
Eiden tiba di sekolah Darren dan Emily bersama Garry dan Erry tepat 13 menit setelah menerima kabar penculikan. Mereka harus menyelidiki beberapa hal di tempat peristiwa, termasuk menanyai para guru mengenai kejadian.
Pandangan Eiden bersirobok dengan bola mata hijau mengilat di ujung sana. Ternyata Kyra sudah sampai lebih dulu. Wanita itu nampak tenang, namun sorot matanya mengatakan lain. Terpancar jelas binar gelisah pada sepasang mata indah tersebut.
Eiden berniat menghampiri guru yang berada di dekat Kyra. Yang didekati langsung menundukkan kepala, gugup setengah mati. Tubuhnya bergetar ketakutan.
“Kau—”
“Jangan membuang waktu, Tuan. Tidak ada petunjuk apa pun di sini.” Kyra menahan lengan Eiden yang ingin mendekati guru yang sempat berbincang dengannya. Ia menghela napas berat. Perasaannya benar-benar kacau.
Eiden memandang Kyra intens. “Kau baik?”
“Ibu mana yang baik-baik saja ketika putranya diculik, Tuan?” desis Kyra geram. Dalam hati, wanita itu bersumpah akan menghabisi siapa pun yang menjadi dalang dibalik penculikan ini.
“Kita pasti akan menemukan anak kita,” tutur Eiden menenangkan.
Kyra tahu Eiden berusaha menenangkannya. Sayangnya, ia malah gagal fokus dengan kata ‘anak kita’ yang terlontar. Entah mengapa sukses mengundang desiran aneh di tubuhnya. Sadar apa yang dirasakan, buru-buru ia menggeleng cepat, mengenyahkan asumsi aneh di kepala.
Eiden mengerutkan dahi. “Kau baik?”
“Hm, ya.”
Ting!
Ponsel Kyra berdenting. Ia membuka sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
...__________...
...08**********...
...offline...
• D E baik
• Aman, 19 org, senjata
• share location
...__________...
Senyum Kyra mengembang. Ia tahu siapa pengirim pesan misterius itu.
“Ada apa?” tanya Eiden penasaran. Air muka Kyra langsung berubah usai menilik layar ponsel. Pasti ada sesuatu, kan.
“Saya tau anak-anak di mana, Tuan.” Kyra menunjukkan layar ponselnya. “Darren mengirim lokasi mereka pada saya.”
...💫💫💫...
Beberapa menit yang lalu...
Sepanjang perjalanan di mobil penculik, Darren duduk tenang di jok tengah. Sedangkan Emily menangis di sebelahnya. Suaranya yang melengking membuat empat pria—termasuk supir—menggeram kesal.
“Hei, Bocah! Bisa diam tidak!” bentak salah satu pria.
Emily terlonjak kaget. Ia beringsut ke belakang Darren. Tubuhnya bergetar ketakutan, kedua tangannya diikat di depan badan. “Kakak... takut,” lirihnya.
Darren mengangkat tangannya dan memasukkan Emily ke dalam rengkuhan—karena kedua tangannya pun sama terikat. “Sudah, Kakak di sini. Jangan takut.” Ia menempelkan sejenak bibirnya di kening Emily, tindakan yang biasa Kyra lakukan acap kali menenangkan Darren. “Kamu liat, kan, om-om ini bawa pistol. Nanti kalo kamu nangis terus malah ditembak. Emily mau ditembak?”
Emily langsung menggeleng cepat.
“Ya udah, diem aja.” Darren menyandarkan pipinya di atas kepala Emily.
Pria-pria tadi jadi lega. Suasana tidak sericuh tadi. Ternyata bocah laki-laki yang dibawa lumayan berguna.
Mereka tiba di sebuah bangunan tak terpakai di pinggiran kota. Darren turun setelah disuruh.
Darren menghela napas singkat. “Om, Om mau anak perempuan ini nangis kenceng kayak tadi? Saya, kan, cuma mau nungguin dia turun biar jalan bareng. Seenggaknya telinga kita sama-sama selamat, kan?”
Pria tadi kesal, namun tidak bisa membantah. Dia mana mau mengurusi anak kecil yang rewel seperti Emily. Alhasil, pria penculik itu membiarkan Darren dan Emily berjalan beriringan.
“Wow, this place is so dirty,” komentar Darren saat menapaki lantai bangunan yang kotor.
“Sudah, diam saja kamu!”
Darren menurut. Ia mengikuti perintah tanpa membantah sedikit pun. Jika kalian berpikir bocah itu pasrah-pasrah saja diperlakukan seperti ini, maka persepsi kalian salah besar. Buang jauh-jauh asumsi tersebut, Darren tidak selemah yang terlihat.
