
Pada dasarnya, Eiden itu tipe suami penurut. Apa saja yang diinginkan istrinya pasti dikabulkan dengan catatan tidak akan menimbulkan bahaya bagi istrinya ataupun anggota keluarga yang lain. Itulah mengapa lelaki itu gagal melarang Kyra untuk ikut ke markasnya.
Wanita itu bersenandung riang sepanjang perjalanan. Eiden yang baru mengetahui semua fakta tentang Kyra sedang berusaha membiasakan diri. Mungkin ke depannya, hidup Eiden akan dipenuhi kejutan dari sang istri.
Eiden tahu betul siapa ketua Black Rose, wanita yang mendapat predikat genius karena kepiawaiannya dan kepintarannya dalam berbagai aspek, terutama mengenai senjata. Kemampuan beladirinya pun di atas rata-rata. Ah, Eiden tidak sabar melihat aksi Kyra ke depannya.
“Garry, kenapa lama banget sampenya? Setauku markas kalian nggak jauh-jauh amat, deh,” gerutu Kyra sebal. Ia mencebikkan bibirnya ke bawah.
“Maaf, Nyonya, jalanan sedang macet. Jadi, saya—”
“Alesan!” potong Kyra kesal. Ia melengos ke samping, paras cantiknya ditekuk dan tampak muram.
Garry terdiam. Lelaki itu jadi serba salah, bingung ingin membalas dengan cara apa. Sedangkan Eiden memilih diam. Ia paham betul jika mood istrinya sedang naik-turun, efek datang bulan. Jadi, sebisa mungkin Eiden tidak mencari masalah dengan Kyra.
Setelah menempuh perjalanan 20 menit—yang bagi Kyra sudah berjam-jam terlewati—mobil yang dikendarai oleh Garry tiba di depan bangunan kumuh di pinggiran kota. Tidak banyak manusia yang mendatangi wilayah tersebut, makanya ratusan hektar tanah tersebut dibeli cuma untuk membangun markas Blood Moon.
Erry dan Michael yang ingin menyambut kedatangan Eiden mendadak kelu lidah keduanya. Kehadiran Kyra di sana sama sekali tidak diprediksi, pun tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu.
Kyra terkekeh melihat raut melongo kedua sahabat suaminya. “Sayang, temen kamu mukanya kenapa gitu? Mereka kesurupan, ya?”
Suara lembut Kyra sukses menyadarkan Erry dan Michael. Setelah berdeham kikuk, kedua lelaki itu berjalan mendekat. “Hai, Ra. Kamu... di sini?” ucap Erry canggung.
Kyra mengangguk antusias. Ia mengalungkan tangannya ke lengan Eiden manja. “Aku nemenin suamiku ke sini. Nggak pa pa, kan?”
Sepasang alis Erry dan Michael terangkat tinggi. Keduanya menoleh pada Eiden, menuntut jawaban. Eiden yang mengerti hanya menganggukkan kepala, seolah memberi isyarat Kyra-udah-tau-semuanya.
Eiden merangkul pinggang Kyra. “Ayo kita masuk.”
Kelima insan itu pun masuk ke dalam bangunan. Kyra ingat, ia pernah datang ke tempat ini ketika menjalani transaksi pembelian senjata. Namun, itu cuma beberapa kali dan ia pun hanya diantar ke ruang penerimaan tamu. Tempat lainnya belum sempat Kyra jelajahi.
Maka dari itu, Kyra bertekad untuk mengelilingi bangunan bergaya Eropa klasik ini!
“Kamu mau nunggu di ruang pribadiku aja?” tawar Eiden lembut. Nada suara lelaki itu yang kelewat tak biasa membuat para anggota mafia terkesiap, kecuali ketiga sahabat Eiden yang memang telah terbiasa. Biasanya, kan, Eiden selalu datar, dingin, dan suka berbicara pedas. Lalu ini?
“Emang kamu mau ngapain?” Kyra bertanya balik.
“Aku mau ke ruang bawah tan—”
“IKUT!” seru Kyra semangat. Bola mata hijaunya berpendar, penuh binar keantusiasan.
