
“Aku ke toilet sebentar,” pamit Eiden. Ia bangkit dan menatap Kyra penuh arti.
Kyra mengangguk mengerti. “Hati-hati, Sayang. Jangan terlalu lama.”
“Iya.“
Detik itu, Eiden berbalik ke arah toilet. Meninggalkan Kyra bersama kedua anak mereka. Wanita itu menghela napas panjang saat merasakan orang yang mengawasi tadi tidak berpindah. Itu artinya yang diincar adalah dia.
Merepotkan sekali, sih—gerutu Kyra dalam hati.
Lantas Kyra menatap putranya penuh arti, kode supaya anak itu bersiap untuk segala kemungkinan. Secerdas apa pun Kyra, ia tidak bisa membaca pikiran seseorang. Jadi, niat si penguntit masih abu-abu, belum ada titik terang.
Eiden kembali dari toilet tidak lama kemudian. Lelaki mengangguk. “Aku udah minta seseorang buat urus, Kyr.“
“Urus apa, Daddy?” tanya Emily tiba-tiba menyahut. Padahal, anak itu sibuk menyantap sushi.
“Pekerjaan Daddy, Sayang. Daddy, kan, punya banyak kerjaan di kantor,” jawab Kyra natural. Ia mengulas senyum lembut. “Emily mau makan yang mana?” Sengaja, mengalihkan topik.
“Yang itu, Mom!”
...💫💫💫...
Hari itu terlewati begitu saja. Orang yang mengawasi Kyra beserta keluarga kecilnya tidak menyerang ketika ada kesempatan. Mungkin memang tugas orang itu hanya mengawasi atau memang sadar diri akan sulit menyerang di tempat umum? Entahlah, Kyra masa bodoh saja. Toh, Eiden sudah turun tangan untuk mencari tahu.
Dua hari berlalu. Hari ini adalah ulang tahun Darren. Tidak ada yang bisa menebak apakah bocah itu ingat atau tidak. Dilihat dari sikapnya yang biasa saja, sepertinya Darren tidak ingat. Tetapi, seluruh keluarga Eiden paham jelas jika anak yang kini berusia 7 tahun itu memiliki kemampuan akting di luar nalar—turunan ibunya, sih. Makanya, entah itu Cavan, Abigail, Eiden, bahkan Kyra sekalipun, mereka tidak bisa menebak dengan yakin.
“Darren pergi dulu, Mom, Grandma, Grandpa,” pamit Darren siang ini. Hari ini, pembelajaran komputernya akan dimulai. Ia benar-benar tidak sabar untuk mempelajari banyak hal baru.
“Belajar yang bener, oke?” pesan Kyra.
“Okay, Mom.”
“Xania, tolong jaga anak saya,” kata Kyra pada bodyguard pribadi putranya.
Gadis yang disebut namanya mengangguk. “Tentu saja, Nyonya. Itu tugas saya.”
“Daaa.. Kakak!” Emily melambaikan tangan ceria, mengiringi kepergian Darren yang pergi bersama supir dan bodyguard. Bocah itu menolak ketika Kyra menawarkan diri untuk mengantar, beralasan bahwa sang mommy tengah sibuk mengawasi jalannya acara fashion di Paris, jadi tidak ingin merepotkan lebih lanjut. Sedangkan Eiden saat ini masih berada di perusahaan.
Dua puluh menit perjalanan, Darren tiba di kediaman Marvin. Sahabat Darren itu ternyata sudah menanti di depan rumah, melambaikan tangan dengan ceria.
“Hai, Darren!” seru Marvin. Di sebelah lelaki kecil itu ada Cahaya—yang nampak cantik dengan balutan hijab pashmina-nya.
Darren menghampiri keduanya. “Hai, Kak Marvin, Kak Aya. Kalian nungguin di sini dari tadi?”
Wah, lihat. Darren kesayangan kita kenapa mendadak kalem begini?
“Iya, Kak Marvin nggak sabar ketemu kamu,” sahut Cahaya terkikik geli.
Marvin ikut terkekeh. “Ayo masuk, Ren. Papa udah nunggu, lho.”
Marvin dan Cahaya memimpin jalan memasuki rumah besar keluarga Marvin. Xania sebagai bodyguard mengikuti karena tengah membawakan tas tuan kecilnya yang berisi laptop baru—pemberian Eiden tentunya.
