
“Jadi, dia ingin ambil hak asuh Darren?” kata Eiden ingin meyakinkan pendengarannya.
Kyra mengangguk dengan raut sebal. “Iya, Eiden. Wanita tua itu bener-bener nggak tau diri! Dulu nggak ngakuin, sekarang tiba-tiba pengen ketemu, pengen didik. Ngejilat ludah sendiri, kan, namanya?” dumelnya.
Eiden terkekeh pelan. Ekspresi istrinya kala bercerita mengenai sosok mantan mertua sangat menggemaskan. Seolah-olah wanita itu bisa melihat Mega di hadapan sampai memperagakan ketika mengaku ingin sekali mencekik leher Mega. Eiden mana kuat menahan tawa terlalu lama jika tingkah istrinya seperti ini.
“Eiden, kamu nggak akan biarin anak kita diambil, kan?” ucap Kyra menatap Eiden sendu. “Aku nggak mau kehilangan Darren ataupun Emily.”
Eiden tersenyum. Ia menarik punggung Kyra hingga da*a mereka bertabrakan. Posisi Kyra saat ini memang tengah berada di pangkuan Eiden, jadi cukup satu kali dorongan, Eiden bisa merengkuh seluruh tubuh istri menggemaskannya ini.
“Nggak akan ada yang ambil anak kita dari kita, Sayang. Entah itu Darren ataupun Emily, paham?”
Kyra tersenyum di dalam pelukan Eiden. Ia tidak membalas, hanya bergerak mengetatkan lingkaran tangannya di pinggang sang suami. “Terima kasih, Suamiku,” lirihnya yang sanggup didengar oleh Eiden.
“Sama-sama, Istriku.”
...💫💫💫...
Sepertinya, pepatah mengenai cinta itu indah adalah benar. Eiden mengakui dengan sepenuh hati jika cintanya kali ini membawa kebahagiaan bagi dirinya dan seluruh keluarga. Mungkin, untuk kasus cinta pertama kala itu Eiden tengah salah melabuhkan hatinya.
Eiden berharap penuh jika Kyra adalah pelabuhan terakhir hatinya dan pribadi yang ditakdirkan untuknya. Dengan segala sikap ajaib Kyra dan sifat bijaknya, Eiden merasa beruntung memiliki Kyra sebagai istri. Wanita multitalenta itu sanggup menanggung banyak beban di bahu, tidak pernah mengeluh, dan selalu menebar keceriaan untuk orang-orang di sekitar.
Ah, menurut Eiden, Kyra ini hampir sempurna.
Sesuai janji Kyra dan Eiden pagi tadi, keduanya membawa Darren dan Emily jalan-jalan setelah pulang dari sekolah. Bahkan, Eiden sampai menyerahkan seluruh pekerjaan kepada ketiga sahabat demi keluarga kecilnya ini, supaya tidak ada yang mengganggu kebersamaan mereka nantinya.
Atas saran Kyra, mereka akan menginap di villa tepi pantai milik Kyra. Sebenarnya, Eiden pun memiliki villa elit yang berada di kawasan dekat pantai. Namun, villa tersebut berada di pulau lain, jauh dari Jakarta. Sedangkan acara liburan ini sangat mendadak, jadi persiapannya pun tidak maksimal.
Untung saja Eiden sudah meminta para bawahannya menyiapkan segalanya. Begitupun dengan Kyra. Wanita itu tidak mau liburan pertama bersama keluarga hancur karena hal sepele.
Sampai-sampai Ilona, Olin, dan Xania pun diajak kemari.
“Yeayy... sampaaiii!” seru Emily semangat. Setelah turun dari mobil yang Eiden kendarai sendiri, Emily berlari ke arah pantai yang sangat sepi. Hanya ada mereka di sana. Gadis kecil itu terlihat antusias, padahal mereka baru saja menempuh perjalanan selama 2 jam. Tapi, Emily sama sekali tidak lelah.
Tidak mau kalah, Darren menyusul sang adik. Ini bukan kali pertama ia kemari, jadi Darren jauh lebih tahu area-area mana yang baik didatangi. Olin dan Xania segera menyusul untuk menjaga majikan masing-masing.
“Sejak kapan kamu punya villa ini?” tanya Eiden. Ia memperhatikan bangunan yang menjulang di depannya, tidak terlalu mewah, tapi sangat nyaman.
“Em.. udah lama, sih.” Kyra tersenyum kecil melihat villa-nya. “Ini hadiah dari papaku dulu.”
Eiden tersenyum. Ia mendekap istrinya yang berkaca-kaca. “Kangen?”
“Iya, aku kangen papa.” Kyra menghembuskan napas panjang, berusaha menetralkan perasaannya yang sempat kacau. “Ayo masuk dulu.” Ia beralih menatap Ilona. “Ilona, kamu ikut jagain anak-anak, ya. Saya sama suami saya mau masuk dulu.”
“Baik, Nyonya.”
Kyra dan Eiden melangkah masuk. Atas perintah Kyra sebelumnya, villa ini segera dibersihkan ketika ia mengabarkan akan menginap semalam. Suasana di dalam masih sama. Bedanya, tidak ada foto Wildan di sini.
