
“Cepat pulang, ya. Aku pasti kangen kalo lama-lama.”
Seakan tidak mengenal kata lelah, kalimat itu terus berputar-putar di kepala Eiden. Lelaki itu sampai merasa isi otaknya benar-benar bermasalah. Pengaruh Kyra sukses mengacaukan pikiran Eiden.
Garry yang kebetulan bertugas menjadi supir Eiden sampai keheranan sendiri. Atasannya ini berubah aneh setelah diberi kata-kata manis oleh nyonya muda mereka. Setelah berpikir cukup keras, asisten Eiden itu mengerti.
Sepertinya tuan muda jatuh cinta sama nyonya muda.
Garry tersenyum tipis sembari melirik Eiden yang mengeluarkan aura hangat. Syukurlah.. semoga tuan selalu bahagia. Saya janji akan menjaga nyonya muda di masa depan.
...💫💫💫...
Perjalanan menuju daerah pinggiran Pulau Jawa memakan waktu seharian. Eiden menyesal karena tidak menggunakan jet pribadi ketimbang mobil. Tetapi, setelah dipikir ulang, pemakaian jet kurang menguntungkan pihak mereka. Kehadiran kendaraan terbang besar itu pasti banyak menyita perhatian para penduduk sekitar.
Semua kebutuhan untuk acara balas dendam kali ini sudah Eiden persiapkan matang-matang. Termasuk memperketat penjagaan mansion dan keluarganya, juga meminta seseorang menyamar sebagai dirinya pergi ke Bandung.
Pokoknya, Eiden tidak mau ada kesalahan setitikpun.
“Kalian sudah siap?” seru Eiden lantang pada seluruh anak buah yang dibawa.
“SIAP, TUAN!”
“Hari ini.. kita akan balas perbuatan mafia sialan itu! Kita serang mereka babi buta. Aku tidak akan menghalangi kalian yang ingin memenggal kepala siapa pun di sana, kalian bebas melakukan apa pun pada mereka.”
Kalimat Eiden membuat pasukan yang lelaki itu bawa tersenyum cerah. Biasanya, mereka diberi larangan untuk tidak membunuh beberapa supaya bisa diinterogasi. Namun, kali ini berbeda.
Hari ini, mereka akan menikmati pesta darah yang tuan muda mereka suguhkan.
Pasukan yang Eiden bawa berjumlah 60 orang. Sedikit? Memang. Eiden yakin benar bahwa mereka akan menang.
Bukan bermaksud sombong. Hanya saja, 60 orang ini spesial. Mereka adalah orang-orang pilihan yang mendapat pelatihan khusus darinya, Garry, Erry, dan Michael. Mereka—yang keseluruhan merupakan pria—tumbuh tanpa hati.
Jadi, mereka bisa membunuh siapa pun tanpa memandang bulu.
“Ayo!” Eiden memimpin jalan. Seluruh pasukan mengikuti dengan patuh.
Beberapa menit berjalan, mereka tiba di suatu kawasan lapang. Di tengah-tengah, ada bangunan usang yang dijaga ketat. Daerah ini dikelilingi pepohonan besar, jadi tidak akan ada insan yang menyadari keberadaan bangunan itu.
Eiden memberi kode pada Michael. Karena paham, sahabatnya itu bergegas mendekat dengan gerakan sesenyap mungkin. Dalam hitungan menit, beberapa penjaga berhasil dilumpuhkan oleh Michael menggunakan racun.
Tanpa banyak menunggu, Eiden memberi kode pada pasukan. “Serang mereka.”
...💫💫💫...
“Tuan sedang berada di markas The Zero, Nona,” lapor Reven. “Tuan berencana membalas perbuatan mereka karena mereka adalah dalang dibalik pengeboman hotel, pembantaian keluarga kakak dari nyonya besar, dan penculikan tuan kecil dan nona kecil.”
Kyra mengangguk mengerti. Ia tidak akan mencegah suaminya. Menurut wanita itu, mafia kampret itu pantas mendapat serangan balasan.
