
Ketiganya pun masuk ke bangunan tinggi di hadapan dengan langkah beriringan. Kaki kecil Darren membuat anak itu kesulitan menyamai langkah sang daddy. Beruntung kali ini Eiden cukup peka, jadi lelaki itu melambatkan ayunan kakinya sembari menggandeng tangan mungil Darren.
“Tuan, di ruang tunggu ada—”
“Yo, Eiden.”
Eiden tersenyum kecil melihat lelaki di hadapannya. Keduanya bertos ria ala laki-laki. “Lama nggak ketemu, Ray.”
Rayhan terkekeh pelan. “Bukannya kamu yang sibuk?” sindirnya telak. Bukan sekali dua kali Rayhan meminta bertemu, namun selalu ditolak. Entah apa yang Eiden lakukan, lelaki itu tidak pernah menerima ajakannya.
Eiden tertawa. Ia membenarkan saja sindiran Rayhan. Akhir-akhir ini, kan, dia sibuk dengan ‘dunianya’.
“Ekhem..”
Tawa Eiden terhenti seketika. Ia menunduk, menatap putranya yang memberengut. “Kenapa, Ren?” tanyanya tak mengerti.
“Mau sampe kapan kita di sini, Dad? Nggak bisakah Daddy ngobrol sambil duduk gitu, biar Darren nggak capek berdiri.” Anak laki-laki itu melipat kedua tangannya di depan dada. “Ada banyak orang di sini,” lanjutnya melirik sekitar.
“Ah..” Eiden berdeham. Ia baru ingat kalau posisinya masih berada di loby perusahaan. Banyak karyawan yang menyaksikan kepribadiannya. “Kita lanjutin di ruanganku. Ayo, Ray.”
Rayhan dan Eiden berjalan beriringan di depan. Sementara ketiga anak mereka mengikuti di belakang. Sesekali Darren melirik ke arah si kembar, anak Rayhan yang kebetulan ikut. Bocah usia 7 tahun itu takjub melihat bola mata ungu menawan milik si kembar.
Usai menaiki lift hingga tiba di lantai teratas, Eiden mengajak Rayhan beserta anak-anaknya ke ruangan miliknya. Kedua lelaki dewasa itu kembali berbincang layaknya sahabat, membiarkan anak-anak mereka yang kebingungan hendak melakukan apa.
Jovan dan Jovin kompak saling mencuri pandang pada Darren. Jika Jovan tampak penasaran, Jovin malah merasa gemas dengan bocah satu itu. Entah mengapa Darren terlihat lucu sekali di matanya, tidak seperti adik-adiknya yang sudah seperti malaikat maut yang selalu merecoki hidup keduanya.
Ada saja tingkah bocah kembar tiga itu di rumah.
“Berhenti lirik-lirik. Kalo mau ngomong, ya ngomong aja,” celetuk Darren yang sibuk membaca buku.
Jovan dan Jovin terkesiap. Keduanya saling lirik, ternyata tingkat kepekaan Darren terhadap lingkungan lumayan tinggi. “Em, hai. Namaku Jovin, kalo kamu?” ucap Jovin memperkenalkan diri terlebih dahulu.
“Aku Darren.”
“Aku Jovan. Aku 5 menit lebih tua dari Jovin,” sahut Jovan.
“Hm. Salam kenal, Kak.”
Ketiganya terlibat perbincangan seru. Berawal dari topik keluarga masing-masing lalu merembes ke pengalaman pribadi hingga hobi. Dan, berakhir saling membanggakan diri dengan prestasi masing-masing. Darren juga bercerita bahwa ia sedang belajar komputer sekarang.
“Oh, ya? Aku juga ahli komputer,” ucap Jovan membanggakan diri.
“Masa?” Darren memasang senyum mengejek.
Jovan mendengkus. “Iyalah! Aku udah belajar dari kecil. Mommy-ku sendiri yang ajarin aku dulu. Aku juga diajarin cara ngerakit alat dan sering menang lomba karya teknologi.”
Darren terkekeh pelan. “Iya, iya, Kak. Nggak usah ngegas kali.”
Rayhan dan Eiden cuma bisa geleng-geleng melihat perdebatan anak-anak mereka.
Sementara itu, di sebuah taman bermain, Kyra menepati perkataannya pada sang putri untuk mengajaknya keluar mansion. Ditemani 2 bodyguard pribadi dan beberapa pengawal bayangan yang menjaga mereka dari jauh, Kyra menemani Emily bermain tanpa merasa risi sama sekali. Ia sudah terbiasa diikuti seperti itu.
“Haha.. Mommy, ayo tangkap Emily!” seru Emily girang. Bocah itu berlarian di antara wahana-wahana bermain.
