Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 69 | Diawasi



Hai semua. Ay kembali👋🏻


Udah lama banget, ya, Ay nggak update? Bukannya nggak mau update, guys. Tapi, sekarang Ay dibatasi penggunaan HP-nya. Ay mau SNBT, disuruh fokus dulu. US juga sebentar lagi. Disuruh belajar mulu🥲


Apalagi pake ujian praktek segala lagi. Sumpah, Ay sibuk banget. Setiap hari pulang jam 16.30 WIB. Hari Sabtu sama Minggu harusnya libur, tapi dibuat kerkom. Capek banget rasanya.


Udah gitu Ay lupa lagi sama alur cerita ini. Jadi nyempetin buat baca dulu sebentar sambil nyatet poin-poin penting. AY MINTA MAAF, YA, YEOROBUN...!


So, happy reading gitu aja lah.


.......


.......


.......


“Di mana Iam?” tanya Kyra to the point.


Michael dan Erry nampak gugup walaupun berusaha disembunyikan sebaik mungkin. Namun, kepekaan Kyra terhadap sekitar tidak bisa diremehkan. Wanita itu jelas tahu jika kedua sahabat Eiden ini tengah menyembunyikan sesuatu.


“Apa Iam berusaha bunuh diri?” tebak Kyra.


Michael dan Erry cengo. “Nyonya tahu?!” seru keduanya.


Kyra menghela napas berat. “Sudah bisa ditebak,” gumamnya. Dulu, ketika Iam pernah tertangkap, pria itu selalu berusaha mengakhiri hidupnya sendiri. Kesetiaan Iam pada kelompoknya tidak main kuat. Maka dari itu, Iam memilih mati sebelum bibirnya berkhianat dan mengucapkan segala informasi mengenai kelompoknya.


“Apa dia mati?” tanya Eiden.


“Nggak, Eiden. Kita berhasil cegah dia mati,” jawab Erry.


Eiden mengangguk-angguk. “Bagus, deh.”


“Ayo ke bawah. Aku mau ketemu dia, Sayang.” Kyra menarik lengan suaminya antusias. Aneka teknik mengeksekusi manusia mulai terdaftar di otaknya. Senyum manis yang tersungging di bibirnya tak sepadan dengan kobaran api yang menggebu-gebu di binar mata wanita itu.


Kyra benar-benar tidak sabar untuk segera melihat cipratan darah Iam.


...đź’«đź’«đź’«...


“Aaarrgghhh....!”


“Cuk–upphh.. AARRGGH!”


Di sudut ruangan, Erry dan Michael bergidik ngeri. Sedangkan Eiden hanya diam, tidak berkomentar apa pun. Malahan lelaki itu merasa bangga dengan tindakan sang istri. Kriteria seperti inilah yang Eiden cari sebagai istri seorang mafia—kuat, berani, dan haus darah.


Eiden mendekat. Ia menahan tangan Kyra yang ingin melukis di lengan kanan Iam menggunakan pisau berkarat. “Sudah, Sayang. Ini sudah siang. Kita harus jemput anak-anak.”


Kyra mendongak. Wajahnya penuh percikan darah. “Kok cepet banget, sih? Belum puas tau,” gerutunya dengan bibir mengerucut.


Eiden berjongkok di sebelah Kyra. “Nanti kita ke sini lagi, oke? Sekarang kita pulang dulu. Anak-anak pasti nunggu kita,” bujuk Eiden lembut.


“Ya udah, deh.” Kyra membuang pisau di tangannya ke sembarang arah. Ia menyeringai menyaksikan kondisi Iam yang terbilang tidak parah—menurut Kyra.


Sebelah mata Iam hilang—dicongkel oleh Kyra lalu dipotong-potong. Dari area pelipis hingga turun ke pipi, ada goresan panjang di sana. Punggung Iam juga mendadak memiliki ukiran, bentuk tengkorak yang mengerikan. Lengan pria itu penuh goresan. Intinya, sih, Iam sangat mengenaskan—bagi Erry dan Michael.


“Garry sebentar lagi dateng bawain kamu baju baru. Sekarang mandi dulu, oke?” pinta Eiden mengusap darah di pipi Kyra.


“Iya. Dia nggak boleh sampe mati, oke?” Kyra melirik Iam yang jatuh tidak sadarkan diri.


Eiden mengode pada Erry dan Michael yang diangguki oleh mereka. Lantas dirinya merangkul pinggang istrinya keluar dari ruang bawah tanah. Meninggalkan Erry dan Michael beserta beberapa anggota mafia Blood Moon yang terduduk lemas.


