Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 60 | Minta Izin



“Nyonya, Tuan Eiden menghubungi saya dan menanyakan Anda. Saya harus menjawab bagaimana?” tanya Ilona bingung. Ia tidak berpengalaman dalam urusan berdusta semacam ini. Makanya, gadis itu bertanya pada sang majikan.


Kyra berpikir sejenak. “Bilang aja aku lagi di rumah lamaku. Ada barang yang harus aku ambil. CCTV di sana nggak akan bisa diretas sama Eiden.”


Ilona mengangguk paham. “Baik, Nyonya.” Setelahnya, Ilona sibuk berkutat dengan ponselnya.


Kyra menoleh pada Mauren. “Gimana penyelidikannya? Kamu berhasil dapetin sesuatu?” tanyanya.


“Belum, Kak. Kayaknya pengirim email ini bener-bener pinter nyembunyiin diri. Gue nggak bisa nemuin apa pun.” Mauren kesal sendiri karena gagal melacak keberadaan si pengirim email. Sialnya, ini kali pertama Mauren kesulitan menjalankan sebuah perintah. Biasanya gadis itu bisa melakukan segalanya.


Kyra menggeleng. “Jangan dipaksa. Mungkin kemampuan orang itu lebih hebat dari kamu.” Melirik jam yang menggantung di dinding. “Anak-anak bentar lagi pulang. Aku harus balik sekarang.”


Usai berpamitan kepada Reven dan Mauren, Kyra dan Ilona meninggalkan markas. Sebelum ke mansion, Kyra meminta Ilona supaya pergi ke rumah lamanya untuk mengambil sesuatu. Jaga-jaga jika seandainya Eiden bertanya, jadi dia punya jawaban yang tidak akan menuai kecurigaan.


Kyra tiba di mansion setelah menempuh perjalanan selama 50 menit. Abigail dan Cavan nampak duduk di ruang santai, menonton TV bersama. Ketika pandangan mereka bersirobok satu sama lain, Kyra sontak memasang raut datar. Lebih baik orang-orang di sana mengira jika ia dan Cavan masih berseteru karena ada kemungkinan terdapat mata-mata yang berkeliaran di mansion.


“Kamu habis dari mana, Nak?” tanya Abigail.


“Rumah, ambil barang,” jawab Kyra singkat dan padat. Air mukanya terlampau tenang. Ilona yang berdiri di belakang Kyra hampir berdecak kagum kalau ia tidak mengingat perannya. Nyonya mudanya ini sangat berbakat dalam berakting, cocok menjadi seorang aktris.


Tepat setelahnya, Kyra pergi menaiki tangga dan masuk ke kamar tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Ilona mengekor hingga ke depan ruangan. Ia tidak ikut masuk, cuma berjaga di depan pintu—sesuai dengan permintaan Eiden.


Kyra menghela napas berat. Ia mengeluarkan buku berukuran sedang dari paper bag yang dibawa. Benda itu sudah sangat lama, terlihat usang. Bahkan, Kyra sampai terbatuk-batuk ketika mencoba mengambilnya saking berdebu.


“Semoga aku bisa dapet sesuatu dari sini,” gumam Kyra penuh harap.


...💫💫💫...


Malamnya...


Seluruh keluarga Kennedy berkumpul di meja makan. Mereka tengah menyantap hidangan makan malam bersama, tentu saja buatan Kyra. Suasana masih tak kalah canggung dengan kejadian pagi hari.


Setelah makan malam, Kyra dan Eiden masuk ke kamar setelah berpamitan. Alasannya karena Eiden lelah dan ingin ditemani. Padahal, ada yang ingin dibicarakan dengan Kyra.


“Gimana? Dapet sesuatu?” tanya Kyra tak sabar.


Eiden mengangguk. “Ini kelakuan musuhku, Ra. Jadi, sisanya biar aku yang urus. Kamu nggak perlu turun tangan.”


Kyra jelas paham maksud dari ‘musuh’ yang Eiden ucapkan. Itu pasti berhubungan dengan dunia mafianya. Sayangnya, saat ini Kyra berperan sebagai istri polos yang tidak tahu apa-apa. Wanita itu harus berakting seolah dirinya bingung dan berpura-pura tak mengerti.


Kyra mengernyitkan dahi. “Musuh? Kamu punya musuh, Eiden?” tanyanya cemas. Raut wajahnya menunjukkan dengan kentara jika ia tengah khawatir, tapi hati Kyra sedang tertawa keras di dalam. Sumpah! Aku berbakat banget, sih, jadi aktris.