“Pa, ini Darren. Yang mau belajar komputer itu,” ucap Marvin memperkenalkan Darren.
Darren tersenyum melihat lelaki seumuran daddy-nya tengah menatapnya dengan alis terangkat. Dari sorotnya, Darren bisa menebak jika lelaki dewasa itu tengah menilainya—dari atas hingga bawah. “Halo, Uncle Jasper. Saya Darren Gerald Adi—ekhem, Kennedy.”
Lelaki bernama Jasper itu manggut-manggut. Ia tahu anak ini. Dia putra tiri Eiden, salah satu kliennya di dunia bisnis. Ia sempat menghadiri acara resepsi pernikahan Eiden dengan istri barunya. Walaupun begitu tidak menutup kenyataan jika Jasper agak sangsi untuk mengajari Darren.
Anak sekecil ini ingin belajar komputer? Yang benar saja!—pikir Jasper tak yakin.
“Baiklah, Darren, kamu mau belajar sekarang?” tanya Jasper.
“Kalau Uncle tidak keberatan, Darren ingin sekarang.” Tersenyum manis. Bola mata hijaunya berpendar antusias.
“Ya sudah. Ayo ikut Uncle.” Jasper bangkit dari duduknya. “Marvin, kamu—”
“Marvin ikut!” sela Marvin cepat.
Jasper terkejut. “Ikut?”
“Marvin mau ikut belajar juga. Kalo ada temennya, Marvin suka.”
Hm, sepertinya alasan Jasper bertambah satu lagi, deh. Selama ini ia sudah membujuk putranya agar mulai mempelajari dasar-dasar IT. Marvin kelak akan meneruskan perusahaannya, jadi harus dididik lebih awal. Jasper tidak berniat menyiksa, kok. Ia hanya ingin Marvin mulai belajar dasar-dasarnya, lalu membiasakan diri dengan komputer. Sayangnya, Marvin selalu menolak.
Tapi, sekarang anak itu mau belajar tanpa disuruh dan itu karena Darren. Kalau begini, Jasper tidak akan sungkan pada Darren. Ia berterima kasih dalam hati pada bocah itu.
Jasper, Marvin, dan Darren berakhir di sebuah ruang penuh alat canggih. Jasper mulai mengenalkan piranti-piranti yang dibutuhkan dan menjelaskan dasar-dasar yang wajib diketahui sebelum belajar mengenai komputer dan IT. Darren dan Marvin mendengarkan dengan serius.
“Oke, kalian paham?” tanya Jasper mengakhiri penjelasannya.
“Paham, Uncle.”
“Paham, Pa.”
Darren dan Marvin menjawab bersamaan.
Jasper tersenyum. “Okay, kita langsung praktik.”
...💫💫💫...
“Oke, Xan. Ingat tugasmu, okay?”
“Tentu, Nyonya.”
Kyra menutup telepon. Ia mengacungkan jempol pada Eiden yang duduk di depannya. Suaminya itu tengah memompa balon warna-warni. Saat ini, mereka sedang menyiapkan kejutan untuk Darren.
“Mompa gini bikin capek,” keluh Eiden. Ia memandang Kyra penuh arti. “Tapi, kalo mompa kamu, kok, nggak capek-capek, ya?”
Kyra mendengkus. “Itu, sih, kamu-nya aja yang mesum!”
Eiden tertawa. Lelaki itu menghampiri sang istri yang sibuk menghias kue buatannya. Posisi mereka memang berada di ruang makan. Eiden sengaja ikut memompa balon di sana supaya bisa menemani sang istri.
Eiden memeluk Kyra dari belakang. Tangannya bergerak mencomot krim strawberry dan mencoleknya di hidung Kyra.
“IHH..!” seru Kyra kesal. Eiden tertawa.
Para pelayan yang berlalu lalang cuma bisa tutup mata dan telinga jika masih ingin bernapas. Kalau ketahuan memandangi sang majikan, bisa-bisa nyawa mereka menipis dengan kilat. Mereka jelas tidak bisa bermain-main dengan duo mafia itu.
“Eiden,” panggil Kyra tanpa mengalihkan fokusnya dari kue di hadapan.
“Hm?” Eiden bergumam. Ia sibuk mengendus-endus leher Kyra.
“Kamu nggak ada yang mau diceritain ke aku?”
^^^To be continue...^^^