Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 66 | Perang Dingin



Halo semuanya...


Maaf, Ay udah nggak update cerita ini lumayan lama, ya. Udah beberapa hari. Bukannya nggak mau, tapi lagi nggak mood sama sibuk juga. Ay lagi sibuk nyiapin persiapan ujian masuk universitas.


Semoga kalian paham maksud Ay. Ay lagi capek banget sekarang.


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


Canggung.


Itulah yang dirasakan oleh Kyra dan Eiden.


Setelah insiden kejadian di markas mafia Blood Moon, hubungan antara sepasang suami-istri fenomenal kita mendadak kaku dan kikuk. Ah, lebih tepatnya Kyra yang merasa seperti itu, sih.


Wanita beranak dua itu mendadak baru menyadari ucapannya kala itu. Ia paham jika Eiden pasti kecewa padanya dan mungkin saja... lelaki itu meragukan perasaannya sekarang. Kyra maklum, kok, kalau Eiden berpikir seperti itu.


Seandainya Kyra yang berada di posisi Eiden pun ia akan sama kecewanya.


Berulang kali Kyra berusaha untuk mengajak bicara, Eiden selalu mengalihkan topik lalu pergi. Seakan-akan lelaki itu sengaja menghindar. Senyum di paras tampannya pun menghilang. Tersisa raut datar yang pernah terpasang dahulu.


Tuh, kan. Kyra jadi semakin merasa bersalah.


Satu hari terlewati dengan sia-sia. Kyra memutuskan untuk bicara dengan sang suami malam ini juga. Apa pun yang terjadi dan bagaimanapun caranya! Tekad seorang istri tidak boleh diremehkan!


Atas tekad itulah, Kyra menanti sepanjang malam kepulangan suaminya. Bahkan, hingga jarum menunjukkan tengah malam, sepasang mata sayu itu tetap terbuka. Ini bukan kali pertama Kyra begadang. Wanita itu terbiasa membuka mata semalaman karena tuntutan pekerjaan. Jadi, ini bukan masalah besar.


Pukul satu malam, mobil Eiden nampak memasuki pekarangan mansion. Kyra sengaja mematikan lampu kamar supaya suaminya mengira ia sudah tidur. Dari posisinya, Kyra bisa mendengar suara tapak kaki mendekat—yang sukses menggetarkan jiwanya. Oke, ini serius. Kyra tiba-tiba takut.


Takut kalau suaminya benar-benar marah dan tidak mau memaafkan.


Ceklekk..


Pintu kamar terbuka. Pandangan keduanya bertemu dalam gelap. Dan, itu berlangsung selama beberapa detik.


Eiden-lah yang pertama kali membuang muka. Lelaki itu juga menyalakan saklar lampu hingga kamar tersebut terang benderang. Tanpa mengacuhkan keberadaan sang istri, Eiden berbalik memasuki kamar mandi.


Kyra diam saja, tidak berniat mencegah. Toh, Eiden memang butuh bersih-bersih sebelum berbincang nantinya. Ditambah lagi, lelaki itu pasti perlu mendinginkan kepala sekarang.


Dua puluh menit menunggu, Eiden keluar dengan handuk yang menutupi area pinggang hingga paha. Tidak ada satu pun yang bicara sampai Eiden selesai mengenakan seluruh pakaiannya dan bersiap ingin tidur.


“Eiden,” seru Kyra menahan lengan Eiden yang hendak berbaring. “Bisa kita ngobrol sebentar?”


Lagi-lagi yang Kyra dapatkan hanya sorot datar tanpa minat itu lagi. Sayangnya, malam ini Kyra tidak berniat mengalah ataupun menyerah. Ia harus meluruskan semua kesalahpahaman agar hubungan mereka kembali harmonis.


“Eiden, aku—”


“Aku ngantuk, Kyra,” sela Eiden ogah-ogahan. Lelaki itu melepas cekalan tangan Kyra, lalu berbaring nyaman. Matanya terpejam dengan cepat, tidak berniat menatap Kyra terlampau lama.


Eiden kaget. Lelaki itu terlonjak dari posisi melihat Kyra menangis sesenggukan dengan bahu bergetar. “Hei, aku nggak bermaksud bikin kamu nangis.” Ia meraih tubuh istrinya dan memeluknya cepat. Apa pun alasannya, amarah Eiden tidak sebanding dengan rasa cinta yang menumpuk di hatinya. Eiden tidak menampik jika ia pun merasa bersalah karena sudah mengabaikan sang istri. Namun, ia melakukannya karena tidak ingin terlarut dalam perasaan lalu berbuat di luar nalar.


