
“Kamu harus kenalan sama anak-anak aku, mereka di bawah. Jovan sama Jovin pasti seneng,” kata Aqilla antusias. Kyra mengiyakan dengan senang. Tingkah keduanya sudah seperti teman lama yang baru berjumpa setelah sekian tahun.
“Jovan Jovin?” gumam Darren. Bukannya itu nama anak genius yang bu guru bilang dulu?
Setelah berbasa-basi sebentar, Aqilla dan Rayhan turun karena tamu lain ingin mengucapkan selamat. Darren yang penasaran dengan si kembar genius itu meminta izin untuk menemui mereka pada orang tuanya. Untungnya, Eiden dan Kyra tidak mempermasalahkan. Karena bosan, Emily memilih ikut bersama sang kakak.
Sembari menggandeng tangan Emily, Darren mengikuti Rayhan dan Aqilla yang berhenti di satu meja. Lelaki kecil itu bisa melihat siluet dua anak dan tiga balita.
“Halo, Uncle, Aunty,” sapa Darren pada Rayhan dan Aqilla yang baru menyadari kedatangannya. Putra Kyra itu tersenyum hingga bola mata hijaunya menyipit.
“Ah, kalian Darren sama Emily, kan?” Aqilla berjongkok di depan kedua anak itu. “Kalian cantik dan ganteng banget, sih.”
Emily tersenyum malu-malu. “Terima kasih, Aunty.” Wanita di depannya pun lebih cantik. Namun, bagi Emily, Kyra tetap nomor satu. Mommy-nya itu tidak akan tergantikan.
Aqilla tersenyum gemas. “Kenapa ke sini?”
“Dua minggu yang lalu, Darren dengar kalo anak Aunty pintar sekali. Darren penasaran dan ingin berkenalan. Apa boleh?” tutur Darren to the point. Ia tidak mau bertele-tele dan membuat lawan bicaranya pusing.
Aqilla dan Rayhan terkekeh pelan. “Boleh, Boy. Come on.” Rayhan mengambilkan dua buah kursi tambahan untuk kedua tamu kecilnya. “Itu Jovan, anak pertama Uncle. Yang itu Jovin, saudari kembarnya,” kata Rayhan seraya menunjuk satu per satu anaknya.
“Kakaknya ganteng,” celetuk Emily yang mengundang tawa Jovan.
“Thank you,” balas Jovan.
Pandangan Emily beralih pada tiga balita yang sibuk memakan buah. “Mereka siapa, Uncle?”
“Ini anak Uncle juga. Mereka kembar tiga. Ini Aurora, Aurelia, terus Alaska. Panggilnya Rora, Rere, sama Aska, ya,” jelas Rayhan.
“Wah, kembar tiga? Seberapa besar perut Aunty waktu hamil dulu, ya?” tanya Darren penasaran. Ia pernah melihat seorang ibu tengah mengandung satu bayi dan menurutnya itu mengerikan. Perut ibu itu besar sekali!
Membayangkan jika ada tiga bayi di satu tempat, Darren bergidik ngeri. Pasti perut Aqilla layaknya balon yang ditiup terlalu lama.
Aqilla tertawa. “Iya, perut Aunty besar banget waktu itu.”
“Hm, Uncle penasaran. Kamu dengar kalo anak Uncle pintar dari mana?” tanya Rayhan ingin tahu.
“Dua minggu yang lalu, Darren, mommy, sama daddy ke sekolah buat urus pendidikan lanjutan Darren. Bu guru bilang, waktu liat Darren yang pintar dan bola mata Darren yang unik, bu guru jadi ingat Jovan sama Jovin yang genius sekali. Darren, kan, jadi penasaran, Uncle,” papar Darren jujur. Sama sekali tidak dilebih-lebihkan.
Sesuai keinginan, Darren tampak senang bisa berbincang-bincang dengan Jovan dan Jovin. Sementara Emily bermain dengan triplets yang terus mengoceh dengan cadel.
Dari panggung, Kyra bisa mengawasi putra-putrinya. Wanita itu tersenyum tipis melihat Darren dan Emily yang sangat antusias dengan anak-anak Aqilla dan Rayhan.
“Kyra,” panggil Eiden.
Kyra menoleh. Ia mendapati suaminya ini tengah menghampiri dengan sepiring berisi aneka kue.
“Aku bawain makanan kalo kamu laper.” Eiden duduk di sebelah Kyra, menyodorkan piring di tangannya.
Kyra tersenyum senang. “Thanks, Eiden. Aku emang lapar dari tadi.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Hehe.. masih bisa ditahan, kok.” Kyra melahap salah satu kue tanpa beban. Tidak peduli jika lipgloss di bibirnya hilang atau apalah.
Eiden geleng-geleng melihat cara makan Kyra yang tidak ada anggun-anggunnya. Namun, itulah salah faktor yang membuat Eiden menyukai wanita di depannya ini. Kyra selalu tampil apa adanya, bukan tipe wanita munafik yang akan bertingkah baik di depan dan buruk di belakang.
