Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 53 | Kyra Menghilang (2)



Keesokan harinya...


Pagi menjelang dengan cepat bagi Eiden yang hampir tidak tidur sama sekali. Lelaki itu terlampau cemas dengan kondisi Kyra yang hingga saat ini belum ditemukan. Bahkan, tanda-tanda kehadiran Kyra pun sama sekali tidak ada. Seolah wanita itu hilang ditelan bumi.


Sepanjang malam, Eiden benar-benar dihantui dengan segala macam asumsi buruk mengenai Kyra. Berulang kali diusir, pemikiran-pemikiran itu tetap mengelilingi hati dan otaknya. Eiden yakin, istrinya baik-baik saja. Ia yakin!


Menu sarapan pagi ini dibuat oleh chef mansion. Kendatipun tidak ada yang berselera, Cavan, Abigail, dan Eiden memaksakan diri untuk tetap makan supaya kedua anak di keluarga mereka mencontoh. Masih ada Darren dan Emily yang harus diperhatikan di sini.


“Emily, makan dulu, Sayang,” bujuk Abigail pada cucu perempuannya yang duduk diam di kursi, tidak menyentuh makanannya setitikpun.


Emily menggeleng. “Mau makan masakan mommy,” katanya. Sepasang mata bulatnya masih sedikit bengkak, sisa bekas tangis semalam.


Lagi dan lagi, Darren menghela napas berat. Sebisa mungkin ia sabar dan mengerti dengan perasaan Emily. Ia menarik piring adiknya itu dan menyendok sesuap nasi beserta lauk. “Nanti kalo mommy tau Emily nggak makan, yang ada Emily dimarahin. Terus mommy pergi lagi, deh. Mau?” Bocah itu menyodorkan makanan ke mulut Emily.


Setelah menggeleng, Emily memakan suapan Darren. Isi piring gadis kecil itu baru habis karena Darren menyuapinya sepanjang sarapan. Usai memastikan adiknya makan dan minum dengan benar, barulah Darren menyantap jatah hidangannya sendiri. Abigail sampai terharu dengan perbuatan Darren. Contoh kakak yang baik.


“Emily nggak sekolah?” tanya Eiden memerhatikan putrinya tidak mengenakan seragam, padahal bukan akhir pekan ataupun hari libur.


Emily menggeleng cepat. “Nggak mau! Emily mau di rumah aja, mau tungguin mommy!”


Untuk kali ini, Eiden tidak mempermasalahkan. Daripada putrinya cemas di sekolah dan tidak fokus, lebih baik izin saja hari ini. Lagipula, Eiden masih belum menemukan titik terang mengenai latar belakang hilangnya Kyra. Entah diculik atau memang pergi ke suatu tempat sesuai penuturan Darren semalam. Eiden tidak tahu.


Jadi, demi meminimalisir kejadian serupa, Eiden meminta Darren dan Emily tetap di mansion, tempat teraman menurutnya.


Sarapan selesai. Eiden bergegas menuju ruang kerjanya. Ia berniat menghubungi Garry, menuntut informasi lebih lanjut terkait masalah kali ini.


“Gimana? Udah ketemu?” tanya Eiden saat sambungan telepon terhubung.


Garry tidak segera menjawab. Dan, keterdiaman lelaki itu membuat Eiden paham jika Kyra belum ditemukan.


“Apa sedikitpun kalian nggak nemuin petunjuk?” Eiden lunglai di sofa.


“Maaf, Tuan. Tidak ada sama sekali.”


Saking frustrasinya, Eiden hampir membanting ponselnya ke lantai. Namun, tindakannya itu diurungkan kala pintu ruang kerjanya dibuka dari luar. Eiden terkejut sesaat melihat putranya masuk dengan secarik kertas.


“Dar—”


“Darren pinjem ponsel, Dad.” Lelaki kecil itu menyela sambil menengadahkan tangan.


Walaupun tidak tahu apa motif Darren yang tiba-tiba ini, Eiden tetap memberikan ponselnya. Anaknya itu nampak mengotak-atik sesuatu sebelum menempelkan benda pipih berdominasi warna hitam itu ke telinga.


“Halo? Dengan siapa?” Suara berat nan dingin terdengar.


“Halo, Uncle. Ini Darren.”


“Ah, Tuan Kecil. Maafkan saya.” Ia sedikit menyesal telah menggunakan nada dingin seperti barusan.


