
Klikk..
“HAPPY BIRTHDAY, DARREN!” seru semua orang yang hadir.
Darren menatap mereka dengan senyum lebar. “Wah! Kalian ngapain, sih?”
“Eh?”
Semua orang memandang Darren bingung. Oke, kita sebutkan dulu siapa saja yang hadir, ya. Ada Eiden, Kyra, Emily, Abigail, Cavan, Adaline, Ansel, Mauren, Reven, Garry, Michael, Erry, Kelvin, Marvin, Levi, Cahaya, Jasper, dan masih banyak lagi. Gila, sih, orangnya memang sebanyak itu. Belum dihitung para bawahan Eiden dan pelayan mansion.
“Sayang, ini kejutan ulang tahun kamu,” ucap Kyra mewakili semua tamu yang hadir.
Darren manggut-manggut. “Darren tau. Darren inget, kok, kalo ini hari ulang tahun Darren.”
“Kamu inget dari awal?” tanya Cavan.
“Iya,” jawab Darren enteng. Toh, ia sebenarnya sudah bisa menduga jika keluarganya tengah menyiapkan pesta kejutan. Pasalnya, sang mommy maupun daddy tidak mengungkit apa pun mengenai hari peringatan lahirnya ini. Jadi, Darren tidak terlalu terkejut, sih.
Bahu setiap insan di sana seketika meluruh. Jadi, usaha mereka untuk tetap bungkam sejak pagi sia-sia? Bocah itu ingat sejak awal!
Ansel memutar bola matanya malas. “Tau gitu nggak perlu capek-capek nyiapin beginian,” celetuknya.
Kyra memukul lengan kakaknya sembari melotot, kode agar Ansel tidak berkata macam-macam. Tidak ada yang sia-sia. Pesta masih bisa dilanjutkan meskipun si pemeran utama hari ini telah menghancurkan hati beberapa insan.
“Walaupun kejutannya gagal, pestanya nggak. So, selamat ulang tahun, Anak Mommy.” Kyra menghampiri putranya dan mencium puncak kepala anak itu. Darren menggumamkan kata terima kasih sebelum berpindah memeluk Emily, adiknya yang kelewat antusias. Pakaian gadis kecil itu benar-benar cantik dengan dress mengembang berwarna pink.
Siapa yang ulang tahun, siapa yang semangat. Haduuh...
“Tiup lilinnya, Sayang,” suruh Abigail.
“Make a wish dulu, Nak,” sahut Adaline tersenyum lembut. Kondisi psikis mama Kyra kian membaik seiring berjalannya waktu. Ia mulai bisa berbaur di antara kerumunan walaupun kadang masih terasa kurang nyaman baginya. Namun, Adaline berusaha keras untuk sembuh, ia tidak ingin membebani pikiran anak-anaknya.
Darren memejamkan matanya sejenak, mengucapkan doa di dalam hati, lalu membuka matanya kembali dan meniup lilin. Tepuk tangan riuh terdengar menyambut.
Acara selanjutnya adalah potong kue. Anak itu membelah kue dengan ukuran tepat dan disodorkan pada Kyra. “Untuk Mami-ku sayang. Terima kasih udah jaga Darren sampai sekarang, berjuang buat Darren, dan selalu ada buat Darren. Terima kasih buat semua ajaran yang Mommy kasih. Love you,” ucap Darren tulus yang diakhiri dengan sebuah kecupan di pipi Kyra.
Wanita beranak dua itu tersenyum haru. Ia menerima kue dan mengacak rambut putranya gemas.
Untuk kue kedua, Darren tampak bingung. Namun, ia memutuskan untuk memberikannya pada Emily, adik tirinya—yang menjadi akar dari segala perubahan di hidup Darren. Seandainya ia tidak bertemu Emily, mungkin saat ini ia hanya akan hidup bersama Kyra.
Perasaan Darren pada Emily-lah yang membuat lelaki kecil itu mampu mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
“Terima kasih, Kakak.” Emily tersenyum lebar ketika menerima kue dari Darren. Ia memakannya dengan semangat hingga belepotan krim di sekitar bibirnya.
