
“Kapan-kapan kita makan siang lagi, ya, Mommy,” pinta Emily penuh harap. Kyra tersenyum lebar dan mengiyakan sembari mengusap kepala gadis kecil menggemaskan di depannya.
Sementara itu, dua lelaki beda generasi yang lain pun tengah saling berhadapan. Darren menanti Eiden untuk mengucapkan sesuatu. Tidak mungkin, kan, dia yang memulai, padahal Eiden yang berjuang?
Ini Om Eiden emang nggak peka atau gengsi, sih?
Eiden berdeham sebelum mengulurkan tangannya. Ia mengusap kepala Darren lembut, mengikuti instruksi dari hatinya.
Darren membeku di posisi. Pikirnya, Eiden akan mengucapkan kalimat basa-basi yang terdengar kaku seperti “kamu senang?” atau “kapan-kapan kita makan bareng lagi, ya”. Yang ini benar-benar di luar dugaan.
Eiden mengulas senyum. “Terima kasih,” ucapnya pelan—terlampau pelan sampai Darren hanya mendengar secara samar. Namun, bocah itu tahu jika lelaki dewasa di depannya ini tengah berterima kasih.
“Buat?”
“Hari ini.” Eiden sadar, niatnya untuk mendekati Darren tidak semudah bayangannya. Berinteraksi kepada anak lelaki itu lebih sulit dibandingkan anak perempuan. Eiden tahu jika hari ini sikapnya begitu kaku. Namun, yang membuat ia merasa lebih baik adalah reaksi balasan dari Darren.
Eiden akui, Darren anak yang cerdas. Didikan Kyra memang hebat. Sekalipun sikapnya terlihat kaku dan canggung, Darren selalu punya cara supaya dirinya tidak merasa gagal. Contohnya, kala ia menyuapi Darren di restoran tadi.
Anak itu memang terkejut. Tapi, hanya sebentar. Darren membuka mulutnya dan melahap sodorannya dengan senyuman. Lalu, ucapan terima kasih juga diberikan oleh Darren. Eiden yang merasa malu langsung senang karena usahanya dihargai dengan senyum dan ucapan terima kasih.
Iya, sesederhana itu. Tapi, sukses meluluhkan hati Eiden.
Bukan Darren yang berhasil ia taklukkan. Melainkan Darren yang menaklukkannya.
Darren berdeham singkat. Wajahnya memanas, tangannya terkepal di belakang tubuh. Entah mengapa, sentuhan Eiden di kepalanya sukses menggetarkan jantungnya. Padahal, itu cuma usapan lembut yang... penuh kasih sayang tulus.
“Iya, Om. Sama-sama.” Darren mengukir senyum hingga mata hijaunya menyipit. “Lain kali traktir Darren sushi, ya, Om. Darren suka.”
Kali ini, Eiden ikut mengukir senyum. Walaupun tipis, namun itu merupakan kemajuan pesat, lho. “Iya, kapan-kapan Om belikan.”
Interaksi keduanya tidak lepas dari sorot mata Kyra. Wanita itu tersenyum kecil melihat semburat merah muncul di pipi putranya—Darren tersipu ketika diusap kepalanya.
Eiden dan Emily berpamitan pulang. Posisi mereka tadi memang berada di depan rumah Kyra, selesai mengantar ibu dan anak itu pulang ke rumah.
Selepas memastikan mobil Eiden tidak terjangkau radar, Kyra mengajak Darren masuk. Tidak ada percakapan yang terjalin. Kyra memberi waktu pada putranya untuk mencerna setiap rentetan kejadian dan isi hatinya. Darren pasti akan bercerita jika dia sudah siap.
“Darren ganti baju dulu sana,” suruh Kyra.
“Iya, Mi.” Darren masuk ke dalam kamar, menutup pintu, dan menguncinya. Tubuh kecilnya merosot di balik bingkai kayu tersebut, duduk bersandar pada pintu putih kamarnya.
Dengan kesadaran penuh, Darren menyentuh kepalanya, tepat di bagian tangan Eiden mendarat. Senyum malu-malu terpampang, lalu ia terkikik pelan.
Nggak buruk juga...
...💫💫💫...
“Menurut kamu begitu?” tanya Kyra memastikan. Darren mengangguk.
Setelah makan malam bersama, keduanya duduk di ruang tengah, berbincang dari hati ke hati antar ibu dan anak. Jelas topik yang diutamakan adalah mengenai peristiwa siang tadi.
“Menurut Darren, Om Eiden nggak seburuk itu, kok, Mi,” kata Darren mengulang kalimat yang sama seperti sebelumnya. Di mata dan hati polosnya, Eiden memang bukan kandidat yang buruk untuk dijadikan papi tiri. “Agak kaku, sih. Tapi... Darren, em... lumayan, deh.”