“Awas, ya, kalo ketangkep.” Kyra mengejar dengan lambat. Ketika berhasil, ia mengangkat tubuh gadis kecilnya ke udara. Suara gelak tawa mereka menggema di taman bermain itu. Suasana di sana tidak terlalu ramai karena ini bukan akhir pekan.
“Mommy, haus,” keluh Emily. “Mau es krim.”
Kyra tersenyum. “Oke. Mommy belikan. Emily duduk di sana, ya, sama Kak Ilona dan Kak Olin.” Ia menunjuk ke bangku taman panjang yang diduduki oleh kedua bodyguard mereka.
“Okay, Mom.”
Usai memastikan anaknya aman, Kyra berjalan ke arah pedagang es krim. Ia memesan dua cone dengan rasa berbeda, coklat dan strawberry. Alangkah terkejutnya Kyra ketika berbalik, ia menyaksikan Clara yang tiba-tiba ada di sana dan berteriak marah ingin berbicara dengan Emily. Tapi, dicegah oleh Ilona dan Olin.
Saking marahnya, Kyra membuang asal es krim di tangannya dan berlari ke arah Clara. Tanpa basa-basi, wanita itu melompat dan mendaratkan sebuah tendangan di perut wanita tak tahu diri itu.
Bugh!
“Akhh..” rintih Clara memegangi perutnya yang nyeri bukan main. Bahkan, rasa sakit di tubuhnya mulai menjalar ke area lain.
Ilona dan Olin melongo. Tidak menyangka majikan mereka seberani itu. Setelah itu, keduanya meringis. Tenaga Kyra tidak main-main kuatnya.
Kyra meraih tubuh Emily dan menggendongnya. Gadis kecil itu menangis ketakutan. Kyra pun membisikkan kalimat penenang di telinga Emily. Ia tidak peduli saat ini menjadi pusat perhatian karena aksinya barusan. Memangnya ibu mana yang diam saja anaknya diganggu?
“Wanita gila,” desis Clara mencoba berdiri. Tapi, tubuhnya ambruk lagi dan lagi.
Kyra menatap Emily teduh. “Sayang, kamu sama Kak Olin dulu, ya. Mommy mau ngomong sama dia.” Walaupun tidak rela, namun Emily mengerti jika masalah ini tidak patut didengar olehnya. Sedikit demi sedikit, pemikiran Emily tumbuh lebih dewasa. Makanya, gadis kecil itu mengangguk patuh.
Kyra meminta Olin dan Ilona pergi, meninggalkan ia dan Clara sendiri. Tidak peduli ada beberapa orang yang melihat, wanita beranak dua itu mengulurkan tangan ke dalam tas selempang, meraih pistol. “Anda menyebalkan sekali, ya. Tolong jangan mendekati putri saya lagi, dia ketakutan melihat Anda.”
Clara menggertakkan giginya. “Anak yang kamu sebut-sebut itu anak yang aku lahirin! AKU MOMMY KANDUNGNYA! BUKAN KAMU!”
Bisik-bisik mulai terdengar.
“TAPI, ANDA MENINGGALKAN PUTRI ANDA WAKTU UMURNYA 3 BULAN DEMI SELINGKUHAN ANDA! APA ANDA PIKIR ANDA PANTAS DISEBUT SEBAGAI IBU, HAH?!” teriak Kyra berani. Sorot matanya tajam. “Dia putriku, putriku dan Eiden. Berhenti mengganggu kami jika Anda tidak ingin terkena masalah.” Kyra mendekat, ia berlutut di depan Clara.
Tubuh Clara menegang ketika merasakan sebuah moncong tertempel di pinggangnya. Ia melirik ke bawah, itu adalah pistol! Kyra membawa pistol! Clara mulai gemetaran, badannya kaku, tidak berani bergerak.
“Ini bukan cuma peringatan. Saya sungguh akan melakukan sesuatu pada Anda jika Anda tetap mengganggu putri saya.” Kyra menekan pistolnya. “Sekali lagi saya dengar atau lihat Anda mengganggu Emily, nyawa Anda melayang detik itu juga.”
Kyra bangkit usai memasukkan kembali pistol di tasnya. Wanita itu beranjak pergi, meninggalkan Clara yang dikelilingi bisikan-bisikan mencemooh. Ia naik ke dalam mobil dan pergi dari taman bermain.
Tangan Clara mengepal. “Sialan...” desisnya marah. Aku pastiin wanita itu bakalan mati di tanganku! Aku akan singkirin wanita itu dari hidup Eiden dan Emily! Lihat saja nanti.
^^^To be continue...^^^