Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 30 | Perubahan Suasana



“Emily punya mommy, yeeaayy...”


Sedari tadi, gadis kecil berusia 5 tahun itu tidak henti mengucapkan kalimat yang sama. Bersorak bahagia atas kejadian siang ini. Entah sudah berapa kali Emily bersuara seperti itu. Namun, insan lain sama sekali tidak ingin menghentikan.


Gadis kecil yang kekurangan kasih sayang itu sedang tenggelam dalam euforianya.


Selepas adegan pengucapan janji suci, Eiden membawa Kyra berbincang dengan keluarga besar Kennedy, saling mengenalkan satu sama lain. Sedangkan Darren dan Emily dikuasai penuh oleh Cavan.


Sebenarnya, Kyra sedikit khawatir dengan putranya. Ada banyak anggota keluarga Kennedy yang menentang keberadaan Kyra, terutama Darren. Lelaki kecil itu dijadikan sasaran empuk sebagai objek sindiran.


Memangnya salah memiliki anak tiri? Lagian Emily juga anak tiri Kyra.


“Kamu yakin ngizinin Eiden nikah sama janda beranak satu, Gail?” tanya Zeela, kakak Cavan.


Abigail mengerutkan dahi. “Emangnya kenapa, Kak?”


Zeela melipat kedua tangannya dengan gaya angkuh. Ia menatap tajam Kyra dan Eiden yang tengah bersiap pulang. “Kamu nggak ngerasa kalo anaknya bakalan mengancam kita di masa depan? Dia itu sama sekali nggak punya hubungan darah sama kita!”


Abigail menghela napas berat. Ia paham betul perangai kakak iparnya ini. “Kak, Darren bukan anak yang kayak gitu.”


“Iya, anak itu baik karena masih kecil. Kalau udah besar? Kamu bisa jamin kalo anak itu bakalan tetep baik?” balas Zeela masih tidak terima keponakannya menikah dengan janda.


“Kak, Kyra itu—”


“Udahlah, percuma aku ngomong sama kamu.” Zeela memalingkan wajah kesal.


“Aduh, Bibi, kalo ngomongin orang itu enaknya langsung di depan orangnya. Jangan di belakang.”


Sontak Abigail dan Zeela mengalihkan pandangan. Entah sejak kapan, Darren berdiri di belakang mereka. Bocah itu mengulas senyum dengan raut tenang, seolah ucapan Zeela sama sekali tidak mempengaruhinya.


Zeela mendelik. “Ngapain kamu di sini, Bocah?” ketusnya.


Darren terkekeh. “Hampiri oma dong.” Ia menggandeng tangan Abigail.


“Cih! Saya peringatkan, ya, Bocah, meskipun kamu lebih tua dari Emily, jangan pernah berharap kalo kamu bakalan warisin harta keluarga Kennedy! Ingat itu!” ucap Zeela dengan nada tidak main-main.


“Kak...” Abigail menegur. Darren masih terlalu kecil itu diberi kalimat seperti itu.


“Oma Zee dengar dari mana kalo Darren ingin harta Om Eiden? Kecil-kecil gini Darren udah kaya, lho. Warisan dari mami udah cukup, kok.” Darren membalas dengan senyum lebarnya.


“Syukur, deh, kalo kamu sadar diri. Kamu itu cuma anak tiri, selamanya bakalan begitu,” ketus Zeela.


“Iya, Darren paham, kok, kalo Darren cuma anak tiri.” Darren tersenyum penuh arti. “Hm... karena Darren calon penerus Kirren’s Boutique dan seluruh antek-anteknya, kayaknya akses VIP Oma Zeela ke butik harus dicabut, deh.”


Zeela melotot. Dicabut?! Hei, untuk mendaftar anggota VIP di butik itu Zeela butuh waktu berbulan-bulan! Pasalnya, Kyra tidak main-main memberi akses. Hanya orang tertentu yang berhasil melewati seleksi ketat saja.


Setelah mendapat cap VIP, orang itu bisa mendapat informasi produk-produk terbaru Kirren—bahkan sebelum launching. Bahkan, mereka bisa memesan lebih dulu produk tersebut jauh-jauh hari. Anggota VIP juga bisa mengirim desain gaun impian mereka, dan pihak Kirren akan dengan senang hati mewujudkan.


“Kamu—”


“Apa? Darren salah, ya?” Bocah itu memasang muka polos. “Darren nggak mau mami punya pelanggan julid.”


“Boc—”


“Mau dicabut sekarang atau pergi, Oma?” tawar Darren cengengesan.


Zeela berdecak kesal. Lalu pergi meninggalkan Darren dan Abigail.


“Oma, are you okay?” tanya Darren menatap Abigail yang kini sungguhan jadi grandma-nya.


Abigail berjongkok di samping Darren. Tangannya bergerak mengusap pipi anak itu. “Terima kasih, ya.”


Darren mengusap tangan Abigail yang bertengger di pipinya. “Oma, mengalah sama orang yang kita hormati itu boleh. Tapi, terlalu sering mengalah, itu salah. Orang-orang malah akan cap Oma sebagai orang yang lemah karena Oma selalu mengalah. Selama Oma nggak salah, jangan ragu buat balas, ya.”


