
Empat bulan kemudian...
Sejak pagi, suasana di mansion Kennedy benar-benar ricuh. Para pelayan yang ada tengah sibuk menyiapkan kejutan untuk menyambut kepulangan nyonya muda mereka. Iya, maksudnya Kyra.
Ingin tahu ceritanya tidak? Kita flashback ke masa lalu kalau begitu.
...Flashback on....
“Nak! Eiden! Kyra, Eiden! Kyra...!” seru Abigail panik. Ia menunjuk ke arah selatan, asal dari suara ledakan tadi. “Kyra tadi lari ke sana sendirian, Eiden! Lalu ada sesuatu yang meledak.”
“A–apa..?” lirih Eiden. Mendadak otaknya nge-blank.
“Eiden, tolong cari Kyra. Dia lari ke sana untuk selamatkan kami. Tolong cari dia,” pinta Adaline sendu. Sepasang mata tua wanita itu tidak henti meneteskan air mata.
Eiden membuang napas kasar. Ia tidak boleh berpikiran negatif. Istrinya pasti—
“Tante! Kyra mana?!” pekik Mauren yang baru datang. Gadis itu tampak khawatir. “KYRA LAGI HAMIL, TAN! DIA NGGAK BOLEH KECAPEKAN!”
Dan, yah... Bukan hanya Eiden yang syok kali ini. Melainkan setiap insan yang mendengarnya. Erry dan Michael sampai melongo. Kyra sedang hamil! Dan, dia terlibat dalam ledakan tadi!
Sial! Mendadak Eiden tidak bisa berpositif thinking lagi. Istrinya benar-benar dalam masalah!
“Kita ke sana!” Eiden menatap ketiga sahabatnya yang mengikutinya tadi. Lalu beralih pada Mauren. “Mauren, tolong bawa Mama saya sama Mama Kyra ke tempat aman. Saya dan yang lain akan mencari Kyra.”
Mauren mengangguk setuju. Situasi kali ini jelas bukan main-main. Mereka semua yang ada di sini sedang kalut karena hilangnya Kyra. Jadi, ia tidak boleh menambah masalah dengan membantah atau mengacau rencana yang telah disusun.
“Reven, tolong hubungi dokter dan suruh datang kemari supaya Kyra bisa langsung diperiksa setelah ditemukan nanti,” titah Eiden lagi yang diangguki oleh si empunya nama.
“Garry, hubungi pihak rumah sakit buat bikin persiapan. Terutama dokter kandungan. Kita akan langsung ke rumah sakit setelah ini,” perintah Eiden lagi. Garry mengangguk mengerti.
Setelah mengoordinasi anggotanya, Eiden bergegas menuju arah selatan. Tiba di sana, mereka semua disambut dengan asap dan rerumputan gosong akibat ledakan. Ada beberapa anggota tubuh yang terpencar, bahkan ada yang hanya tinggal tulangnya saja.
“KYRAAA!!!” teriak Eiden menggema. “KAMU DI MANA, SAYAAAANNGG???”
“NONA KYRA!” seru Reven.
“KAKAK IPAAAARRR!!” teriak Michael.
“NYONYAA..”
Teriakan mereka saling bersahutan. Eiden berjalan menelusuri sekitar. Ia menemukan ada jurang yang tidak terlalu curam di sana. “Apa Kyra turun ke bawah?” gumamnya.
Entah kepercayaan dari mana, Eiden memutuskan untuk melanjutkan pencarian di area bawah jurang. Dan, benar saja. Tidak butuh waktu lama, mereka menemukan Kyra di bawah. Wanita itu sedang...
“Sayang?” panggil Eiden agak syok.
Kyra menoleh. Bibirnya yang celemotan tersenyum lebar. “Sayang! Lihat! Aku tadi ketemu buah berry loh. Enak tau.” Ia menunjukkan jejeran buah yang berhasil ia tampung menggunakan pakaiannya. “Sayang mau?” Dengan polosnya, Kyra menyodorkan buah yang ia makan pada Eiden. Tidak tahu saja kalau wanita itu sempat membuat gempar satu pasukan.
Eiden terkekeh. Sepertinya agak salah kalau mengkhawatirkan Kyra secara berlebihan. Wanita itu tidak takut jika ada situasi berbahaya, malah senang bukan main. Lelaki berusia 30 tahun itu mendekati sang istri dan mencium pucuk kepalanya. Tangannya terulur mengusap perut Kyra yang terasa sedikit membuncit. Rasanya benar-benar mengharukan. Ini bayinya!
Buah hatinya dengan Kyra! Hasil cinta mereka!
“Kamu udah tau?” tanya Kyra menepuk punggung tangan Eiden pelan. “Maaf belum sempat kasih tau. Aku baru tau kemarin.”
“Nggak pa pa, Sayang.” Eiden mencium kening Kyra lembut. “Kita pulang? Biar kamu sama baby bisa diperiksa sama dokter. Ya?”
“He‘um.”
...Flashback off....
