
Jam berganti dengan cepat. Bersamaan dengan waktu, kepanikan melanda mansion Eiden.
Kyra dinyatakan hilang. Wanita yang berpamitan untuk pergi ke rumah Ansel itu ternyata tidak pernah sampai ke tujuan. Mobil, ponsel, dan segala aksesoris ditemukan tak jauh dari rumah Ansel, namun si pemilik tidak ada.
Bukan hanya keluarga Eiden yang panik. Ansel dan Adaline pun gelisah. Ansel ikut turun tangan untuk mencari adik perempuannya. Sedangkan Adaline dititipkan di mansion Eiden bersama keluarga Eiden yang lain. Untungnya, Kyra sudah pernah menceritakan mengenai ibunya yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa lalu kini tinggal bersama sang kakak. Jadi, keluarga itu tidak terlalu kaget.
Hingga malam bertambah larut, Kyra masih belum ditemukan. Eiden memerintahkan seluruh anak buahnya supaya menyebar ke segala area di Jakarta dan sekitarnya. Sekiranya tidak ketemu, besok pagi Eiden akan mencari ke luar Jakarta.
Prasangka buruk mengintai. Entah itu Ansel maupun Eiden, keduanya sama-sama tidak bisa tenang. Ini menyangkut wanita yang mereka cintai.
Di mansion, Darren gusar di posisi. Ia melirik Emily yang meraung-raung, merengek ingin bertemu dengan Kyra. Abigail dan Cavan sampai kewalahan menghadapi cucu mereka. Darren yang mengerti situasi berusaha tidak menambah kericuhan, ia tidak mau aksinya malah membebani para orang dewasa.
Sebenarnya, ada praduga mengenai lokasi Kyra saat ini. Namun, Darren tidak terlalu yakin karena Kyra tidak memberitahu rencananya.
Kini, Darren mulai sadar jika usahanya masih belum maksimal. Berada di kondisi semacam ini yang bisa Darren lakukan hanyalah menanti, berharap, dan berdoa. Tidak ada satu pun yang bisa membantu.
No, Darren nggak bisa terus-terusan kayak gini. Darren harus ngelakuin sesuatu, tapi apa?!
Darren frustrasi sendiri. Ia pernah dikenalkan komputer oleh mommy-nya. Bagaimana caranya melacak, meretas, dan berbagai keahlian lain yang berhubungan dengan gadget tersebut, Kyra telah tunjukkan. Namun, Darren tidak pernah memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang penting.
Seandainya dulu Darren belajar dengan sungguh-sungguh, mungkin saat ini ia bisa membantu melakukan sesuatu. Sialnya, bocah itu tidak bisa!
Habis ini Darren mau belajar komputer! Harus bisa pokoknya!
Darren terkejut ketika kepalanya diusap. Ketika mendongak, ia bertemu dengan sepasang bola mata hijau yang mirip sepertinya. “Jangan khawatir. Mommy-mu orang yang kuat,” ucap Adaline.
Darren mengangguk pelan. “Iya, Oma,” lirihnya.
...💫💫💫...
“BRENGSEK! Gimana kinerja kalian, hah?!! Cari satu wanita saja tidak bisa!” seru Eiden murka. Ia menatap seluruh anggota Blood Moon yang menunduk. “Saya tidak mau tahu! Cari istri saya sampai ketemu! Jika kalian gagal, kepala kalian akan saya tebas jadi dua!”
“Baik, Tuan.” Para anggota Blood Moon itu kembali keluar untuk berpencar. Walaupun setiap jalan telah ditelusuri, mereka akan tetap mencari. nyonya muda mereka yang menjabat sebagai pawang singa sehingga tidak boleh dibiarkan hilang.
Michael dan Erry yang melihat tingkah Eiden turut iba. Sepertinya cinta Eiden pada Kyra jauh melebihi apa yang mereka duga. Eiden sefrustrasi itu ketika kehilangan sang istri.
“Eiden, lebih baik kamu pulang dulu sekarang,” saran Michael.
Spontan Eiden menghunuskan sorot mata tajamnya. “Pulang? Kamu bilang pulang?! Kamu pikir aku bisa pulang, hah?!!” bentaknya emosi. Yang ia inginkan detik ini hanyalah kabar bahagia mengenai Kyra yang ditemukan. Pulang ke mansion tidak akan mempengaruhi suasana hatinya.
“Kami tau kamu khawatir. Tapi, kamu harus inget, Eiden, anak-anak kamu ada di mansion. Mereka juga butuh kamu,” jelas Michael. “Emily sama Darren pasti juga lagi cemas banget di rumah.”
Tubuh Eiden menegang. Karena kepanikannya, ia sampai lupa tentang kedua anaknya di mansion. Lelaki itu yakin jika putrinya saat ini tengah menangis hebat. Namun, itu lebih baik karena Emily punya cara untuk mengungkapkan perasaan. Tapi, Darren?
