
“Aku menyukaimu.”
Hening. Pernyataan Eiden yang terkesan begitu cepat membuat Kyra kebingungan. Ia tidak tahu harus membalas dengan kalimat apa.
Kyra akui, perlahan-lahan ia mulai nyaman di dekat Eiden, suaminya. Hanya saja, untuk berada di tahap suka ataupun cinta, Kyra belum yakin. Bagaimanapun, sosok Wildan, suami pertamanya, selalu menghantui. Bahkan, nama lelaki itu masih menempati posisi istimewa di hatinya.
Namun, menolak cinta suami sendiri rasanya tidak enak. Apalagi dengan sifat Eiden yang begitu kaku, pasti lelaki itu butuh banyak perjuangan untuk bisa mengungkapkan perasaan.
“Eiden, aku—”
“Aku nggak minta kamu balas sekarang,” potong Eiden cepat. Tangannya terulur merapikan anak rambut Kyra yang berjatuhan di dahi. “Aku cuma mau kamu tau kalo aku udah nyaman sama kamu. Itu aja.”
Kyra mengangguk paham. “Aku juga nyaman, kok. Cuma... kalo cinta, maaf, aku butuh waktu. Tapi, dari awal kita nikah, aku udah yakinin hati aku buat nerima kamu pelan-pelan.”
“Thank you,” balas Eiden berbisik. Bibir lelaki itu melengkung sempurna. Kyra yang baru melihatnya terpesona.
Senyum Eiden tampan sekali, astaga!
Kyra berdeham singkat. Ia mulai menjauhkan diri karena salah tingkah. Eiden yang paham terkekeh pelan.
Eiden pun mengajak Kyra untuk tidur setelah berjanji akan mempertemukan wanita itu dengan Brian besok. Kyra yang senang memeluk Eiden lagi, bahkan mencium pipi lelaki itu. Eiden tersenyum kecil seraya mengeratkan pelukan.
Malam itu, sepasang suami-istri ini tidur dalam posisi berpelukan.
...💫💫💫...
Keesokan harinya...
Seperti perkataan Darren, hari ini Eiden dan Kyra datang ke sekolah untuk membicarakan perihal pendidikan Darren. Emily yang sudah diberi pengertian berusaha mengerti walaupun masih belum rela sepenuhnya.
Sepanjang perjalanan, Eiden, Kyra, Darren, dan Emily berada dalam satu mobil. Sementara para pengawal menaiki mobil lain di belakang mereka—hanya Xania dan Olin karena hari ini Eiden sendiri yang akan menjaga Kyra. Kali ini, Eiden memilih untuk menyetir sendiri.
Tiba di sekolah, Eiden dan Kyra mengantar Emily ke kelasnya sebelum ke ruang kepala sekolah. Darren memilih ikut karena ingin tahu hasil diskusi termasuk prosesnya.
“Baik, Bu, Pak, saya akan langsung menjelaskan maksud saya,” kata ibu kepala sekolah ketika orang tua Darren tiba. “Perkembangan anak Bapak dan Ibu, Darren, melebihi anak-anak seumurannya. Darren selalu bisa menguasai pelajaran, bahkan yang belum diajarkan. Saat ini, Darren saja sudah bisa membaca dengan lancar, menulis dengan rapi, berhitung; dari penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.”
“Ditambah lagi, sikap dan sifat Darren ini memang lebih dewasa. Psikis dan pola pikirnya melampaui anak-anak seumurannya. Karena itu, saya memberi saran jika lebih baik Darren diluluskan lebih awal supaya bisa masuk ke SD. Namun, ini baru saran dari saya. Keputusan tetap berada di tangan Bapak dan Ibu, orang tua Darren. Jadi, apa Bapak dan Ibu sudah memikirkannya? Jika setuju, kami, pihak sekolah, akan menyiapkan surat-surat kelulusan untuk Darren,” papar kepala sekolah panjang lebar.
Eiden dan Kyra saling berpandangan. Lalu terfokus pada Darren yang juga menatap keduanya. “Darren mau nggak naik kelas lebih cepet?” tanya Kyra ingin tahu pendapat putranya.
“Kalo Darren, sih, mau-mau aja. Darren suka belajar. Tapi, itu tergantung Mommy sama Daddy,” jawab Darren apa adanya.