Hasil pemeriksaan hari itu, kandungan Kyra sempat melemah. Untungnya, kondisi ibu hamil itu cepat membaik karena suami dan keluarganya merawat dengan sangat baik. Kehamilan Kyra disambut dengan bahagia oleh keluarga Kennedy, terutama Emily yang antusias sekali karena akan punya adik.
Kalau Darren, sih, agak was-was, ya. Bukan karena ia tidak senang. Hanya saja punya satu adik sudah merepotkan, apalagi kalau dua? Yang ia cemaskan adalah.. bagaimana jika adik keduanya ini menuruni sifat sang mommy? Darren jelas akan darah tinggi di usia muda!
Hari ini adalah hari di mana Kyra harus check up di rumah sakit. Hari ini juga mereka akan tahu jenis kelamin calon bayi Kyra karena usia kandungan Kyra sudah 5 bulan.
“Sayang, gimana hasilnya?” tanya Abigail semangat. Ia menggenggam tangan Kyra erat, menunggu jawaban dari menantunya dengan tidak sabar.
“Pasti perempuan, kan, Mom?” sahut Emily antusias.
“Tapi, Emily mau punya adik perempuan!” seru Emily tidak mau kalah.
“Adik cewek itu merepotkan.”
“Iiih! Maksudnya Emily merepotkan?!” pekik Emily tidak terima.
Darren gelagapan, sementara keluarga yang lain tertawa. Emily berkacak pinggang di depan kakaknya. “Nggak gitu. Tapi.. ah, terserahlah!” Darren melipat tangan di depan dada seraya memalingkan wajah.
Kyra tertawa. Ia menepuk kepala Emily pelan. “Adik Emily laki-laki, Sayang.”
“Yahh... kok laki-laki, sih, Mom?” Bahu Emily merosot. “Emily mau adik perempuan.”
“Jenis kelamin bayi itu nggak bisa ditentuin. Kalo dari sananya laki-laki, ya, jadinya laki-laki,” celetuk Darren tenang. Lega karena keinginannya menjadi nyata.
“Abang kamu bener, Sayang. Bukan Mommy atau Daddy yang nentuin jenis kelamin bayinya. Tapi, mau laki-laki ataupun perempuan, Emily bakalan tetep sayang sama adik, kan?” ucap Kyra lembut seraya mengusap pipi putrinya.
“Sayang, Mommy. Emily tetep sayang kok.”
“Good.”
“Eh, bentar!” seru Darren menyadari sesuatu. “Kok Darren dipanggil ‘abang’, sih?”
“Karena mulai sekarang Emily akan dipanggil ‘kakak’! Iya, kan, Mom?” balas Emily semangat.
“Iya, Sayang.”
Emily tersenyum mengejek yang memancing delikan sinis dari Darren. Siapa, sih, yang mengajari Emily raut ‘mengejek diam-diam’ seperti itu? Pasti orang itu menyebalkan.
Padahal, dia sendiri yang mengajari.
...💫💫💫...
Malamnya...
“Hehe..”
Kyra geleng-geleng melihat Eiden yang sejak tadi senyum-senyum tidak jelas. Lelaki itu tengah menempelkan pipinya di perut buncit Kyra.
“Baby, ayo nendang lagi,” pinta Eiden di dekat perut Kyra. “Tendang yang kenceng, Son.”
“Kalo kenceng, aku yang kesakitan, Eiden,” tekan Kyra agak geram.
Eiden cengengesan. “Biar kerasa tendangannya, Yang.”
Kyra memutar bola matanya malas. “Sayang, kata mama, besok kakek kamu dateng. Emang iya?”
“Iya, Sayang. Kakek mau ke sini. Katanya ada hal penting yang mau dibicarain.”
Kyra manggut-manggut.
“Ugh! Sayang! Baby-nya nendang!” pekik Eiden bahagia. Lelaki itu memeluk perut Kyra gemas. Ia membuka kancing kemeja yang istrinya pakai dan menciumi perut buncit itu berulang kali.
Tiga bulan terakhir, Kyra lebih suka memakai kemeja Eiden daripada pakaiannya sendiri. Padahal, Abigail dan Adaline sudah berbelanja pakaian-pakaian khusus untuk ibu hamil. Tapi, ditolak sama si bumil. Katanya, sih, Kyra suka sekali dengan aroma yang menempel di pakaian Eiden. Bikin tenang.
“Udah, ih. Aku mau tidur.” Kyra mendorong suaminya menjauh yang dibalas gelakan tawa lelaki itu. Untungnya, Eiden membiarkan Kyra berbaring dengan nyaman di ranjang mereka. Saat ini, keduanya memang sedang di kamar. “Omong-omong, kakek kamu ke sini mau bahas apa?”
“Ada masalah, Sayang.”
“Iya, tapi masalahnya apa?”
“Kalo nggak salah, ini berhubungan sama Roby dan... masa lalunya.”
“Roby dan masa lalunya?”
^^^To be continue...^^^