Bola mata hijaunya memandang sekitar dengan jeli. Ia menghitung jumlah penculik yang berjaga di bangunan tersebut. Otak cerdasnya berusaha mencari celah terbaik untuk mengambil kesempatan, entah itu kabur atau semacamnya. Intinya, Darren sedang menganalisa situasi sekitar.
Hm, lumayan..
“Kalian diam di sini!” seru pria yang menggiring Darren dan Emily. Kedua bocah itu dimasukkan ke dalam sebuah ruangan kumuh yang penuh barang.
“Om, apa talinya nggak dibuka dulu?” tanya Darren.
Pria itu mendesis. Tanpa menjawab, ia menutup pintu kencang dan menguncinya dari luar.
Emily menatap kakak kesayangannya dengan mata berkaca-kaca. “Emily takut, Kakak.”
Darren tersenyum. “Percaya sama Kakak, kita akan baik-baik aja. Kamu jangan takut, kan, ada Kakak.” Ia menggenggam tangan Emily dan mengajaknya duduk di kardus bekas. “Kamu diem sebentar, Kakak mau mikir dulu.”
Emily mengiyakan. Gadis kecil itu menaruh kepalanya di paha Darren yang sengaja meluruskan kakinya. Matanya dipaksa terpejam, berharap setelah bangun nanti yang ia lihat bukanlah tempat kotor ini.
Oke, ayo otak. Darren butuh kerja samanya.
Darren melirik sekitar. Diliat dari ruangan, celah Darren buat kabur itu cuma 20% karena ruangan ini terlalu tertutup. Ada dua jendela, tapi dikasih besi. Apalagi Darren diculik sama Emily. Stamina Emily udah nggak full karena dia udah nangis plus ketakutan. Jadi, bawa Emily lari buat kabur itu pilihan yang jelek.
Penjahat di luar juga lumayan banyak, ada 19 orang. Darren nggak mungkin nipu mereka semua kayak biasanya.
Kalo nggak bersenjata, sih, masih bisa. Tapi, mereka bawa pistol semua. Darren nggak bisa ngelawan walaupun Darren bisa beladiri sedikit karena ajaran mami.
Jadi, satu-satunya cara di sini adalah... hubungi mami.
Darren menatap Emily yang tertidur pulas. Sesekali terdengar sesenggukan karena habis menangis dari bibir gadis kecil di pangkuannya ini.
Bermodalkan gigi, Darren menariki tali yang mengikat tangannya. Beruntung para penjahat tadi menyatukan lengan di depan tubuh, bukan di belakang. Posisi ini lebih menguntungkan untuknya.
Memang butuh waktu, tapi Darren berhasil melepas simpul. Ia memejamkan mata dan menajamkan pendengaran. Suara tapak kaki yang berseliweran membuatnya yakin jika para penculik itu mengawasi mereka dengan berjalan ke sana kemari.
Tas di punggungnya juga sudah diambil. Tapi, ada satu barang lain yang tidak penculik itu sadari. Sebuah alat di pinggang Darren.
Bentuknya seperti ikat pinggang dengan kotak tipis berukuran sedang di sisi samping. Hanya saja benda itu melilit langsung tanpa pemisah—dipakai di badan Darren tanpa memakai celana. Alhasil, alat itu tertutupi baju seragamnya.
Alat itu merupakan ciptaan Kyra. Berfungsi layaknya ponsel darurat yang bisa mengirim pesan, lokasi, melakukan sambungan telepon, dan alat pelacak. Benda ini melekat semenjak Darren diculik pertama kalinya kala lelaki kecil itu berusia 4 tahun.
Ya, Darren memang sudah dididik bagaimana cara terbaik untuk menyikapi situasi semacam ini. Yang paling ditekankan adalah.. selalu tetap tenang.
Darren mengambil kotak pipih tadi dan menyalakannya. Ia langsung mengirim pesan singkat pada sang mami, satu-satunya nomor yang terdaftar di benda tersebut.
Setelah terkirim, Darren mematikan benda tersebut dan mengembalikannya ke posisi semula. Ia merapikan seragamnya. Lanjut melilitkan tali ke tangannya semula walaupun tidak kencang, setidaknya mirip bahwa dia masih dalam keadaan terikat.
Sekarang Darren tinggal tunggu mami... dan Om Eiden datang.
Bocah itu menunduk, menatap Emily yang mendengkur halus di pangkuannya. “Apa Om Eiden khawatir juga, ya, sama Darren?” gumamnya pelan.
Atau om cuma khawatir sama Emily?
^^^To be continue...^^^