
Kyra menghela napas panjang. Di telinganya ada ponsel yang menempel dengan tangan sebagai penyangga. “Menurut kamu lebih baik aku ngelakuin itu?” tanya Kyra sedikit ragu.
Saran yang Reven berikan memang tidak sepenuhnya salah. Namun, bagi Kyra itu sangat berisiko. Bagaimana jika Ilona berkhianat dan memberitahu Eiden yang sesungguhnya?
Reven memberi solusi untuk memasukkan Ilona ke dalam daftar manusia yang mengetahui jati diri Kyra. Reven juga menyarankan supaya mengajak Ilona bekerja sama agar Kyra bisa keluar dari mansion dengan leluasa. Itu bisa terjadi jika Ilona setia padanya. Bagaimana jika gadis itu membelot, lalu memberitahu Eiden? Kyra bisa dalam bahaya!
“Nona, kan, bisa mengancamnya,” balas Reven enteng. Nona, kan, mafia kejam. Menekan seseorang bukan hal yang sulit menurutku.
Kyra mendesis tak suka. Reven seperti tengah menyindirnya. “Kalau rencana ini gagal, kepalamu sebagai gantinya. Deal?”
Reven tidak bisa jika tidak meneguk salivanya kuat-kuat. Kalau sudah begitu, lelaki itu hanya bisa menerima dengan lapang dada. Tangannya yang terbebas terulur menyentuh lehernya sendiri. Apa sebentar lagi kepalaku akan lepas dari tempatnya?
Ah, sial. Reven termakan senjatanya sendiri!
“Ya sudah.” Kyra menutup sambungan. Ia berusaha menetralkan deru napasnya sebelum memanggil Ilona.
Tidak butuh waktu lama, Ilona datang ke kamar Kyra dan Eiden. Gadis itu masih menampilkan raut datar. “Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” tanyanya.
“Kamu menyadapku, Ilona?” tanya Kyra to the point.
Ilon terkejut. Namun, ia berhasil mengontrol ekspresi wajahnya. Dan, Kyra mengakui jika kemampuan Ilona dalam mengendalikan air muka sangat baik. “Saya tidak mengerti maksud Nyonya,” balas Ilona tenang.
Kyra tersenyum miring. “Ponsel, anting, dan sebuah chips di tengkukku. Apa masih ada yang lain? Ah, ya, masih ada lagi. Tapi, belum aku sebutin.”
Kali ini, raut kaget Ilona tidak dapat disembunyikan lagi. Mendadak ia gugup. Bagaimana bisa nyonyanya mengetahui perihal chips yang ia pasang?
Ah, bukan Ilona yang berinisiatif memasang benda tersebut. Ia tidak seberani itu. Kalau bukan Eiden yang memerintah, Ilona juga tidak akan melakukannya ketika Kyra terlelap. Semua itu semata-mata demi melindungi Kyra—yang menurut mereka tidak bisa melindungi diri dengan baik.
Chips itu berfungsi merekam suara Kyra dan melacak lokasi wanita itu. Namun, sejak dipasang pertama kali, tidak ada suara yang terdengar. Ilona bisa melacak posisi Kyra, tapi tidak dengan suara. Mungkin kejadian seminggu lalu adalah pengecualian.
Dari awal, Kyra sudah menyadari benda kecil tersebut. Demi menutupi identitasnya, Kyra meretas program chips dan menonaktifkan alat perekam yang ada. Maka dari itu, Ilona sama sekali tidak bisa mendengar apa pun.
Kyra tersenyum remeh. “Aku tau kamu memasangnya karena perintah suamiku. Jadi, aku tidak marah.”
Tidak ada celah untuk mengelak, Ilona pun membungkukkan badan. “Maafkan saya, Nyonya. Saya hanya menjalankan perintah.”
“Iya, aku tau. Bangunlah.” Ilona pun menegakkan punggung. “Aku ingin minta bantuan padamu, Ilona.”
“Saya akan membantu sebisa saya, Nyonya,” jawab Ilona tegas.
Kyra menyunggingkan senyum miring. “Bekerja samalah denganku, Ilona.”
...💫💫💫...
Ternyata tidak ada salahnya bercerita pada orang lain. Kyra benar-benar lega setelah mengatakan yang sejujurnya pada Ilona.
