Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 68 | Apa Dia...



Kecanggungan yang terjadi telah sirna. Sesuai sekali dengan kepribadian Kyra yang tidak suka menunda-nunda masalah.


“Emily yakin mau sekolah?” tanya Kyra perhatian.


Gadis kecil itu mengangguk antusias. “Emily mau sekolah aja, Mommy. Di rumah bosen, Emily mau main sama temen-temen.”


Kyra mengangguk saja. Ia tidak mempermasalahkan keinginan putrinya. Toh, ada Olin yang akan menjaga Emily di sekolah, kan? Mendadak wanita itu bersyukur karena Eiden memberikan bodyguard pribadi untuknya, putranya, juga putrinya.


“Hari ini Mommy mau ke mana?” tanya Darren di sela acara sarapan.


Kyra berpikir sejenak. “Em.. Mommy mau ikut daddy, sih.”


Darren berdecih. “Manja,” ejeknya.


Kyra melotot. “Heh!”


Darren terkekeh. Sudah cukup lama ia tak melihat air muka sebal sang mommy. Bocah itu sadar jika keluarga mereka sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


“Oh, ya, Nak, tadi di depan ada tamu buat kamu,” sahut Abigail memberitahu. “Mama suruh tunggu di ruang tamu karena kamu masih sarapan.”


“Siapa, Ma?”


“Kalo nggak salah, namanya... Ameera, Sayang.”


“Ah, dia...” Kyra manggut-manggut. Wanita itu baru ingat jika acara fashion di Paris akan diadakan dua hari lagi, bertepatan dengan hari ulang tahun Darren. Maka dari itu, Kyra mengutus Ameera untuk mewakilinya mendatangi acara tersebut. Ia juga mengundang tangan kanannya ke mansion untuk mendiskusikan banyak hal. “Kalo gitu, Mommy harus cepat-cepat.”


Kyra pun mempercepat pergerakan tangannya, ia menghabiskan jatah sarapannya lebih awal dari yang lain. Setelah izin pamit, wanita itu melenggang menuju ruang tamu guna menemui Ameera yang telah menanti.


“Meera, maaf. Saya masih sarapan tadi. Apa kamu menunggu lama?” tanya Kyra basa-basi.


Ameera lantas berdiri, menyambut kehadiran sang atasan. “Tidak apa-apa, Non—ehm, Nyonya. Saya yang salah karena datang lebih awal dari jadwal yang kita tentukan.”


Selepas itu, topik perbincangan yang dikumandangkan seputar Kirren’s Boutique. Ameera melaporkan hal-hal penting terkait butik, sedangkan Kyra memberi masukan untuk tangan kanannya ini dalam mengelola usaha mereka ini. Sekaligus membicarakan apa saja yang harus Ameera lakukan di Paris nanti.


...💫💫💫...


“Hati-hati, ya, Sayang.” Kyra mencium puncak kepala Emily sebelum gadis kecil itu memasuki lingkungan sekolah. Posisi mereka saat ini memang tengah berada di depan sekolah Emily.


Lokasi selanjutnya tentu sekolah Darren. Sepanjang perjalanan, ada saja yang Darren celotehkan. Entah itu soal Emily yang mendadak manja, teman-teman barunya yang menyebalkan, atau suasana kelas yang membosankan, semua diceritakan. Untungnya Kyra tipe wanita penyabar yang tidak keberatan telinganya diusik beratus detik.


“Oh, ya, Dad. Uncle Jasper udah setuju, lho, mau ngajarin Darren komputer,” celetuk Darren mengubah topik—lagi.


Eiden melirik putranya lewat kaca dengan senyum tipis. “Oh, ya? Bagus dong.” Ya, sebatas itu saja tanggapan lelaki itu. Ketika ia sadar dengan ucapannya, Eiden meringis di dalam hati.


Ah, dia benar-benar kaku!


Darren cemberut. Daddy-nya sangat tidak peka! Alhasil, tangan kecil Darren terlipat dengan muka terpaling ke luar jendela.


Eiden gelagapan. Bingung sekali ingin membujuk dengan cara yang bagaimana. Pada akhirnya, lelaki dewasa itu hanya bisa memberi lirikan permohonan pada sang istri. Berharap Kyra mau membantunya mengatasi suasana pelik kali ini.


Kyra terkekeh pelan. “Wow, kapan mulai belajarnya?” tanyanya ikut antusias.


Darren langsung bersemangat dan menjawab, “Kata uncle, lusa nanti Darren bisa dateng buat belajar, Mom!”


