
“Jadi, ada yang sengaja ingin mecahin keluarga kita?” tanya Eiden memastikan.
Kyra mengangguk. Ia baru saja menjelaskan seluruh kejadian yang dialami. Bagaimana secara tiba-tiba sosok tidak dikenal mengirim email padanya, lalu memberitahu Kyra mengenai penyebab kematian Axelo.
Dulu, karena terlalu emosi, Kyra tidak berpikir panjang langsung memerintahkan anak buahnya mencari tahu kebenaran mengenai kejadian silam. Padahal, jika dipikir-pikir, Kyra tidak mengenal si pengirim dan bukankah semua ini terjadi secara tiba-tiba?
Seharusnya, Kyra curiga dari awal!
Menurut kalimat orang asing itu, Cavan menjadi alasan utama Axelo sampai tiada.
Katanya, Axelo sudah berbaik hati menyelamatkan Cavan. Namun, karena Cavan sedang dalam suasana hati yang buruk, pria itu malah meninggalkan Axelo di bangunan yang terbakar. Padahal, kenyataannya Cavan tidak pergi dari sana. Ia pingsan karena dipukul!
Oke, Kyra jelas memilih lebih percaya pada Cavan daripada orang asing itu. Ia pun masih memiliki kecurigaan terhadap Axelo mengenai alasan pria itu menyelamatkan Cavan. Jika sampai Axelo rela berkorban, itu artinya ada kemungkinan kalau Axelo mengenal Cavan atau memang keduanya ada ikatan? Tapi, Cavan mengaku tidak mengenal Axelo.
Ah, ini sedikit memusingkan.
Eiden mengepalkan tangannya. Ia menarik napas dalam-dalam guna menetralkan emosi yang membuncah. “Sialan!” umpatnya.
Kyra meraih tangan suaminya yang mengepal dan diusap pelan. Kepalan tangan itu terlampau kuat, Eiden bisa melukai dirinya sendiri. “Jangan emosi dulu, Eiden. Sekarang kita harus fokus cari tau siapa dalang dari masalah ini.”
Eiden mengangguk. Istrinya benar. Ada hal yang lebih penting untuk dijadikan prioritas sekarang. “Kamu masih simpan email-nya?”
“Masih.” Kyra membuka ponselnya dan menarikan jemarinya dengan cepat di layar. Setelah menemukan apa yang dicari, ia memberikan ponselnya pada Eiden. “Aku udah minta Reven buat cari tau juga. Reven punya kenalan seorang peretas.”
Padahal, Reven sendiri adalah seorang peretas handal.
Eiden membaca isi email dengan detail. Benar, kata-kata orang ini benar-benar memutarbalikkan fakta jika ditilik dari kisah Cavan. Satu kali membaca, Eiden langsung paham jika untaian kalimat-kalimat itu jelas bermaksud mempengaruhi pemikiran Kyra.
Namun, Eiden tidak menyalahkan Kyra. Masalah ini menyangkut Axelo, sosok papa yang sangat Kyra cintai. Seandainya Eiden yang berada di posisi istrinya, lelaki itu pun tidak berani menjamin kalau dirinya akan tetap berperilaku tenang.
“Aku bakalan selidiki ini sampe tuntas,” putus Eiden.
“Harus. Kamu harus tangkap dia, Eiden. Aku nggak tenang kalo dia masih berkeliaran di luar. Bisa aja dia ngelakuin sesuatu yang lebih dari kemarin,” papar Kyra khawatir. Keluarga ini harus ia jaga sebaik mungkin. Ia tidak akan membiarkan siapa pun terluka.
Kyra pernah kehilangan. Ia tidak mau hal seperti itu kembali terulang.
Eiden tidak membalas. Lelaki itu menatap Kyra dalam, seolah tengah hanyut di bola mata hijau yang cantik itu. “Kenapa...?”
Kyra menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa apanya?”
“Kenapa kamu lebih percaya sama papaku? Bisa aja, kan, papa bohongin kamu terus yang ngirim email itu bener? Tapi, kamu lebih percaya sama papa. Kenapa, Kyra?” Eiden tidak mengerti. Seandainya ia berada di posisi Kyra, Eiden tidak akan bisa mempercayai siapa pun. Karena menurut lelaki itu, semuanya masih abu-abu.
Namun, istrinya berbeda. Wanita itu memihak papanya—yang fakta sebenarnya pun masih belum terlalu kentara. Kyra percaya Tampa diminta. Tanpa syarat. Dan, tanpa memikirkan kemungkinan terburuk di masa depan.
