Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 79 | Rencana Gagal?



“Kau yakin anak-anakku masih bersama kalian?” ejek Eiden.


Roby terperangah. “A–apa?”


Eiden menyeringai. “Kalian... kalah.”


...Flashback on....


“Sayang,” panggil Kyra yang fokus pada ponselnya.


“Ya?”


“Sepertinya bentar lagi kita bakalan punya mainan baru, Yang.”


Eiden mengerutkan kening. Ia melirik sekilas ke arah istrinya karena tengah fokus menyetir. “Mainan apa, Sayang?”


“Aku berhasil nyelundupin anak buahku ke markas The Zero, Eiden,” kata Kyra memberitahu. “Dia ngasih aku laporan kalo mereka mau serang kita secepatnya.”


Eiden terkekeh pelan. “Really? Aku nggak sabar buat mulai kalo gitu.”


Kyra ikut tersenyum. “Mereka berencana buat culik anak-anak, Sayang. Mereka mau gunain anak kita biar kamu tunduk sama mereka.”


“Cih, dasar pengecut!” ejek Eiden. Lagi-lagi menggunakan sandera. Apa mereka tidak bisa bertarung secara sehat? Yah, sepertinya mereka sadar bahwa kemampuan mereka di bawah kelompok Eiden, makanya mereka memilih cara licik. Benar, kan?


“Mau buat rencana, Yang?” tawar Kyra dengan senyum lebar.


“Of course, My Queen.”


...Flashback off....


“Semua pergerakan kamu, kami sudah tau, Roby. Jadi, jangan kamu pikir kalau kalian akan menang karena kami.. jauh lebih unggul dibandingkan kalian,” tutur Eiden mengejek. Lelaki itu mengangkat tangannya ke udara dengan pistol di genggaman. “Kita akhiri sampai di si—”


“Hahaha...” Tawa Roby tiba-tiba pecah begitu saja.


Eiden jelas kebingungan. Dahi lelaki itu sampai mengerut dalam, tidak mengerti dengan kelakuan Roby sekarang yang menurutnya aneh. Sudah mau mati kok malah tertawa.


“Kau pikir, kau sudah menang?” Roby bangkit dibantu oleh Rixo. Roby mengangkat tangannya ke udara, membentuk suatu kode menggunakan jarinya. Seluruh pasukan The Zero yang tersisa mundur. Mereka hanya tersisa puluhan saja, tidak sampai ratusan.


Eiden langsung bersiaga. Sepertinya ini di luar rencana. Apa Roby punya rencana cadangan selain menggunakan Darren dan Emily?


“EIDEN!”


Atensi Eiden beralih ke timur. Dari sana, istrinya dan Mauren berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa. Dilihat dari raut panik Kyra, firasat buruk Eiden semakin terasa nyata.


“Mereka culik mama!” pekik Kyra sukses mengejutkan Eiden juga yang lain. Wanita itu tiba di sebelah suami dengan napas tersengal-sengal. “M–mama, Eiden. Mama kita...” Sepasang mata hijau Kyra berkaca-kaca. Ia menghambur ke pelukan Eiden ketika dirasa perasaannya kian kacau.


Kyra terlambat membaca informasi. Pasalnya, ia baru membuka ponselnya pagi ini. Padahal, mata-mata yang Kyra kirim sudah mengirim informasi sejak malam hari. Sialnya, nomor Eiden pun tidak bisa dihubungi sejak pagi tadi. Makanya, Kyra bergegas kembali ke Jakarta dan langsung menuju arena pertarungan setelah mendengar laporan Reven.


“Hei, tenang. Semua akan baik-baik aja,” bisik Eiden menenangkan.


Ini jelas tidak bisa dibiarkan. Bagaimana Roby setega itu melibatkan wanita tua yang tidak bersalah?


Benar saja. Dua anak buah Roby membawa dua sandera wanita yang terikat tangannya. Mereka Adaline dan Abigail!


“Mama..” desis Eiden menahan amarah melihat mama dan mama mertuanya ditarik ke sana kemari secara paksa. Karena rencana yang ia buat hancur total, ia tidak bisa bertindak seenaknya sekarang. Eiden harus berpikir ulang di setiap langkahnya supaya orang kesayangannya selamat.


