Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 77 | Alih Tugas



“No, Sayang! Aku bilang nggak, ya nggak!” kata Eiden tegas.


Kyra menghela napas berat. Kenapa susah sekali, sih, meminta izin pada suaminya ini? Dia, kan, cuma ingin melakukan pekerjaan di luar kota dan itu tidak berhubungan dengan mafia sama sekali. Tapi, Eiden terus beralasan ini dan itu untuk melarangnya. Kyra sampai kesal sendiri.


“Eiden, aku cuma urus masalah butik aku di Tangerang. Nggak jauh-jauh amat dari Jakarta,” bujuk Kyra lagi. “Ijinin, ya?”


Eiden menggeleng keras. “Nggak, Kyr. Situasi kita lagi nggak aman. Musuh bisa nyerang kapan aja dan di mana aja. Jadi, sebisa mungkin kita semua tetep di mansion sampai semuanya clear.”


Kyra memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Hei, ini bukan karena masalah perizinan ini, ya. Tapi, memang Kyra sedang pusing sungguhan.


“Aku ke sana sama Mauren, Eiden. Kamu boleh kok kirimin berapapun pengawal buat aku. Tapi, please.. ini urgent. Aku harus ke sana buat handle.” Kyra masih tidak menyerah. Butik miliknya adalah hasil kerja kerasnya selama ini. Kyra tidak akan membiarkan satu pun dari cabang butiknya terkena masalah.


Mendengar hal tersebut, Eiden jadi berpikir ulang. Melihat tekad di mata sang istri, lelaki itu tahu bahwa Kyra tidak akan menyerah membujuknya hingga mendapat izin. “Oke, fine. Tapi, kamu ke sana sama 20 pengawalku.”


Kyra tersenyum cerah. “Oke, deal.” Wanita itu beranjak dari posisi untuk memeluk Eiden. “Makasih, Sayang. Aku nggak lama kok. Nanti kalo udah selesai, aku langsung pulang.”


Eiden balas memeluk Kyra dan melabuhkan satu kecupan di kepala wanita itu. “Selalu jaga diri, Sayang. Aku nggak mau kamu kenapa-napa.”


“Pasti, Suamiku.”


...💫💫💫...


Sesuai perkataan Kyra semalam, wanita itu sungguh-sungguh pergi ke Tangerang pagi ini ditemani puluhan anak buah Eiden. Yang terlihat, sih, 20 pengawal. Tapi, Eiden tetap menyiapkan pengawal bayangan yang jumlahnya tak terkira untuk menjaga istrinya dari jauh.


“Hati-hati, ya, Mommy,” pesan Emily memeluk mommy-nya erat.


“Iya, Sayang.”


Giliran Darren, bocah itu turut memeluk Kyra. Dulu, kemanapun Kyra pergi, ia akan ikut. Tapi, sekarang ia punya keluarga lain yang harus dipikirkan. Darren memiliki Emily yang harus ia jaga. Jadi, rasanya sulit kalau ingin mengekori sang mommy ke mana-mana.


“Pulang bawa oleh-oleh, ya, Mom.” Darren nyengir melihat Kyra mendengkus.


“Bukannya bilang ‘hati-hati’ kayak Emily kok malah minta oleh-oleh,” cibir Kyra.


“Biarin dong. Darren, kan, beda.”


Kyra pun berpamitan dengan yang lain. Setelah diceramahi oleh Abigail dan Eiden panjang lebar, Kyra akhirnya berangkat bersama rombongan. Mereka menggunakan mobil pribadi, bukan kendaraan umum.


“Kalo gitu Eiden berangkat juga, Ma, Pa,” pamit Eiden yang sudah siap dengan setelan kerjanya.


“Anak-anak bareng kamu?” tanya Cavan.


“Iya, Pa.” Cavan manggut-manggut saja.


Eiden, Emily, dan Darren masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan. Seperti biasa, mereka mengantar Emily terlebih dahulu, baru kemudian Darren.


Tepat sebelum Darren masuk ke dalam pekarangan sekolah, bocah itu mengeluarkan lipatan kertas dari dalam saku celananya. “Ini buat Daddy.”


Eiden menerimanya dengan dahi mengerut. “Ini apa?”


Darren mengendikkan bahu. “Darren juga nggak tau. Tapi, itu dari mommy. Katanya suruh kasih ke Daddy. Tadi Darren hampir kelupaan, hehe..”


Eiden mengacak-acak rambut putranya dengan senyum tipis. “Ya udah, sana masuk. Makasih, ya, titipannya.”


“Okay.”


