Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 47 | Kita Saling Melengkapi



Tidak butuh waktu yang lama, keduapuluh pria tumbang. Napas Kyra dan Eiden bersahutan, keduanya berusaha mengais oksigen supaya memenuhi paru-paru.


Dirasa lebih baik, Eiden bersuara. “Dari mana kamu pelajari gerakan tadi, Kyra?”


Eiden menatap Kyra penuh tanda tanya. “Gerakan tadi... cuma bisa dipelajari setelah berlatih beladiri lama, Kyra.”


Kyra mengatur deru napasnya hingga normal. Ia mendekati sang suami dan memeluknya. Kepalanya mendongak dengan kedua tangan melingkar di tubuh Eiden. “Aku janji akan cerita. Tapi, ini udah telat. Kita harus jemput anak-anak sekarang.”


Meskipun Eiden kelewat penasaran, namun perkataan istrinya ada benarnya. Putra-putrinya pasti sudah menanti lama di sekolah. Ia tidak mau kedua bocah itu marah.


Sepasang suami-istri itu melangkah memasuki mobil. Beruntung kendaraan beroda empat itu baik-baik saja. Belum sempat roda mobil berputar, tiga mobil hitam lainnya tiba. Kyra yang mengenali siapa si pengendara berdecak.


Garry dan beberapa anak buahnya tiba. “Tuan Muda, maaf, kami—”


“Sudahlah.” Eiden mengibaskan tangan. “Urus orang-orang itu dan interogasi mereka. Aku ingin menjemput anak-anakku.”


“Perintah diterima, Tuan. Tuan kecil dan nona kecil sekarang sudah berada di mansion. Nyonya dan tuan besar yang menjemput mereka,” tutur Garry yang sukses membuat Kyra dan Eiden menghembuskan napas lega. Pasangan satu ini sudah bisa membayangkan bagaimana ekspresi kesal kedua buah hati mereka jika sampai telat menjemput.


“Ya sudah, aku masih punya urusan dengan istriku kalau begitu.” Eiden melirik Kyra dengan sorot penuh arti. Sepertinya ia harus menyelidiki sang istri sedalam-dalamnya. Ia benar-benar bodoh karena tidak melakukan itu sebelum pernikahan terjadi. Dulu, ia terlalu fokus mencuri perhatian Kyra dan Darren.


Kyra yang ditatap berusaha tidak acuh. Ia tidak keberatan jika identitasnya terbongkar. Lagipula yang mengetahui adalah suaminya sendiri. Hanya saja, Kyra berharap jika ia sendiri yang memberitahu. Bukan orang lain.


Mobil yang dikendarai oleh Eiden itu melaju. Menyusuri hutan hingga keluar sepenuhnya dan menemukan jalanan. Kali ini, Eiden membawa Kyra ke mansion pribadinya, bukan mansion keluarga. Tiba di sana, Eiden langsung menarik Kyra menuju kamar, menghiraukan tatapan bingung para pelayan yang tinggal di sana.


Kyra pikir, Eiden ingin bicara empat mata. Namun, asumsinya salah besar. Bukannya bertanya, Eiden malah mendorongnya ke ranjang dan membuka seluruh pakaiannya. Kyra tidak bisa untuk tidak melongo. Suaminya ini kenapa jadi agresif sekali?


Eh, selama ini Eiden memang buas sekali, sih.


“Eiden, ini—”


“Diam. Aku mau ngecek apa ada luka.” Eiden meneliti sekujur tubuh polos istrinya. Lelaki itu menemukan beberapa memar di lengan dan tangan. “Berbalik.”


Tidak ingin berdebat, Kyra membalikkan tubuhnya menjadi telungkup dengan patuh. Ada satu memar di punggung. Eiden menyentuhnya yang sontak mengundang ringisan pelan dari Kyra.


“Sakit?” tanya Eiden tidak tega.


“Dikit,” jawab Kyra apa adanya. Baginya, luka memar seperti ini sudah menjadi makanannya tiap hari—dulu sebelum menikah. Jadi, Kyra tidak akan memperbesar masalah dengan merengek atau semacamnya.


“Biar aku obati.” Eiden hendak turun. Namun, Kyra tiba-tiba menarik tangannya hingga jatuh ke ranjang. Dengan gerakan cepat, Kyra mendudukkan diri di atas perut keras sang suami.


Berada di posisi seintim ini, Eiden jadi salah tingkah. Apalagi Kyra tidak memakai sehelai benang pun di atasnya. Apa wanita itu berniat menggodanya? Kalau iya, Eiden akan melayani dengan senang hati.


“Sayang,” panggil Kyra dengan raut sayu. “Aku mau ngecek juga. Boleh, kan?” Ia mengedipkan sebelah matanya. Bahkan, istri Eiden itu sengaja menggigit bibir bawahnya dengan gaya sensual.


Eiden menggeram. Miliknya seketika sesak disuguhi pemandangan ini. Tanpa menunggu lagi, lelaki itu membalik posisi—membuat Kyra berada di bawah kungkungannya. “Kamu yang mulai, Sayang.” Eiden melepas pakaiannya sendiri secepat kilat.


Kyra mengeluarkan smirk andalan. “Lakukan dengan cepat, Suamiku. Aku tidak ingin anak-anak menunggu lama,” bisiknya dengan nada manja.