Kue ketiga untuk Eiden. “Ini untuk Daddy. Terima kasih sudah terima Darren. Walaupun Darren agak kesel sama Daddy karena Daddy sering monopoli mommy, but no problem. Darren yakin Daddy adalah daddy terbaik versi Daddy sendiri. Mungkin Daddy jarang punya waktu di rumah, tapi Darren tau kalo Daddy selalu berdiri paling depan kalo Darren atau Emily dalam masalah. Terima kasih buat semuanya, Daddy.” Bocah itu tersenyum tulus hingga bola matanya menyipit.
Eiden menerima kue dari Darren dengan senyum paling kentara. Kalimat putranya sukses merengkuh relung hatinya yang terdalam. Bahkan, Eiden merasa sepasang netranya mengabur, ingin menitikkan air mata.
“Tapi, Emily maunya Daddy sering-sering di rumah,” sahut Emily kurang terima. “Daddy jangan kerja terus-terus.”
Eiden tertawa seraya mengusap sudut matanya. Ia mengiyakan, lalu mencium kepala Emily dan Darren bergantian.
Karena penasaran, Darren langsung membuka hadiah dari grandma-nya. Ketika dibuka, suara kesiap terdengar dari segala penjuru. Terutama Kyra yang syok karena ibu mertuanya memberikan sebuah mobil pada putranya.
Mobil, guys! Mobil sungguhan, bukan mainan! Untuk putranya yang berusia 7 tahun!
“Kunci mobil?” Darren mengangkat benda besi itu dengan tatapan mengerut. “Grandma sama Grandpa belikan Darren mobil?”
“Iya, Sayang. Mobilnya ada di luar. Kamu suka?” Abigail menatap cucunya penuh harap.
Darren meneguk salivanya diam-diam. Ditanya suka atau tidak, tentu saja ia menyukainya. Hanya saja... ia, kan, tidak bisa menyetir. “Suka, Grandma. Tapi, Darren, kan, belum butuh mobil pribadi sekarang. Darren masih kecil,” katanya sehalus mungkin, takut menyakiti perasaan dan niat baik Abigail.
Abigail mengibaskan tangan, pertanda tak masalah. “Kamu, kan, bisa pake supir sekarang. Nanti kalo udah bisa nyetir, kamu bisa pake mobilnya. Dijaga, ya, Sayang.”
Tidak ada pilihan lain. Darren pun mengangguk pasrah, kemudian mengucapkan terima kasih.
Hadiah yang Darren buka selanjutnya adalah dari Kyra. Bola matanya berbinar seketika kala menemukan replika senjata favoritnya dalam bentuk miniatur. Ternyata dibalik sifat jail, dewasa, dan bijak Darren selama ini, bocah itu adalah penggemar senjata api. Ia suka mengoleksi aneka macam senjata, bahkan bermimpi mahir menggunakannya.
Bagaimanapun, darah mafia mengalir pada tubuh Darren. Mau berkelit hingga sepanjang abad pun, fakta bahwa Darren adalah putra penguasa selanjutnya adalah kebenaran.
“Thank you, Mommy.” Darren memeluk hadiah Kyra senang.
“Karena umur kamu udah 7 tahun, mulai sekarang Mommy sendiri yang akan latih kamu. Paham?” Kyra mengedipkan sebelah matanya.
“Apa latihan pake senjata juga?” Darren tampak antusias, bola matanya berbinar.
“Of course, Boy.”
“Yes!”
Eiden geleng-geleng. Ia mengalihkan atensi Darren dengan memberikan kado darinya. “Ini dari Daddy.”
“Thank you, Dad.” Darren hendak membukanya. Namun, suara seseorang sukses menarik perhatian semua orang.
“Wah, ada acara apa ini?”
^^^To be continue...^^^
...💫💫💫...
Hai, semua. Salam sayang dari Ay.
Terima kasih kalian masih setia sama cerita ini. Semoga kalian masih sanggup nunggu Ay update, ya😅
Ay udah mulai ujian minggu depan. Yang artinya Ay harus fokus belajar. Maaf kalau cerita ini bakalan gantung lagi. Ay nggak pernah ada niatan buat berhenti atau gantungin cerita. Kan, kasihan sama para pemeran kita, Eiden dan Kyra. Keduanya harus dapet akhir bahagia(?)
Ngomong-ngomong, Ay dan sekeluarga mengucapkan,
“Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.”
See you next time😉