Selepas memastikan putranya masuk ke dalam sekolah bersama sang bodyguard, Eiden kembali naik ke dalam mobil. Tidak langsung dilajukan, lelaki itu memilih untuk membuka lipatan kertas pemberian Kyra.


Ketika dibuka, lipatan kertas itu jatuh ke bawah memanjang hingga menyentuh dasar. Sudah seperti nota belanja bulanan yang jumlahnya yang nggak kira-kira. Eiden melongo melihat rentetan tulisan yang tercantum di kertas.


...List kegiatan rumah dari siang-malam...


...1. Jemput Emily dan Darren...


...2. Bantuin Emily ganti baju...


...3. Siapin baju yang adem buat Darren...


...4. Nyiapin makan siang...


... • Emily nggak suka makan nasi untuk makan siang...


... • Darren nggak suka makanan yang terlalu berat...


... • Makanan mama sama papa biar diurus sama pelayan...


...5. Nemenin Emily sama Darren main...


... Note: mainannya diberesin lagi kalo udah selesai...


...6. Pastiin anak-anak tidur siang di jam 14.00...


Dan, masih banyak lagi tugas lainnya yang harus Eiden kerjakan. Demi apa? Ia harus melakukan semua ini seharian?


Eiden menghela napas berat. “Yaahh... semangat buat diriku sendiri.”


...💫💫💫...


“Emily sama Darren mau makan apa?” tanya Eiden tetap fokus menyetir. Saat ini, ia sudah menjemput kedua anaknya dan mereka dalam perjalanan pulang ke mansion. Khusus untuk hari ini, Eiden sudah minta cuti—sebenarnya, sih, ia langsung pergi tadi. Kan, itu kantornya, ngapain minta izin?


“Eemm... Emily mau steak!” seru Emily semangat.


Darren menggeleng. “No! Darren mau makan pasta.”


“Iihh... tapi, kan, Emily mau steak. Kakak ngalah dong sama adek,” sungut Emily.


Darren memutar bola matanya malas. “Hampir tiap hari yang nentuin menu makan itu kamu, Emily. Sekali-kali Kakak dong yang nentuin.”


“Tapi, Emily steak!”


“No, pasta!”


“Steak!”


“STEEAAAKKK!!”


Di balik bangku kemudi, Eiden merasa frustrasi bukan main. Kepalanya mulai berkunang-kunang. Ini bahkan baru dua kegiatan dalam list yang Kyra tulis, tapi rasanya Eiden sudah mau menyerah. Bagaimana dengan nasibnya jika ia melakukan seluruh kegiatan hingga malam hari?


Oh, astaga. Kuatkan kewarasanku ini...


Beberapa jam kemudian...


“List ketujuh. ‘Siapin camilan sore buat anak-anak sama papa mama’.” Eiden manggut-manggut. Seharusnya ini mudah, sih. Eiden cukup mengingatkan para pelayan untuk menyiapkan camilan, sesuai yang tertera pada catatan.


“Next. ‘Bangunin anak-anak sekitar jam 16:00-16:30’. Oke deh.” Eiden melangkah ke arah kamar anak-anaknya di lantai dua. Untuk Darren, bocah itu bangun dengan cepat setelah diberi sedikit rangsangan. Tapi, kalau Emily, Eiden butuh tenaga ekstra.


“Sayang, bangun yuk. Udah sore. Waktunya mandi,” ucap Eiden lembut seraya mengusap kepala putrinya.


“Hmmmpp...” racau Emily dengan mata terpejam.


“Sayang...” Eiden mencoba menggoyangkan bahu Emily pelan. “Bangun yuk, Princess.” Digoyang lagi. “Say—”


Bugh!


“Akh, sshh...” Eiden kaget. Sangat!


Tiba-tiba Emily berpindah posisi menjadi telentang di ranjang. Sialnya, gadis kecil itu sempat menendang rahang Eiden tanpa sengaja ketika bergerak. Eiden yang jelas tidak menaruh kewaspadaan tentu tidak dapat mengelak. Alhasil, Eiden merasa rahang dan gusinya berdenyut.


“Sshh... apa Kyra juga sering kena tendang begini?” gumam Eiden menatap putrinya yang terlelap pulas—tanpa tahu bahwa dirinya baru saja menganiaya daddy-nya sendiri.


Malamnya...


Eiden sedang sibuk meneliti berkas-berkas di ruang kerjanya. Sejenak ia melupakan tugas dari Kyra.


Tok tok tok..


“Daddy..” panggil sosok di balik pintu.


“Masuk, Sayang. Pintunya nggak dikunci,” balas Eiden setengah berteriak. Lelaki itu berpindah ke sofa yang ada di ruang kerja ketika dua bocahnya masuk ke dalam.


