Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 73 | Mommy Emily?



Gila! Ay nulis di tengah-tengah ujian😭


Besok Jumat Ay mau ujian fisika. Doain, ya🥲


...Happy reading everybody:)...


.......


.......


.......


Darren hendak membuka kado dari Eiden. Namun, suara seseorang sukses menarik perhatian semua orang.


“Wah, ada acara apa ini?”


Tubuh beberapa orang menegang, terutama Eiden yang terdiam seribu bahasa. Lelaki itu menatap tamu tak diundang tersebut dengan sorot bengis. Tidak ada yang menyangka jika ia akan datang hari ini, di hari ulang tahun Darren.


“Tante siapa?” celetuk Darren memecah keheningan.


Sosok wanita yang dipanggil ‘tante’ itu tersenyum. “Halo, Nak. Saya Clara, mommy Emily. Kamu siapa, Nak?”


Betapa terkejutnya Darren mengetahui wanita itu adalah mommy kandung adiknya. Ia melirik sang daddy sekilas, lelaki dewasa itu terdiam dengan tangan mengepal di sisi tubuh. Beralih pada sang mommy, Darren menemukan Kyra tengah menatap Clara tanpa berkedip. Entah apa yang mommy-nya itu pikirkan.


“Mommy?” lirih Emily tidak mengerti.


Clara tersenyum lebar. Ia menaruh beberapa paper bag di tangannya ke lantai, lalu berjalan menghampiri Emily dan segera memeluknya. “Sayang, ini Mommy. Mommy kamu.”


Buru-buru Emily menepis tangan Clara dari tubuhnya. Gadis kecil itu berlari ke arah Kyra dengan tangan merentang, kode ingin segera digendong. Kyra pun mengangkat anak itu ke dalam dekapan. “Mommy, Emily takut...”


Melihat reaksi Emily, sedikit banyak para tamu paham mengapa gadis kecil itu ketakutan. Emily tidak pernah tahu siapa ibu kandungnya. Karena Clara meninggalkan bocah itu di usia 3 bulan.


“Maaf, Anda membuat putri saya ketakutan,” lugas Kyra menatap Clara tajam.


Clara balas menatap Kyra tak kalah menghunus. “Lancang sekali. Emily adalah putriku! Aku yang melahirkannya!”


“Dan, kemudian meninggalkannya. Benar?” Kyra menarik sebelah sudut bibirnya ke atas.


Clara menggeram marah. Baru saja ia ingin membalas, suara Eiden lebih dulu menginterupsi. “Apa yang kamu lakuin di sini, Clara?” tanya Eiden dingin.


Clara menatap lelaki itu sendu. “Eid, aku... aku minta maaf. Aku ke sini buat perbaikin kesalahan aku. Aku nyesel udah pergi ninggalin kamu,” katanya dengan kepala menunduk. Kepalanya mendongak perlahan, menunjukkan sepasang mata coklatnya yang berkaca-kaca. “Aku masih sayang sama kamu, Eid.”


Demi Naruto yang akhirnya bertemu Dora, Darren mual melihat aksi wanita itu. Entah mengapa, ia merasa bahwa semua tindakan Clara itu palsu. Tidak ada tulus-tulusnya.


Beberapa pengawal masuk ke dalam hunian. Mereka memandang Eiden takut-takut. “Maaf, Tuan Muda. Nona Clara memaksa masuk, kami sudah mencegahnya tadi,” kata salah satu dari mereka.


“Uncle, usir tante-tante ini keluar,” suruh Darren kesal. Harusnya, detik-detik ini adalah masa terindah Darren. Namun, mood lelaki kecil itu ambyar gara-gara kedatangan Clara yang tidak diundang.


Clara membelalak. Siapa anak yang sudah berani mengusirnya ini? Pikirnya, bocah itu sepertinya kesayangan Eiden hingga mantan suaminya itu mau melaksanakan sebuah acara untuk bocah laki-laki itu.


“Nak, jaga ucapanmu, ya. Apa orang tuamu tidak mendidikmu dengan baik? Yang sopan sama orang tua,” sinis Clara kehilangan respek.


Abigail tertawa tiba-tiba. Sikapnya yang tidak diduga itu sukses menarik atensi para manusia di sana. “Eiden, gimana, sih, kamu didik Darren? Lihat, ada yang ngeraguin didikan kamu,” kata Abigail sengaja.


Clara mengernyit. “Kenapa jadi Eiden yang didik anak ini, Ma?”


Abigail mendelik. Berani-beraninya wanita matre itu masih memanggilnya ‘mama’ setelah semua yang terjadi. “Siapa yang kamu panggil ‘mama’? Saya bukan mama kamu,” sinisnya.


“Definisi anak yang nggak diakui,” celetuk Darren tanpa tahu situasi. Celetukan yang sukses membuat beberapa orang menutup mulut karena menahan tawa.


“Ma, Pa, kalian kenapa? Clara akui Clara salah, Clara minta maaf. Apa Clara nggak pantes dapet kesempatan kedua?” ucap Clara sedih bermimik sendu. Sepasang netranya ikut berkaca-kaca—yang membuat Darren penasaran.


Air mata buaya itu dari mana sumbernya, sih?


“Nggak salah kok minta kesempatan kedua,” sahut Darren angkat suara. “Yang salah itu orang yang udah ngelakuin kesalahan besar, tapi tetep nyepelein dan merasa jadi korban. Itu namanya nggak tau diri!”


Sayangnya, belum sempat tangan itu terayun, ada sosok yang menahannya. Clara tercengang mendapati Eiden-lah yang mencegah ia memukul Darren. Apalagi sorot tajam lelaki itu sukses menggetarkan bulu kuduknya.


