
Sementara itu...
“Hahh.. hah.. Nak, Mama nggak kuat lagi.” Napas Adaline tersengal-sengal. Begitu juga dengan Abigail. Kedua wanita itu memang sudah tua, tidak cocok diajak lari-larian. Meskipun begitu, Abigail dan Adaline masih terus mencoba melangkah. Keduanya paham bahwa kondisi mereka saat ini sedang sangat tidak baik-baik saja.
Menyadari situasi tidak menguntungkan, Kyra memilih untuk bersembunyi. Ia juga ingat kalau saat ini dirinya sedang hamil. Berlari seperti ini sangat tidak dianjurkan oleh dokter.
Kyra menarik kedua mamanya ke semak-semak, lalu menaruh telunjuk di depan bibir—kode supaya diam. Adaline dan Abigail menurut. Sedangkan Kyra sendiri mengintip untuk mencari keberadaan musuh.
Samar-samar, Kyra dapat melihat siluet musuh yang mengejar mereka mulai mendekat. Mommy-nya Darren ini jelas merasa bimbang dan panik. Jika ketiganya tetap di sana guna menanti bantuan, mau tidak mau Kyra pasti akan turun tangan untuk berkelahi dan rasanya akan sangat sulit bertarung sambil menjaga dua orang lainnya. Namun, kabur juga bukan solusi yang bagus. Kyra tidak bisa mengajak mama-mamanya berlari lagi.
Kyra menatap Abigail dan Adaline yang saling bergenggaman tangan. Sejak Adaline tinggal bersama Ansel, Abigail sering berkunjung untuk mengobrol bersama. Hubungan keduanya pun terjalin dengan baik.
Kyra tersenyum tipis. Mama harus selamat.
“Ma, dengerin Kyra. Mama-Mama di sini, ya. Kyra akan lari ke sana buat narik perhatian. Mama tunggu di sini sampai Eiden datang,” pinta Kyra serius.
Adaline menggeleng berulang kali. Air matanya berjatuhan membasahi pipi. “Nggak, Sayang. Kamu di sini aja sama Mama. Mama nggak mau kamu kenapa-napa.”
Abigail mengangguk setuju. “Iya, Nak. Kita tunggu Eiden sebentar, ya. Eiden pasti datang sebentar lagi,” bujuknya.
Kyra menggeleng pelan. “Nggak, Ma. Kalau kita tetep diem, mereka akan tangkap kita. Pokoknya Mama tetep di sini, jangan ke mana-mana.” Ia mengeluarkan pistol dari balik punggungnya. “Kyra pergi ke sana sebentar. Mama tetep diem, okay.”
“Tapi, Nak—”
Belum sempat Adaline mencegah, Kyra lebih dulu berlari ke arah lain. Adaline membekap mulutnya sendiri melihat putrinya dikejar belasan musuh yang bersenjata. Sedangkan Abigail sudah menangis tersedu-sedu di samping sang besan.
Tuhan, tolong jaga putriku—batin Adaline penuh harap.
...💫💫💫...
Lari. Lari. Terus lari.
Kyra mengulang kata yang sama terus menerus di kepalanya. Ia harus menggiring para musuhnya menjauh dari kedua mamanya. Mereka harus selamat!
Ayunan kaki Kyra berhenti seketika. Wanita itu tiba di tepi jurang yang tidak terlalu curam. Ia menoleh ke belakang, 15 orang yang merupakan musuhnya telah menghadang jalan kembali. Mereka menyeringai, seolah mengejek Kyra yang saat ini sedang terpojokkan.
Oke, itu benar. Kyra sungguh tersudutkan sekarang. Ia harus apa?
“Cepat tangkap wanita itu sekarang!” titah salah satu dari ke-15 orang tadi.
Ketika melirik jurang di belakangnya. Tangannya yang terbebas bergerak mengusap perutnya yang membuncit sedikit. Ia punya satu ide nekat. Tapi, Kyra kurang yakin karena kondisinya sedang hamil.
“Apa yang kalian tunggu? Cepat tangkap!” Tiga orang dari mereka maju perlahan
Kyra yang semula panik langsung terdiam. Senyum miring tercipta di bibir tipisnya. Tangannya mengambil suatu alat dari kantung penyimpanan. Benda itu seperti tongkat yang tidak terlalu panjang. “Maaf, Pak Tua. Saya tidak berminat ikut dengan Anda.”
