Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 34 | Raja Sehari Darren



“Wah, kebetulan sekali.”


Sontak Kyra menoleh. Raut wajahnya sedikit berubah melihat sosok di depannya.


Menyadari perubahan air muka sang majikan, Ilona mulai bersiap siaga di belakang Kyra. Orang yang barusan berceletuk santai itu adalah Ayara. Masih ingat dengan dia, kan?


Si penyelenggara acara fashion yang berakhir pengeboman hotel. Tahu tidak bagian kerennya apa?


Tidak ada satu pun stasiun TV yang memberitakan insiden itu! Padahal, pengeboman hotel yang menimbulkan kerugian ratusan juta itu sangat mencengangkan. Kyra tebak, sih, Ayara lebih dulu bertindak... atau mungkin suaminya?


“Nyonya Ayara? Anda di sini? Senang bisa bertemu dengan Anda lagi.” Kyra mencoba untuk membalas dengan ramah. Tidak mungkin, kan, dia meledak-ledak tanpa alasan?


Ayara tersenyum. “Iya, saya juga senang bertemu dengan Anda.”


Para pegawai yang melihat tingkah kedua perempuan itu berbisik-bisik. Mereka membicarakan kedekatan si pemilik brand internasional dan brand nasional. Pikir banyak orang, orang yang berkecimpung di dunia sama akan saling bersaing. Namun, sepertinya persepsi mereka salah.


“Nona Kyra ingin membeli make up? Saya punya rekomendasi bagus, lho,” tutur Ayara bertingkah seolah mereka sangat akrab.


Kyra masih memasang senyum yang sama. “Alat make up saya masih ada di rumah. Saya ingin membeli produk skincare di sini.”


“Ah..” Ayara manggut-manggut.


“Kalau begitu, mari.” Kyra memberi kode pada Ilona supaya ikut dengannya. Keduanya pun melenggang pergi untuk melihat-lihat produk skincare yang dijual. Tanpa malu, Ayara melangkah mengekori Kyra ke mana pun wanita itu pergi.


Untungnya, Kyra masih sabar. Wanita itu memilih untuk tidak menghiraukan keberadaan Ayara di belakang. Setelah mendapat produk yang sering dipakai, Kyra membeli satu paket skincare favoritnya. Bahkan, produk yang sedang promo pun ia sikat.


Lumayan juga, kan, dapat potongan harga?


Walaupun wajahnya sudah kinclong, tapi tetap harus dijaga bukan? Untuk mendapat sesuatu yang maksimal, maka usahanya juga harus besar.


Masa mau cantik, tapi nggak modal? Mimpi aja sana.


“Nyonya ingin langsung pulang?” tanya Ilona ketika mereka keluar dari outlet kosmetik.


“Hm, no. Kita mampir ke supermarket sebentar, ya. Aku mau beli bahan-bahan kue.”


Ilona mengangguk patuh. Dia mana berani membantah.


“Nona Kyra!”


Tahu siapa yang memanggilnya, Kyra menghela napas berat. Ia memasang senyum terbaik, lalu membalikkan badan. “Ya, Nyonya Ayara?”


“Ah, tidak. Apa Anda ingin langsung pulang? Bagaimana jika kita makan sebentar di food court sana? Makanannya enak-enak, lho,” kata Ayara.


Kyra tetap melengkungkan bibirnya. “Maaf, Nyonya. Saya punya urusan lain, jadi lain kali saja.” Ia melirik ke paper bag di tangan Ayara. Wanita itu membeli produk skincare dengan merek sama sepertinya. Entah memang sudah biasa memakai atau ikut-ikutan saja, Kyra tidak peduli.


“Oh, begitu? Yahh.. sayang sekali, Nona.” Ayara menatap Kyra dalam, penuh makna.


Sebagai seorang mafia, Kyra jelas mengenal tatapan itu. Insting wanita beranak dua ini jangan diremehkan. Ada kebencian yang tersembunyi di balik binar mata Ayara. Alasannya apa, itu yang tidak bisa Kyra tahu.


“Saya permisi dulu, Nyonya Ayara.” Usai memberi anggukan sopan, Kyra melangkah pergi. Sebelum menuju supermarket di lantai satu mall, Kyra lebih dulu memasuki toilet. Sementara Ilona ia minta menanti di luar.


Kyra tengah membasuh tangan hingga kedatangan Ayara menarik atensinya. Astaga, apa wanita itu berniat sekali mengikutinya ke mana pun?


Namun, dipikir-pikir lagi, sepertinya tujuan Ayara ke toilet karena ingin bicara empat mata dengannya. Lihat saja sorot mata Ayara, tajam dan menusuk.