Lagi dan lagi, Eiden kalah telak. Lelaki itu tidak melarang. Kyra pun bahagia. Wanita itu mengecupi pipi sang suami berulang kali hingga suara kekehan terdengar. Garry tetap memasang raut datar di belakang Eiden, berbeda dengan Michael dan Erry yang memutar bola mata malas. Pasangan di depannya ini niat sekali, ya, pamernya!
“Kamu mau ikut, Ra?” Michael agak sangsi.
Kyra mengangguk santai. “Aku penasaran, hehe.”
“Tapi, di bawah bau amis sama pengap. Nggak cocok sama kamu.” Michael berusaha mencegah tindakan Kyra. Atmosfer di ruang bawah tanah—yang biasanya mereka gunakan untuk mengurung tahanan atau mengeksekusi mereka—sama sekali tidak sesuai dengan kepribadian Kyra.
“Ayo, Sayang. Aku pengen liat,” rengek Kyra tidak menghiraukan peringatan Michael.
Pada akhirnya, Kyra benar-benar ikut ke ruang bawah tanah. Eiden pun masih tetap setia merangkul sang istri supaya tidak berjauhan. Bagaimanapun, semua makhluk di sini bergenre pria! Eiden jelas tidak akan membiarkan istri cantiknya berkeliaran sendiri di sini.
Mereka tiba di satu sel. Seorang pria terduduk lemas di kursi dalam keadaan terikat. Kyra yang berdiri di sisi Eiden sama sekali tidak terganggu dengan aura dingin yang suaminya pancarkan. Wanita itu malah senang dipeluk dan suka mendusel-dusel. Mendadak aroma tubuh Eiden membuatnya candu!
“Buka!” titah Eiden. Garry segera maju dan membuka pintu sel tahanan. “Siram!”
Tanpa banyak kata....
Byuuurr...!
Pria yang terikat itu megap-megap karena terkejut mendapat serangan air. Ketika ia mendongak, pemandangan para petinggi Blood Moon menghiasi matanya. Namun, ia sukses dibuat bingung dengan kehadiran seorang wanita di pelukan Eiden. Sejak kapan ketua mafia dingin itu membiarkan seorang wanita memeluknya seperti itu?
Pria itu tersenyum miring. “Dia wanitamu, Eiden?” Sayang sekali, pria itu tidak bisa melihat wajah wanita di pelukan Eiden karena posisi Kyra membelakanginya. “Aku tidak menyangka kau sangat menyukai wanita itu sampai membawanya kemari.”
Deg!
Suara itu....
Sontak Kyra berbalik badan. Tubuhnya menegang ketika sepasang matanya bersirobok dengan mata pria yang terikat di kursi tersebut. Ia benar-benar terkejut. Tidak jauh berbeda dengan reaksi si pria.
Eiden yang menyadari istrinya mengenali tahanan pria mengerutkan kening. Ada apa sebenarnya?
“Kyra? Kau?” Pria itu kaget melihat sosok wanita yang dikenali berada di sini.
Aksi terkejut Kyra reda dalam beberapa detik. Bola mata hijau wanita itu berubah kelam. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas. “Iam.. senang bertemu denganmu lagi.”
...💫💫💫...
“Mommy mana, Grandma?” tanya Emily yang meringkuk di pelukan Abigail. “Emily mau mommy...”
Abigail tersenyum kecil. Tangan tuanya terulur mengusap surai panjang cucunya. “Mommy-mu lagi keluar sama daddy. Emily mau ketemu? Kalo iya, biar Grandma telponkan.”
Emily mengangguk lirih. Gadis kecil itu masih dilanda ketakutan. Yang ia inginkan hanya berada di dekat orang-orang terkasih, terutama mommy ataupun daddy-nya. Sayangnya, sosok yang diharapkan tidak hadir di sana. Bahkan, sang kakak pun dengan teganya meninggalkan dirinya untuk ke sekolah.
“Oke. Grandma telponkan, ya.” Abigail meraih ponselnya dan menghubungi nomor Kyra. Beberapa kali nada sambung terdengar, namun telepon tidak diangkat. Beralih pada Eiden, putranya itu juga tidak menjawab.
Tidak mau menyerah, Abigail menekan nomor Garry dan menelponnya. Tiga kali nada sambung terdengar, suara balasan dari seberang terkuak. “Halo, Nyonya Besar?”
“Garry, apa Kyra di situ?”
^^^To be continue...^^^