Abigail tersenyum haru. Nasihat yang belum pernah ia dapatkan dari mana pun. Orang tuanya hanya mengajari supaya menghormati yang lebih tua. Namun, kalimat Darren sukses membuka hatinya.


Benar, jika ia terus mengalah, ia akan dianggap lemah. Itu tidak boleh terjadi.


“Grandma akan ingat pesan Darren.” Abigail mencium kening Darren sekilas. “Darren anak yang pintar.”


“Mami, sih, yang ngajarin, hehe.”


Pria paruh baya itu terkejut ketika melihat tangan Darren terulur ke belakang sambil mengacungkan jempol, memberi kode padanya. Bocah itu merasakan kehadirannya.


Cavan terkekeh pelan. Anak itu pasti masih punya banyak kejutan di masa depan.


...💫💫💫...


Pulang dari gereja, Eiden mengajak keluarga kecilnya kembali ke mansion. Sepanjang perjalanan, Emily dan Kyra bernyanyi bersama. Darren hanya diam, memainkan game yang ada di ponsel Eiden—yang nyatanya jauh lebih menarik dibandingkan game di ponsel Kyra.


Kyra, kan, memasang aplikasi yang menunjang kecerdasan otak. Jadi, kadang agak membosankan.


“Om! Darren menang!” pekik Darren menunjukkan layar ponsel. Terpampang tulisan ‘victory’ di atas.


Eiden mengangguk dengan tatapan teduh.


“Skor Om Eiden udah Darren kalahin dong!” kata Darren bangga. Ia memainkan level selanjutnya. Namun, layar tiba-tiba berganti. Ada telepon masuk. “Om, ada yang nelpon.”


Eiden mengambil ponselnya. “Halo, Garry?”


“Tuan, rumah Nona Kyra dijaga ketat oleh beberapa bodyguard. Saya tidak diizinkan masuk.”


Eiden melirik Kyra yang fokus bermain tebak-tebakan dengan Emily. “Serahkan ponselnya pada mereka.”


Garry menurut. Ia memberikan ponselnya kepada salah satu bodyguard yang mengenalkan diri sebagai ketua. Sementara Eiden menyerahkan ponselnya pada Kyra.


“Halo?” ucap Kyra.


“Nona?”


“Ya, ini saya. Ehm, biarin Garry masuk ke dalam. Dia utusan suami saya.”


“Su–suami Anda, Nona?” Sang kepala bodyguard menatap Garry menyelidik. “Tapi, tuan ini membawa beberapa orang. Mereka bilang ingin mengambil barang-barang Nona untuk dipindahkan.”


“Intinya begini, saya sudah menikah hari ini. Saya akan pindah ke rumah suami saya. Jadi, tolong bantu mereka mengemasi barang-barang saya, mengerti?”


“Mengerti, Nona.”


“Ya sudah.” Telepon dimatikan. Kyra mengembalikan ponsel Eiden.


“Untuk apa bodyguard itu?” tanya Eiden penasaran.


“Orang-orang sukses seperti kita butuh bodyguard.” Kyra memandang suaminya penuh arti. “Kamu paham, kan, maksudnya?”


Eiden mengangguk. Ia setuju dengan itu. Apa aku cariin bodyguard pribadi buat mereka juga, ya?


...💫💫💫...


Sore harinya...


“Mommy cari kalian, ya...” Kyra berjalan mengendap-endap menuju ke belakang pohon. “Baaa! Emily ketemu!”


Emily tertawa lepas ketika Kyra memeluk sembari menggelitiki pinggangnya. Mereka sampai terjatuh di rumput. Tiba-tiba senyap, Kyra menaruh telunjuknya di bibir, kode supaya Emily diam. Kyra menunjuk ke arah semak-semak di arah timur. Darren bersembunyi di sana.


Ya, sore ini, matahari tidak terlalu terik. Jadi, Kyra mengajak kedua anaknya bermain di taman belakang mansion yang luas. Rerumputan hijau yang dipangkas rapi, dikelilingi pepohonan dan bunga-bunga yang menyejukkan. Petak umpet yang jadi pilihan.


Kedua perempuan berbeda generasi itu mengendap-endap ke arah Darren. Lalu berseru ketika berhasil mendapatkan lelaki kecil itu. Darren memekik kaget karena suara keras mereka.


Sedetik kemudian, Darren berlari karena Kyra hendak menangkapnya. “Kejar, Sayang!” seru Kyra semangat. Alhasil, Darren dikejar oleh Kyra dan Emily. Mereka tertawa bersama.


Lima menit, Darren tertangkap. Bukannya kesal, bocah lelaki itu malah tertawa.


Momen itu direkam jelas oleh mata para pelayan. Mereka tersenyum senang melihat majikan kecil mereka telah mendapat sosok ibu yang menyenangkan. Kehadiran Darren dan Kyra memang didukung penuh oleh para pelayan.


Selain pelayan, Eiden memerhatikan ketiganya dari lantai dua. Lelaki itu tersenyum kecil. Putrinya bersemangat sekali. Tidak pernah sekalipun Eiden melihat Emily tertawa hingga sekencang itu.


Dari arah lain, Cavan dan Abigail mengamati. Mereka tersenyum. Hari-hari di mansion pasti akan berubah. Suasana yang awalnya canggung dan membosankan, kini akan berubah.


^^^To be continue...^^^