Tidak buruk, lumayan, itu hanya alasan. Kyra tahu putranya menyukai Eiden.
Apa Darren berubah pikiran hanya karena sebuah usapan dan perhatian kecil?
Mungkin, bagi orang dewasa itu masalah sepele. Apa, sih, arti sebuah usapan di kepala?
Namun, beda bagi anak kecil seperti Darren. Anak-anak selalu bisa membedakan mana yang tulus, mana yang tidak. Indra perasa mereka lebih peka. Dan, itulah yang berhasil mempengaruhi Darren.
Ketulusan Eiden dan usahanya.
“Kalo gitu, Mami akan pertimbangkan.” Kyra mencium kepala Darren. “Terima kasih kritikannya, Sayang.”
Darren bergerak memeluk sang mami. “Jangan dipaksain, ya, Mami. Darren juga mau Mami bahagia.”
...💫💫💫...
Sepulang mengantar Kyra dan Darren pulang, lalu kembali ke mansion sebentar untuk beristirahat sekaligus memulangkan Emily, Eiden pergi ke perusahaan untuk bekerja. Masih banyak pekerjaan yang harus ia urus.
Sayangnya, hingga malam tiba, konsentrasi Eiden tidak bisa terpusat pada satu titik. Lelaki itu kadang mengulas senyum acap kali dirinya ingat momen canggung di restoran. Entah itu ketika Eiden menyuapi Darren, memujinya, atau mengajari sesuatu. Eiden sedikit tidak percaya jika ia bisa bertingkah seperti itu dengan anak orang lain—yang sepertinya akan menjadi anak tirinya.
Tidak buruk juga..
Dulu sekali, ketika Eiden masih dalam status suami dari istri pertamanya, Eiden berharap memiliki anak laki-laki sebagai anak pertamanya. Pikirnya, anak laki-laki itu akan ia didik untuk menjaga adik-adiknya nanti.
Hei, itu hanya angan-angan masa lalu saja. Eiden cuma sedikit tidak menyangka kalau mimpi itu akan terwujud dengan hadirnya Darren.
Ah, sial. Bukannya secara tidak langsung Eiden sudah mengakui Darren sebagai putranya?
Anak secerdas itu, memangnya siapa yang tidak mau?
Tok tok tok..
“Tuan, ini saya.”
Lamunan Eiden buyar. Ia berkutat dengan berkas-berkasnya. “Masuk!”
Garry masuk ke dalam, tidak sendirian, tetapi bersama seorang pria paruh baya yang diseret. “Tuan, ada seorang pengkhianat di perusahaan kita.”
Eiden menutup map di tangannya sedikit keras. Mendadak mood bahagianya anjlok karena fakta ini. Ah, tidak sebegitunya juga, sih. Eiden tahu, kok, kalau pria yang diseret oleh Garry itu seorang pengkhianat. Ia malas saja mengurusnya.
“Oh, really? Pengkhianat di perusahaanku?” Eiden bangkit dan berjalan ke depan pria itu yang duduk berlutut dengan tubuh gemetar. Aura Eiden terkuar seketika, dingin yang mencekam. “Apa yang kau lakukan, Garry? Kasihan kakek-kakek ini. Lepaskan dia.”
Sesuai perintah, Garry melepas cengkeramannya. Pria itu lemas seketika.
“Anda berani sekali, ya, Kek.” Eiden tersenyum mengejek. “Anda tau, kan, apa ganjaran untuk seorang pengkhianat di sini?”
Tubuh pria itu semakin gemetar. “A–ampuni saya, Tuan. Saya mengaku salah.”
Eiden berdecih. Ia benar-benar malas sekarang. Alhasil, lelaki itu berdiri dan membalikkan badannya. “Bawa ke markas. Eksekusi.”
“Baik, Tuan,” jawab Garry.
“Tidak, Tuan! Ampuni saya! Saya tidak akan melakukannya lagi. Maafkan saya, Tuan!” Pria itu menjerit histeris.
Eiden menghela napas. “Dasar pria tua sialan.” Bau tanah aja belagu.
Ting!
Fokus Eiden kembali teralihkan. Ia mengernyit melihat nomor tidak terkenal mengirim sebuah pesan padanya. Seingat Eiden, nomor pribadinya ini bersifat rahasia. Tidak ada yang memiliki kecuali pihak keluarga dan sahabatnya. Lalu, ini?
Karena penasaran, Eiden membuka isi pesan.
...__________...
...08******...
• Hai, Eiden
• Ini aku, Clara
...__________...
Deg!
Apa-apaan ini?!
^^^To be continue...^^^