
Tengah malam, Kyra terbangun dari tidurnya. Wanita itu mengerjapkan mata beberapa kali, menyesuaikan retinanya dengan pencahayaan.
Kyra sadar, hanya ada Emily di sisinya. Ia bingung, lalu di mana putranya? Apa dia sudah tidur? Tapi, di mana? Mereka, kan, sedang berada di mansion Kennedy.
Dengan susah payah, Kyra melepas lilitan tangan Emily di pinggangnya. Gadis kecil itu memeluknya sepanjang malam, beralasan masih takut dan tidak ingin ditinggalkan. Tentu saja Kyra luluh dan membiarkan anak itu mencari kenyamanan di tubuhnya.
Kyra berhasil keluar dari kamar Emily. Ia sengaja tidak menutup pintu rapat-rapat supaya bisa kembali dengan mudah. Matanya berkelana sepanjang sudut, gelap. Sepertinya seluruh penghuni mansion tengah mengarungi dunia mimpi.
Mau nyari Darren, tapi cari ke mana, wehh? Masa iya diketuk satu-satu kamarnya?
Itu jelas ide yang konyol. Jika Kyra melakukan itu, bukannya menemukan Darren, ia malah menciptakan masalah baru.
“Kyra?”
Kyra terkesiap. Refleks ia membalikkan tubuh dengan gerakan kuda-kuda.
Cavan berdeham. Tingkat kewaspadaan Kyra benar-benar tinggi, padahal mereka berada di dalam mansion—yang memiliki penjagaan ketat dari berbagai arah. “Kamu sedang apa?” tanya Cavan.
Sebelum menjawab, wanita itu memperbaiki posisi. Ia mengusap dadanya, berusaha menetralkan detak jantung yang menggila karena kaget. Ia menyesal sudah menurunkan instingnya sampai tidak menyadari kehadiran Cavan. “Saya cari anak saya. Tuan lihat tidak?”
“Darren?”
“Anak saya cuma satu, Tuan. Kebetulan dia tidak bisa membelah diri secara mandiri, jadi emang dia yang saya cari.”
Cavan mendengkus. Ia paham dari mana sifat menyebalkan Darren berasal. Ternyata dari maminya. Ah, pria itu tidak bisa membayangkan berapa banyak pertengkaran yang akan terjadi jika mereka bergabung menjadi satu keluarga.
“Dia tidur sama Eiden,” jawab Cavan.
“Oh?” Kyra terkejut. Apa maksud kalimat Cavan mengenai Darren tidur bersama Eiden? Tidur satu kamar? Satu ranjang? Satu selimut?
Ini.. serius?
Melihat Kyra mengernyit tidak percaya, Cavan menunjuk pintu di sebelah kamar Emily. “Itu kamar Eiden. Kamu cek aja.”
Karena penasaran dan ingin membuktikan, Kyra sungguh-sungguh melangkah mendekati pintu yang ditunjuk. Ia memutar kenop perlahan dan mendorongnya hingga menimbulkan celah.
Dan, ya. Perkataan Cavan tidak salah. Darren berada di dalam, tidur satu kamar dengan Eiden. Bahkan, mereka tengah berpelukan sekarang.
Wow, wow, sepertinya ada yang wanita itu lewatkan. Kenapa mendadak putranya dekat sekali dengan Eiden?
“Mereka cocok, kan?” ucap Cavan pelan di belakang Kyra. Pria paruh baya itu turut mengintip ke dalam, memandangi putranya yang tidur sambil memeluk Darren di sisinya.
Kyra mengangguk. “Iya, Tuan. Cocok sekali. Cocok untuk dijadikan musuh, sih, maksud saya.”
Sialan! Cavan ingin mengumpat, tapi tidak boleh. Image-nya sebagai calon mertua yang baik bisa hancur seketika. “Kamu terlalu jujur, Nak,” sindir Cavan.
“Hohoo... Saya memang terlahir dengan kepolosan yang haqiqi, Tuan. Jadi, saya selalu jujur.” Kyra tersenyum dengan raut polos yang dibuat-buat.
Cavan mendesis sinis. Tidak ingin membuat dirinya lepas kendali, ia berbalik dan meninggalkan Kyra yang terkikik di depan kamar Eiden. Sumpah, dia kesal setengah mati.
