
“Gimana kalo Mama ikut Ansel aja?”
Spontan Adaline, Kyra, dan Eiden menoleh ke arah Ansel. Sosok lelaki tertua itu tengah menatap hangat Adaline.
“Biar Ansel yang jaga Mama. Mama mau, kan?” tanya Ansel serius.
Adaline tersenyum senang. Ia mengangguk cepat. “Mama mau, Nak, Mama mau ikut. Mama nggak terlalu suka di sini.”
Ansel beralih menatap Kyra. “Boleh, kan, Dek? Mama biar sama Kakak aja di rumah.”
Awalnya, Kyra kurang setuju. Ia masih ingat bagaimana keadaan Adaline 6 tahun lalu. Ibunya itu meraung-raung, meneriaki nama papa mereka dan Ansel. Namun, mengingat jika ternyata sang kakak baik-baik saja dan kondisi Adaline berangsur membaik, mungkin tawaran Ansel akan lebih menguntungkan.
Setidaknya, Ansel bisa menjamin keselamatan Adaline di rumah lelaki itu. Mamanya juga tidak akan kesepian. Kyra pun dapat berkunjung kapan pun ia mau.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, Kyra akhirnya menyetujui permintaan Ansel. Ia menyuruh kakaknya menanti di ruangan tersebut, sementara dirinya dan Eiden pergi menemui dokter untuk mengurus pengeluaran Adaline.
Tentu yang paling senang adalah Adaline. Wanita paruh baya itu mengeluh kesepian di sana walaupun tempat itu menyediakan ketenangan yang ia butuhkan. Namun, tempat terbaik untuk menyembuhkan diri bukan rumah sakit. Melainkan rumah penuh kasih sayang dari keluarga🥰
“Mama kamu kenapa, Ra?” tanya Eiden ketika mereka tengah berjalan bersama menuju ruangan dokter. Lelaki itu masih penasaran dengan penyebab mama mertuanya dirawat di sini.
Kyra tersenyum tipis. Kepalanya mendongak, menerawang ke masa silam. “Dulu mama depresi, Eiden. Kematian papa sama kakak punya selisih waktu dikit banget, cuma beberapa bulan. Waktu kakak dinyatain meninggal, mama stres. Habis itu, nggak lama papa meninggal juga. Mama terguncang berat dan akhirnya depresi.”
“Karena kondisinya butuh penanganan khusus, mau nggak mau aku bawa mama ke sini. Jadi... yah, begitulah. Kamu paham, kan?” tutur Kyra memandang suaminya penuh arti. Bagaimanapun, menceritakan kisah mamanya sama saja mengulik luka lama—hari di mana papanya (sosok laki-laki yang menjadi cinta pertama Kyra) meninggal.
Eiden mengangguk. Ia paham sekali maksud istrinya. “Terus kenapa kamu nggak pernah cerita? Kalo kamu cerita, mama kamu, kan, bisa diundang ke acara resepsi kita.”
“Dan, ngebuat mama histeris lagi? No, Eiden. Sejak dulu, mama punya firasat kalo papa meninggal karena ada dalangnya. Padahal, papa meninggal karena jadi korban kebakaran. Setiap orang yang lewat dulu, mama selalu serang mereka karena anggap mereka penyebab papa meninggal.” Kyra menunduk, bibirnya melengkung ke bawah. “Aku nggak mau kondisi mama jadi buruk gara-gara dibawa ke tempat rame. Selama 6 tahun ini, kondisi mama udah membaik.”
Eiden merangkul Kyra dan mencium puncak kepala wanitanya. “Aku ngerti. Sekarang mama kamu akan baik-baik aja.”
“Iya, pasti.” Kyra balas menyandarkan kepalanya di bahu Eiden. Alhasil, keduanya berjalan berdempetan hingga tiba di ruang dokter yang bertanggung jawab terhadap Adaline selama ini.
...💫💫💫...
Dibantu oleh Eiden, proses pengeluaran Adaline jauh lebih mudah. Ternyata kekuasaan lelaki itu tidak main-main hebatnya. Kyra mendadak bangga bisa memiliki Eiden. Sesekali jadi matre boleh, kan? Wkwkw..
Berkas dan segala macam prosedur selesai dalam hitungan menit. Padahal, biasanya pihak rumah sakit membutuhkan waktu berjam-jam untuk memberi izin pasien mereka dibawa pulang. Haduuhh.. enaknya jadi orang kaya.
