Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 48 | Si Ratu Sehari



“Hari ini, Emily mau kita liburan!” seru Emily ketika seluruh keluarganya berkumpul di meja makan untuk sarapan. “Hari ini Emily jadi ratu sehari, kan, Mommy?”


Kyra yang sibuk menghidangkan makanan untuk Abigail tampak mengulas senyum. “Sesuai janji Mommy, hari ini semua permintaan Emily akan Mommy turuti,” ucap wanita itu tanpa menghentikan tangannya bekerja. “Tapi, Mommy nggak suka kalau Emily bolos sekolah.”


Darren mengangguk setuju. “Nanti kamu ketinggalan pelajaran, terus nggak naik kelas. Mau?” katanya menakut-nakuti.


Emily menggeleng cepat. “Nggak mau! Emily mau cepat lulus biar bisa satu sekolah sama Kakak!”


“Nah, makanya untuk liburan...” Kyra berpikir sejenak. “Emily sekolah dulu, nanti pulangnya jalan-jalan bareng, gimana?”


Senyum Emily melebar. “Mau, Mommy!” Ia beralih menatap Eiden yang menyorotnya hangat. “Daddy harus ikut! Hari iniiii aja kita jalan-jalan bareng. Ya, Daddy?”


Sebenarnya, Eiden memiliki banyak berkas di kantor yang menantinya untuk diperiksa hari ini. Namun, mengingat perkataan Kyra semalam jika ia harus berubah pelan-pelan, mungkin tidak masalah menundanya sebentar. Toh, ada Garry, Michael, dan Erry, kan? Untuk apa Eiden membayar mereka kalau ketiganya cuma leha-leha?


“Iya, Daddy ikut,” jawab Eiden yang mengundang sorakan Emily.


“Yeaayy... Daddy ikut! Daddy jangan sibuk-sibuk terus, ya.” Emily memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. Eiden mengangguk, ia sudah berjanji akan berubah perlahan-lahan demi keluarga kecilnya. Ingat, mengubah kebiasaan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan!


“Grandpa diajak nggak, nih?” Cavan sengaja menggoda. Padahal, pria paruh baya itu tidak akan ikut. Ia akan membiarkan keluarga kecil itu pergi bersama-sama.


Emily yang polos jelas tidak mengetahui niat Cavan. Gadis kecil itu tidak tega untuk menolak. Berbeda dengan Darren yang paham, lelaki kecil itu mendengkus. “Udah, Grandpa. Nanti cucumu nangis, Grandpa sendiri yang kerepotan,” peringat Darren tidak ingin suasana tenang pagi ini rusak.


Cavan tergelak. “Iya, iya. Hari ini, Grandpa mau quality time sama grandma. Jadi, kalian pergi aja.”


Acara sarapan pun dimulai, kecuali Kyra. Sejak awal masuk ke mansion sebagai istri, Kyra telah memberi perintah jika masalah masak-memasak, ia yang akan mengurus. Untuk kegiatan rumah lain, wanita itu membiarkan para pelayan yang melakukan. Walaupun Eiden sempat protes karena keposesifan lelaki itu mendominasi, Kyra berhasil membujuk Eiden dengan berbagai kalimat manis.


Yang Kyra inginkan hanyalah berbakti pada keluarganya. Ia menjalankan tugasnya sebagai putri, menantu, istri, dan ibu dengan baik. Eiden, Darren, dan Emily selalu menjadi prioritas. Cavan dan Abigail pun sama. Memasak untuk keluarganya memang kewajiban, tapi Kyra melakukan dengan hati sukacita. Jadi, wanita itu tidak merasa terbebani.


“Ini bekal kalian. Mommy masukin ke tas, ya.” Kyra menutup dua kotak makan dan menaruhnya di tas kedua anaknya. “Mommy bawain sosis kesukaan kalian.”


“Mommy ikut sarapan sini.” Darren melirik kursi di dekat daddy-nya. “Mommy nggak capek emang kerja terus?”


“Emang Mommy keliatan capek?” Kyra bertanya balik.


Bukan hanya Darren yang memperhatikan Kyra lamat-lamat, melainkan seluruh keluarga. Mereka sama sekali tidak melihat sebulir keringat pun atau wajah penuh keluhan. Kyra selalu terlihat berseri-seri.


“Kerjaan kecil begini nggak akan bikin Mommy capek, Sayang. Jadi, kamu tenang aja, oke?”


Darren mencibir. Ia sesaat lupa jika mommy-nya ini seorang mafia. Memasak bukanlah hal yang berat. Wanita itu pasti pernah melakukan sesuatu yang jauh lebih berat dari ini—bertempur dengan musuh misalnya.


Setelah memastikan semua sesuai keinginan, Kyra baru bergabung untuk makan. Ia duduk di sebelah Eiden dan menuangkan air di gelas suaminya yang sudah tandas. “Habisin makanannya, Sayang. Mommy nggak suka anak-anak Mommy buang-buang makanan.”