Sepeninggalan Cavan, Kyra tersenyum kecil. Tatapannya terarah ke dalam kamar Eiden.
Apa kamu bahagia, Sayang?
...💫💫💫...
Keesokan harinya...
“Mami,” sapa Darren yang baru keluar dari kamar bersama Eiden. Bocah itu tampak sumringah. Kaki mungilnya berlari menghampiri Kyra yang duduk di salah satu kursi di ruang makan. “Morning kiss-nya mana?”
Kyra tersenyum. Ia turun dari bangku dan mencium pipi putranya dua kali, dan dibalas hal yang sama. Bedanya, Darren akan mengecup kening Kyra lama—hal yang biasa Wildan lakukan ketika masih hidup.
Emily yang duduk di sebelah Kyra mengerucutkan bibir. Ia hanya mendapat satu kecupan di pipi kanan dari Kyra. Tapi, Darren dapat dua. Ini tidak adil, pikirnya.
Emily hendak protes, namun ia menahan diri sekuat tenaga. Setidaknya nanti sampai Kyra dan Eiden menikah.
“Kamu tidur nyenyak, Sayang?” tanya Kyra mendudukkan Darren di sebelahnya yang lain. Jadi, wanita itu diapit oleh dua anak kecil. Sementara itu, Eiden mengambil posisi di sebelah Emily.
“Nyenyak, Mi. Sangat nyenyak,” jawab Darren semangat. “Mami tau, semalam Darren mimpi indah, lho.”
“Oh, ya? Mimpi apa?”
Sebelum bisa menjawab, beberapa pelayan datang dan menghidangkan makanan.
“Terima kasih, Bibi,” ucap Kyra dan Darren serempak.
Para pelayan tertegun. Mereka mengukir senyum tipis dan mengangguk. Salah satu dari mereka memberanikan diri untuk bersuara. “Tidak perlu berterima kasih, Nona. Ini tugas kami melayani orang lain.”
“Iya, Darren tau, kok.” Bocah itu menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya. Kyra tengah mengambilkan seporsi nasi goreng. “Makanya, Darren sama mami ucapin terima kasih. Ini tugas Bibi, dan Bibi udah ngelakuin yang terbaik. Jadi, usaha Bibi harus dikasih apresiasi. Iya, kan, Mi?”
Kyra mengangguk. Ia menoleh kepada para pelayan yang menatap putranya haru. “Terima kasih untuk kerja kerasnya, Bibi,” ulang Kyra lebih jelas.
Cavan, Abigail, dan Eiden tersenyum kaku. Jarang sekali mereka memperlakukan para pelayan seperti tadi. Walaupun mereka bukan tipe manusia yang menilai melalui penampilan dan status, namun mengucapkan ‘terima kasih’ dan ‘maaf’ jarang sekali dilontarkan. Apalagi menyebut kata ‘tolong’, itu mustahil.
“Oh, jadi Emily harus berterima kasih juga?” Sifat polos Emily tergugah.
Kyra mengusap kepala Emily sayang. “Iya, Cantik. Kalo orang lain kasih kita sesuatu, berbuat baik sama kita, dan ngebantu kita, kita harus berterima kasih. Emily paham?”
“Paham, Mommy. Nanti Emily bilang terima kasih juga.” Pemikiran polos anak kecil inilah yang perlu dimanfaatkan. Mereka akan jauh lebih cepat menyerap ilmu dan nasihat baru. Apalagi jika orang tua mencontohkan dengan baik, maka anak itu akan cenderung mengikuti.
Cavan berdeham. “Mari kita makan.”
Setelah itu, keheningan tercipta. Layaknya sebuah keluarga, kehadiran Kyra dan Darren melengkapi kekosongan keluarga Kennedy. Yang paling terpengaruh tentu saja Emily. Lihat saja gadis kecil itu, dia tengah menikmati suapan dari Kyra.
Eiden merengut. Kenapa jadi dia yang diabaikan?
Apa ini yang dirasain Darren waktu Kyra lebih perhatian sama Emily?
Sekarang Eiden paham. Tidak diacuhkan oleh orang tersayang memang sedikit menyesakkan.
...💫💫💫...
Acara sarapan bersama selesai.