Kelima belas anak buah Roby itu terkejut ketika Kyra melempar sebuah tongkat yang ternyata adalah bom ke arah mereka. Sedangkan wanita itu melompat ke jurang usai memasang sarung tangan khusus di pergelangan tangan kanannya. Dengan keyakinan penuh, Kyra terjun ke bawah mengandalkan alat di tangannya.
Tit.. tit.. titt!
BOOOMMM....!!!
...💫💫💫...
Kalah.
Tidak, Roby tidak mati. Eiden membiarkan lelaki itu hidup karena masih ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Rixo pun sama keadaannya. Kedua kakak beradik itu dibuat lumpuh dengan memotong kaki dan jari tangan. Setidaknya, mereka tidak akan bisa melawan lagi. Apalagi raut wajah Roby terlihat sangat pasrah tadi.
“Yaahh.. akhirnya selesai juga,” celetuk Michael lega yang terduduk di tanah karena lelah. Lelaki itu mengusap peluh di dahinya dengan senyum mengembang. Erry pun ikut bersimpuh di samping sang sahabat.
“Nggak mau duduk dulu, Gar?” tawar Erry iseng.
Tidak diduga, Garry ikut duduk tanpa banyak kata. Lelaki itu meluruskan kakinya di tanah, tidak peduli jika celana yang ia gunakan akan kotor. Toh, tubuhnya sekarang penuh cipratan darah yang menimbulkan bau amis.
“Tuan, kita harus mencari Nyonya Kyra dan yang lainnya.” Reven datang dan langsung memberi koordinasi.
Eiden mengangguk. Ia berlari bersama beberapa orang menuju arah Kyra berlari tadi.
BOOOMMM....!!!
“Apa itu?” tanya Reven refleks. Seluruh pasukan dan anggota yang ada pun dibuat penasaran. Yang pertama kali mereka pikirkan adalah.. itu suara bom.
Dari arah selatan, angin hangat berhembus kuat akibat ledakan tadi. Eiden dan yang lain sampai harus membuang muka ke arah lain juga menutupi wajah dengan tangan guna melindungi mata mereka dari terjangan angin bercampur debu. Setelah angin menghilang, kepanikan di dada Eiden membuncah.
“Kita ke sana,” titah Eiden. Ia berlari ke asal suara diikuti anak buahnya dan anak buah Kyra. Entah mengapa firasatnya sekarang benar-benar tidak nyaman.
Di pertengahan jalan, Eiden melihat dua sosok wanita berdiri saling berangkulan. Penampilan mereka acak-acakan, sangat kontras dengan ekspresi khawatir dan gurat gelisah di wajah keduanya.
“Ma,” panggil Eiden.
Abigail dan Adaline menoleh cepat. Belum sempat Eiden bertanya kondisi keduanya, kalimat yang Abigail lontarkan lebih dulu membuat lelaki membeku.
“Nak! Eiden! Kyra, Eiden! Kyra...!” seru Abigail panik. Ia menunjuk ke arah selatan, asal dari suara ledakan tadi. “Kyra tadi lari ke sana sendirian, Eiden! Lalu ada sesuatu yang meledak.”
“A–apa..?” lirih Eiden. Mendadak otaknya nge-blank.
“Eiden, tolong cari Kyra. Dia lari ke sana untuk selamatkan kami. Tolong cari dia,” pinta Adaline sendu. Sepasang mata tua wanita itu tidak henti meneteskan air mata.
Eiden membuang napas kasar. Ia tidak boleh berpikiran negatif. Istrinya pasti—
“Tante! Kyra mana?!” pekik Mauren yang baru datang. Gadis itu tampak khawatir. “KYRA LAGI HAMIL, TAN! DIA NGGAK BOLEH KECAPEKAN!”
Dan, yah... Bukan hanya Eiden yang syok kali ini. Melainkan setiap insan yang mendengarnya. Erry dan Michael sampai melongo. Kyra sedang hamil! Dan, dia terlibat dalam ledakan tadi!
Sial! Mendadak Eiden tidak bisa berpositif thinking lagi. Istrinya benar-benar dalam masalah!
^^^To be continue...^^^
...💫💫💫...
Hai, udah lama banget, ya? Hehe..
Ay itu jangan dipercaya, guys. Sok-sokan mau update, tapi entah mengapa ada aja halangannya. Entah itu nge-blank, males, mager, atau sibuk sendiri sama ayang. Wkwkwk.. Ay itu emang mageran banget, hadehh...
See you di chapter selanjutnya:)
Mau happy ending atau sad ending? Udah tinggal 2/3 chapter lagi, novel ini bakal tamat. Anjayy tenan..