“Hiks.. kamu nggak mau dengerin aku,” adu Kyra pada Eiden. “Hiks.. aku, kan, hiks.. nggak berm—”


“Sstt.. udah, ya. Jangan nangis.” Eiden melabuhkan kecupan manis di pucuk kepala wanitanya. Ternyata kerinduan di hatinya sudah menumpuk begitu banyak. Setelah dipeluk begini, rasanya plong.


Mereka berganti posisi menjadi berbaring di ranjang, tetapi masih dengan berpelukan. Kyra pun telah menghentikan tangisannya. Namun, itu berdampak pada hidungnya yang memerah dan matanya yang sedikit bengkak.


“Eiden marah, ya?” tanya Kyra manja. “Jangan marah dulu, dengerin ceritaku dulu.”


Eiden menghela napas berat. Ia mengulas senyum, kemudian mengangguk. Mempersilakan Kyra menceritakan semua yang ingin dikeluarkan.


“Mas Wildan meninggal gara-gara aku, Eiden.”


Satu kalimat yang terlontar sukses mengejutkan Eiden. Setahu lelaki itu suami pertama Kyra tiada akibat kecelakaan. Lalu, ini? Pengakuan macam apa, sih?


“Waktu itu, umur Darren baru 1 tahun. Aku berhasil nyiptain senjata baru yang kuat. Kamu pernah denger, kan, soal senjata Kyr68X?” Kyra mendongak, menatap wajah Eiden karena saat ini parasnya menghadap langsung dada bidang lelaki itu.


Eiden mengiyakan. “Senjata terkuat dengan energi nuklir ciptaan mafia Black Rose.”


“Yap! Buatanku dong. Keren, kan?” Kyra tersenyum bangga. Tingkahnya ini terlalu lucu sampai-sampai tidak menampakkan tampang sedih lagi—seolah kejadian beberapa menit silam tidak pernah terjadi.


Eiden terkekeh.


Cup!


“Iya, keren banget,” puji Eiden.


“Hm. Oke, lanjut.” Kyra menarik napas dalam-dalam. Balasan Eiden di luar terkaannya, bikin salah tingkah. “Awalnya, aku cuma iseng buatnya. Aku mau kelompokku punya senjata rahasia yang bisa dipake di saat darurat. Makanya, senjata itu cuma ada satu dan bener-bener aku maksimalin fungsinya. Aku nggak pernah kasih tau siapa pun soal senjata itu. Tapi, ternyata di kelompokku ada pengkhianat.”


“Pengkhianat itu bocorin informasi soal senjata terkuat dengan sistem baru yang aku buat itu. Alhasil, senjata itu jadi rebutan banyak kelompok mafia. Awalnya, aku pengen hancurin senjata itu. Tapi, kondisinya lagi nggak kondusif. Mafiaku sering diserang cuma karena mereka—kelompok mafia lain—mau rebut senjata itu buat keuntungan pribadi.” Kyra menghela napas berat. “Puncaknya, mafia Zero berhasil ngedesak aku, Eiden. Biar senjata itu nggak jatuh ke tangan mereka, aku lari sambil bawa senjata itu.”


...Flashback on....


“Haah.. haahh..” Napas Kyra tersengal-sengal. Ia bersembunyi dibalik pohon besar. Sesekali wanita itu meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya yang penuh luka. Pertarungan dengan kelompok mafia The Zero sukses mengais seluruh staminanya. Ia kelelahan dan kesakitan.


Kyra melirik senjata Kyr68X di tangannya. Benda berukuran sedang itu nyatanya bisa menghancurkan sebuah wilayah hanya dalam sekejap. Alat yang berbahaya.


Nggak! Aku nggak boleh nyerah. Senjata ini nggak boleh jatuh ke tangan mereka!


Pandangan Kyra beredar ke sekeliling. Hari hampir menjelang malam, suasana hutan terlihat remang-remang karena senja. Sebelum bulan tiba, ia harus segera keluar dari sana.


Bermodalkan nekad, Kyra kembali berlari menelusuri hutan. Ia harus menjauhi musuh. Sayangnya, sebanyak apa pun kakinya melangkah, Kyra tetap merasa kalau dirinya hanya berputar-putar di hutan. Di ingatannya, semua pohon yang ada sama.


Ketika ia berniat beristirahat, sebuah suara mengejutkan wanita itu.


“Ketemu kamu.”


^^^To be continue...^^^