“Nggak pa pa, kok. Uncle, Uncle Reven tau mommy di mana sekarang?” tanya Darren to the point. Karena ia tidak memiliki ponsel sendiri, makanya Darren meminjam ponsel Eiden. Setidaknya, konfirmasi dari Reven akan mengurangi kecemasan Darren saat ini. Mungkin bukan hanya Darren, Eiden pun sama.


“Nona Kyra? Kemarin nona berada di sini sampai pukul 6 sore, Tuan Kecil. Tapi, setelah itu nona pergi. Saya tidak tau beliau ke mana.”


Karena Darren mengaktifkan mode speaker, Eiden bisa mendengar dengan jelas. Untungnya, Reven tidak menyebut ‘markas’ ataupun sesuatu yang berhubungan dengan mafia. Jadi, rahasia Kyra masih terbilang aman meskipun kecurigaan Eiden bertambah besar.


“Maaf, Tuan Kecil. Saya tidak bisa. Nona pergi tanpa membawa apa pun. Tapi, saya ingat kalau nona pergi bersama Mauren. Mungkin Tuan kecil bisa bertanya padanya.”


Secercah cahaya harapan Darren yang sempat sirna kembali terbit. “Oke, Uncle. Darren tutup, ya, mau telpon aunty.”


“Baik, Tuan Kecil.”


Tanpa menanti lagi, Darren langsung memasukkan nomor Mauren ke ponsel Eiden. Secarik kertas yang ia bawa berisikan nomor-nomor penting, termasuk nomor ponsel Reven, Mauren, dan orang-orang yang lain. Kyra sengaja menyediakannya untuk situasi darurat yang mengharuskan Darren menghubungi seseorang selain dirinya.


“Mauren siapa, Darren?” tanya Eiden.


“Aunty Mauren sepupunya mommy, Dad.” Darren menjelaskan secara singkat sembari mengetik nomor Mauren satu per satu. Setelahnya langsung ditelepon.


Tut.. tut.. tut...


“Halo? Siapa, ya?”


“Aunty, ini Darren. Mommy ada sama aunty nggak?”


“Oh, kamu, Sayang. Mommy-mu, ya? Semalam sama aunty, sih. Tapi, mommy kamu udah pulang dari jam 9 malam, Sayang. Aunty pikir mommy kamu udah pulang. Kemarin mommy kamu marah besar, mungkin... sekarang lagi nenangin diri?” kata Mauren sedikit ragu.


“Mommy marah? Emangnya kenapa?” tanya Darren ingin tahu. “Apa terjadi sesuatu, Aunty?”


Terdengar helaan napas berat dari seberang. “Ini soal opa kamu, Sayang.”


“Opa? Maksudnya papa-nya mommy?”


“Iya.”


“Opa kenapa? Apa opa masih hidup kayak Uncle Ansel?”


“No, Sayang.” Helaan napas Mauren sukses mendebarkan hati Eiden dan Darren. Kedua lelaki beda generasi itu entah mengapa sama-sama merasa jika fakta yang akan Mauren sampaikan tidak akan mengenakkan. “Opa udah meninggal. Cuma....”


Darren gregetan karena Mauren tak kunjung melanjutkan. “Cuma apa, Aunty?! Jangan buat Darren penasaran, ya! Ini daddy juga mau denger.”


Mauren tertegun. “Ada daddy kamu di situ?”


“Iyalah! Mommy ilang dari semalem. Orang serumah pada panik, apalagi daddy. Ini Darren pinjem ponselnya daddy.”


Mauren merutuki dirinya dalam hati. Syukurlah, ia belum menyebut apa pun mengenai fakta yang mereka dapatkan semalam. Seandainya ia sudah bercakap, akan ada perang keluarga setelah ini.


“Ternyata opa kamu meninggal karena ada penyebabnya, Sayang.”


Darren terdiam. “Maksudnya... opa dibunuh?” lirihnya.


“Kalo itu, Aunty nggak tau. Yang pasti, latar belakang tentang kematian opa kamu nggak sesederhana yang selama ini kita pikirin, Sayang. Mommy kamu marah besar karena baru tau soal ini setelah bertahun-tahun.” Mauren menghembuskan napas kasar. “Aunty peringatin, waktu mommy kamu pulang, jangan buat dia emosi. Perasaan mommy kamu pasti lagi kacau. Bener-bener kacau.”


Eiden termenung. Sebenarnya apa yang ia lewatkan selama ini? Rahasia apa yang Kyra sembunyikan? Dan, apa maksud perkataan Mauren barusan?


Kenapa perasaanku jadi nggak enak?


^^^To be continue...^^^