
Ceklekk...
“Eiden—”
Tawa ketiga manusia di dalam ruang CEO itu langsung berhenti. Eiden segera berdeham, mengembalikan wibawanya sebagai seorang pemimpin.
“Masuklah,” suruh Eiden. Dua insan yang barusan menerobos pintu melangkah ke lebih dalam.
“Dia...” Melirik Kyra. “Siapa?”
“Mereka siapa, Eiden?” tanya Kyra bingung. Pasalnya, dua lelaki di depannya ini tidak pernah menampakkan batang hidungnya di depan wanita itu. Eiden pun tidak pernah membicarakan kedua lelaki itu.
“Ini—”
“Mereka teman daddy, Mommy!” sahut Emily antusias. “Yang baju cokelat, namanya Uncle El. Yang baju hitam, namanya Uncle Er.”
“Mereka Michael sama Erry, temanku,” papar Eiden memperkenalkan sahabatnya. “Ini Kyra, istriku.”
Erry dan Michael membelalakkan mata. Mereka menatap Eiden horor, lalu memandang Kyra tak percaya. Sejak kapan sahabat ice mereka menikah?! Kok mereka tidak diberitahu?! TIDAK DIUNDANG JUGA?!
“Eiden, i–ini serius?” tanya Erry memastikan. Mungkin saja ini prank.
Kyra tersenyum maklum. “Memangnya pernikahan cocok dijadiin bahan candaan?” sambarnya telak. Erry dan Michael bungkam.
Buru-buru Michael mengambil posisi di sebelah Eiden. “Ayo jelasin, woy! Kok bisa nikah?” tuntut lelaki itu ingin tahu. Kabar ini terlalu mengejutkan, oke. Bukan hanya untuk dirinya, Erry pun sama.
Erry bergabung dengan bersimpuh di sebelah Michael. “Terus anak itu? Datang dari mana?” Ia menunjuk Darren yang tidak terganggu sama sekali acara makannya.
Darren menatap Erry kesal. “Uncle, dikata Darren ini apaan pake dateng dari mana segala? Ya jelas Darren lahir dari rahim mommy, lah. Uncle belum pernah belajar biologi, ya.” Bocah itu memicing kesal.
Tidak ingin perdebatan semakin berlanjut, Eiden memanggil Garry. Asistennya itu disuruh menceritakan kronologi kejadian secara singkat. Termasuk mengenai Darren yang kini menjadi putra angkatnya.
“Wah, gila! Sekali tangkep langsung dapet dua.” Michael geleng-geleng takjub. Ia tahu persis identitas Kyra sebagai designer terkenal. Wanita pilihan Eiden nggak kira-kira kerennya.
“Sepertinya Uncle-Uncle ini suka sekali mengumpamakan manusia sebagai barang. Darren nggak suka, ya, tata bahasa Uncle,” ketus Darren kesal. Apa maksudnya dengan ‘sekali tangkap dapat dua’ coba? Memangnya dia ikan?!
“Lain kali mereka akan menjaga bahasanya di depan Tuan Kecil,” sahut Garry sopan. Bagaimanapun sekarang Darren adalah putra Eiden, yang berarti majikannya pula. Harus dijaga perasaannya, wkwkwk.
Darren mengangguk puas. “Anak kecil lebih mudah meniru apa yang dia lihat dan dia dengar daripada apa yang dia pelajari. Jadi, Darren nggak suka bahasanya seperti itu.” Bocah itu menoleh pada adiknya. “Emily nggak boleh kayak gitu, ya. Manusia itu punya harga diri, jadi nggak bisa disamain sama barang ataupun hewan.”
Emily tersenyum lebar. “Iya, Kakak.”
Erry dan Michael melongo. Konteks kalimat yang mereka maksud tidak seperti dalam bayangan Darren. Namun, mendengar kata-kata anak usia 6 tahun itu membuat keduanya sama-sama tertohok. Kok mereka jadi merasa bersalah secara mendadak, ya?
Soalnya, Erry dan Michael selalu menganggap musuh mereka seperti ulat pengganggu yang patut dibumihanguskan. Makanya, mereka tidak segan untuk menghabisi siapa pun yang mengusik orang kesayangan mereka.