Eiden sedikit gelagapan. “A–ah, iya, aku punya. Musuh bisnis, Ra, saingan bisnisku.”


Kyra manggut-manggut, berlagak dirinya percaya. Ia hendak membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, namun tindakan Eiden lebih dulu membuatnya terkejut. Lelaki itu tiba-tiba mendorong tubuhnya hingga terhimpit pada lemari di belakang Kyra.


“Eid—hhmmptt!” Kyra membelalakkan matanya ketika bibirnya dibungkam secara kasar. Jangan bilang Eiden lupa jika sejak kemarin ia kedatangan tamu bulanan? Kenapa ia digoda seperti ini, sih?


“Hmptt.. Eidenhh..” Kyra malah mende*ah ketika suaminya menyesap lehernya kuat. “Aku lagi haid, ih.”


“Aku tau,” balas Eiden singkat. Sebelah tangannya terangkat, merobek kaus yang Kyra pakai. Lalu, dengan rakus, ia melahap aset milik sang istri. “Pake tangan, kan, bisa.” Ia mengarahkan tangan Kyra ke miliknya.


Tok tok tok...


“Mom? Dad? Ini Darren.”


Kyra dan Eiden terkesiap. Sontak Kyra mendorong Eiden menjauh dan menatap pintu kamar horor.


“Mommy? Daddy? Darren tau, ya, kalo kalian belum tidur. Darren mau ngomong sesuatu, nih.” Dari nada bicaranya, sepertinya anak itu kesal.


“Itu Darren.” Kyra panik. Ia menyambar pakaiannya yang terbelah jadi dua dan celana milik Eiden. “Cepet ganti baju, Eiden,” gemas Kyra karena Eiden nampak linglung.


Kyra pun mendorong Eiden ke ruang ganti. Ia menyuruh suaminya supaya segera berpakaian. Karena ia hanya memakai kaus, jadi tidak butuh waktu lama. Kyra segera membukakan pintu setelah memastikan tidak ada sesuatu yang tertinggal di kamar. Wanita itu tidak mau mata suci putranya ternodai.


“Darren, kenapa, sih? Ganggu aja,” ketus Kyra. Oke, dia tidak bohong. Darren, kan, memang benar-benar mengganggu kegiatannya bersama Eiden.


Darren memutar bola matanya malas. “Mommy lagi ngapain, sih? Lama amat bukanya,” cibir Darren.


Kyra mendengkus. Ia melebarkan bukaan pintu. “Cepet, mau ngomong apa?” desak Kyra.


Darren tidak mengatakan apa pun. Namun, kaki kecilnya berjalan memasuki kamar orang tuanya. “Daddy mana?”


“Daddy di sini.”


Eiden baru keluar dari ruang ganti. Sedikit lama karena ia harus menuntaskan sesuatu terlebih dahulu di kamar mandi. Kyra yang mengerti jadi meringis. Pasti tidak enak.


“Darren mau minta ijin sama Mommy dan Daddy. Darren mau belajar komputer,” ucap Darren mengutarakan keinginannya.


Eiden dan Kyra kompak mengerutkan kening. “Belajar komputer?” ulang keduanya.


Darren mengiyakan.


“Kok mendadak banget? Dulu Mommy pernah tawarin, tapi kamu nggak mau, kan? Kok sekarang pengin belajar?” heran Kyra. Eiden pun setuju jika permintaan Darren sekarang sangat tiba-tiba.


“Emm.. Darren ingin aja, Mom.” Darren bingung ingin mengatakan apa sebagai alasan. “Darren tertarik sama komputer setelah ada pelajaran dan penjelasan di sekolah. Kayaknya keren.”


Hei, Darren tidak berbohong, ya. Ia sungguh-sungguh memiliki kelas komputer di sekolah. Haish.. otak bocah itu sangat berguna di keadaan mendesak ternyata.


Merasa cukup masuk akal, Eiden mengangguk mengerti. Namun, bagi Kyra yang jelas mengetahui sifat sang putra hingga ke akar-akarnya tentu saja curiga. Ia memicing pada Darren yang memalingkan wajah.


“Oke, Daddy akan cariin guru buat kamu.” Eiden mengulas senyum tipis.


Darren menggeleng. “Darren udah punya gurunya, Daddy.”


“Oh, ya? Siapa?”


“Uncle Jasper.”


^^^To be continue...^^^