
Sesuai permintaan Darren, saat ini, Kyra, Emily, dan Darren dalam perjalanan menuju Kenneth Corp. Ah, jangan lupakan kehadiran ketiga bodyguard itu, ya. Xania, Olin, dan Ilona dipaksa bungkam atas perintah Darren. Alasannya, ia ingin memberi kejutan pada Eiden.
Sayangnya, Ilona sudah memberitahu Garry perihal kedatangan mereka lebih dulu. Tentu saja gadis itu juga meminta Garry supaya berpura-pura terkejut agar rencana Darren tidak sia-sia.
Sebelum tiba di perusahaan, mereka mampir di restoran untuk membeli makanan. Ya, Darren berniat mengajak keluarga barunya makan siang bersama.
Yap, sesimple itu memang. Sayangnya, sesuatu yang simple malah mencurigakan bagi Kyra. Pasalnya, wanita itu paham betul perangai sang putra.
“Daddy suka sushi, kan, Emily?” tanya Darren memastikan. Takutnya, sushi yang mereka beli sia-sia seandainya Eiden tidak menyukainya.
Menu makan siang hari ini adalah sushi—sesuai permintaan Darren dong. DIA, KAN, RAJANYA HARI INI.
Emily mengangguk. “Suka, kok, Kak. Emily sama daddy sering makan sushi. Tapi, daddy nggak suka saus pedes yang ijo.”
“Maksudnya wasabi?” terka Kyra.
“Nah, yang itu, Mom.” Emily mengangguk, membenarkan.
Kyra mengangguk. Ia pun memberi catatan pada pelayan restoran supaya wasabi pada sushi tidak dicampur atau dipisah. Beberapa saat menunggu, pesanan siap. Ketiga insan itu pun melanjutkan perjalanan.
“Kamu memberitahu Eiden?” tanya Kyra pada Ilona yang duduk di sebelahnya dengan suara pelan, tidak ingin Emily dan Darren mendengar.
Ilona mengangguk pelan, mengiyakan tanpa kata. Bagaimanapun, selain mengawal ketiga anggota keluarga Kennedy ini, mereka juga bertugas untuk melaporkan segala hal yang dilakukan dan apa saja yang mengusik orang kesayangan Eiden ini. Walaupun hidup mereka sudah dilimpahkan untuk menjaga Kyra, Darren, dan Emily, ketiga bodyguard itu paham jika Eiden tetaplah atasan mereka.
Mobil yang dikemudikan Xania berhenti di pelataran Kenneth Corp. Ilona segera turun dan membukakan pintu mobil untuk majikannya. Ia sangat mengawasi setiap langkah ketiga orang itu, terutama Emily yang hiperaktif.
Kyra mendongak, memandang bangunan tinggi di depannya. Dari apa yang ia tahu, saat ini Kenneth Corp berhasil memasuki benua lain. Perkembangan perusahaan ini sangat pesat semenjak Eiden yang memegang kendali. Jika terus seperti itu, Kenneth Corp akan menjadi salah satu perusahaan terkenal di kancah internasional.
“Ayo, Mommy.” Emily menarik tangan Kyra dan Darren supaya masuk ke dalam.
Sebenarnya, tidak ada satupun pegawai perusahaan yang mengetahui hubungan Kyra dan Eiden. Namun, mereka jelas mengenal siapa Emily, putri kecil CEO Kenneth Corp. Alhasil, tidak ada siapa pun yang mencegat jalan Kyra, Darren, dan Emily.
Tiba di lantai 18—yang juga lantai teratas—Emily langsung berjalan menuju sebuah pintu. Di lantai itu hanya diisi tiga ruangan saja; ruang CEO, ruang sekretaris, dan ruang asisten, yaitu milik Garry.
“Maaf.” Seorang gadis menghadang jalan Emily, Kyra, dan Darren. Senyum formalitas terpasang di paras penuh make up-nya. “Selamat siang, Nona Kecil. Apa saya boleh tahu mereka—”
“Bibi, Bibi bisa minggir nggak? Emily mau ketemu daddy,” ketus Emily. Gadis kecil itu sangat tidak menyukai Devina, sekretaris Eiden. Gadis dewasa di depannya ini sering sekali merayu daddy-nya. Selalu bersikap baik di depan Eiden, lalu di belakang suka mengancam Emily.