Kyra terkekeh pelan. “Kamu masih mau makan?” tanyanya pada Eiden. Ia mengambil satu sushi dengan sumpitnya dan berniat menyodorkannya ke mulut suaminya. Namun, kali ini Eiden menahan tangan Kyra. “Kenapa, Eiden?”
Eiden melirik ketiga sahabatnya yang berada di ruangan. “Aku bisa sendiri.”
Paham maksud sang suami, Kyra tidak membantah. “Oke.” Ia mengalihkan pandangan pada Garry, Erry, dan Michael. “Kalian mau? Kayaknya kami belinya kebanyakan, deh.”
Tanpa malu, Erry mengambil sumpit lainnya. “Saya tidak akan menolak pemberian, Nyonya Eiden.”
Alhasil, siang itu, mereka makan bersama, tidak sesuai keinginan Darren yang ingin quality time dengan keluarganya. Tapi, begini tidak buruk juga, kok.
...💫💫💫...
Pasalnya, Kyra ada keperluan di markas. Reven mengatakan jika data yang ia mau sudah siap.
Karena tidak menemukan solusi, Kyra mengirim pesan pada Reven supaya hasil datanya dikirim melalui email. Selepas ini, Kyra berjanji akan mengenali seluk beluk mansion Kennedy milik Eiden dengan baik agar ia bisa tahu celah terbaik untuk kabur.
Sesuai harapan, Ilona berjaga di depan kamar Eiden dan Kyra—tidak ikut masuk gitu, lho. Jadi, wanita beranak dua itu bisa leluasa memeriksa email melalui laptop. Dengan harapan memuncak, Kyra membuka email terbaru kiriman Reven.
Data mengenai Brian, lelaki yang katanya mirip dengan Ansel.
Ansel Samuel Adiva, kakak laki-laki Kyra yang meninggal 7 tahun lalu dalam kecelakaan. Tidak ada yang menyangka jika Ansel masih hidup karena kala itu Kyra menyaksikan sendiri pemakaman kakaknya. Hanya saja, mengingat jasad yang dikebumikan tidak teridentifikasi wajahnya membuat Kyra sedikit percaya diri.
Percaya jika sang kakak masih berada di dunia yang sama dengannya.
Napas Kyra tercekat usai melihat foto Brian. Sangat mirip kakaknya, hanya saja dihiasi beberapa bekas luka. Profil lelaki itu dan riwayat hidupnya tercantum jelas.
“Kakak...” Air mata Kyra luruh. “Apa kakak beneran masih hidup...?” Kalo iya, kenapa kakak nggak pernah datang?
Ceklekk...
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Darren sebagai pelaku terkejut melihat mommy-nya duduk termenung dengan pipi basah. “Mami!” pekiknya. Ilona yang berada di depan bergegas masuk. Gadis itu tak kalah kaget.
Darren menghampiri Kyra setelah menyingkirkan laptop dari pangkuan mommy-nya. “Mami? Mami kenapa?” tanyanya pelan. Lelaki kecil menggoyang-goyang bahu Kyra.
“Nyonya?” Ilona mencoba menyadarkan. Pasalnya, tatapan Kyra benar-benar kosong. Tanpa binar ataupun hasrat sedikitpun. Aku harus memberitahu Tuan Eiden.
...💫💫💫...
Di Kenneth Corp...
“Kamu serius, Eiden?” seru Erry memastikan.
Eiden memasang raut paling datar yang ia punya. “Yakin. Kita harus balas mereka. Mereka udah keterlaluan.”
Michael mengangguk setuju. “Perbuatan mereka udah kelewatan, Er. Kali ini kita yang akan nyerang mereka, balasan buat mereka karena udah ganggu orang-orang kesayangan kita.”
Garry tidak berkomentar sama sekali. Lelaki itu setuju saja dengan rencana Eiden, yaitu menyerang markas mafia The Zero. Bagaimanapun, perbuatan musuh mereka benar-benar sudah kelewatan. Terutama ketika mereka menghabisi keluarga Aariz, lalu menculik Darren dan Emily.
Ya, pelaku dari semua musibah yang menimpa keluarga Eiden berasal dari pihak yang sama. Maka dari itu, Eiden memutuskan untuk membalas lebih keji atas segala tindakan yang mafia The Zero lakukan pada keluarganya.
Ting!
Eiden membuka ponselnya.
...__________...
...Ilona...
...online...
• Tuan, nyonya menangis
...__________...
^^^To be continue...^^^