“Tetap awasi dari jauh, tapi jangan bantu suamiku. Aku tidak mau dia merasa direndahkan,” kata Kyra tanpa mengalihkan fokusnya dari desain gaun di depannya. “Khusus untuk mafia Blood Moon, jika mereka membeli senjata pada kita, beri sedikit tambahan tanpa dicurigai.”
“Baik, Nona.”
Kyra menulis sesuatu di secarik kertas dan memberikannya pada Reven. “Pergi ke toko kain dan beli bahan ini. Serahkan saja pada penjaga toko, mereka akan tau. Maaf merepotkanmu, aku hanya tidak ingin Ilona curiga.”
Posisi mereka saat ini ada di ruang pribadi Kyra di butik. Wanita itu sibuk menyelesaikan gaun dan tuxedo milik keluarganya. Ia sendiri yang akan turun tangan walaupun tetap dibantu. Acara resepsi semakin dekat, Kyra tidak punya banyak waktu lagi.
Sementara Ilona, gadis itu menunggu di luar. Kyra mengatakan jika ia tidak suka diganggu ketika bekerja. Dengan alasan itu pula, Reven bisa datang sebagai salah satu bawahannya yang bertugas membantu perancangan gaun dan lain-lain.
Reven mengangguk mengerti. “Baik, akan saya lakukan.” Setelah itu, Reven keluar dan tidak mengindahkan tatapan nyalang dari Ilona.
Kyra menyandarkan tubuhnya di sofa. Helaan napas lelah terkuar. Kepalanya mendongak, menatap langit-langit ruangan yang berhiaskan bintang-bintang.
“Semoga kamu baik-baik aja.” Eiden...
...💫💫💫...
Di sisi lain, pertumpahan darah tidak dapat terelakkan di markas The Zero. Mereka yang sama sekali tidak mengira akan ada serangan kewalahan menghadapi pasukan Eiden yang sudah siap dengan senjata masing-masing.
“Brengsek! Kalian pengecut, sialan!” maki Roby, pemimpin The Zero menggantikan ayahnya.
Eiden yang berhadapan langsung dengan Roby tersenyum miring. “Siapa yang pengecut di sini? Aku atau kau yang menculik anak kecil untuk dijadikan alat?”
Roby menggeram. Ia tahu itu ulah anak buahnya atas perintah darinya. Namun, lelaki itu sama sekali tidak merasa bersalah. Ia sangat tebal muka untuk setiap perlakuannya di masa lalu.
“Maksudmu anak-anak jelek itu? Memangnya kenapa? Mereka, kan, tidak berguna,” ejek Roby memprovokasi Eiden. Percayalah, seandainya Darren mendengar perkataan Roby, bocah itu pasti mengamuk.
Tanpa banyak kata, Eiden memberi bogem mentah di wajah Roby. Tidak dibiarkan membalas, suami Kyra itu menghajar Roby membabi buta. Ia tidak terima jika anak-anaknya dihina sedemikian rupa.
Di lain tempat, kondisi Rixo, adik Roby, sekarat. Lelaki itu kalah di tangan Garry. Sedangkan Michael dan Erry sedang bersenang-senang dengan yang lain.
Pukulan, tendangan, dan berbagai gerakan lainnya Eiden beri di tubuh Roby. Lelaki itu ambruk setelah kepalan tangan Eiden mendarat di ulu hatinya. Sekujur tubuh Roby nyeri bukan main.
“Ini akibatnya jika kau menyakiti keluargaku.” Eiden menginjak kepala Roby dengan sepatunya.
Garry menyeret Rixo dan mendorongnya hingga jatuh di sisi Roby. Eiden tentu puas dengan kinerja asistennya.
Tiba-tiba salah satu anak buah Eiden mendekat. “Tuan, kami sudah menemukan laki-laki yang Anda cari. Kami sudah mengamankannya.”
Eiden menyeringai. “Bagus. Ayo kita pulang sekarang.”
Kelompok Eiden berbalik. Namun, sebelum benar-benar pergi, Eiden menarik pistol yang dia bawa dan diarahkan pada Rixo.
Dorr!