“Saya tidak akan segan lagi kalau kamu menyentuh putraku, Clara,” ucap Eiden dingin. Aura yang lelaki dewasa itu keluarkan tidak main kuat. Clara sampai merasa menggigil di posisinya.


Darren tersenyum lebar. Dengan tangan sebelah yang terbebas, bocah itu memeluk pinggang Eiden, karena tangannya yang lain masih membawa kotak kado dari Eiden. “Thank you, Dad.” Usai mengatakannya, Darren menyeringai pada Clara.


Wanita yang melahirkan Emily itu syok berat. Kakinya refleks mundur beberapa langkah selepas cengkeraman Eiden tak membelit tangannya. Dimulai dari Emily yang memanggil wanita lain ‘mommy’ sampai Darren yang menyebut Eiden ‘daddy’ mampu membuat satu kesimpulan di benak Clara.


Mantan suaminya telah menikah kembali dan memiliki anak.


“E–Eiden, kamu udah nikah lagi?” lirih Clara tak percaya. “Nggak, nggak mungkin. Ini pasti cuma bohong, kan?”


“Kalau kamu bisa selingkuh sama laki-laki lain, kenapa aku nggak boleh nikah lagi?” Eiden mengusap kepala Darren sambil terus menghunuskan tatapan tajam pada Clara. “Jangan pikir aku bakalan terus stuck sama kamu, Clara. Kisah kita udah selesai dan kamu-lah penyebabnya.”


Clara menggelengkan kepala beberapa kali, masih tidak ingin menerima fakta ini. “Nggak! Kamu masih cinta sama aku! Dari dulu, kamu tergila-gila sama aku, Eid!” cerca Clara.


“Seperti yang Anda bilang.” Kyra angkat bicara. Wanita itu berdiri di sebelah Eiden seraya menggendong Emily yang menelusupkan kepala di ceruk lehernya. “Kisah kalian terjadi di masa dulu, bukan sekarang. Sekarang Eiden udah punya kehidupan barunya. Jadi, lebih baik Anda—”


“Kamu!” Clara menunjuk Kyra. “Dasar pelakor!” teriaknya murka.


“Hiks.. Mommy..” gumam Emily ketakutan. Kalungan tangannya di leher Kyra mengerat.


Eiden yang mendengar suara Emily semakin kesal. “PENGAWAL! USIR WANITA INI! JIKA DIA TIDAK MAU PERGI, SERET PAKSA!”


“Baik, Tuan Muda.” Pengawal yang berada di sekitar segera menjalankan tugas. Karena Clara memberontak tak ingin pergi, terpaksa mereka menyeret wanita itu keluar mansion.


“Lepas! LEPASIN AKU! Aku mau ketemu sama anakku! Emily! Sayang! Ini Mommy, Nak!” teriak Clara.


Eiden menghela napas panjang setelah kepergian Clara. Ia menunduk, menatap Darren yang ternyata sibuk memperhatikan hadiah darinya. “Maaf, ya, Darren. Gara-gara perempuan itu acara kamu jadi terganggu,” kata Eiden penuh sesal. Ia memang tidak memprediksi kedatangan Clara hari ini.


Darren mendongak. “No problem, Dad. Kedatangan tante itu di luar kehendak Daddy. Jangan suka nyalahin diri sendiri,” balasnya penuh pengertian. Memang, sih. Darren dengan kata-kata tajam nan bijaksananya memang tidak akan terlepas.


“Ayo lanjutin lagi acaranya,” ujar Kyra. Ia menggoyang-goyangkan badannya ke kanan dan ke kiri mengikuti alunan musik yang kembali terputar, mengajak Emily menari. Gadis kecil itu sampai cekikikan karena mommy-nya mengajak bercanda.


“Ini dari tadi Darren buka-buka kok nggak bisa-bisa, sih! Daddy bungkus pake apa? Lem punya Patrick, kah? Kuat banget,” desis Darren kesal. Sejak tadi, bocah itu terus mencoba membuka hadiah dari Eiden. Tapi, entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal, lengket sekali rasanya.


Eiden menggaruk tengkuk belakangnya canggung. “Daddy nggak tau caranya bungkus kado, Ren. Jadi.. em.. pake lem kuat, hehe. Bukan solasi.”


Abigail spontan memijat pangkal hidungnya, pusing sendiri menghadapi putra semata wayangnya. Sementara Cavan dan Kyra malah tertawa. Mereka berusaha memaklumi tindakan Eiden yang kali ini di luar ‘biasanya’. Mafia macam Eiden mana sempat belajar ‘buka dan bungkus kado’.


Acara hari itu terlaksana dengan lancar walaupun sempat ada gangguan. Untungnya masih bisa teratasi dengan baik.


...💫💫💫...


Malamnya...


“Sayang..” Eiden memeluk Kyra yang sibuk memakai skincare malam. “Ayo kita buat adik buat Emily,” ajaknya antusias.


Kyra geleng-geleng. Kalau sudah urusan ‘tarik-dorong’ begini emang Eiden jagonya. “Lain kali aja, ya.”


“Nggak mau. Mau sekarang,” rengek Eiden. “Ayo, mumpung kamu lagi masa subur, kan.”


Kyra terdiam, padahal otaknya mengiyakan pernyataan suaminya. Ia menghela napas panjang. “Kamu nggak ada yang mau diceritain?”


Eiden mengerutkan dahi. Kalimat itu membuatnya dejavu. “Soal Clara?”


“Hm.”


“Kamu mau tau soal apa, Sayang?”


“Semuanya, Eiden. Aku mau tau semuanya.”


^^^To be continue...^^^