Gadis itu jelas kaget. Bahkan, syok berat. Jika memang benar nyonya mudanya adalah seorang mafia, seluruh pertanyaan di kepala Ilona jelas langsung terjawab. Kecerdasan, keahlian, kehebatan, dan ketelitian Kyra ternyata berasal dari sana, kemampuan yang memang sengaja diasah.
Kyra mengatakan jika ia harus menyelidiki sesuatu dan menciptakan senjata baru di markas mafianya. Kyra sudah cukup lama berhenti. Ia tidak mau usaha yang ia bangun bangkrut cuma karena dirinya menikah. Sudah ada beberapa rancangan dan bayangan terhadap senjata terbaru di kepala Kyra. Dan, wanita itu berniat untuk mewujudkan semuanya.
Maka dari itu, Kyra membutuhkan Ilona. Gadis itu akan ia ajak ke mana pun dirinya pergi asalkan tutup mulut pada Eiden juga yang lain. Ilona sedikit tidak yakin sebenarnya. Namun, pada akhirnya, ia menerima tawaran itu.
Lalu, Kyra versi mafia seperti apa, ya?
Tiba di markas besar Black Rose, Kyra dan Ilona turun dari mobil. Raut wajah wanita beranak dua itu benar-benar berubah drastis, begitupun dengan auranya. Ilona sampai terpesona dengan gaya Kyra yang menurutnya keren.
Kyra masuk ke dalam bangunan. Para anggota mafia berjejer sembari menunduk hormat. “Selamat datang kembali, Nona.”
Tidak ada balasan. Kyra tetap melangkah dengan tegap dan teratur. Ilona mengekor dari belakang seraya memperhatikan interior markas. Tidak seperti dalam bayangan, tempat berkumpulnya para mafia ini sangat megah dan elegan. Ilona pikir orang-orang berprofesi mafia itu akan tinggal di tempat kumuh dan tak terurus. Tapi, ini? Wow sekali, sih.
Reven dan Mauren datang. Keduanya menyambut Kyra dengan gaya formal.
“Laporan,” ucap Kyra meneruskan langkahnya ke bagian terdalam markas.
Reven melirik Ilona sekilas, lalu berjalan di sisinya. Alhasil, Mauren, Reven, dan Ilona melangkah di belakang Kyra. “Ada orang yang mengorupsi hasil penjualan senjata, Nona. Tapi, kami sudah mengurusnya.”
Sontak Kyra menghentikan pergerakan. Kepala wanita itu berputar ke belakang. Detik itu juga, Ilona terkesiap. Sorot mata Kyra benar-benar asing. Begitu dingin, tajam, dan... tanpa perasaan?
“Kau sudah menangkapnya, Reven?” tanya Kyra datar.
“Benar, Nona. Orang tersebut ada di ruang bawah tanah. Hukuman seperti apa yang ingin Anda berikan?”
Kyra menyeringai bak iblis. “Potong dua tangannya, buat jadi kecil-kecil. Bakar dagingnya, lalu paksa dia makan dagingnya sendiri. Habis itu bakar dia hidup-hidup.”
Deg!
A–apa? Nona? Apa ini sungguh Anda?—batin Ilona tak percaya.
...💫💫💫...
Darren duduk di taman sekolah bersama teman-temannya; Kelvin, Marvin, Levi, dan Cahaya. Mereka tengah menyantap bekal makan siang masing-masing. Kadang, kelimanya saling bertukar lauk supaya bisa mencicipi menu milik yang lain.
“Darren kenapa? Kok diem aja?” tanya Cahaya penasaran.
Darren bergumam tidak jelas. “Sebenernya Darren mau belajar komputer, Kak Aya. Tapi, Darren nggak tau mau belajar sama siapa.”
“Kenapa nggak minta tolong sama Uncle Eiden?” tanya Kelvin.
Darren menggeleng. “Inginnya, sih, gitu. Tapi, akhir-akhir ini daddy sama mommy sibuk. Mereka punya masalah yang harus diselesaiin. Jadi, Darren nggak mau nambah beban mereka.”
Cahaya tersenyum. Ia melirik Marvin yang sedari tadi menyimak. “Papanya Kak Marvin pasti bisa bantu,” balasnya.
Seketika Darren menatap Marvin penuh harap. “Emang iya, Kak Marvin?”
Marvin mengangguk. “Papa bisa meretas.”
“Apa aku boleh minta bantuan sama papa kamu, Kak?”
^^^To be continue...^^^