Adaline dibawa ke rumah Ansel, rumah yang lelaki itu beli sendiri dengan uangnya sekitar tiga hari setelah pertemuan pertama mereka. Walaupun hasil dari pekerjaan mafia, Ansel tidak peduli. Toh, sekarang dia sudah keluar. Ansel sekarang memiliki restoran sendiri walaupun masih belum terlalu ramai.
Sebenarnya, Eiden sempat menawari pekerjaan di perusahaan pada Ansel. Namun, Ansel menolak karena ia tidak terlalu mengerti urusan bisnis dan tidak tertarik. Padahal, Ansel lulusan terbaik dulu di bidang bisnis. Mungkin efek amnesia.
“Bawa aja, Kak,” kata Kyra menyuruh Ansel supaya pergi terlebih dahulu menggunakan mobil mereka. Sementara ia dan Eiden akan menunggu jemputan.
“Iya, nggak pa pa, Kak. Bawa mama pulang, biar mama bisa istirahat. Bentar lagi jemputan kami dateng, kok. Iya, kan, Sayang?” Kyra menatap Eiden seraya tersenyum manis.
Eiden mengangguk.
“Ya udah. Kakak duluan, ya.” Ansel melambaikan tangan sebelum melajukan mobil menuju jalan raya. Adaline pun melakukan hal yang sama.
Siluet mobil hitam itu semakin menjauh hingga hilang sepenuhnya dari radar. Menyisakan Eiden dan Kyra di lingkungan sedikit asing bagi keduanya.
Tidak ingin kehilangan kesempatan berduaan, Eiden mengajak Kyra untuk berjalan-jalan sebentar. Keduanya beriringan menjelajahi jalanan sekitar yang masih terbilang asri karena memang sengaja untuk menentramkan hati para pasien rumah sakit jiwa. Para warga yang tinggal pun sama-sama memiliki kesadaran untuk selalu menjaga kebersihan.
“Eiden,” ucap Kyra memecah keheningan.
“Hm?”
“Pasti nyaman kalo kita tinggal di daerah kayak gini sama anak-anak. Tentram, damai, dan nggak berisik.” Kyra mulai berangan-angan. Ia menoleh dengan senyum lembut. Lanjut meraih tangan Eiden dan menggandengnya erat. “Iya, kan?”
Ditanya seperti itu, Eiden jadi ikut membayangkan. Ia dan Kyra tengah duduk beralaskan tikar di hamparan rumput, lalu anak-anak mereka berlarian di depan keduanya. Tawa yang menggema, senyum lebar, dan hidup tanpa harus memikirkan musuh yang mengincar. Ah, seandainya itu benar terjadi, pasti sangat menyenangkan.
“Ya, kamu benar.” Eiden balas menggenggam tangan Kyra.
Seolah dunia hanya milik berdua, sepasang suami-istri ini sama sekali tidak memedulikan insan lain. Rasanya menyenangkan hidup damai seperti ini. Walau sesaat.
Apa aku keluar dari mafia aja, ya?—pikir Eiden. Seenggaknya hidupku nggak akan ngebuat keluargaku dalam bahaya.
“Eiden?” Kyra menggoyangkan tangan mereka, menyadarkan Eiden dari lamunan. “Kok diem aja? Ayo, itu mobilnya udah dateng.”
Dahi Eiden mengerut. “Kok cepet banget, sih?” protesnya dengan suara pelan.
“Hm? Apa? Kamu ngomong apa?” tanya Kyra merasa Eiden mengucapkan sesuatu, namun terdengar samar.
Eiden menggeleng. Ia mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Kyra naik ke dalam mobil. Kali ini yang menyetir orang lain dengan topi hitam. Hanya dalam satu kali tatap, Eiden dan Kyra tahu jika si supir memiliki niat tidak baik.
“Pak, kita ke sekolah Emily, ya. Kami harus jemput anak-anak,” pinta Kyra senatural mungkin.
“Baik, Nyonya.”
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tidak ada yang aneh selama setengah perjalanan. Tiba-tiba mobil berbelok ke jalan lain yang bukan mengarah ke sekolah Emily. Eiden langsung bersiaga satu, ia mengeluarkan pisau lipat yang tersimpan di jasnya. Sedangkan Kyra memasukkan tangan ke dalam tas selempang, meraih pistol yang ia bawa.
Haduuhh.. kayaknya telat, nih, jemput anak-anak.
^^^To be continue...^^^