
“Mommy mau dengerin Darren, kan?”
Tanpa diduga, Kyra menganggukkan kepala dengan muka sayu. Sorot matanya tidak mengalami perubahan yang berarti, masih kosong tanpa binar.
“Ayo berdiri kalo gitu,” suruh Darren.
Dibantu oleh Eiden, Kyra berhasil menegakkan tubuh. Kepalanya menunduk dalam. Suara-suara di sekitarnya seolah semu, tidak bisa ia dengar dengan jelas. Hanya suara Darren yang merasuk ke hatinya. Entahlah, Kyra benar-benar tidak bisa berpikir jernih sekarang.
“Daddy, bawa mommy ke kamar. Biarin mommy istirahat. Darren mau telpon Uncle Reven dulu.” Darren hendak beranjak dari posisi. Seingat anak itu, ponsel Eiden masih tertinggal di ruang kerja lelaki itu. Jadi, ia berniat mengambilnya.
“Buat apa, Darren?” tanya Eiden bingung. Untuk apa Darren menghubungi Reven kalau ia ada di sana? Eiden sungguh berharap jika dirinya bisa menjadi sosok yang Darren percaya, persis seperti perlakuan Darren pada Reven.
Mendadak Eiden cemburu di situasi yang tidak tepat.
“Cuma uncle yang punya nomor dokternya mommy,” jawab Darren.
“Dokter? Dokter apa? Mommy sakit?”
“Iya. Dokter psikiaternya mommy.”
Deg!
Cavan, Abigail, dan Eiden terkesiap. Apa yang Darren ucapkan barusan? Dokter psikiater? Kyra memiliki psikiater pribadi? Kenapa mereka tidak tahu?
Sebenarnya ada berapa rahasia yang Kyra sembunyikan dari mereka semua?
...💫💫💫...
Meskipun memerlukan waktu, Dokter Erica telah datang. Wanita yang masih cantik walaupun sudah berumur itu tengah memeriksa Kyra, sibuk menanyai beberapa pertanyaan yang tidak ditanggapi sama sekali. Sementara pihak keluarga menyaksikan dari ambang pintu, termasuk Reven yang membawa Dokter Erica ke mansion Eiden.
Erica menghela napas berat. Ia merapikan perlengkapan medisnya, lalu membalikkan badan.
“Gimana keadaan mommy, Dokter? Apa... kambuh?” tanya Darren cemas. Ia tahu persis mengenai ‘penyakit lama’ Kyra ini. Jadi, anak lelaki itu khawatir jika kondisi sang mommy memburuk.
Erica tersenyum tipis. “Boleh saya tahu apa yang terjadi? Saya tidak bisa menyimpulkan dan memberi pengobatan jika saya tidak mengetahui penyebab nona—ah, maksudnya nyonya.” Erica berdeham mengusir kegugupan. Awalnya, ia terkejut ketika Reven tiba-tiba menjemputnya dari rumah sakit dan memintanya memeriksa Kyra. Belum sampai di sana, Erica semakin kaget mengetahui Kyra sudah menikah dengan CEO paling berpengaruh di negara mereka—bahkan sampai luar negeri. Erica benar-benar ketinggalan banyak hal karena kepergiannya ke luar negeri.
“Ini soal opa, Dokter. Ternyata opa meninggal karena ada suatu hal dan mommy baru tau semalam. Padahal, mommy selama ini ngira opa meninggal karena kecelakaan biasa.” Darren menjelaskan tanpa menyebut nama siapa pun. Saat ini, anak usia 6 tahun itu seakan menggantikan para orang dewasa di sekitar.
Abigail yang terlampau syok, Cavan dengan segala penyesalannya, dan Eiden tampak seperti orang linglung. Ketiganya sedang tidak bisa diandalkan sekarang.
Erica manggut-manggut. Ia juga mengerti alasan Darren tidak menyebut nama. Benar-benar bibit kecerdasan yang unggul. “Saya mengerti. Menurut cerita ka—ekhem! Maksudnya, tuan kecil, sepertinya nyonya mengalami syok berat hingga jiwanya sedikit terguncang. Tuan dan nyonya sekalian tidak perlu khawatir dengan kondisi Nyonya Kyra. Saat ini, yang Nyonya Kyra butuhkan hanya perhatian dan kasih sayang. Dan, yang paling penting, jauhkan Nyonya Kyra dari sumber permasalahan di sini. Alihkan pikirannya dari masalah itu. Setelah ia lebih tenang, barulah bicarakan pelan-pelan.”
“Reaksi Nyonya Kyra berlebihan karena beliau punya riwayat penyakit mental sebelumnya. Maka dari itu, nyonya sempat bertindak di luar batas. Tapi, sejauh yang saya pantau, nyonya hanya terguncang sebentar. Ia akan segera pulih,” terang Erica dengan kalimat yang mudah dipahami. Pandangannya beralih pada Darren. “Nasihati mommy-mu itu.”
