Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 11 | Apa Lebih Baik Menikah?



“Mami—”


Ceklekk...


“Kyra?”


Deg!


Mata Kyra membelalak seketika. Kenapa dia datang ke sini?!


“Tuan? Anda di sini?” tanya Kyra terkejut. Ia mengamati setelan lelaki di hadapannya, kemeja putih dengan celana abu-abu. Di tangannya tersampir jas abu-abu pula.


Darren mengerutkan kening. Ada gerangan apa sampai daddy Emily datang ke ruang rawat inap maminya?


Ya, dia adalah Eiden. Lelaki itu mendadak masuk tanpa mengetuk pintu. Bahkan, dengan seenak jidat, ia mengusir perawat yang berjaga di depan ruangan Kyra.


Eiden tidak menjawab. Air muka lelaki itu datar. Namun, ketika tubuhnya bergeser, Kyra dan Darren mendapat jawaban atas pertanyaan mereka. Sosok mungil Emily masuk dengan senyum lebarnya. Gadis kecil itu nampak sedikit kesulitan membawa bingkisan berisikan buah untuk Kyra.


“Aunty, Emily datang,” seru Emily semangat.


Mau tak mau, Kyra memaksakan bibirnya melengkung, mengabaikan sorot aneh Eiden. Wanita itu berusaha duduk bersandar pada bantal dibantu oleh Darren. “Kamu di sini, Cantik?”


Emily mengiyakan dengan antusias. Bocah itu kesulitan sewaktu ingin menaruh bingkisan ke atas meja yang sedikit lebih tinggi. Darren yang melihat sampai berdecak. Putra Kyra turun dari bangku, lalu membantu Emily menaruh bingkisan.


“Makasih, Kakak,” ucap Emily tersenyum lebar.


“Lain kali, kalo kesusahan, minta tolong. Jangan diem aja,” nasihat Darren mengusap kepala Emily. Gadis kecil itu mengangguk-angguk.


“Emily boleh duduk di situ, Kakak?” Ia menunjuk ragu bangku bekas Darren sebelumnya. Takut jika Darren tidak mengizinkan karena bagaimanapun anak laki-laki itu pasti ingin tetap di dekat sang mami.


Tidak sesuai pemikiran Emily, Darren malah mengangguk santai. “Ya udah, duduk aja sana.”


Dengan senyum mengembang, Emily berusaha menaiki kursi itu dengan berpegangan pada brankar. Darren berjaga-jaga di bawah semisal Emily ingin jatuh.


“Aunty, Aunty udah baikan, kah?” tanya Emily cemas. Melihat beberapa anggota tubuh Kyra diperban membuat putri Eiden itu berkaca-kaca. Ia tidak tega melihat Kyra terbaring lemah seperti ini. “Emily tadi ingin temani Aunty. Tapi, grandpa suruh Emily pulang buat ganti baju sama makan. Emily nggak bisa nolak, Aunty. Maaf, ya.”


Kyra tersenyum kecil. Alunan kalimat bernada polos itu terdengar menggemaskan baginya. Sebagai wanita penyuka anak kecil, Kyra jelas bisa melihat kejujuran di mata Emily. “Aunty nggak pa pa, kok. Emang masih sedikiiiit sakit, tapi Aunty nanti minum obat biar sembuh.”


Emily mengangguk-angguk. “Aunty harus istirahat banyak-banyak, ya. Terus minum obat juga, biar cepat sembuh. Emily...” Anak itu nampak malu-malu. “Emily mau ngobrol lagi sama Aunty,” cicitnya.


Kyra terkekeh pelan. Ah, gaya malu-malu Emily sangat menggemaskan.


Sementara itu, Darren duduk di sofa sembari memainkan ponsel milik maminya. Jika seandainya ia disamakan dengan anak zaman sekarang yang menyukai gadget, maka kalian salah. Darren tidak terlalu suka bermain game atau semacamnya. Bocah itu lebih suka membaca di rumah, menambah ilmu pengetahuannya.


Bedanya dengan novel-novel lain, apa pun yang Darren lakukan, anak itu pasti akan menetapkan batas waktu setiap melakukan sesuatu. Biasanya, kan, anak dengan satu orang tua seperti Darren berambisius ingin menjadi sukses demi maminya. Namun, Darren berbeda.


Sejak lama sekali, Kyra menanamkan pada Darren jika setiap masa harus dimanfaatkan dengan baik. Termasuk masa kecil kita.


“Belajar dan ingin pintar, boleh. Tapi, Darren nggak boleh sampe lupa kalo Darren masih kecil. Selama masih bisa, Darren main aja. Karena nanti, kalo udah besar, Darren nggak akan sebebas sekarang, Sayang. Darren akan punya tanggung jawab, beban, masalah, semuanya harus Darren tuntasin. Jadi, manfaatin masa kecil Darren dengan baik, ya. Mami nggak mau Darren menyesal di masa depan cuma gara-gara Darren nggak puas main sekarang, oke?”


Kalimat itu tersimpan baik di ingatan Darren. Anak itu akan mengatur aktivitasnya dengan baik. Contoh saja, Darren harus belajar selama 30 menit, lalu bermain selama 40 menit. Intinya, sih, hidup Darren sangat teratur.