Sontak kening Kyra mengerut. Lusa? Apa ia tidak salah dengar? Lusa adalah hari ulang tahun ke-7 Darren. Namun, melihat sikap anak itu, sepertinya Darren tidak mengingat hari kelahirannya sendiri.


Kyra membalikkan badan, menengok Darren yang duduk manis di jok tengah mobil. “Kamu butuh sesuatu, kan?” terkanya langsung. “Mau ngomong gitu aja ribet amat.”


Darren tertawa renyah. Memang hanya mommy-nya yang paham luar-dalam mengenai dirinya. Kepala anak itu mengangguk dua kali. “Iya, Mom. Sebenernya.. Darren butuh komputer atau laptop buat belajar. Jadi.. Darren boleh minta beliin?” tanya Darren malu-malu. Pasalnya, ini kali pertama ia meminta sesuatu yang berharga fantastis. Biasanya hanya sebatas makanan—yang harganya jelas tidak bisa dibandingkan dengan alat-alat canggih tersebut.


“Ah..” Eiden manggut-manggut. Ia kini paham alasan putranya mengungkit masalah pembelajarannya dalam komputer. Darren butuh dibelikan sesuatu! “Kalau gitu, Daddy akan belikan komputer terbaru buat kamu.”


Senyum cerah di paras Darren terbit. Saking lebarnya, Eiden sampai khawatir bibir putranya akan robek. “Beneran, Dad?!” serunya antusias.


“Iy—”


“No!” sela Kyra. “Darren nggak akan dibeliin komputer!”


Eiden dan Darren kompak mengernyit. “Kok gitu?” protes keduanya bersamaan.


Kyra geleng-geleng. Sejak kapan ikatan batin kedua lelaki ini menguat sampai menghasilkan tindakan kompak? “No, Darren. Mommy udah kasih uang saku setiap hari, kan? Sekarang kalau Darren mau sesuatu, Darren harus beli pake uang sendiri.”


“Bukan cuma kamu aja, Darren. Mommy juga akan berlakuin hal yang sama buat Emily. Mommy mau kalian paham gimana susahnya cari uang buat dapetin sesuatu. Mommy tau, kita bercukupan, daddy punya banyak uang yang nggak akan habis cuma buat beli komputer. Yang Mommy mau, kamu sama Emily belajar menghargai dan mensyukuri apa yang kita punya. Paham?” papar Kyra.


Darren mengangguk kecil. “Paham, Mom.”


“Mommy begini bukan karena nggak sayang, Darren. Mommy mau kamu belajar menghargai aja,” kata Kyra lagi. Ia takut putranya salah paham dan malah marah padanya.


“Darren paham, kok. Mommy nggak perlu cemas.” Anak itu bersidekap santai.


“Tapi.. karena kamu butuh komputer buat belajar, mungkin nggak pa pa kalo kali ini daddy yang beliin. Tapi, lain kali mau apa-apa harus beli sendiri. Oke?”


“Oke, Mom.”


Kyra menghela napas lega. Ia melirik suaminya yang ternyata tengah menatapnya hangat. Sorot teduh lelaki itu membuat jantung Kyra berdebar keras. Semu merah pun menghiasi pipi Kyra tanpa diminta.


“Darren turun dulu, Mom, Dad.” Usai berpamitan, Darren turun dari mobil dan masuk ke pekarangan sekolah.


Sepasang suami-istri orang tua Darren itu masih sibuk bersitatap. Tiba-tiba Eiden mendekatkan diri, melabuhkan satu kecupan panjang di dahi Kyra. “Kamu ibu yang hebat, Sayang.”


“Aku percaya, Emily dan Darren akan jadi anak yang hebat di bawah didikan kamu.”


Aa.. Kyra salting! Boleh tidak, sih, seret Eiden pulang terus dikurung di kamar?


...💫💫💫...


Eiden dan Kyra tiba di markas Blood Moon. Keduanya disambut oleh para anggota mafia yang sudah berjaga di depan. Hari ini, Kyra sendiri yang akan mengeksekusi Iam, pria yang memiliki banyak catatan kelam di dalam hidup Kyra.


“Di mana Iam?” tanya Kyra to the point.


Michael dan Erry nampak gugup walaupun berusaha disembunyikan sebaik mungkin. Namun, kepekaan Kyra terhadap sekitar tidak bisa diremehkan. Wanita itu jelas tahu jika kedua sahabat Eiden ini tengah menyembunyikan sesuatu.


“Apa Iam berusaha bunuh diri?” tebak Kyra.


Michael dan Erry cengo. “Nyonya tahu?!” seru keduanya.


^^^To be continue...^^^