Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 65 | Keraguan



“Kyra? Kau?” Pria itu kaget melihat sosok wanita yang dikenali berada di sini.


Aksi terkejut Kyra reda dalam beberapa detik. Bola mata hijau wanita itu berubah kelam. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas. “Iam.. senang bertemu denganmu lagi.”


Setiap insan yang bernapas di sana merasakan jika atmosfer udara semakin berat. Bukan karena pasokan oksigen di bumi semakin menipis karena selalu diraup. Atau bahkan kehadiran raksasa menyebalkan yang menyedot setiap inci oksigen yang bertebaran. Bukan karena semua itu.


Melainkan ulah Kyra yang sekali lagi mengeluarkan aura intimidasinya dengan berlebihan. Garry, Erry, dan Michael, termasuk para penjaga sel bisa merasakan jika aura ini hampir sama seperti milik tuan muda mereka. Seolah semua yang berada di sana harus tunduk dan patuh dengan segala dominasi yang Kyra berikan.


Hanya Eiden yang nampak biasa saja. Yang mengganggu lelaki itu hanyalah rasa penasaran tinggi mengenai pertemuan pertama Kyra dengan si tahanan yang bernama Iam. Kenapa keduanya bisa saling kenal?


“Aku nggak nyangka kamu ada di sini, Kyra.” Iam tertawa bengis. “Aku nggak nyangka kamu sehebat ini sampe bisa cari pengganti suami kamu, si Wildan itu. Ah, pasti laki-laki bodoh itu lagi nangis di alam sana.”


Eiden melirik istrinya. Ia bisa melihat dengan kentara kemarahan yang terpancar di bola mata hijau wanita itu. Wajah Kyra memerah karena menahan emosi, sementara kedua tangannya mengepal. Mendadak Eiden berpikir, apa seberarti itu suami pertama Kyra di hati istrinya?


“Jangan sebut namanya pake mulut kotormu, Bajingan!” seru Kyra emosi. Padahal, biasanya ia bisa mengendalikan diri dengan baik.


Ini kelemahan Kyra. Emosi wanita itu dapat dipancing dengan cepat menggunakan nama keluarganya. Kyra tidak pernah membiarkan siapa pun mengejek keluarganya dan orang-orang yang dia sayangi bebas.


Percayalah, seandainya Kyra bisa membunuh seseorang hanya menggunakan tatapan, Iam sudah berubah menjadi serpihan-serpihan kecil yang mengudara. Sorot mata wanita itu benar-benar bukan main, sih.


Iam tertawa keras. Saking kuatnya, tubuhnya terasa nyeri karena terjadi pengetatan otot. Ia meringis sesaat sebelum menyeringai. “Wah, wah, Kyra belum bisa move on, ya? Kasian sekali kekasihmu ini. Cintanya pasti bertepuk sebelah tangan. Atau jangan-jangan.. Eiden cuma pelampiasan, Kyra?”


Hm, sepertinya Iam tidak mengetahui kabar terbaru mengenai Kyra dan Eiden. Resepsi pernikahan mewah keduanya memang tidak disiarkan karena pihak mereka melarang reporter kala itu. Namun, berita pernikahan sepasang suami-istri ini telah tersebar luas melalui ribuan media.


Bagaimana bisa Iam tidak tahu? Apa pria ini sekolot itu sampai tidak mengikuti tren zaman sekarang?


Hei, masa bodoh juga, sih. Apa hubungannya?


“Itu urusanku, bukan urusanmu,” desis Kyra sinis.


“Oh, tentu saja ini urusanku. Aku kasian sama suamimu yang udah meninggal itu. Dia pasti sedih karena istri yang dia selamatin malah kasih hatinya ke laki-laki lain.” Iam tersenyum mengejek.


“Brengsek!” Kyra maju dan menendang dada Iam. Pria itu terpental ke dinding bersama kursi yang diduduki. Kaki kursi patah dua sehingga Iam ambruk di lantai kotor. “Suamiku nggak akan mati kalo bukan gara-gara kamu, sialan!“


Kyra hampir saja melayangkan tinjuannya. Namun, sebuah tangan hangat menggenggam kepalan tangannya lembut. Ketika kepalanya berputar ke pemilik tangan, seulas senyum teduh terukir di paras Eiden.


“Jangan bunuh dia, Sayang,” kata Eiden.


