Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 46 | Belajar di Mana?



Eiden mengajak Kyra naik ke dalam mobil. Kali ini yang menyetir orang lain dengan topi hitam. Hanya dalam satu kali tatap, Eiden dan Kyra tahu jika si supir memiliki niat tidak baik.


“Pak, kita ke sekolah Emily, ya. Kami harus jemput anak-anak,” pinta Kyra senatural mungkin.


“Baik, Nyonya.”


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tidak ada yang aneh selama setengah perjalanan. Tiba-tiba mobil berbelok ke jalan lain yang bukan mengarah ke sekolah Emily. Eiden langsung bersiaga satu, ia mengeluarkan pisau lipat yang tersimpan di jasnya. Sedangkan Kyra memasukkan tangan ke dalam tas selempang, meraih pistol yang ia bawa.


Haduuhh.. kayaknya telat, nih, jemput anak-anak.


Kyra baru saja ingin mengeluarkan senjata. Namun, tiba-tiba ia teringat identitasnya. Eiden pasti curiga jika lelaki itu tahu dirinya selalu membawa pistol ke mana-mana. Kyra, kan, sedang menjelma sebagai wanita baik-baik, bukan mafia kejam seperti julukannya.


Sialan! Gak nguntungin banget, sih!—dumel Kyra dalam hati. Kayaknya aku harus kasih tau semuanya ke Eiden secepatnya, deh.


Dengan amat terpaksa, Kyra tidak jadi meraih pistol tersebut. Ia fokus mengamati situasi, terutama jalanan yang kini memasuki area hutan. Sepertinya supir mereka ini bukan anak buah Eiden yang biasanya. Tapi, kok, plat mobilnya sama, ya?


Beberapa menit perjalanan, mobil berhenti di tengah hutan. Suasana di dalam mobil pun hening, seolah tidak berpenghuni. Si supir melirik ke belakang melalui kaca, kedua penumpangnya hanya diam, sibuk menatapnya nyalang.


Eiden bergerak cepat. Ia melilit leher supir hingga bersandar pada jok dan tertekan. Pisau lipatnya dikeluarkan dan didekatkan ke leher. “Siapa kamu?!” tanyanya dingin.


Supir itu bergeming. Dilihat dari wajahnya, Eiden maupun Kyra sama-sama tidak mengenali siapa identitas asli si supir. Itu artinya, ada kemungkinan orang ini pembunuh bayaran atau anggota dari musuh baru.


Sebelum Eiden bisa mendapat jawaban, gerombolan orang berpakaian hitam muncul dari berbagai arah. Mereka mengepung mobil sembari menodongkan senjata masing-masing.


“S*it!” umpat Eiden. Ia menoleh ke samping, memeriksa istrinya. Pikirnya, Kyra akan ketakutan layaknya istri pertamanya dulu. Sayangnya, itu hanya bayangan saja. Istrinya yang sekarang tidak gentar sedikitpun, tidak terpancar binar ketakutan di bola mata hijaunya.


Berhasil mendapat celah, si supir membebaskan diri dari belitan Eiden lalu keluar dari mobil. Eiden tidak peduli, dia masih fokus pada Kyra. “Aku akan turun,” ucap Eiden.


Kyra melotot pada suaminya itu. “Jangan gila, Eiden. Mereka ada banyak! Lebih baik kita tunggu bantuan. Aku udah hubungi Garry.” Di tengah ketegangan tadi, Kyra berhasil menghubungi Garry melalui ponselnya. Hanya pesan singkat, tapi ia yakin Garry akan mengerti.


Eiden menatap Kyra datar. Kyra mengatakan itu karena ia tidak tahu identitasnya sebagai seorang mafia. Membunuh puluhan manusia rendahan seperti mereka bukanlah hal yang besar. Seandainya anggotanya mendengar, harga diri Eiden bisa anjlok.


“Tenang aja. Aku bisa kalahin mereka.” Eiden hendak membuka pintu. Namun, lengannya ditahan. Eiden menoleh dan mendapati istrinya tengah menatapnya sendu.


“Aku khawatir sama kamu,” ucap Kyra lirih. Bukannya ia tidak percaya, tapi perasaan ini hadir begitu saja di relung hatinya tanpa bisa ia cegah. “Aku nggak mau kamu luka, Eiden.”


Eiden tersenyum kecil. Ia memajukan tubuhnya dan mengecup singkat kening Kyra. “Aku janji ini nggak akan lama dan kita bakalan baik-baik aja,” kata Eiden meyakinkan.


“Tapi—”


“Percaya sama aku, Sayang.”


Sial! Dipanggil seperti itu, Kyra mendadak salah tingkah. Padahal, ini bukan waktu yang tepat untuk bersikap layaknya anak remaja yang baru jatuh cinta.


