Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 82 | Kakek Jerome



Keesokan harinya...


“Selamat datang, Pa. Udah lama Papa nggak ke sini.” Cavan menyambut kedatangan Jerome—kakek Eiden—dengan suka cita. Pria dengan rambut yang memutih seluruhnya itu merupakan ayah kandung Cavan.


“Welcome, Kakek.” Eiden memeluk Jerome sebentar sebelum kembali ke sisi sang istri. “Sayang, kenalin. Ini Kakek Jerome, kakek dari pihak papa.”


Kyra tersenyum sopan dan menganggukkan kepala pada pria itu. Diam-diam ia mengamati penampilan Jerome dari atas hingga bawah. Memang sudah termakan usia, tapi sisa aura kepemimpinan pria itu masih ada.


“Kakek Buyut!” seru Emily yang menuruni tangga mansion dengan cepat. Jerome tertawa pelan, lalu berusaha menunduk untuk menyambut pelukan kencang cicit kesayangannya. “Kakek Buyut, Emily kangen loh.”


“Kakek juga kangen sama Princess,” balas Jerome pelan.


Tidak lama, Darren ikut menyusul di perkumpulan keluarga tersebut. Lelaki kecil itu tidak mengucapkan sepatah kata pun—soalnya bingung mau bilang apa juga.


“Kakek Buyut, ini Abang Darren! Abangnya Emily.” Emily menarik Darren supaya berdiri di hadapan Jerome.


Ini adalah kali pertama pertemuan antara Jerome dengan Kyra juga Darren. Sewaktu pernikahan cucunya, kondisi Jerome sedang tidak baik-baik saja. Alhasil, pria tua itu tidak diizinkan kembali ke Indonesia. Selama ini, Jerome tinggal di salah satu kota di Jerman.


“Halo, Kek,” sapa Darren sopan.


Jerome mengulas senyum kecil. Tangan keriputnya bergerak mengusap kepala Darren. “Halo juga, Nak. Namamu Darren?”


Darren mengangguk. “Iya. Darren Gerald Kennedy.”


Jerome beralih menatap Eiden. “Dia anak tirimu itu, kan, Eid?”


“Ya, Kek.”


“Yah.. baiklah.” Jerome berdiri dibantu oleh Cavan. “Kakek harap, kamu tetap ingat posisimu di keluarga ini. Darah asing sedikit kurang diterima di sini,” ucap pria itu tanpa beban.


Sontak kalimat itu membuat raut wajah Kyra dan Darren berubah datar. Eiden menghela napas kasar, sedangkan Cavan dan Abigail cuma bisa diam. Mereka jelas tidak bisa melakukan apa pun. Jerome ini wataknya keras kepala sekali—sampai melebihi batu. Pria itu tidak akan bisa dinasihati dengan cara apa pun.


Darren tersenyum miring. “Tentu, Kek, saya akan selalu ingat posisi saya di keluarga ini.”


Jerome mengangguk puas. “Bagus.”


“Kalau begitu, jaga diri Kakek baik-baik. Takutnya besok sudah tidak bernapas karena tekanan darah tinggi.” Darren menyeringai, mengejek Jerome yang memicing kesal. Bocah itu melenggang pergi, sama sekali tidak merasa sakit hati atas ucapan Jerome.


Jerome mendesis sinis. “Dari mana kamu mendapat anak itu, Eiden? Tidak ada sopan santunnya sama sekali,” cibirnya.


“Kek, udah. Darren anakku juga,” balas Eiden jengah.


“Ya, anak tiri,” ralat Jerome. “Tidak ada darah keluarga kita di tubuh anak itu, Eiden.”


“Tapi, Kek—”


“Udah, cukup! Kakek ke sini karena ingin bertemu Roby. Di mana dia?”


Eiden dan Cavan hanya bisa menghela napas berat. Akan sulit pastinya untuk membujuk Jerome menerima kehadiran Darren. Pria tua itu tidak tahu saja bahwa bocah yang ia ejek memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata dengan kemampuan hebat di usianya yang ketujuh.


“Biar aku antar, Kek.” Eiden beralih menatap Kyra yang masih memasang ekspresi datar. “Sayang, aku ke ruang bawah tanah dulu, ya. Kamu di sin—”


“Aku ikut.”


“Sayang, tapi kamu—”


“Ikut,” tekan Kyra tajam. Air muka wanita itu benar-benar dingin.


Eiden menghela napas panjang. Tidak punya pilihan, ia lantas mengangguk.


Jerome yang melihat itu hendak menyela. Namun, tepukan di bahunya dari Cavan membuat pria tua itu mengurungkan niat. Jerome memang belum tahu mengenai identitas Kyra yang seorang ketua mafia Black Rose.


Kakek Eiden itu menatap Kyra lekat. Bola mata hijaunya begitu cantik, sepadan dengan paras ayunya. Namun, sorot itu benar-benar dingin. Apa karena ia mengatai putra wanita itu tadi?


...💫💫💫...


Di ruang bawah tanah...


“Halo, Nak.”