Darren berdecih. Ia mengiyakan dengan ketus. Setelah itu, Erica pamit beserta Reven. Tangan kanan Kyra itu mendoakan sang majikan supaya lekas pulih sebelum benar-benar menghilangkan eksistensinya.
“Iya?”
“Darren nggak bermaksud, tapi....” Bocah itu menghela napas pelan. “Buat beberapa hari ke depan, Grandpa jangan ketemu sama mommy dulu, ya. Nanti kalo mommy udah enakan, baru Grandpa ajak ngobrol. Bisa?”
Tidak ada rasa marah atau tersinggung. Pria itu paham mengapa cucu laki-lakinya ini berkata seperti itu. “Iya, Grandpa nggak akan temuin mommy kamu.”
Darren mengangguk pelan. Di wajahnya terpasang raut sesal yang kentara. “Maaf, ya, Grandpa.”
Cavan mencoba tersenyum walaupun hatinya tercabik-cabik. Darren adalah cucu kandung Axelo, namun anak ini sama sekali tidak melayangkan tatapan kebencian padanya. Padahal, Cavan yakin jika Darren telah mendengar semuanya dan dapat menyimpulkan.
Tidak bisa menahan rasa penasarannya, Cavan berlutut di sisi Darren dan memandang anak itu sendu. “Kamu nggak benci sama Grandpa, Nak?”
Bibir Darren mengatup rapat. Bola mata hijau anak itu berpendar sesaat, lalu kembali tenang. “No, Darren nggak benci sama siapa pun. Ini yang namanya takdir, Grandpa. Lagian, Darren bukan saksi dari kejadian itu, jadi Darren nggak tau siapa yang bener dan siapa yang salah.”
Belum sempat Cavan mengeluarkan suara, Darren melanjutkan perkataan. “Darren nggak mau benci sama seseorang yang belum 100% terbukti bersalah. Toh, benci itu cuma bakalan jadi racun buat Darren sendiri. Seenggaknya itu yang mommy ajarin.” Untuk kalimat terakhir, Darren berucap dengan nada pelan.
Darren menatap Cavan dengan sorot teduh. Tangan mungilnya menepuk dua kali pipi Cavan yang tak lagi sekencang dulu karena pertambahan usia. “Grandpa istirahat juga sana. Habis itu jaga Emily. Bilang sama dia kalo mommy nggak bisa ditemui dan Darren mau di sini sampai mommy sembuh.”
“Ini bukan pertama kalinya mommy kayak gini. Jadi, Darren lumayan berpengalaman.”
...💫💫💫...
Atas perintah Darren—yang mendadak menjadi pimpinan mansion—semua orang dilarang masuk ke dalam kamar Kyra, kecuali dirinya dan Eiden tentunya. Pelayan yang mengantar makanan pun hanya menyiapkan di depan pintu kamar. Sisanya, Eiden yang akan bertindak.
Sedikit demi sedikit, Darren menceritakan kepada sang daddy mengenai kondisi Kyra dahulu. Kyra pernah mengalami gangguan mental ketika umur Darren 4 tahun. Kala itu, Darren sudah mulai mengerti apa yang terjadi di sekitarnya, terutama sikap Kyra yang tidak biasa—suka mengamuk dan menangis hebat. Sangat tidak mencerminkan sosok mafia. Untuk alasannya, Darren tidak tahu. Hei, dia jujur! Bukan berbohong!
Karena Kyra mulai menunjukkan gejala awal self-injury, Reven dan beberapa anggota mafia segera bertindak. Darren cuma bisa diam menonton apa saja yang orang-orang itu lakukan pada mommy-nya. Untungnya, berkat laporan Darren yang melihat Kyra suka menyayat tangan dan kaki, penyakit psikologis Kyra berhasil ditangani lebih awal sebelum parah.
Malam telah tiba. Hari ini adalah hari paling melelahkan bagi seluruh penghuni mansion. Eiden menatap istrinya yang tertidur pulas di sisinya. Tangannya bergerak mengusap pipi Kyra pelan, takut mengganggu istirahat wanita cantiknya.
“Ada berapa banyak beban yang kamu tanggung, Sayang?” gumam Eiden. Ternyata, dibalik tingkah konyol Kyra selama ini, ada sejuta beban yang menumpuk di bahu wanita itu. Lihat tubuh ramping Kyra, mana kuat ia menampung semuanya?
“Mulai sekarang, bagi semuanya sama aku, ya.” Eiden mengecup kening istrinya lumayan lama. “Aku sayang kamu.”
...💫💫💫...
Dia menyeringai. “Bagaimana? Apa berhasil?”
Sosok yang ditanya mengangguk. “Sesuai perkiraan Anda, hubungan keluarga mereka memanas karena satu fakta telah terungkap. Umpan yang Anda beri benar-benar bagus.”
Dia terbahak-bahak, merasa puas dengan rencananya kali ini. Tidak lama, sorot matanya menajam. Gigi-giginya saling menggeletuk. “Aku pastiin keluargamu akan selalu menderita, Eiden.”
^^^To be continue...^^^