Selain kenangan bersama keluarga, villa ini pun menyimpan banyak memori tentang Kyra dan Wildan. Ada banyak foto keduanya yang terpajang. Namun, demi menjaga perasaan suaminya yang sekarang, Kyra meminta penjaga villa supaya mengumpulkan foto-foto Wildan dan menaruhnya di satu ruangan.
Jadi, ada satu ruangan yang mirip kamar khusus berisikan benda-benda milik Wildan.
“Kosong,” gumam Eiden.
“Hm? Maksudnya?” tanya Kyra tak mengerti.
“Nggak pa pa.” Eiden sibuk menatap sekeliling. Pandangannya jatuh ke sebuah figura berisikan Ansel dan Kyra beserta kedua orang tua mereka. Dilihat dari latarnya, foto itu diambil di depan villa. Udah cantik dari sananya ternyata.
“Wajah kamu mirip papamu,” komentar Eiden.
Kyra tersenyum. “Iya. Aku ingat, dulu mama sering bilang kalo aku ini fotokopinya papa cuma versi perempuan.”
Eiden mengangguk setuju. Paras Kyra dan Axelo—papa Kyra—sangat mirip.
“Tempat ini cocok buat honeymoon kita,” bisik Eiden tepat di telinga Kyra. Lelaki itu bahkan menyapukan lidahnya di daun telinga istrinya.
“E–Eiden! Di sini ada anak-anak! Jangan macam-macam kamu!” desis Kyra kesal. Sengaja untuk menutupi kegugupan. “Udah, ah. Aku mau mandi dulu.”
Kyra naik ke lantai dua. Eiden terkekeh pelan sebelum menyusul sang istri. Tiba di anak tangga teratas, Kyra membalikkan badan. “Eiden,” panggilnya serius.
“Kenapa, Sayang?”
Kyra berdeham sebentar. Ia menunjuk satu pintu. “Kamu nggak usah masuk ke sana, ya.”
Eiden mengamati pintu itu dengan alis terangkat sebelah. “Kenapa? Ada sesuatu di dalam?”
Kyra mengangguk. “Ada barang-barang Mas Wildan di sana.”
Detik itu juga, raut wajah Eiden berubah datar. Nama itu... nama suami pertama Kyra. Dan, sialnya, Kyra memanggilnya dengan sebutan ‘mas’? Hei, itu tidak adil!
“Aku udah minta penjaga villa buat mindahin barang-barang Mas Wildan di satu tempat karena aku nggak mungkin buang itu semua. Aku ngelakuin itu buat jaga perasaan kamu. Aku harap kamu nggak cemburu, Sayang.” Kyra mengulas senyum manisnya. “Tapi, kalo kamu mau masuk, nggak pa pa, sih. Aku tadi ngelarang karena takut kamu kesel aja. Silakan, aku nggak mau nyembunyiin apa pun sama kamu.”
“Aku mandi dulu, ya.”
Cup!
Kyra mencium pipi Eiden sebentar sebelum masuk ke kamar utama. Meninggalkan Eiden yang terdiam di posisi.
...💫💫💫...
Ceklekk..
Eiden mendorong bingkai pintu tersebut hingga menimbulkan celah besar. Hal pertama yang ia lihat adalah foto pernikahan besar yang terpajang di atas ranjang. Foto Kyra dan Wildan.
Ya, Eiden masuk ke ruangan yang katanya berisikan barang-barang milik suami pertama istrinya. Lelaki itu penasaran dengan sosok Wildan. Sosok cinta pertama Kyra yang hingga kini belum bisa ia geser posisinya di hati—setidaknya itu yang ia simpulkan.
Kyra tidak berbohong. Kamar yang lumayan luas itu memiliki banyak foto yang berhubungan dengan Kyra. Dari awal keduanya berpacaran sampai memiliki Darren, semuanya ada. Setiap gambar Kyra yang terpajang, wanita itu selalu tersenyum lebar, menunjukkan jika ia bahagia.
Sebahagia itu kamu sama dia...
Eiden mendengkus. “Pantes aja Kyra cinta setengah mati. Dia lumayan ganteng juga.” Tapi, aku tetep yang paling ganteng!
Puas melihat-lihat, Eiden keluar dari sana. Bertepatan dengan Kyra yang hendak masuk.
“Eiden.” Kyra terkejut sesaat, lalu menghela napas lega. “Aku nyariin dari tadi. Eh, kamu malah di sini.”
Eiden menutup pintu kamar terlebih dahulu. “Kenapa?”
“Mandi dulu, Sayang.”
“Okay.”
“Aku nyusul anak-anak, ya. Kalo kamu nyariin aku, kamu ke pantai aja.”
“Oke.”
...💫💫💫...
Di sisi lain...
“Tuan, saya menemukan informasi terbaru.”
Sosok yang dipanggil ‘tuan’ itu melirik bawahannya, pertanda jika ia mendengarkan. Si bawahan itu mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga majikannya.
Entah apa yang ia katakan, namun ‘tuan’ ini langsung merasa senang. Sosok itu menyeringai. “Bagus. Persiapkan semuanya. Aku tidak sabar melihat kehancuran keluarga itu.”
^^^To be continue...^^^