Bocah itu pasti diam saja. Memendam perasaannya sendiri demi menjaga ketenangan supaya tidak bertambah keruh. Darren yang terlalu cerdas kadang sulit ditebak.
Eiden menghela napas kasar. “Kabarin aku kalo ada info soal Kyra,” pesannya sebelum pergi dari markas Blood Moon.
Sepanjang perjalanan, berulang kali Eiden mengatur napas. Ia tidak ingin membuat putra-putrinya bertambah gelisah dengan sikapnya. Tiba di mansion, kehadirannya sudah dinanti-nanti oleh Cavan, Abigail, Adaline, Darren, dan Emily.
Sesuai terkaan, paras Emily basah dan memerah karena habis menangis. “Daddy, mommy mana? Kok nggak pulang sama Daddy?” tanyanya di sela isakan.
Eiden berusaha mengulas senyum. Ia merengkuh putrinya dengan pikiran penuh. “Mommy pasti baik-baik aja,” bisiknya.
“Hiks... berarti mommy belum ketemu?”
Bibir Emily kembali mengerucut. Eiden terpaksa menggendong bocah itu, lalu membawanya ke kamar Emily. Butuh usaha untuk menenangkan gadis kecilnya hingga bisa terlelap sebab terlalu lelah meneteskan air mata.
Beralih pada sang putra, Eiden menemukan Darren yang terdiam di kamar. Bocah itu duduk termenung di ranjang sambil menatap foto Kyra. Eiden mendekat dan duduk di samping Darren.
“Mommy diculik, Dad?” tanya Darren ingin tahu.
Eiden mengangguk. Namun, sedetik kemudian, menggeleng. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi sebenarnya. Pasalnya, Kyra tidak memberitahu siapa pun mengenai kepergiannya ke markas.
“Daddy pasti temukan mommy.” Eiden berusaha menenangkan putranya.
Sayangnya, Darren bukan Emily yang akan percaya begitu saja dengan kalimat-kalimat penenang seperti itu. Darren tetaplah Darren, bocah cerdik dengan segala pemikirannya.
“Mommy pasti pulang besok,” tutur Darren yakin. Firasatnya mengatakan kalau Kyra baik-baik saja. Ada kemungkinan jika wanita itu sekarang berada di markas mafia. Makanya, perginya diam-diam. “Daddy nggak usah cari mommy lagi. Besok pasti pulang.”
Eiden mengernyit. Dari mana keyakinan Darren berasal?
“Kamu tau dari mana?” tanya Eiden.
Darren menatap daddy-nya dengan bola mata bergetar. Di satu sisi, ia terikat janji untuk tidak mengatakan identitas sang mommy kepada siapa pun. Namun, membohongi Eiden nyatanya membuat perasaan Darren memburuk. “Karena ini bukan pertama kalinya mommy hilang, Daddy. Mommy sering nggak pulang dulu, waktu mommy sama Daddy belum menikah.”
Eiden sukses dibuat terkejut. Lelaki itu baru tahu mengenai fakta yang satu ini. Kyra jarang pulang? Lalu ke mana perginya wanita itu?
“Kamu tau mommy ke mana?” Nada bicara Eiden terdengar serius.
Darren menghela napas berat. Ia mengangguk dengan sedikit keraguan. “Tau,” lirihnya. Ia menatap ke luar jendela. “Mommy punya rahasia, Daddy. Tapi...”
“Tapi?” Sumpah, Eiden penasaran bukan main.
“Tapi, Darren udah janji sama mommy buat nggak cerita sama siapa pun, termasuk Daddy. Jadi, maaf. Darren nggak bisa kasih tau.”
Eiden membisu. Dugaannya benar. Istrinya itu memiliki sesuatu yang tidak biasa dan belum pernah diceritakan padanya. Faktanya lagi, Darren mengetahui ‘sesuatu’ yang tidak ia ketahui itu. Eiden ingin tahu, tetapi ia tidak bisa memaksa putranya mengaku.
“Kemarin mommy bilang, mommy mau kasih tau Daddy sendiri biar nanti Daddy nggak salah paham. Jadi, Darren nggak mau dahului mommy.” Darren menghela napas berat. “Yang pasti, mommy sekarang baik-baik aja. Dia pasti pulang besok.”
Eiden mengulas senyum tipis. Tangannya terulur mengusap kepala putranya. “Iya, terima kasih informasinya, ya.”
Darren tersenyum kecil. “Daddy nggak marah, kah?”
“Marah? Marah kenapa?”
“Mommy, kan, udah nyembunyiin sesuatu dari Daddy. Apa Daddy nggak marah?”
Eiden berpikir sejenak. “Daddy emang sedikit kecewa. Tapi, Daddy yakin kalo mommy pasti punya alasan kuat. Daddy lebih memilih buat percaya sama mommy, Nak. Jadi, Daddy nggak marah.”
Darren terkekeh. “Emang, sih. Bener kata temen-temen.”
Eiden bingung. “Apanya?”
“Daddy sekarang jadi bucinnya mommy.”
^^^To be continue...^^^