Kyra masih geram. “Gara-gara dia, suamiku meninggal! Aku nggak bisa nggak bunuh dia, Eiden!”


Eiden yakin, ia merasakan sesuatu di hatinya ketika Kyra berucap seperti itu. Jelas-jelas saat ini suami Kyra adalah Eiden dan dirinya masih hidup. Namun, dengan teganya, Kyra menyebut pria lain sebagai suaminya. Apa wanita itu tidak sadar jika perkataannya sukses menyakiti hati seseorang?


Eiden mencoba supaya tidak terpancing. “Kyra, jangan, ya. Biar aku aja yang—”


Brukk!


Kali ini, bukan hanya Eiden yang terkejut. Pihak lain pun dibuat terperangah. Sisi macam apa yang sedang Kyra tunjukkan sekarang?


Kali ini, Eiden tidak melarang. Ia membiarkan Kyra memukuli Iam sepuas hati wanita itu, melampiaskan segala perasaan yang menggebu-gebu. Salah Iam sendiri, sih, yang memprovokasi Kyra.


Michael, Erry, dan Garry kompak menoleh ke arah Eiden. Mereka sadar sesuatu. Suasana hati tuan muda mereka memburuk dan ini bukan pertanda yang baik.


Apa pun itu, semoga saja ada keajaiban biar markas ini nggak amburadul lagi.


...💫💫💫...


Karena menerima telepon dari Abigail, Kyra dan Eiden terpaksa kembali ke mansion. Sepanjang perjalanan, keduanya membisu. Untungnya, Garry tidak berada di sana sebagai penikmat situasi mencekam atau nyamuk dadakan yang berada di situasi serba salah. Kali ini Eiden sendiri yang menyetir.


Jika Kyra berkutat dengan pemikirannya tentang Iam, maka Eiden sibuk dengan rasa kecewanya.


Sikap Kyra sukses membuat lelaki itu ragu terhadap perasaan Kyra. Apa istrinya sungguh-sungguh mencintainya? Atau sekadar rasa iba bercampur nyaman yang pada akhirnya sulit dibedakan? Entahlah, Eiden sama sekali tidak mempunyai jawabannya.


Eiden selalu berpikir semenjak pengakuan Kyra di villa hari itu, hati Kyra hanyalah miliknya. Dia-lah raja di hati wanita itu. Sayangnya, kenyataan yang terjadi tidak sesuai harapan. Nama Wildan masih tersemat di sudut hati wanita itu. Atau mungkin... Wildan memiliki posisi khusus yang tidak akan terganti?


Sial! Semuanya masih abu-abu. Tidak ada kejelasan sama sekali.


Kyra yang tidak berniat membuka percakapan memilih untuk memejamkan mata. Hari ini cukup melelahkan baginya. Bertemu Iam adalah momok terseram untuk Kyra. Ia ingat betul kejadian 5 tahun silam.


Di hari kematian Wildan...


...💫💫💫...


Tiba di mansion, Kyra dan Eiden bergegas turun dari mobil dan masuk ke kamar Emily. Gadis kecil itu ternyata menunggu kedua orang tuanya dengan meringkuk di pelukan Abigail.


“Mommy.. Daddy...” Bibir Emily mengerucut ke bawah. Kedua tangannya merentang yang dibalas oleh Eiden dengan membawa tubuh mungil itu ke dalam gendongannya. “Daddy ke mana aja? Emily takut..”


“Daddy di sini, Sayang.” Eiden mencium kepala putrinya.


Kyra mendekat dan mengusap punggung putri kecilnya. “Mommy juga di sini, Sayang.”


Dilihat sekilas, ketiganya nampak seperti keluarga harmonis. Sayangnya, Abigail menemukan kejanggalan di antara sepasang suami-istri tersebut. Setiap pandangan Kyra dan Eiden tak sengaja bertemu, keduanya langsung memalingkan wajah.


Sebagai sosok yang sudah mengarungi dunia lebih lama dan menjalani peran sebagai seorang istri, Abigail jelas tahu jika ada yang salah. Dan, itu sukses membuatnya keheranan.


Bukannya ketika pergi tingkah Kyra sangat manja pada Eiden? Kenapa sekarang berubah? Apa terjadi sesuatu di antara keduanya?


Apa mereka berantem lagi?


^^^To be continue...^^^