“Mau?” Kyra menyodorkan satu kue cokelat yang disambut baik oleh lelaki itu. “Enak, kan?”
“Hm, enak. Kan, kamu yang suapin.”
Ah, sial. Sejak kapan Eiden belajar gombal, woy?!
Acara resepsi selesai. Tersisa keluarga Kennedy dan Ansel, selaku satu-satunya keluarga Kyra. Sedangkan tamu yang lain sudah kembali ke kediaman masing-masing.
Kyra yang lelah memilih duduk di kursi bekas para tamu. High heels-nya sudah diganti dengan flatshoes, jadi dia merasa lebih nyaman. Emily sendiri sudah terlelap di tengah acara dan diantar ke kamar president suite yang berada di lantai teratas hotel. Eiden duduk di sampingnya, menemani dengan setia. Sedangkan Darren yang sendirian—tepatnya sibuk makan—diganggu oleh anggota keluarga Kennedy.
“Heh, anak tidak tau diri!” sentak Zeela.
Darren tidak menoleh sama sekali. Dia, kan, tidak merasa panggilan untuk dirinya. Hei, dia ini anak baik-baik, okay.
Yahh.. walau kadang agak nyebelin, sih.
Karena geram, Zeela mendorong bahu Darren kasar. Bocah yang tengah menikmati kudapan itu sontak tersentak. Ia terbatuk-batuk. Tangannya bergerak cepat meraih gelas dan meminum air di dalamnya.
Darren menoleh cepat ke arah Zeela. Bola mata hijaunya begitu tajam. Aura mengerikan keluar dari sekujur tubuhnya. Zeela sampai terkejut dengan perubahan anak itu. “Oma Zee sepertinya dendam sekali, ya, dengan Darren,” ucapnya datar. Sedetik kemudian, raut dingin itu hilang diganti ekspresi kesal. “Darren lagi makan, ya, Oma. Jangan diganggu, deh.”
Zeela tidak menyangka jika Darren bisa merubah raut wajahnya dalam waktu sesingkat itu. Wanita paruh baya itu mulai waspada. Ia sudah mendengar kecerdasan Darren dan ia yakin, Darren tidak sesederhana yang ia pikir.
“Oma ngapain?” tanya Darren masih kesal. Namun, tangannya tidak berhenti menyomot kue yang tersisa.
“Ah.. itu...” Mendadak Zeela lupa dengan apa yang dia ingin katakan. “Aku cuma mau peringatin kamu. Jangan sampe kamu besar kepala karena Eiden udah akui kamu di depan banyak orang!”
Darren memutar bola matanya malas. “Bawel banget, sih, nini-nini satu ini,” gumamnya sebal.
“Apa? Kamu bilang apa?!” seru Zeela merasa Darren mengatakan sesuatu.
“Nggak, kok. Darren diem aja dari tadi,” elak Darren enteng.
“Oma.”
Bocah laki-laki dengan paras tampan mendekat. Ia langsung menggandeng tangan Zeela.
“Kelvin kenapa, Sayang?” tanya Zeela lembut. Ini adalah cucu pertamanya yang tahun ini akan berusia 9 tahun.
Kelvin melirik Darren penuh minat. Sebenarnya, niatnya mendekat karena ingin berkenalan dengan anak tiri pamannya. Darren terlihat sulit sekali didekati. Dan, kesan pertama Darren di mata Kelvin cukup keren.
“Hai, Kak Kelvin,” sapa Darren santai. Ia tahu, Kelvin merupakan kakak kelasnya di sekolahnya yang sekarang. Kyra memasukkannya ke sekolah berskala internasional yang mendukung anak-anak genius sepertinya. Di sana, jika ia memenuhi kriteria, Darren bisa loncat kelas kapan pun dia mau.
Kelvin tampak senang. Ia tidak tahu jika Darren adalah adik kelasnya. “Hai, Darren.”
Zeela kesal karena cucunya tidak menghiraukan dirinya. Malah lebih tertarik dengan anak tiri keponakannya.
“Kamu mengenalku?” tanya Kelvin.
Darren mengangguk. “Kita bersekolah di tempat yang sama. Aku adik kelasmu.”
“Apa?! Bukannya kamu masih 6 tahun?” Zeela terkejut.
“Yap. Tapi, karena Darren ini anak yang pintar, Darren lulus lebih cepat dari anak yang lain,” balas Darren menyombongkan diri. Sengaja karena ingin membuat Zeela kesal.
Benar saja. Lihat muka masam wanita paruh baya itu.
“Oh, benarkah? Kalau begitu, mari kita berteman. Sebagai kakak sepupumu, aku akan menjagamu di sekolah,” kata Kelvin semangat.
Zeela sebenarnya tidak setuju. Tapi, ia tidak pernah melarang cucunya melakukan sesuatu yang bisa membuat Kelvin bahagia. Makanya, wanita itu memilih pamit sambil menggerutu.
Darren tertawa dalam hati. Dasar nenek-nenek.
^^^To be continue...^^^