Emily mengangguk senang. “Makanan enak nggak boleh dibuang.”


Kyra terkekeh. Pipi putrinya semakin tembam saja. Menggemaskan sekali.


...💫💫💫...


Hari ini, Kyra ikut ke Kennedy Corp sesuai permintaan Kyra sendiri. Wanita itu beralasan sedang bosan karena pekerjaannya sudah selesai di butik (padahal gaun untuk acara fashion di Paris masih belum rampung). Eiden, sih, tidak keberatan. Istrinya bisa jadi penyemangat di kantor.


Tinggallah Darren, Eiden, dan Kyra di mobil. Eiden memang tidak memakai jasa supir. Setelah mengantar putranya nanti, Eiden, kan, jadi punya waktu berdua dengan sang istri.


“Mau ngomong apa, Darren? Ngomong aja,” celetuk Kyra yang mengamati gerak-gerik Darren melalui kaca.


Darren mengerjapkan matanya beberapa kali. “Kok Mommy tau, sih, kalo Darren mau ngomong sesuatu?” Bocah itu curiga. Apa mommy-nya punya kemampuan membaca pikiran dan ia tidak tahu? Jika benar, tamatlah riwayatnya. Darren, kan, sering menyindir Kyra diam-diam.


Kyra terkekeh. “Kamu keliatan gelisah.”


Eiden melirik sekilas. “Darren mau ngomong apa?” Ia mencoba untuk lebih akrab dengan keluarganya.


“Emm... kemarin Darren ditanyain sama guru soal cita-cita, Mom, Dad,” kata Darren mulai bercerita.


“Oh, ya? Terus Darren jawab apa?” Kyra penasaran dengan cita-cita putranya. Darren jelas tahu profesi gelap kedua orang tuanya. Kyra sedikit khawatir jika bocah ini akan mengikuti jejaknya—walaupun Kyra tidak akan melarang selama itu keinginan pribadi Darren.


Eiden pun tak kalah penasaran. Ia sudah mengurus pengalihan sedikit saham perusahaan atas nama Darren. Setelah putranya itu besar, jika Darren ingin, Eiden tidak keberatan jika Darren yang memimpin perusahaannya. Bagi Eiden, Darren itu putranya, tidak perlu embel-embel ‘tiri’ segala. Lagipula, kecerdasan Darren yang sudah tampak sejak dini jelas menunjukkan kualitas anaknya itu.


“Itu masalahnya, Mom. Darren nggak tau. Darren belum kepikiran mau jadi apa.” Darren menggoyang-goyangkan kakinya. “Menurut Mommy sama Daddy, Darren harus jadi apa?”


“Itu tergantung sama kamu, Sayang,” sahut Kyra.


Eiden mengangguk setuju. “Keinginan setiap orang beda-beda. Daddy nggak bisa kasih jawaban buat pertanyaanmu itu.”


“Darren nggak perlu pikirin itu sekarang. Darren masih punya waktu buat mikirin itu,” nasihat Kyra. Wanita itu mengerti pola pikir putranya.


Biasanya, anak seumuran Darren jika ditanyai cita-cita pasti akan menjawab dengan spontan. Keinginan anak kecil, kan, masih bercampur imajinasi mereka. Tapi, Darren berbeda. Bocah itu menganggap topik cita-cita sangat serius. Jadi, ia akan memikirkannya matang-matang.


“Okay, Mom.”


...💫💫💫...


“Selamat datang, Tuan Muda,” sambut Garry melihat atasannya turun dari mobil. Lelaki itu mengatakan hal yang hampir serupa saat Kyra turun dari kendaraan yang sama.


Eiden merangkul pinggang istrinya protektif. Gaya pakaian Kyra yang elegan membuat wanita bermata hijau itu sangat memukau. Eiden tidak rela jika para karyawan laki-lakinya menatap wanitanya penuh minat begitu.


Oh, ya? Gimana soal Ilona? Bodyguard pribadi Kyra itu tidak ikut karena Kyra jelas sangat aman jika bersama Eiden.


“Ayo masuk, Sayang.” Kyra hampir melangkah bersama sang suami. Namun, sebuah suara menginterupsi.


“Nona!”


Kyra dan Eiden berbalik. “Reven? Kamu di sini?” Ia keheranan melihat tangan kanannya berada di pekarangan Kennedy Corp. “Sedang apa kamu di sini?”


“Nona, ada sesuatu yang harus saya sampaikan.” Reven benar-benar terpaksa datang kemari. Ada berita darurat yang harus diketahui Kyra secepatnya.


Melihat raut serius Reven, Kyra langsung mengubah raut wajahnya. “Ada apa?”


^^^To be continue...^^^