Siang itu, keduanya kembali melakukan penyatuan dengan hasrat menggebu-gebu.


...💫💫💫...


Malamnya...


Kyra menampilkan raut bersalah. Ia mendekati Emily dan meraih tubuh mungilnya ke dalam dekapan. “Maafin Mommy, ya, Sayang. Tadi Mommy sama Daddy ada pekerjaan di luar,” paparnya.


Bibir Emily mencebik ke bawah. “Mommy jadi sibuk sama Daddy terus. Sama Emily-nya kapan?” tanya gadis kecil 5 tahun itu sedih.


Kyra menatap putrinya sendu. “Maafin Mommy, ya.” Wanita itu memutar otak, mencari ide supaya putrinya tidak ngambek. Mengandalkan sang suami sekarang itu tidak ada gunanya. Lihat saja Eiden, lelaki itu sibuk menonton. Tidak berniat membantu sama sekali.


Mendadak Kyra punya ide. “Ah, gini, deh. Sebagai permintaan maaf, besok selama sehari penuh Emily jadi ratu sehari, mau?”


“Ratu sehari?” seru Emily antusias. Ia ingat ketika kakaknya sedang bermain raja sehari dan sang mommy selalu menurut, tidak membantah sama sekali permintaan aneh Darren.


“Yap! Nanti Mommy sama Daddy turutin semua permintaan Emily. Tapi, jangan ngambek, ya?” Kyra yakin, putrinya memiliki daftar permintaan yang normal-normal, tidak seperti putranya yang selalu meminta hal ekstrim.


Emily mengangguk semangat hingga rambut panjangnya memantul. “Iya, Mommy. Emily mau!”


“Oke kalo gitu. Sekarang Emily bobo’. Mommy mau mandi dulu, habis itu temani Emily.”


“Iya, Mommy.” Gadis kecil itu melangkah dengan riang menuju kamarnya. Kepalanya mulai mengabsen satu per satu permintaan yang sejak dulu ingin ia lakukan.


Kyra menghela napas lega. Ia beralih menatap Eiden tajam. “Kenapa tadi diem aja? Dia anak kamu, lho. Bantuin kek bujuknya.”


Eiden tersadar dari lamunan. Lelaki itu bergerak mengusap tengkuk dengan gaya canggung. Ia gagal fokus karena mengingat pesan Garry sore tadi.


“Maaf, Sayang. Aku bingung,” kata Eiden.


Kyra menghela napas kasar. Ia menarik lengan suaminya menuju kamar mereka. Lalu membantu melepas jas dan dasinya. “Anak-anak masih kecil, Eiden. Mereka butuh kasih sayang kamu, daddy mereka. Berusahalah lebih dekat sama mereka mumpung anak-anak masih kecil. Karena kalo mereka udah besar, semua udah terlambat. Aku nggak mau liat hubungan ayah dan anak sampai secanggung ini.”


Eiden mengangguk. Ia benar-benar merasa tidak becus sebagai seorang daddy.


“Aku nggak minta kamu langsung berubah. Berubah pelan-pelan, nikmati prosesnya, jadi kamu akan terbiasa.” Kyra menatap suaminya hangat. “Anak-anak selalu ngertiin kesibukan kamu. Udah saatnya kamu gantian ngertiin mereka yang juga mau disayang sama daddy kesayangan mereka.”


“Iya. Maaf, belum bisa jadi daddy yang baik.”


Tidak ingin membuat sang suami sedih, Kyra masuk ke dalam pelukan Eiden. Lelaki itu balas melingkarkan kedua tangannya. “Bukan cuma kamu yang punya kekurangan, aku juga punya. Tapi, itu salah satu fungsinya kita menikah. Untuk saling melengkapi. Jadi, kalo kamu ngelakuin kesalahan, aku yang akan nasihati kamu. Dan, kalo aku ngelakuin kesalahan, tolong tegur aku, ya.”


Eiden memejamkan matanya. Kalimat-kalimat itu berhasil menghangatkan hatinya. Ia melabuhkan satu kecupan panjang di kening Kyra. “Iya, Sayang.”


Cup!


Kyra mengecup pipi Eiden sekilas. “Jangan pernah merasa buruk. Kita ini cuma manusia yang pasti pernah berbuat kesalahan.”


“Yang beda itu tergantung kitanya, mau instrospeksi diri dan merubah diri atau malah tidak peduli sama kesalahan sendiri. Bagi aku, Suamiku ini hebat karena mau mengakui kesalahan. Jadi, jangan pernah merasa kamu itu buruk, oke?”


Sial! Jika begini, bagaimana bisa Eiden tidak semakin mencintai istrinya?


Tanpa keduanya sadari, Abigail yang memang ingin menemui putranya terdiam dengan senyum tulus di depan pintu kamar yang sedikit terbuka. Wanita itu melihat anak dan menantunya tengah berpelukan. Pilihan kali ini tidak salah. Kyra dan segala perangainya adalah sosok terbaik untuk putranya. Walaupun tidak banyak, Abigail bisa merasakan perubahan pada Eiden. Tentunya mengarah ke hal yang baik.


Semoga kalian terus bersama, Nak. Mama harap, kalian bahagia selamanya.


^^^To be continue...^^^