Kyra pun mengalihkan atensi pada suami. Kepalanya mengangguk pelan, sebuah kode. Yang dibalas hal serupa oleh lelaki itu.
“Kalau begitu, kami selaku orang tua Darren setuju, Bu. Kami akan mencarikan sekolah terbaik untuk Darren,” kata Kyra. Dia berniat mendaftarkan putranya di sekolah yang menunjang otak pintar Darren.
Ibu kepala sekolah tersenyum. Wanita dengan rambut yang hampir memutih itu senang atas keputusan orang tua Darren. “Baik kalau begitu. Akan kami siapkan surat-surat kelulusan Darren. Sampai suratnya siap, Darren masih bisa tetap bersekolah jika ingin. Jika tidak juga tidak apa-apa.”
“Iya, Bu Guru. Terima kasih,” ucap Darren tulus. Bola mata hijaunya berpendar, menunjukkan jika ia bahagia.
Ibu kepala sekolah itu tertawa pelan. “Melihat kamu yang genius dan bola mata kamu yang unik, saya jadi ingat anak itu,” ucapnya tiba-tiba. “Tapi, dia pasti udah besar sekarang.”
“Wah, siapa, Bu?” tanya Kyra penasaran.
“Jovan dan Jovin, mereka kembar. Bola matanya berwarna ungu, cantik dan unik. Kepintaran mereka benar-benar di luar nalar. Saya ingat, umur mereka masih 6 tahun, tapi mereka sudah masuk kelas 6 SD.”
Eiden, Kyra, dan Darren terperangah. Ternyata ada anak lain yang jauh lebih genius dari Darren. Bahkan, kelasnya sangat berbeda.
“Hm, saya mengenal mereka,” sahut Eiden. Ia tahu siapa Jovan dan Jovin, anak-anak Rayhan, sahabat yang sudah seperti kakak baginya. Lelaki itu akui, si kembar benar-benar genius.
Kyra terkejut. “Kamu kenal?”
“Ya, dia anak rekan bisnisku.” Eiden tidak mau menjelaskan lebih lanjut. Takutnya, Rayhan tidak ingin mengumbar si kembar. Bagaimanapun, Eiden tetap butuh izin untuk mengatakan siapa Jovan dan Jovin pada orang-orang di sekitarnya. “Sekarang mereka 11 tahun.”
Darren berdecak kagum. “Darren mau ketemu, Daddy. Darren mau belajar bareng.”
Dirasa sudah tidak ada yang penting, Kyra dan Eiden pamit. Darren memilih tetap berada di sekolah untuk menemani Emily. Gadis kecil itu pasti panik kalau dirinya pulang tanpa pamit.
Tidak ke perusahaan, Darren menepati janjinya untuk mempertemukan Kyra dengan Brian. Kakak iparnya itu ditahan di mansion miliknya, mansion yang pernah menjadi saksi penyatuan pertama Eiden dan Kyra sebelum menikah.
Sengaja Eiden mengirim Brian ke sana. Bagaimanapun, lelaki itu adalah kakak laki-laki istrinya yang berarti kakak iparnya. Ditambah lagi, Eiden belum siap jika identitasnya sebagai mafia terbongkar secepat ini. Eiden akan membuat istrinya terus bergantung padanya sehingga jika hari itu tiba, Kyra tidak akan pergi sekalipun tengah kecewa.
Kalau perlu, Eiden akan membuat istrinya hamil secepat mungkin.
Tiba di depan mansion, Eiden memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia. Kyra ingat bangunan ini. Baginya, tempat ini sangat bersejarah.
“Kakak di dalem?” tanya Kyra menyamai langkah Eiden.
Lelaki itu mengiyakan.
Baru beberapa langkah, Kyra bisa melihat sosok Brian, laki-laki yang begitu mirip dengan Ansel, kakaknya. Lelaki itu tengah mengemil keripik bersama Erry—yang ditugaskan menjaga Brian. Keduanya fokus menonton TV.
“Ekhem!” Eiden sengaja berdeham.
Fokus kedua orang itu langsung teralihkan. Kyra dan Brian sama-sama membeku di posisi masing-masing. Namun, tatapan mereka mengisyaratkan banyak hal.
Demi apa pun, Brian merasa wanita di depannya sangat familiar. Biasanya ketika ia bertemu orang baru, Brian akan merasa asing. Tetapi, Kyra berbeda. Brian malah merasa dekat, seolah hubungan darah itu memang nyata.
