Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 28 | Kamu Dukung Mereka?



“Saya sudah membuat keputusan, Tuan, Nyonya.”


Ketiga insan di depannya mengerutkan kening, bingung.


“Mengenai tawaran pernikahan,” tambah Kyra.


“Ah...” Abigail memberi sorot penuh harap. “Jadi, bagaimana, Nak? Kamu terima tawaran kami, kan?”


Kyra menggeleng tegas. “Maaf, Nyonya, Tuan, saya menolak tawaran pernikahan ini.”


Syok. Seluruh insan yang memasang raut penuh harap langsung tergantikan. Mereka tidak menyangka jika Kyra akan menolak. Bahkan, Darren ikut terkejut dengan keputusan maminya. Pikir lelaki kecil itu, maminya akan setuju menikah dengan Om Eiden.


“K–kamu menolak, Nak?” ucap Abigail terbata-bata, tidak menyangka sama sekali. “Tapi, kenapa?”


“Kejadian kemarin membuka mata saya, Nyonya. Hanya sekali. Hanya sekali saya dan anak saya makan siang bersama putra Anda, tapi anak saya langsung diculik. Jika saya setuju, mau berapa kali putra saya akan diculik oleh musuh Anda? Beratus-ratus kali?” Kyra menggelengkan kepalanya. “Maaf, Nyonya, Tuan. Saya seorang ibu. Anak saya akan tetap jadi prioritas. Masuk ke keluarga ini hanya akan menambah daftar bahaya yang mengintai, bukan kesenangan.”


“Saya tidak ingin Darren terluka. Saya tidak ingin ada insiden penculikan lagi ke depannya. Profil saya saja sebagai designer sering membuat anak saya terancam. Saya tidak ingin mengambil risiko. Jadi, maaf, keputusan saya sudah bulat. Saya tidak bisa menerima pernikahan ini,” papar Kyra logis.


Eiden membisu. Lidahnya kelu untuk sekadar melayangkan pembelaan bagi dirinya sendiri.


Ya, Kyra benar. Masuk ke dalam keluarga Kennedy, artinya orang-orang itu harus siap mempertaruhkan nyawa. Bahaya selalu mengintai keluarga Kennedy, di mana pun tempatnya. Terutama Eiden, si penarik perhatian karena ia-lah sang pemimpin.


Orang yang dekat dengan Eiden saja terancam, apalagi orang-orang yang menjadi bagian hidup Eiden. Sudah jelas hidup mereka tidak akan tentram.


“Nak, tapi—”


Eiden menyentuh bahu Abigail, menggeleng pelan sebagai kode. Mamanya tidak berhak memaksa Kyra lebih dari ini. Bagaimanapun keputusan sudah dibuat. Tidak akan ada pernikahan(?).


“Mommy...” lirih Emily berkaca-kaca. “Mommy nggak mau jadi mommy Emily?”


Kali ini, Kyra menguatkan diri untuk memalingkan wajah. Bukan tidak mau, hanya saja... ada banyak hal yang sudah ia pertimbangkan. Menikah dengan Eiden hanya akan menimbulkan masalah baru.


“Kak Darren...” panggil Emily. Ia mendekat dan menggoyangkan lengan Darren. “Kakak, ayo bujuk mommy. Mommy pasti dengerin Kakak.”


Darren memandang maminya sebentar, lalu Emily. “Kamu mau aku bujuk mami?”


Emily mengangguk. “He‘um.”


Darren menatap maminya lekat. “Mami, Mami serius mau nolak?”


Kyra balas menatap putranya dalam. “Iya, kenapa? Kamu mau jadi bagian dari mereka?”


“Nggak juga, sih,” gumam Darren yang masih bisa didengar orang lain. Wajah keluarga Kennedy langsung berubah muram, terutama Eiden. Lelaki itu berpikir jika usahanya memang masih sangat kurang untuk mendekati Darren. “Tapi, kenapa Mami nolak? Darren mikirnya Mami setuju, lho. Semalem Darren udah siapin mental malahan.”


“Siapin mental apaan?”


“Ya.. mungkin aja, kan, hari ini Darren dapet oma baru. Cantik pula, lumayan dong.”


Cavan langsung menatap Darren sengit. Ia meraih pinggang istrinya dan mendengkus. Masih kecil modusnya minta ampun. Gimana kalo udah besar? Bener-bener bibit playboy!


Tidak jauh berbeda, Kyra ikut melotot. “Apanya yang lumayan?!” sewotnya.


“Em.. lumayan buat dijadiin pemandangan ketika bangun tidur?” Darren langsung memekik melihat maminya mengeluarkan aura permusuhan yang kentara. Bocah laki-laki itu langsung bersembunyi di belakang Emily. “Bercanda, Mi. Serius!” Mengangkat jari telunjuk dan tengah.


“Kamu—kecil-kecil udah begini?! Besarnya mau jadi apa, heh?!” omel Kyra berkacak pinggang.