Pada akhirnya, Kyra membiarkan sang suami keluar mobil. Tepatnya, mengizinkan Eiden memperjuangkan keselamatan mereka, wkwkwk.


...💫💫💫...


Di sisi lain, Emily tengah berdiri di depan sekolah seraya celingukan, mencari keberadaan mommy dan daddy-nya yang belum tiba juga untuk menjemput. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu.


Emily berdecak. “Mommy sama daddy mana, sih? Kok belum jemput juga?” gumamnya kesal.


Tidak lama, kendaraan mewah terparkir di dekat Emily. Cavan dan Abigail turun dari sana, lanjut menghampiri cucu kesayangan. “Kami lama, ya, Sayang?” tanya Abigail menyesal. “Maaf, ya, Emily.”


Emily merengut. “Kok Grandma yang jemput? Bukannya mommy sama daddy, ya?”


“Aah, jadi Emily nggak suka kalo Grandpa yang jemput?” Cavan membuat mimik sedih.


“Mommy sama daddy ada pekerjaan, Sayang, makanya nggak bisa jemput.” Abigail berusaha menjelaskan. Sepasang suami-istri paruh baya itu sudah menerima kabar dari Garry jika putra mereka dalam bahaya. Sebenarnya, Abigail khawatir, tetapi ia masih memiliki Emily dan Darren yang harus ditenangkan.


“Sekarang kita jemput Kak Darren di sekolah, mau?” tawar Abigail.


Emily sumringah. “Mau!”


...💫💫💫...


Kembali ke posisi Eiden. Lelaki itu kini sudah keluar dari mobil.


“Wow, bukannya dia pengusaha kaya yang baru menikah itu, ya?” celetuk salah satu pria.


“Ah, ya. Aku ingat. Acara resepsi orang ini sampai disiarkan secara live waktu itu!”


“Aku juga liat. Dan, istrinya cantik sekali.” Pria ini melirik ke dalam mobil, ada siluet wanita.


“Lakuin tugas dari bos, lalu kita ambil istrinya. Hahaha...”


Pria-pria suruhan itu pun maju, berniat menghajar Eiden sesuai perintah. Namun, Eiden yang sudah disulut amarahnya mengamuk. Lelaki itu memukuli keduapuluh pria itu secara membabi buta.


Enak saja mereka ingin mengambil Kyra. Istrinya itu wanita teristimewa yang pernah Eiden temui. Eiden akan selalu mengusahakan supaya Kyra tetap di sisinya.


Bugh! Brakk!


“Ingin mengambil istriku, heh?” Eiden menyeringai. “Jangan mimpi!”


Bugh! Bugh!


“Aaarrgghh...” Tiga pria ambruk setelah mendapat tendangan di perut.


“Bahkan, di mimpi sekalipun, aku nggak akan biarin kalian ketemu sama wanitaku!” desis Eiden tidak main-main. Kepalan tangannya menguat, lalu dihantamkan ke wajah pria yang tadi berniat mengambil Kyra darinya.


Di dalam mobil, Kyra memperhatikan suaminya dengan cemas. Beberapa saat, perkelahian dipimpin oleh Eiden. Lelaki itu sama sekali tidak membiarkan para musuh menggunakan senjata yang dibawa.


Sayangnya, dari arah barat daya, Kyra melihat si supir menodongkan pistol. Dan, Eiden tidak melihat itu!


“No!” pekik Kyra. Ia buru-buru keluar dan menerjang si supir.


Brakk!!


“Aakh..” rintih si supir yang merasa nyeri di tubuhnya berkat tendangan maut dari Kyra.


“Jangan coba-coba lukai suamiku, Brengsek!” bentak Kyra emosi.


Eiden dan yang lain terkejut. Mereka tidak menyangka jika Kyra akan menyerang dengan ganas. Bahkan, Eiden yang merupakan suaminya saja masih shock. Kendatipun ia tahu sang istri bisa beladiri, namun Eiden masih sering dibuat terkejut dengan tindakan tiba-tiba Kyra.


Karena sudah telanjur keluar, Kyra ikut membantu Eiden melawan musuh. Gerakan wanita itu sangat lincah, bahkan tubuhnya bisa meliuk-liuk. Dan, sialnya, Kyra terlihat sangat seksi di mata Eiden.


Tidak butuh waktu yang lama, keduapuluh pria tumbang. Napas Kyra dan Eiden bersahutan, keduanya berusaha mengais oksigen supaya memenuhi paru-paru.


Dirasa lebih baik, Eiden bersuara. “Dari mana kamu pelajari gerakan tadi, Kyra?”


Eiden menatap Kyra penuh tanda tanya. “Gerakan tadi... cuma bisa dipelajari setelah berlatih beladiri lama, Kyra.”


^^^To be continue...^^^