Kyra berkaca-kaca. “Kak Ansel!” pekiknya. Ia berlari dan memeluk Brian yang sudah berdiri. Tangis wanita itu pecah, Kyra benar-benar merindukan sosok kakak humorisnya yang selalu memeriahkan suasana. “Hiks.. Kyra kangen. Kakak, hiks.. ke mana aja? Kenapa nggak, hiks... dateng kalo masih hidup? Hiks.. Kyra pikir Kakak udah, hiks.. meninggal.”
Tubuh Brian kaku. Jantungnya berdebar. Ia menatap Eiden dan Erry bergantian, bingung ingin merespon bagaimana. Namun, atas perintah hatinya, lelaki itu membalas pelukan Kyra, yang mengaku adalah adiknya.
“Maaf.” Hanya sebatas itu yang Brian ucapkan. Ketika perasaan hangat itu mengalir ke hatinya, ia mengeratkan pelukan. Walaupun tidak ada memori yang bangkit, Brian masih bisa merasakan emosi nyata di hatinya.
Kyra mendongak. Matanya memerah, pipinya basah, dan bibirnya mengerucut. “Jangan pergi lagi, ya. Kakak buat Kyra takut. Kyra pikir, Kakak pergi ninggalin Kyra.”
Brian tersenyum. “Iya.”
Eiden yang memperhatikan interaksi keduanya tidak senang. Ada gemuruh yang tercipta di hatinya. Ia tidak suka istrinya dipeluk lelaki lain, bahkan kakak iparnya sendiri.
Sayangnya, Eiden tidak ingin egois. Ia paham, istrinya merindukan sang kakak. Mereka sudah terpisah selama 7 tahun. Makanya, untuk kali ini—HANYA KALI INI—Eiden akan memberi kesempatan.
Selepas itu, Kyra mulai menceritakan keluarganya. Terutama momen-momen penting yang terjadi supaya lebih bisa merangsang ingatan Brian. Kepala lelaki itu sakit setiap mencoba mengingat sesuatu, namun ia memaksa. Ia menelisik foto-foto dirinya dan sang adik yang ditunjukkan melalui ponsel. Ada banyak. Lewat sana, Brian percaya jika Kyra memang adiknya.
Bahkan, ada foto keluarga. Papa, mama, dirinya, dan adiknya.
“Jangan dipaksa kalo kepala Kakak sakit, pelan-pelan aja,” pinta Kyra sedih karena Brian sering meringis setiap ia tunjukkan foto. “Yang penting kita udah kumpul, Kakak masih punya banyak waktu.”
“Oh, ya, ini Eiden, suami Kyra, berarti adik ipar Kakak. Dua minggu lagi ada resepsi pernikahan. Nanti Kakak dateng, ya,” seru Kyra semangat.
Brian bingung. Ia menatap Eiden yang mengangguk. Alhasil, Brian tersenyum dan menerima ajakan itu.
“Kakak juga udah punya keponakan, dua, lho. Nanti kapan-kapan kita main bareng, ya.” Kyra terus berceloteh senang.
Sementara Brian khawatir mengenai keadaan adiknya nanti. Anggota sesama mafianya pasti ada yang menyadari ketidakhadirannya. Jika mereka tahu dia ada di sini, Kyra bisa dalam bahaya. Ia takut keluarga satu-satunya ini akan kenapa-napa. Ah, juga ada keponakannya.
Keresahan itu dimengerti oleh Eiden dan Erry. Dua lelaki itu sudah memikirkan beberapa solusi. Tinggal dibicarakan dengan Brian.
“Ayo kita ke makam papa! Papa pasti senang kalo Kakak dateng.” Kyra menarik Brian yang tampak pasrah.
Eiden menghela napas. Kalau tahu akan jadi seperti, seharusnya ia menunda pertemuan Kyra dan Brian. Kyra sama sekali tidak mengingatnya. Bahkan, ia tidak diajak ke makam sang mertua, padahal Eiden belum pernah ke sana.
“EIDEN!” Kyra kembali masuk ke dalam mansion. “Maaf, aku lupa sama kamu. Ayo kamu ikut juga. Kamu belum ketemu sama papa mertua kamu, kan?”
Detik itu, Erry melirik sahabat dinginnya aneh. Sejak kapan Eiden bisa tersenyum secerah itu?
^^^To be continue...^^^