Satu peluru mendarat di tubuh Rixo entah di bagian mana. Roby menggeram, ia memandang punggung Eiden penuh kebencian hingga hilang. Dengan sisa tenaganya, Roby membawa adiknya pergi dari sana menuju rumah sakit terdekat. Bagaimanapun, dia sangat menyayangi adik laki-lakinya itu.
...💫💫💫...
Malam hari di kota yang entah apa namanya. Eiden merasa kesepian tanpa istri juga anaknya. Biasanya, Kyra dan Darren selalu punya cara agar dirinya terganggu. Entah itu mengajaknya bicara dengan topik-topik nyeleneh, atau menggelitiki tubuhnya tanpa aba-aba. Pokoknya, ada saja, deh, tingkah keduanya.
Sambil menunggu anak buahnya membawakan makan malam, Eiden memeriksa pekerjaan yang belum selesai. Ia tidak bisa langsung pulang atau Kyra akan curiga.
Drrtt.. drtt...
Fokus Eiden pecah. Lelaki itu mengalihkan pandangan. Senyum Eiden terbit melihat siapa yang menghubunginya. Tanpa membuat si penelepon menunggu lama, ia langsung mengangkat panggilan. “Halo?”
Tidak ada suara balasan. Tapi, Eiden bisa mendengar jika Kyra tengah kesal karena Darren menggodanya tengah merindukan Eiden. Kyra terus membantah sampai kesal sendiri. Eiden terkekeh pelan, merasa lucu dengan tingkah ibu dan anak yang satu ini.
Seandainya dia ada di mansion, Eiden pasti bisa menyaksikan secara live perdebatan keduanya.
“Ah, halo, Eiden. Maaf, tadi ada tuyul nakal lewat.” Tanpa merasa bersalah, Kyra menyebut putra kandungnya sendiri ‘tuyul’. “Kamu di mana?”
“Di hotel,” dustanya. Padahal, dia berada di penginapan biasa.
“Sudah makan malam?”
“Belum. Garry lagi beliin. Aku malas keluar.”
“Kenapa nggak minta sama staff hotelnya aja?” Walaupun sudah tahu posisi sebenarnya sang suami, Kyra tetap bertanya.
Eiden tersenyum. Wajahnya tetap tenang. “Aku ingin makan makanan dari restoran.”
“Ah...” Kyra manggut-manggut. Jawaban yang lumayan masuk akal. “Kapan kamu pulang?”
“Kenapa? Kamu kangen?” goda Eiden.
“Em... mungkin? Tapi, nggak yakin, sih. Cuma rasanya aneh kalo kamu nggak ada. Nggak ada yang bisa dijailin, hehe.”
Tidak, Eiden tidak sakit hati. Ia paham jika perasaan di hati Kyra butuh waktu. Lumayan susah menggeser posisi suami pertama Kyra di hati wanita itu. Tidak sepertinya yang langsung merasa nyaman hanya dalam hitungan mingguan.
“Besok aku pulang.”
Tidak ada reaksi. Karena tidak ada suara sama sekali, Eiden sampai mengecek layar ponsel, mengira sambungan telah terputus. Tidak, masih terhubung, kok.
“Kyra?” panggil Eiden khawatir, takut istrinya berada di situasi tidak mengenakkan.
“Hm?”
Sekarang giliran Eiden yang bingung ingin membalas dengan kalimat seperti apa.
“Eiden, aku kedinginan,” adu Kyra tiba-tiba.
“AC-nya dikecilin,” balas Eiden tidak tahu maksud istrinya.
“Udah.”
“Pake selimut.”
“Udah juga.”
“Masih dingin?”
“Iya.”
“Minta pelayan buatin teh.”
“Itu nggak akan berfungsi.”
Eiden mengerutkan dahi. “Kenapa?”
“Aku maunya dipeluk sama kamu.”
Tut.
Telepon langsung dimatikan, meninggalkan Eiden yang mematung di posisi. Lelaki itu sampai mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali guna menyadarkan diri.
Badai apa yang menerpa istrinya hingga kalimat bermakna rindu itu bisa terucap?!
^^^To be continue...^^^