“Daddy, ini PR Emily!” riang Emily seraya membawa bukunya. Tak jauh berbeda dengan Darren yang juga menenteng bukunya sendiri.


Di dalam list Kyra, Eiden diharuskan mengecek pekerjaan Emily dan mengajari Darren beberapa materi yang belum dikuasai. Maka dari itu, ia meminta kedua anaknya datang ke ruang kerja.


“Coba sini Daddy liat.” Eiden menerima sodoran Emily. Ia mengecek tugas Emily yang ternyata menyangkut perhitungan tambah-tambahan. “Sayang, ini salah.” Eiden menunjuk ke satu nomor.


“Terus gimana, Daddy?” tanya Emily.


“Coba Emily hitung lagi. 5+7 berapa?” Eiden mencoba memperagakan proses penambahan menggunakan jari-jarinya. Sayangnya, kata-kata Eiden yang berbelit-belit membuat Emily kebingungan.


“Iihh... Emily nggak paham, Daddy!” sungut Emily dengan bibir mengerucut.


Eiden semakin frustrasi. Ia melirik ke arah Darren, bocah itu menyeringai—bermaksud mengejek sang daddy. “Warasnya masih?” ledek Darren.


Tengah malam...


Eiden menjatuhkan dirinya ke sofa di ruang keluarga setelah memastikan kedua anaknya tertidur. Sesekali lelaki itu memijat bahunya yang terasa pegal. Kepalanya dipasrahkan di sandaran sofa. Berulang kali Eiden menghembuskan napas panjang, namun rasanya tidak mengurangi lelah di tubuhnya.


“Capek?” tanya Abigail yang kebetulan lewat. Wanita paruh baya itu duduk di sebelah Eiden. “Kyra ngelakuin semua itu setiap hari dan dia nggak pernah ngeluh, Eiden. Masa kamu baru ngelakuin sedikit aja kecapekan gini.”


Eiden terkekeh. “Yahh.. ternyata anak Mama ini nggak sekuat itu.”


Abigail ikut tertawa pelan. “Itu alasannya kenapa seorang ibu bisa dibilang strong woman. Mereka bisa ngelakuin aneka pekerjaan dari pagi sampai malam. Tugas yang Kyra kasih cuma yang berhubungan sama anak-anak, padahal biasanya Kyra ikut masak di dapur, siapin kebutuhan Mama papa, sama urus pekerjaan di butik. Bisa kamu bayangin secapek apa istri kamu itu?”


Eiden terdiam.


“Tapi, setiap kamu pulang, Kyra selalu nunjukin versi terbaik dari dirinya. Dia nyambut kamu pulang dengan senyuman, nggak nunjukin kalo dia lagi capek. Itu istimewanya istri kamu, Nak.” Abigail mengusap kepala Eiden lembut. “Kyra itu wanita spesial. Jadi, harus dijaga baik-baik.” Usai mengatakannya, Abigail melangkah pergi ke kamar, meninggalkan Eiden dengan sejuta kecamuk di dalam dada.


“I miss you, Sayang..”


...💫💫💫...


Sementara itu...


“Kyr, lo udah sadar?” tanya Mauren khawatir.


Kyra melenguh pelan, matanya mengerjap-ngerjap, menyesuaikan dengan cahaya yang ada. Hal pertama yang ia sadari adalah ruangan bernuansa putih berbau obat dan brankar. Ia berada di rumah sakit. “Aku kenapa, Ren?”


“Lo pingsan tadi butik. Ada yang sakit?”


“Agak pusing dikit.” Kyra mencoba bangun. “Tolong, air.”


Dengan sigap, Mauren mengambilkan segelas air dan disodorkan pada sepupunya itu. Kyra meminumnya perlahan, menghilangkan dahaga di tenggorokan.


Ceklek..


“Ah, Nyonya, Anda sudah sadar?” Seorang wanita bersetelan jas putih masuk dengan senyum ramah. “Ada keluhan yang dirasakan?”


Kyra menggeleng pelan. “Hanya pusing sedikit.”


“Ya, itu wajar di kondisi Nyonya sekarang.”


Dahi Kyra mengerut. “Wajar? Wajar gimana, Dok?” beonya tak paham.


“Oh, Nyonya belum tahu? Selamat, Nyonya sedang hamil.”


Seketika, Kyra dan Mauren melongo mendengar hal tersebut.


^^^To be continue...^^^


...💫💫💫...


Yeayy.. Ay udah bisa update. Sebisa mungkin sekarang Ay update setiap hari kayak dulu, ya. Kemarin-kemarin lagi ngurus pendaftaran soalnya, wkwkwk..


So, see you in next chapter:)