Kyra tersenyum tipis. “Entahlah. Aku juga nggak tau. Tapi... itu yang hati aku bilang. Papa Cavan.. benar. Dia nggak bohong.”
“Kalo bisa jadi simpel, buat apa dijadiin rumit? Aku males tau ngurusnya.”
Eiden terkekeh. Ya, Kyra memang wanita yang sederhana. Lebih tepatnya tidak suka dibuat repot. Jadi, Kyra lebih suka menyelesaikan masalah secepat mungkin supaya tidak semakin menumpuk.
“Untuk saat ini, aku emang percaya sama papa. Tapi, mana yang bener dan mana yang salah, waktu yang akan bicara. Yang penting, kita harus selametin keluarga kita dulu, Eiden.”
“Aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi.”
...💫💫💫...
Keesokan harinya...
Pagi ini, Kyra kembali melakukan rutinitas biasanya. Ia memasak sarapan untuk keluarga. Bedanya, aura wanita itu tidak mengalami perubahan yang signifikan. Masih dingin dan datar, tidak ada ekspresi apa pun yang terpasang di paras menawan Kyra.
Darren dan Emily saling bertukar pandangan, keduanya sama-sama merasa asing dengan situasi yang teramat canggung di meja makan. Sikap mommy mereka pun sangat aneh. Bocah-bocah itu jadi kurang nyaman.
Kalau Darren mengerti permasalahan yang terjadi, tetapi Emily sama sekali tidak tahu.
“Mommy, Emily mau susu strawberry. Tolong buatin, ya,” pinta Emily manja. Seminggu lebih tidak bertemu Kyra membuat gadis kecil itu rindu. Namun, Abigail selalu memberi penjelasan jika Kyra tengah sakit dan butuh penanganan khusus.
Soalnya, ini bukan sakit biasa.
Tanpa banyak kata, Kyra beranjak ke dapur dan membuatkan segelas susu strawberry untuk putrinya. Emily tersenyum cerah. Setidaknya, Kyra tidak marah dan masih perhatian. Itu jauh lebih baik daripada dicuekin secara penuh.
“Mom, hari ini Mommy, kan, yang anter sekolah?” tanya Darren usai menelan makanan di mulutnya. Ia sengaja memancing suara Kyra keluar.
Kyra menggeleng. “Mommy ada kerjaan di butik.”
Tidak, Kyra tidak berbohong. Acara fashion di Paris akan diadakan tiga minggu lagi. Pakaian yang ia rancang memang sudah hampir jadi. Tapi, Kyra tidak mau ada kesalahan dari produk terbarunya itu. Kyra akan memastikan secara langsung gaun buatannya hingga benar-benar sempurna.
Darren tidak bersuara lagi. Ia mengangguk mengerti, tidak memaksa Kyra. Walaupun lelaki kecil itu tahu jika adiknya sedikit kecewa dengan jawaban Kyra, Darren tidak menghiraukan. Kondisi psikis mommy-nya berada di tahap yang kurang baik, jadi memaksa Kyra tidak akan membuat situasi membaik.
Abigail melirik suaminya iba. Cavan nampak memandang Kyra sendu. Pria itu sesekali menghela napas pelan, tidak mau jika Kyra mendengar. Sepertinya Kyra masih belum memaafkannya, buktinya Kyra tidak mau memandangnya sama sekali, pikir Cavan.
Selepas sarapan, Eiden pamit bersama anak-anak. Ini sudah menjadi kebiasaan untuk mengantar kedua bocah itu ke sekolah sebelum ke kantor. Lelaki itu mencium kening Kyra sebelum pergi. Darren dan Emily pun mencium pipi Kyra di sisi kanan juga kiri.
Sepeninggalan Eiden, Kyra menghela napas berat. Beban di pundaknya semakin berat saja. Ia melirik Ilona yang berdiri tak jauh dari posisinya. Ini akan sulit. Kabur dari Ilona akan sangat sulit.
Entah bagaimana, bodyguard Kyra itu bisa mengetahui apa saja yang Kyra lakukan, padahal mereka sedang tidak bersama. Ini terjadi semenjak dirinya hilang seminggu yang lalu. Ilona menambah kesigapannya. Dan, itu bencana bagi Kyra.
Aku harus ke markas gimana pun caranya!
^^^To be continue...^^^