Devina tetap memasang senyum ramah sekalipun hatinya tengah menggerutu. “Nona Kecil, saya tidak bisa membiarkan orang asing masuk ke dalam ruangan tuan muda tanpa janji.”
“Dia bukan orang asing! Ini Mommy Emily!” seru Emily kesal.
Devina terkejut. Sontak ia menatap Kyra yang tersenyum cantik. Setelah diperhatikan lebih lanjut, ia ingat siapa wanita yang disebut ‘mommy’ oleh Emily ini. Dia adalah Kyra, pemilik Kirren’s Boutique.
Emily memaksa untuk menerobos ruangan Eiden, namun Devina bersikukuh melarang dan mengatakan banyak alasan. Bocah itu tersenyum cerah ketika pintu terbuka dan menampilkan sosok Garry yang baru keluar dari sana. Mengabaikan lelaki itu, Emily langsung berlari memasuki ruangan. “Daddy...” panggilnya semangat.
Eiden (berpura-pura) terkejut. Buru-buru ia berdiri dan menerima pelukan dari putri kecilnya. “Emily di sini? Sama siapa?”
“Sama mommy.” Emily menunjuk ke luar.
“Oke.” Darren menarik tangan Kyra supaya masuk ke dalam ruangan. Ketika bocah itu melewati Devina, senyum mengejek terpasang di parasnya. Bola mata hijaunya berpendar, senang bukan main.
Devina tentu saja kesal, namun ia sembunyikan sebaik mungkin. Ada hubungan apa kedua orang itu sama Tuan Eiden?!
Aku harus cari tau!
...💫💫💫...
“Hah?! Mommy harus suapin daddy kalian?” seru Kyra terkejut. Ini... kenapa permintaan Darren aneh-aneh, sih? “Permintaan kamu—”
“Ekhem!” Darren menaikkan kaki kanannya ke atas kaki kiri. Dagunya diangkat, tangannya disilangkan di belakang kepala, gaya angkuh ala Darren. “Hari ini Darren rajanya, kan?”
Raut wajah Kyra langsung berubah datar. Emily dan Darren tertawa, lalu bertos ria. Sementara Eiden yang jadi objek kejailan mereka hanya diam, ingin tahu apa niat anak-anaknya.
Dengan senyum penuh keterpaksaan, Kyra mengambil sumpit dan kotak berisikan sushi. “Yang mana?” tanyanya pada Eiden.
“Nanyanya yang lembut dong, Mom. Daddy, kan, suami Mommy,” tegur Darren bersirat perintah.
Kyra memaksa kedua sudut bibirnya semakin melengkung. Detik itu, Eiden mengerti alasan mengapa Kyra tidak menyukai fakta bahwa Darren akan menjadi raja sehari. Permintaan Darren kadang menyebalkan juga.
Wanita itu menyodorkan kotak sushi lebih dekat. “Kamu mau makan sushi yang mana, Sayang?”
Eiden mengulum bibirnya kuat-kuat. Ia berdeham singkat, lalu menunjuk salah satu sushi. Kyra langsung mengambilnya dengan sumpit dan diarahkan ke mulut Eiden.
“Cium daddy, Mom,” suruh Darren lagi ketika Eiden telah menghabiskan tiga sushi. “Setiap makan tiga sushi, Mommy cium pipi daddy, ya.”
“Heh! Enak aja! Enak di daddy kamu, Mommy dapet apesnya doang,” protes Kyra kesal.
“Oh, gitu? Daddy keberatan nggak cium Mommy balik?” Darren bertanya dengan muka terpolos yang ia punya pada Eiden. Sialnya, lelaki dewasa itu menggeleng dengan cepat sebagai jawaban.
Kyra menaruh kotak dan sumpit ke meja sedikit keras hingga menimbulkan suara. Kedua tangannya diangkat ke atas. “Kalian bersengkongkol, kan? Mommy ngaku kalah, deh.”
Tawa Emily dan Darren pecah. Bahkan, Eiden pun ikut terkekeh.
Ceklekk...
“Eiden—”
Tawa ketiga manusia di dalam ruang CEO itu langsung berhenti. Eiden segera berdeham, mengembalikan wibawanya sebagai seorang pemimpin.
“Masuklah,” suruh Eiden. Dua insan yang barusan menerobos pintu melangkah ke lebih dalam.
“Dia...” Melirik Kyra. “Siapa?”
^^^To be continue...^^^