“Sekarang.. akan kubuat kalian merasakan sakit yang sama seperti yang aku rasakan!” Roby menodongkan pistolnya ke arah Adaline dan Abigail bergantian. Kedua wanita paruh baya itu tidak dapat mengelak karena terlampau lemas. “Hm, mana dulu yang harus aku tembak, ya?” ucap Roby berlagak sedang berpikir.


“Dua-duanya langsung aja, lah, Kak. Kelamaan.” Rixo turut menodongkan pistol pada Adaline, sedangkan Roby pada Abigail.


“Bajingan...” lirih Kyra geram. Wanita itu menarik pistol yang ia simpan dengan cepat dan menodongnya pada kedua lelaki di depan sana. Tidak mungkin Kyra datang kemari tanpa persiapan apa pun. Mati saja kalian!


“So, selamat ting—”


Dorr! Dor!


“Akh!” Roby dan Rixo berteriak kesakitan bersamaan. Ketika mereka menoleh, keduanya langsung melotot melihat pistol yang dipegang oleh Kyra. Itu pistol Renn95! Pistol dengan kecepatan tinggi yang memiliki peluru beracun di dalamnya!


“Eiden, aku akan bawa mama pergi. Sisanya kamu yang urus,” ucap Kyra tegas. Wanita itu menaikkan tangan ke atas dan memberi kode. “BLACK ROSE! BOM ASAP, SIAP!”


“BOM ASAP SIAP!” teriak para anggota mafia milik Kyra. Mereka mengeluarkan sebuah bola dari kantung penyimpanan senjata di pinggang mereka.


“LEMPAR!” titah Kyra.


Puluhan bola tadi melayang ke udara setelah diaktifkan. Di detik kelima, bola tadi mengeluarkan asap tebal yang mengganggu penglihatan. Asap ini tidak berbahaya untuk pernapasan, fungsi alat tadi hanya untuk mengecoh pemandangan saja.


Kyra mengeluarkan kacamata khusus. Ia mencium pipi Eiden cepat sebelum berlari memasuki asap. Karena kacamata yang ia pakai, Kyra dapat melihat sekitar dengan jelas. Sebagai pembuat senjata, tentu saja Kyra harus menyiapkan alat pelawannya, kan?


Konsepnya sama seperti membuat racun. Jika Kyra menciptakan racun, maka ia harus menciptakan penawarnya pula.


Dorr! Dor! Dor!!


Kyra menembaki semua musuh yang menghadang jalannya secara brutal. Ia tiba di samping Abigail dan Adaline dengan cepat. “Ma, ini Kyra. Ayo kita pergi dari sini.” Tangannya bergerak cepat melepas simpul di tangan Abigail dan Adaline.


Eiden berusaha menghalau asap di depannya menggunakan tangan. Tapi, tidak ada hasil. “Sial! Di mana Kyra?!” pekiknya menoleh ke sana kemari. Ia tadi belum sempat memberi respon atas rencana dadakan Kyra. Tapi, istrinya sudah lebih dulu bertindak.


“Eiden!” Mauren melempar kacamata miliknya. “Pakai itu.”


Eiden menurut. Lelaki itu seketika bernapas lega ketika melihat istrinya berhasil kabur bersama Abigail dan Adaline. Semua harus selesai hari ini juga.


Di sisi sebaliknya, Roby dan Rixo beserta pasukannya pun sama-sama kesulitan melihat. “Bos! Sandera kita berhasil diselamatkan,” seru salah satu anak buah.


“Sial! Kejar mereka!” perintah Roby dengan suara serak. Beberapa anak buah Roby berlari ke arah Kyra membawa Abigail dan Adaline. Asap mulai menipis dibawa angin, mereka mulai dapat melihat sedikit demi sedikit.


Roby dan Rixo sendiri tengah mengalami masalah fatal sendiri. Tubuh mereka kaku! Ini pasti gara-gara peluru beracun dari Kyra tadi. Racun itu menyebabkan persendian di tubuh mereka mengeras, alhasil tubuh mereka akan sulit digerakkan.


Ketika asap menipis, Roby menemukan fakta bahwa dirinya sudah kalah. Tepat di hadapannya, Eiden berdiri gagah seraya menodongkan pistol. Ingin membalas, namun tubuhnya tidak dapat diajak kerja sama.


Apa semuanya berakhir seperti ini..?


^^^To be continue...^^^