Cavan dan Abigail mengajak Kyra dan Darren untuk berbincang santai sebentar. Beruntung hari itu Eiden sudah meminta izin supaya putrinya dan putra Kyra tidak masuk sekolah dengan alasan penculikan kemarin. Bagaimanapun, untuk ukuran anak-anak, tragedi silam bukan hal yang main-main.
“Mami.” Darren datang dengan raut santai. “Darren mau ngomong sebentar, boleh?”
Kyra mengernyit. “Berdua?”
“Iya, berdua aja.” Darren sengaja menekan kalimatnya. Ia bisa melihat kerlipan menggemaskan di mata Emily, kebiasaan gadis kecil itu ketika merengek.
Akhirnya, Darren bisa menguasai maminya walaupun sebentar. Pasti Emily akan merajuk seperti biasa. Darren tahu jika itu hanya trik Emily untuk menarik simpati orang lain. Sayangnya, bocah laki-laki itu selalu sulit menolak setiap melihat raut memelas gadis kecil itu.
“Ada apa, Sayang?” tanya Kyra penasaran.
“Mi, semalam Darren mimpi bertemu papi.”
Kyra terdiam. Ia membiarkan putranya melanjutkan ceritanya.
“Darren main puas sama papi. Papi ajak Darren main ayunan, terbang-terbangan di punggung, sama guling-guling di rumput. Papi aneh, ya, Mi.”
Menurut orang lain, iya. Tapi, bagi Kyra, itu merupakan keunikan Wildan. Lelaki itu memiliki sifat penyayang yang besar. Penyuka anak kecil sejak remaja. Tidak heran seandainya Wildan sungguh mengajak Darren berguling-guling.
“Sebelum Darren bangun, papi titip pesan buat Mami. Darren nggak tau, apa ini emang pesan sungguhan dari papi atau cuma mimpi Darren doang. Tapi, Darren anggap ini amanah, jadi Darren ingin sampaikan ke mami.”
Kyra mengangguk paham. “Papi bilang apa, Sayang?”
Darren berdeham singkat. “Papi bilang, ‘Darren, bilang sama mamimu. Papi udah bahagia di sini, jadi mami juga harus bahagia. Jangan menyangkal garis takdir cuma karena Papi. Mamimu harus bahagia juga walaupun bukan karena Papi’. Itu katanya, Mi.”
Tubuh Kyra membeku. Kalimat itu... sangat menggambarkan situasinya sekarang.
Alasan terbesar Kyra menolak menikah lagi karena cintanya pada Wildan. Wanita itu takut mengecewakan suaminya dengan membuka hatinya pada lelaki lain. Tidak disangka, Wildan malah mengirimkan pesan melalui Darren seperti ini.
“Papi bilang apa lagi, Sayang?” Kyra ingin lebih tahu.
“Papi bilang, papi bangga sama Darren. Darren bisa jadi kakak yang baik buat Emily dan anak yang baik buat Mami. Papi juga peluk Darren sama usap-usap kepala Darren, lho, Mi,” balas Darren antuasias. Ia tidak tahu jika kalimat bocah itu memiliki makna tersirat di dalamnya.
Kyra ikut mengusap kepala putranya. “Mami juga bangga sama Darren.”
Darren cengengesan, ia bahagia. “Tapi, Mi, maksud pesan papi apa? Darren mikir terus, tapi, kok, nggak ketemu-temu.”
“Bukan apa-apa, Sayang. Ini rahasia orang dewasa.” Kyra menatap putranya dengan raut tengil.
Darren mendengkus. “Darren udah gede, Mami!”
...💫💫💫...
“Kamu ingin pulang, Nak?” Abigail menatap Kyra sendu. “Nggak mau di sini sebentar lagi?”
Emily mengangguk, membenarkan. “Mommy jangan pergi.”
Kyra tidak menjawab. Ia mengulas senyum dan mengusap kepala Emily hangat. Pandangannya kembali fokus pada Cavan, Abigail, dan Eiden yang berdiri di depan pintu utama demi mencegahnya pulang. “Saya sudah membuat keputusan, Tuan, Nyonya.”
Ketiga insan di depannya mengerutkan kening, bingung.
“Mengenai tawaran pernikahan,” tambah Kyra.
“Ah...” Abigail memberi sorot penuh harap. “Jadi, bagaimana, Nak? Kamu terima tawaran kami, kan?”
^^^To be continue...^^^