“Astaga, nyonya muda kita seram sekali,” ucap Erry ngeri.


“Kalian ingat, jangan sampe nyinggung nyonya muda kita. Aku nggak bisa bayangin kalian bakalan jadi apa.” Erry geleng-geleng, tidak bisa membayangkan apa yang akan Kyra lakukan pada mereka. Ditambah lagi wanita itu ahli senjata.


“Sudah-sudah.” Michael bangkit. “Ayo kita urus orang ini dulu.”


...đź’«đź’«đź’«...


Kyra merapikan dress-nya yang kusut di beberapa sisi. Ia tersenyum ketika sepasang mata hijaunya bersirobok dengan bola mata Eiden. Lelaki itu mendekat dan merapikan anak rambut istrinya yang terlihat manis.


“Udah?” tanya Eiden.


“Udah, Sayang. Ayo jemput anak-anak.” Kyra merangkul lengan sang suami riang. Suasana hatinya benar-benar baik hari ini. Keduanya berjalan beriringan keluar dari markas Blood Moon. “Lain kali aku yang ngajak kamu ke markasku, Sayang.”


“Okay.”


Tiga puluh menit perjalanan, Kyra dan Eiden tiba di sekolah Emily. Bocah itu baru keluar dari kelas, berjalan bergandengan bersama gadis kecil lainnya. “Mommy! Daddy!” seru Emily antusias seraya melambaikan tangan.


Kyra balas melambaikan tangan. Ia merentangkan tangan, yang dibalas serbuan pelukan dari Emily. Gadis kecil itu tertawa ketika Kyra sengaja berputar. Eiden tersenyum melihat sikap keduanya.


“Gimana sekolahnya, Sayang?” tanya Kyra seraya mendudukkan Emily di dalam mobil.


“Seru, Mommy! Tadi Emily menggambar, lho. Terus dapat bintang 5 dari guru!” cerita Emily antusias.


“Wah, bintang 5? Princess Mommy keren banget, sih.” Kyra bertepuk tangan riang.


Sementara Eiden, lelaki itu terkekeh. Walaupun rasanya sedikit tidak rela karena putrinya tidak mengajaknya bicara, namun ia cukup puas karena sang anak terus tertawa seperti itu. Lagipula dirinya, kan, irit bicara. Kaku pula.


“Daddy..” Emily memeluk leher Eiden dari belakang. Posisinya yang berada di jok tengah sedikit mendukung aksinya. “Emily tadi gambar Daddy, lho.”


“Oh, ya?” respon Eiden agak terkejut. Ia pikir putrinya menggambar Kyra.


“Iya! Nanti Emily tunjukin, ya.”


“Okay, Sayang. Daddy tunggu.”


...đź’«đź’«đź’«...


Setelah menjemput Darren, keluarga kecil itu pergi makan siang bersama di restoran. Eiden sudah menghubungi Abigail jika mereka akan makan di luar, tidak di mansion. Sesuai kesepakatan, keempatnya menyantap makanan berbau Jepang sebagai menu makan siang hari ini.


“Dad,” lirih Darren melirik ke kanan tajam.


Eiden tersenyum kecil, kode supaya Darren tidak perlu cemas. Ia bisa merasakan jika ada seseorang yang mengawasi mereka. Namun, sebisa mungkin keduanya tidak memperlihatkan karena tidak ingin Emily ketakutan.


Eiden pun merasakan sensasi bangga di hatinya mengetahui putranya sangat hebat. Lihat saja, Darren benar-benar hebat dengan segala tingkah dan perilakunya. Seolah semua sudah direncanakan lelaki kecil itu supaya tidak ada kesilapan.


Untungnya, Darren cukup paham dengan kode sang daddy. Ia tetap bicara normal sembari sesekali menyuap sushi di piringnya. Sedangkan Kyra dan Emily masih saling suap-menyuap. Wanita beranak dua itu pun sama, bisa merasakan kehadiran seseorang yang mengawasi mereka.


“Aku ke toilet sebentar,” pamit Eiden. Ia bangkit dan menatap Kyra penuh arti.


Kyra mengangguk mengerti. “Hati-hati, Sayang. Jangan terlalu lama.”


“Iya.“


Detik itu, Eiden berbalik ke arah toilet. Meninggalkan Kyra bersama kedua anak mereka. Wanita itu menghela napas panjang saat merasakan orang yang mengawasi tadi tidak berpindah. Itu artinya yang diincar adalah dia.


Merepotkan sekali, sih—gerutu Kyra dalam hati.


^^^To be continue...^^^