan. Kyra berhenti di ruangan bernomor 029.
Dugaan Ansel kalau Kyra ingin menjebloskannya kemari bertambah kuat. “Dek, ini—”
“Kak,” potong Kyra menyentuh bahu Ansel. “Ada mama di dalam.”
Deg!
Eiden pun tak kalah terkejut. Ia sama sekali tidak tahu jika ibu mertuanya masih hidup. Sejujurnya, sih, Kyra juga tidak pernah mengatakan kalau mamanya sudah meninggal. Kyra baru sempat bercerita mengenai sang kakak yang kecelakaan 7 tahun silam. Kisah tentang papa dan mama mertuanya pun hanya sekilas.
“M–mama masih h–hidup?” lirih Ansel dengan tubuh gemetar.
Kyra tersenyum. “Emangnya aku pernah bilang kalo mama udah meninggal, Kak?”
Ansel terdiam. Itu benar.
Kyra membuka pintu perlahan. Pemandangan pertama yang ketiganya lihat adalah seorang wanita dengan penampilan berantakan tengah memeluk boneka dan bingkai foto. Tatapan matanya nampak kosong ke depan, seolah wanita itu tidak memiliki keinginan untuk hidup.
“Mama,” panggil Kyra mendekati Adaline, mama kandungnya. “Kyra dateng, Ma.”
Mendengar suara putrinya, hati Adaline tergugah. Wanita paruh baya itu menoleh dengan gerakan pelan. Tangannya terulur menyentuh pipi Kyra. “Kamu datang, Nak?” ucapnya dengan nada pelan. Ia tersenyum bahagia.
“Iya, Ma. Maaf, Kyra jarang ke sini temani Mama.” Kyra memandang Adaline sendu. “Ma, Mama tau, Kak Ansel masih hidup.”
Adaline terkejut. “A–Ansel...?”
“Iya, Ma. Itu.” Kyra menunjuk Ansel yang terdiam di ambang pintu bersama Eiden.
Adaline membeku. Tubuhnya bergerak otomatis mendekati sosok lelaki yang begitu ia rindukan bertahun-tahun. Kyra spontan berjaga-jaga di belakang Adaline, tidak ingin mamanya jatuh. “Putraku, Ansel...”
Kyra mengangguk, kode supaya Ansel merespon.
“Mama,” sebut Ansel terharu. Ia tidak menyangka jika ia masih memiliki ibu di dunia ini. Laki-laki itu bergerak cepat kala Adaline hampir terjatuh karena langkahnya tidak seimbang. Ansel langsung memeluk Adaline erat bersamaan dengan tangis Adaline yang pecah.
“Putraku.. kamu masih hidup, Nak?” Adaline memandang Ansel senang. Bola mata hijau itu berangsur-angsur terisikan binar bahagia.
“Iya, Ma. Ansel masih hidup,” balas Ansel tak kalah happy.
“Setelah kecelakaan, Kak Ansel sempat koma dan hilang ingatan, Ma. Makanya, Kak Ansel nggak ingat sama kita dan nggak pulang,” jelas Kyra sedikit berbohong. Tidak mungkin, kan, ia menceritakan yang sesungguhnya jika sang kakak amnesia lalu bergabung dengan kelompok mafia berbahaya? Bisa-bisa mamanya langsung terkena serangan jantung.
Air mata Adaline lolos begitu saja. Ia menatap putranya sendu. “Maaf, Mama gagal jagain kamu, Nak,” lirihnya penuh sesal.
Ansel menggeleng. “Jangan bilang gitu, Ma.”
Beberapa menit, suasana penuh haru itu berangsur menghilang digantikan aura kebahagiaan. Ansel nampak nyaman ketika mamanya bersandar di lengan.
“Ma, kenalin, ini menantu Mama.” Kyra berpindah di sisi Eiden. “Ini Eiden, Ma, suamiku.”
Tatapan Adaline beralih pada Eiden. Wanita paruh baya itu mengukir senyum lembut.
“Mama juga udah jadi nenek sekarang. Mama punya dua cucu, kapan-kapan Kyra ajak main ke sini, ya, Ma,” tutur Kyra semangat.
“Gimana kalo Mama ikut Ansel aja?”
^^^To be continue...^^^