Lelaki itu, Roby, mendongakkan kepalanya ke atas. Parasnya nampak sayu dan sendu, sorot matanya kosong, seolah semangat hidup lelaki itu sudah ditarik paksa keluar dari raga. Tubuhnya terduduk di sudut penjara dengan kaki buntung dan tangan tanpa jari.


“Saya Jerome, kakek kamu,” ucap Jerome lembut. Pria tua itu berjongkok di hadapan Roby.


Roby terkekeh pilu. “Kakek? Maaf, saya tidak punya kakek.”


Jerome menggeleng. “Saya memang kakek kamu. Kamu anaknya Nicko, kan?”


Roby terdiam.


“Papamu.. adalah anakku. Kamu.. adalah cucuku.” Jerome mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Roby pelan. “Maaf, Kakek tidak pernah datang.”


“Bohong.. kau bohong! Kau bukan kakekku!” jerit Roby tidak percaya.


Jerome menghela napas panjang. Sulit memang meyakinkan siapa pun mengenai masalah ini. “Nenekmu... dulu menjebak saya dengan obat. Waktu itu, saya ingin sekali membunuh nenekmu, tapi istri saya tidak mengizinkan karena saat itu nenekmu sedang mengandung papamu.”


“Setelah papamu lahir, nenekmu semakin menjadi-jadi. Ia menindas istri saya dan berlagak seperti nyonya, waktu itu saya dan istri saya memang mengizinkan nenekmu tinggal bersama kami karena papamu. Istri saya meninggal karena ulah nenekmu. Karena tidak terima, saya... membunuh nenekmu dan ternyata papamu melihat kejadian itu.” Jerome menghela napas berat. Dadanya sesak setiap ia mengingat masa lalu. Ia merasa bersalah karena membiarkan istri yang ia cintai bergaul dengan wanita kurang ajar itu.


“Papamu membenci saya setelahnya. Ketika dia dewasa, dia memilih jalan yang salah. Makanya, dia tidak pernah menceritakan soal saya sama kamu dan saudaramu.” Jerome memandang Roby sendu. “Kakek minta maaf, Nak. Karena masalah orang tua ini, kamu sebagai anak muda terseret ke dalamnya.”


Roby tidak mengatakan apa pun. Ia masih cukup syok dengan kebenaran ini. Jika orang ini sungguh kakeknya, berarti Eiden adalah... sepupunya?


“Kakek harap, kamu bisa merenungkan kesalahan kamu di sini. Kakek akan coba minta Eiden untuk mengeluarkan kamu nanti.” Jerome bangkit dan menepuk puncak kepala Roby dua kali. “Adikmu baik-baik saja. Kakek sudah menyuruh dokter untuk memeriksanya. Setelah ini, kamu juga akan diperiksa.”


“Kakek pergi dulu.” Jerome berbalik, meninggalkan Roby dengan segala kecamuk di hatinya. Tiba di luar tahanan, Jerome tersenyum melihat Cavan, Eiden, dan Kyra menatapnya penuh arti. “Yahh.. ini cuma cerita masa lalu. Tidak perlu diungkit.”


“Jadi.. Roby itu sepupuku?” tanya Eiden pelan.


“Ya.”


“Oh, God.” Eiden mengusap wajahnya kasar. Ia tidak pernah tahu soal ini. Tidak jauh berbeda dengan Cavan. Pria paruh baya itu juga kaget mengetahui sebuah fakta yang disembunyikan selama puluhan tahun.


“Ada alasan kenapa Papa tidak pernah cerita, Nak.” Jerome menepuk bahu Cavan. “Papa harap kamu mengerti.”


...💫💫💫...


Sial! Sial! Sial!


Dari mana, sih, anak ini berasal?!


Jerome terus mendumel sejak satu jam yang lalu. Sedangkan lawan bicaranya—yang tidak lain adalah bocah usia 7 tahun—tengah menyeringai puas. Cavan terbahak-bahak di samping sang papa, mengejek pria itu karena kalah dalam permainan catur dengan Darren.


“Sok menang, aslinya kalah,” cibir Darren.


Jerome berdecih. “Kita main lagi. Kali ini saya yang akan menang.”


“Kalo Darren menang, Darren dapet apa?” tantang Darren tersenyum lebar. Seringai liciknya sudah terpasang. Cavan yang hafal betul perangai cucunya ini hanya bisa tertawa dalam hati.


“Kamu maunya apa?” tanya Jerome balik.


“Satu juta dollar maybe?” Darren tertawa renyah. “Deal?”


Jerome berdecih. Satu juta dollar katanya? Itu sedikit baginya! “Fine! Kalau saya menang, kamu juga kasih saya 1 juta dollar.”


“Okay.”


48 menit kemudian...


“ARRGGHHH... kenapa kalah lagi?!!” pekik Jerome tidak terima.


Darren dan Cavan tertawa puas. Keduanya berhigh-five bersama.


“Satu juta dollar menunggu, Kakekku sayang.”


^^^To be continue...^^^


...!Spoiler chapter selanjutnya!...


“Lalu, istri saya bagaimana, Dok?”


Dokter itu menghela napas berat. “Maaf, Tuan Muda. Untuk saat ini, kondisi istri Anda...”