Nah! Cavan tersenyum puas karena perasaannya tersampaikan lewat Kyra. Bagus, wanita muda. Ayo lanjutkan.. Abigail menatap suaminya aneh.


“Hanya menghargai perempuan cantik. Apa salahnya, kan, Mi?”


Darren tersenyum lebar. “Aunty Mauren!”


Sialan kamu, Mauren! Liat aja pembalasanku! Apa yang kamu ajarin sama anakku!?!!


“Nggak usah didengerin. Ajaran Mauren nggak bener!”


“Tapi, kata aunty, ini berguna buat Darren di masa depan. Walaupun Darren nggak paham, tetap Darren pelajari.” Darren bersikukuh bahwa pembelajaran Mauren tidak salah.


Kyra geleng-geleng. “Udah, udah. Ayo kita pulang sekarang.”


Sontak Emily mengeratkan pelukannya di lengan Darren. Anak Kyra itu langsung memutar kepala, menatap Emily yang menangis tanpa suara di sebelahnya. Dibandingkan tangis meraung-raung, tangis tipe diam jauh lebih menyayat hati orang lain.


“Mami beneran nolak, ya?” tanya Darren sekali lagi. “Padahal, menurut Darren pernikahan ini ada untungnya, lho.”


Kyra memicingkan matanya. “Apa?”


Darren tersenyum. Maminya mulai terpancing. “Darren sudah diculik dengan Emily. Kemarin Darren dengar sendiri kalo mereka itu disuruh sama seseorang buat culik kami. Berarti mereka punya bos dan bos ini belum tau siapa. Jadi, musuh sebenarnya masih belum ditemuin, kan?”


Kyra mengangguk. Dia tahu itu. Makanya, ia ingin segera pulang untuk memberi perintah pada anak buahnya.


“Musuh itu taunya, Mami, Darren, Om Eiden, sama Emily berhubungan. Sekalipun Mami putusin hubungan ini, musuh taunya kalo kita berhubungan. Jadi, mutusin hubungan ini belum tentu bawa kebaikan. Karena di mata mereka, kita dianggap sebagai pihak yang dekat sama Om Eiden. Benar?”


Kyra manggut-manggut, membenarkan dalam hati. Walaupun ia memutuskan hubungan dengan Eiden, si sumber masalah di sini, belum ada kepastian jika ia dan Darren akan dilepas dari daftar target.


“Bisa aja, kan, nanti setelah kita pulang, kita dicegat atau diculik di rumah? Disandera di rumah? Hiii... Darren ngeri tau.” Bocah itu bergidik ngeri.


Cavan langsung tersenyum cerah. Sepertinya ia tahu arah pembicaraan Darren. Eiden pun mengulas senyum diam-diam, wajah Kyra yang berpikir keras sangat menggemaskan di matanya.


“Makanya, menurut Darren, menikah sama Om Eiden malah jadi keputusan terbaik. Daripada kita menolak, tapi tetep diincar, bukannya malah lebih baik kalo kita di sini? Om Eiden, kan, orang kaya. Nanti bisa kasih perlidungan atau semacamnya gitu. Lumayan dong.”


Kyra manggut-manggut lagi. Dari segi penjelasan Darren, ia mulai bisa menangkap keuntungan menikah dengan Eiden.


“Apalagi Mami nggak perlu ngeluarin uang buat nyewa pengawal atau bodi.. em.. bodi... ah, apalah itu. Biar Om Eiden aja, kan, tugas suami. Uang Mami selamat. Nguntungin, kan?” kata Darren semangat.


“Iya, sih. Nguntungin juga.” Kyra manggut-manggut.


Cavan, Abigail, dan Eiden sontak menutup mulut dengan tangan, menahan tawa mereka yang hampir tersembur. Beberapa pelayan dan penjaga yang mendengar bahkan menggigit bibir bawah masing-masing supaya tawa mereka tidak pecah. Kenapa Kyra semudah itu dipengaruhi?


Semenggemaskan itu seorang Kyra.


“Jadi, lebih baik Mami terima?” tanya Kyra dengan raut polos.


Darren mengangguk kuat. “Iya, Mami. Gimana?”


“Ya udah, deh. Kalo gitu—eh, bentar!” Seketika Kyra tersadar.


Darren meneguk salivanya susah payah. Sepertinya metode ‘mempengaruhi’ maminya mulai goyah. Bisa gawat, nih. Perlahan-lahan Darren mengambil langkah mundur.


Kyra membelalakkan matanya. “KAMU SEKARANG DUKUNG MEREKA, DARREN?!” pekiknya baru menyadari hal tersebut.


Darren cengengesan. Ia mengatupkan tangannya di depan wajah. “Ee.. nggak gitu, kok, Mi. Darren cuma—”


“CUMA APA?!” Kyra berkacak pinggang dengan sorot tajam. “Mulai berani, ya? Sekarang bukan dukung maminya, malah dukung orang lain.”


“Ih, mana ada. Darren cuma....”


^^^To be continue...^^^