“Ada masalah apa Anda dengan saya?” tanya Kyra to the point. Kalau sudah begini, ia tidak suka basa-basi. Lebih baik diselesaikan secepat mungkin.


Kyra mengerutkan dahi. Memangnya mereka sedang main apa sampai rebut-rebutan segala? “Apa maksud Anda, Nyonya?”


“Brand ciptaanmu itu membuat brand milikku tenggelam, Sialan! Aku membangun butik bertahun-tahun, tapi kau menghancurkan segalanya dalam 3 tahun!” seru Ayara dengan suara tertahan. Kyra tebak, wanita itu tidak ingin Ilona sampai masuk dan memergokinya tengah mengintimidasi tuannya.


Kyra tersenyum miring. “Kalau begitu, ini bukan salah saya. Mata para pelanggan saja yang sangat jeli sampai mereka tahu mana produk dengan kualitas terbaik.”


Ayara menggeram. Rahang tuanya mengetat, kedua tangannya mengepal. “Kau—”


“Sepertinya Anda ingin sekali bersaing dengan saya. Kebetulan acara fashion di Paris sebentar lagi datang, tepatnya tiga bulan lagi. Ingin bersaing di sana, Nyonya?” Kyra mengulurkan tangan.


Ayara berdecih. Ia balas menjabat tangan Kyra. “Aku pastikan, pakaian buatanku akan jauh lebih baik darimu.”


“Jangan terlalu percaya diri. Biar para juri yang menentukan.”


Ayara berbalik meninggalkan toilet. Kyra, sih, cuma geleng-geleng. Ia keluar dan menemukan Ilona yang tampak cemas.


“Nyonya, Anda baik-baik saja? Saya melihat—”


“Apa menurutmu aku selemah itu sampai tidak bisa melawan wanita itu?” Kyra melipat kedua tangannya. “Tenang saja. Dia itu tipe orang yang melawan menggunakan mulut, bukan otak. So, come on. Aku harus beli beberapa bahan kue.”


...💫💫💫...


Sepulang dari mall, Kyra langsung menjemput kedua anaknya. Enam gelas minuman Starbucks bertema cokelat ada di tangan. Sambil menunggu, Kyra meminum miliknya. Ia juga memaksa Ilona menerima pemberiannya.


Gaya Kyra yang elegan mengundang perhatian para orang tua—yang kebanyakan merupakan ibu-ibu—di sekitar. Mereka mengagumi paras dan body Kyra yang sangat pas, tidak berlebihan dan tidak kurang. Pria mana pun yang melihat pasti langsung kesengsem. Ingin menyapa, namun tidak berani. Apalagi Ilona sejak tadi terus memasang raut datar di sisi Kyra, bahkan ketika meminum minumannya.


Tujuh menit menunggu, Emily dan Darren keluar dari kelas—tentu saja diikuti Xania dan Olin. Gadis kecil itu berlari menghampiri Kyra. “Mommy sudah datang? Eh, apa itu?” Emily berbinar melihat cairan cokelat dingin yang menggugah selera.


“Mau?” tawar Kyra menggoyangkan minumannya.


“Mau, Mommy!”


Kyra menunjuk ke arah Ilona yang membawa plastik minuman lain. Emily bertepuk tangan riang. Darren tanpa banyak kata ikut mengambil bagiannya.


“Masih ada dua?” Darren melirik dua gelas lainnya. Dua detik kemudian, bocah itu paham setelah melihat Ilona. Ia menaruh gelasnya dan mengambil dua gelas yang masih utuh. “Untuk Kakak.” Ia memberikannya pada Xania dan Olin.


“Tapi, Tuan Kecil—”


“Tinggal terima, terus bilang ‘terima kasih’, apa susahnya, sih?” sewot Darren tidak suka pemberiannya ditolak. “Berbagi itu indah.”


Xania dan Olin terdiam. Lalu sedikit membungkuk. “Terima kasih atas minumannya, Tuan Kecil, Nyonya, Nona Kecil.”


Kyra mengulas senyum. Tenang saja. Ada alasan kenapa para bawahannya senang memiliki majikan seperti Kyra. Wanita itu selalu royal pada siapa pun, oke.


“Oh, ya, siang ini Darren jadi raja sehari, kan?” Tiba-tiba Darren berkata.


Kyra cuma bisa menghela napas pasrah. Ia mengangguk ragu.


“Oke. Permintaan pertama, kita ke kantor daddy sekarang juga.”


Kyra melongo. “Kantor daddy?”


^^^To be continue...^^^