Kembali ke masa kini, Darren memainkan game di ponsel sang mami. Selepas tiga kali menang, anak itu sudah puas dan menaruh ponsel kembali ke posisi semula. Ia menoleh pada Emily dan Kyra. Keduanya masih sibuk berbincang. Beralih ke sisi lain, Darren mengerutkan dahi melihat Eiden berdiri mematung.


Ah, ya, ia sampai lupa mengenai keberadaan lelaki dewasa itu. “Uncle, Uncle ngapain berdiri di situ dari tadi?”


Suara Darren sukses menarik perhatian ketiga insan di dalam.


“Sini duduk.” Darren menepuk sisi sofa di sebelahnya, masih tersisa tempat yang banyak.


“Uncle fine? Jangan bilang, Uncle ikut-ikutan sakit?”


Pertanyaan Darren berhasil menarik atensi Eiden. Lelaki itu melihat putra kecil Kyra tengah menatapnya curiga. Bola mata hijau itu terlihat menawan setiap Eiden menyaksikannya. “Uncle baik.”


“Oke.” Hanya sebatas itu balasan Darren. Ia tidak mau dicap caper karena terlalu ingin tahu.


“Oh, ya, Emily jenguk Aunty sama daddy. Tadi Emily yang minta antar. Emily juga belikan Aunty buah. Aunty mau?” tutur Emily semangat.


Kyra berpikir sejenak. “Boleh,” katanya.


“Aunty mau buah apa?” Emily menyebutkan semua jenis buah-buahan yang ia bawa.


“Jeruk aja, Sayang.”


Panggilan ‘sayang’ dari Kyra sukses menggetarkan hati Emily. Bocah itu senang bukan main. Ia meminta sang daddy untuk mengambil jeruk—karena posisi bingkisan tadi ada di meja dekat sofa. Usai mendapat buahnya, Emily mengupaskan. Bahkan, menyuapkan sebiji daging jeruk ke mulut Kyra.


Kyra makan dengan suka cita. “Eum... makasih, Sayang.” Ia mengusap pipi dan kepala Emily gemas.


Untuk yang kedua kalinya, Emily mendengar panggilan yang sama. Mata bocah itu berkaca-kaca. Sedetik kemudian, menangis pelan yang sukses membuat Kyra panik. Wanita itu ingin bangun, namun ia malah meringis karena tubuhnya belum pulih.


Eiden dan Darren kaget mendengar Emily menangis. Buru-buru Eiden mendekat dan membawa Emily ke pelukan. “Kenapa, hm?”


Emily menggeleng. “Emily mau punya mommy juga,” lirihnya. Walaupun suaranya pelan, tetapi ruangan yang senyap membuat kalimat itu terdengar oleh semua orang.


Kyra memperbaiki posisi duduknya dengan benar. Ia merentangkan tangan pada Emily. “Aunty mau, kok, jadi mommy Emily.”


Mata Emily kembali mengembun. Ia balas merentangkan tangan. Eiden yang paham memberikan Emily pada Kyra. Wanita itu memeluk Emily penuh kasih sayang. Bocah itu juga tampak senang dipeluk aunty yang sangat disukainya itu.


Darren geleng-geleng. Drama perempuan memang selalu dramatis. “Duduk lagi, Uncle. Mumpung ada buah sama tontonan gratis, kan?”


Kyra mendelik kesal. Dibalas kekehan Darren. Bocah itu mengalihkan pandangan pada bingkisan berisi buah. “Darren boleh minta?” tanyanya entah pada siapa.


Eiden kembali duduk di tempat semula. “Hm, ambil aja.”


Darren menimbang sebentar. Pilihannya jatuh pada buah pir yang nampak menggoda. Ia pergi ke wastafel yang tersedia untuk mencuci buah tersebut, baru memakannya. Darren bergumam pelan. Buah itu manis sekali.


Sedangkan Eiden, konsentrasi lelaki itu terpaut pada sang putri yang terus menempel pada Kyra. Emily berceloteh senang di pelukan Kyra. Wanita itu pun membalas dengan raut jail. Tawa kedua perempuan berbeda generasi itu kadang menggema.


Berada di titik ini, mendadak kepala Eiden dipenuhi satu pertanyaan.


Apa sebaiknya ia menikah saja? Jika bukan demi diri sendiri, setidaknya Eiden bisa melakukannya demi sang anak.


Apa mendingan aku menikah lagi?


^^^To be continue...^^^


...💫💫💫...


Halo semuanya. Ay ingin beritahu kalian sesuatu.


Mulai hari Senin nanti, Ay mau PAS (Penilaian Akhir Semester). Jadi, kemungkinan Ay update bakalan kecil banget. Tapi, sebisa mungkin Ay akan tetap ngetik kalo longgar, ya. Mulai besok (Minggu) Ay harus belajar, jadi nggak tau bakalan update apa nggak.


Ay, kan, selalu ngetik malamnya, terus di-update besok pagi. Jadi, ya gitu, deh.


Pendapat kalian soal novel ini gimana? Komen dong, Ay pengen tahu.


See you di chapter selanjutnya:)