
“Eiden,” panggil Kyra tanpa mengalihkan fokusnya dari kue di hadapan.
“Hm?” Eiden bergumam. Ia sibuk mengendus-endus leher Kyra.
“Kamu nggak ada yang mau diceritain ke aku?”
Eiden mengerutkan dahi. “Cerita soal apa, Sayang? Setauku, semua rahasiaku kamu udah tau, kan.”
Kyra membalikkan tubuhnya. Wanita itu mengalungkan tangan di leher tanpa menyentuh kepala suaminya karena tangannya berlumuran tepung. “Soal mantan istrimu? Kamu belum cerita, kan?”
“Ah..” Eiden baru teringat pasal mantan istrinya karena terlena dengan kehidupan barunya—yang jauh lebih membahagiakan. “Kamu mau tau soal apa, Sayang? Aku nggak cerita karena males bahas dia.”
“Mungkin... kayak dia yang sekarang ada di Indonesia?”
Eiden terdiam. Ia tahu bahwa Clara telah kembali beberapa hari lalu melalui mata-mata yang ia kirim. Namun, Eiden tidak acuh mengenai hal tersebut. Asalkan Clara tidak mengganggu keluarga kecilnya, itu sudah lebih dari cukup.
Eiden pun kembali teringat jika sang istri bukan orang sembarangan. Wanita itu memiliki kekuasaan yang mungkin hampir sama atau bahkan melebihi dirinya. Mengingat klan Black Rose terkenal di berbagai negara karena senjata ciptaan mereka yang efisien dan efektif.
“Iya, dia pulang ke Indonesia beberapa hari lalu, Ra. Tapi, aku nggak peduli. Selama dia nggak ganggu kita, aku bodo amat. Lupain soal dia, kita fokus ke acara hari ini aja.” Eiden mencium leher Kyra dan sedikit menyesapnya. “Nanti malam aku ceritain semuanya.”
Kyra mengangguk setuju. Bercerita sekarang hanya akan membuat mood-nya hancur. “Aku tunggu nanti malam.”
“Tapi, ada syaratnya.” Eiden menyeringai, bola matanya berpendar penuh maksud.
Kyra yang paham mendelik. “IH! MESUM!!”
...💫💫💫...
“Terima kasih buat pelajaran hari ini, Uncle.” Darren membungkukkan sedikit tubuhnya, gerakan penghormatan pada Jasper, sang guru.
Jasper sendiri tengah mengulas senyum penuh arti. Ia mengakui dalam hati jika putra tiri Eiden ini memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Dalam sekejap, Darren bisa mempelajari macam-macam hal mengenai komputer dan menguasainya dengan telak. Darren bisa mengingat setiap perintah dan kode yang ia berikan hanya dalam satu kali percobaan.
Bibit seperti ini jelas tidak boleh disia-siakan. Jasper berencana untuk melatih Darren dengan sungguh-sungguh ke depannya. Anak ini pasti akan menjadi sosok emas di masa depan jika kemampuannya terus diasah.
“Hati-hati di jalan, ya, Ren.” Cahaya melambaikan tangan ketika Darren akan keluar rumah. Diikuti Marvin yang berdiri di sebelahnya.
Darren balas melambai. Ia naik ke dalam mobil, lalu pergi dari sana karena pelajaran hari ini telah usai.
Tepat setelah kepergian Darren, Marvin dan Cahaya bergegas masuk ke dalam hunian. Keduanya mendapat undangan untuk hadir di perayaan ulang tahun Darren dari Kyra—dengan catatan harus berlagak pura-pura tidak tahu sebelum acara dimulai. Mommy dari Darren dan Emily itu menjelaskan jika acara ini merupakan kejutan bagi sang putra.
“Ayo, Pa. Kita harus sampe ke sana sebelum Darren dateng.” Marvin terus menarik-narik tangan Jasper yang sibuk mengaitkan kancing. Jasper sampai kewalahan menangani putranya yang kelewat antusias.
“Sebentar, Son. Ini juga mau selesai.” Jasper sibuk mencari kunci mobil dan dompet miliknya.
“Kalau sampe terlambat, Papa yang salah!”
Jasper menghela napas pasrah. Kalau sudah begini, mau tidak mau ia harus bergegas. “Mana kado yang kamu siapin kemarin?” tanyanya baru sadar putranya tidak membawa apa pun.
Jasper mencibir dalam hati. Tadi Marvin yang meminta cepat-cepat, sekarang dia sendiri yang membuat lama.
...💫💫💫...
Sementara itu, di mobil...
“Kakak, sebenernya kita mau ke mana, sih? Kok dari tadi muter-muter nggak jelas?” heran Darren yang sedari awal memperhatikan jalanan.
Xania dan supir yang bertugas saling melempar pandangan, keduanya sama-sama bingung ingin menjawab bagaimana. “Maaf, Tuan Kecil, jalan yang biasa kita lewati sedang macet. Jadi, saya mengambil jalan lain yang memutar. Mungkin ini akan jadi lebih lama,” kata supir agak gugup.
Darren memicing curiga. Ia mungkin masih anak-anak, namun kemampuan berpikirnya jelas melebihi usianya. Ia tidak akan percaya alasan klise semacam itu dengan mudah. “Kalo gitu, kenapa nggak sampe-sampe? Apa sejauh itu?” cercanya.
“Ee.. kita.. harus mampir ke toko kue sebentar, Tuan Kecil. Nyonya menghubungi saya dan meminta saya untuk membelikan cake strawberry,” dusta Xania berharap Darren percaya.
Darren bersidekap dada. “Mommy benci strawberry kalo Kakak mau tau. Mommy suka cake tiramisu atau cokelat.”
Sial!
Sang supir dan Xania mengumpat dalam hati bersamaan. Kenapa mereka terlihat sekali, sih, sedang membohongi majikan?
“Ee.. mungkin itu untuk nona kecil?” balas Xania gugup. Jika sampai ia gagal membawa Darren keliling, nyonya mudanya bisa mengamuk. Apalagi sekarang Xania tahu kalau Kyra adalah seorang mafia. Bisa gawat urusannya nanti.
Walaupun tahu ada yang tidak beres, Darren memilih untuk tidak memperpanjang masalah. Ia yakin akan mengetahui jawabannya nanti. Alhasil, Darren pun bungkam. Namun, sepasang mata hijaunya mengawasi kedua insan berbeda gender di depannya dengan tajam.
Otak Darren mulai memikirkan banyak hal, termasuk cara terbaik untuk menghukum bodyguard pribadinya dan supir.
Ah, demi apa pun, Xania berharap ia tidak akan berada di situasi seperti ini lagi. Tuan kecilnya sangat menyeramkan.
...💫💫💫...
Setelah berputar-putar hampir 50 menit, berhenti di aneka macam tempat, dan mampir ke pom bensin, Darren akhirnya kembali ke mansion. Bocah itu semakin yakin ada sesuatu ketika melihat bangunan megah tempat tinggal keluarganya kosong dan gelap.
Cih, Darren nggak nyangka mereka sampe lakuin ini.
Bocah itu melangkah masuk dengan kepercayaan penuh. Ia melewati pintu dan menyuruh Xania menyalakan lampu. Otak kecilnya mulai menerka-nerka dengan satu titik spekulasi.
Klikk..
“HAPPY BIRTHDAY, DARREN!” seru semua orang yang hadir.
Darren menatap mereka dengan senyum lebar. “Wah! Kalian ngapain, sih?”
“Eh?”
^^^To be continue...^^^